Pernikahan Yang Dijodohkan

Pernikahan Yang Dijodohkan
Episode 64 Pertemuan


__ADS_3

"Apa mereka sudah pergi?


Seketika sakura langsung menoleh ke arah belakang, dimana Arashi dan Imoto tepat berdiri di belakang sakura.


"Ayah, Ibu", ucap sakura.


"Mereka sudah berangkat sakura?"Tanya Imoto.


"Sudah ibu, baru saja", jawabnya


"Ayah juga mau berangkat sekarang?"


"Ia sakura", ucap Arashi.


"Tidak bisanya, kenapa cepat sekali ayah?"


"Ada meeting pagi ini, jadi ayah harus tiba lebih cepat", ucap Arashi.


Disela pembicaraan mereka, mobil pribadi yang biasa digunakan Arashi sudah tiba.


"Baiklah, Ayah berangkat duluh", ucap Arashi.


" Hati-hati ayah", ucap sakura".


"Hati-hati suamiku", ucap Imoto.


Mereka berdua menunggu hingga mobil itu keluar dari perkarangngan rumah.


"Mereka sudah pergi", ucap Imoto.


"Iya ibu dan kembali sunyi tinggal kita berdua lagi", ucap sakura.


"Hmmm, yasudah ayok masuk kedalam", ucap Imoto sambil memegang bahu sakura.


Ketika tiba di dalam, seorang pelayang menghampiri keduanya.


"Nona sakura, ini dari tadi ponsel anda terus berbunyi di meja makan", ucap pelayan itu.


"Benarkah?" Terima kasih", ucap sakura.


"Siapa yang menelepon sakura?" Tanya Imoto.


"Sakura tidak tau ibu, no yang tidak tersimpan di kontakku", ucap sakura sambil melihat no yang menghubunginya tadi.


"Abaikan saja sayang, jika kamu tidak kenal", ucap Imoto


"Iya ibu", ucap sakura.


"Yasudah, ibu ke kamar duluh ya", ucap imoto.


"Baik ibu ", jawab sakura.


Sakura masih fokus melihat no yang menghubunginya itu, dia masih penasaran no siapa yang menghubunginya hingga sampai 5 kali mencoba meneleponnya, sepertinya itu sesuatu yang sangat penting. Dia mencoba menghubungi kembali no itu, namun belum sampai tersambung sakura mengakhiri panggilannya dan mengurungkan niatnya.


"Jika itu sangat penting, dia akan meneleponku lagi", ucap sakura.


Rumah yang besar itu terlihat sangat sunyi, dia memperhatikan sekelilingnya tidak ada satu pun orang di tempat itu hanya tinggal dia sendiri bahkan Imoto telah pergi ke kamarnya.


Situasi ini membuatnya begitu merindukan rumahnya, setiap hari hanya ada keributan yang di dengarnya. Apalagi saat shinzi datang kerumah, mengingat hal itu membuatnya sangat merindukan keponakannya itu.


"Apa yang sedang mereka lakukan saat ini? batin sakura.


Begitu bingung dengan apa yang harus dilakukannya, dia pun memutuskan untuk melakukan hobby nya yang senang mendesain setidaknya itu adalah salah satu cara yang dapat dilakukannya selagi dia masih menikmati sisa-sisa cutinya yang sebentar lagi akan berakhir, dia pun pergi menujuh kekamarnya.


Dia mengambil peralatan yang ada di dalam laci lemarinya.


"Baiklah mari mulai", ucapnya sambil mengulurkan kedua tangannya dengan satu tarikan nafas yang panjang.


Dengan penuh konsentrasi dia mulai menggambar pola desain baju yang ada di dalam pikirannya, terasa sangat aneh ketika dia mulai menggerakan tangannya dalam genggaman pensil di tangannya.

__ADS_1


"Ahhh, terasa begitu kaku", batin sakura.


Wajar saja hampir satu Minggu dia meninggalkan hobbynya itu, membuat tangannya terasa begitu kaku saat mulai menggaris sebuah pola di atas kertas.


Dreg...Dreg...Dreg...


Ponselnya terus bergetar di atas meja, dia pun memberhentikan sejenak dan meraih ponsel yang berada tak jauh dari jangkauan ya.


"No yang tadi", ucap sakura.


Tanpa berpikir panjang dia pun mengangkat telpon itu karena dia pun menunggu no itu kembali menghubunginya.


"Hallo", ucap sakura.


"Nona sakura, saya dokter neval dari rumah sakit wongdo", ucap nya.


"Ahh ia dokter neval, ada yang bisa saya bantu?"tanya sakura.


"Saya ingin mengundang nona sakura dalam pembubaran panita kegiatan amal", ucapnya.


"Kapan pembubarannya dilakukan?" tanya sakura.


"Nanti siang jam satu nona sakura, apa anda bisa menghadirinya?" tanya dokter nevel.


"Tentu saja, saya akan datang", ucap sakura.


"Baiklah, Terima kasih nona sakura".


Ketika sambungan telpon itu terputus, sakura baru teringat bahwa saat ini dia telah menjadi seorang istri dan menantu.


"Yaampun, aku harus meminta izin daichi dan ibu duluh jika ingin pergi".


TOK...TOK...TOK..


"Siapa??? Tanya Imoto.


"Ini sakura ibu", ucap sakura.


Dia membuka pintu kamar itu dan masuk kedalam kamar itu dengan perasaan sedikit canggung karena ini pertama kalinya dia masuk kekamar mertuanya.


"Ibu disini sakura", ucap Imoto.


Sakura pun berjalan menujuh kearah balkon kamar, disana dia melihat Imoto sedang duduk sambil membaca sebuah buku.


"Ada apa sayang?"Tanya Imoto.


"Ibu, sakura ingin minta izin keluar sebentar", ucapnya.


"Keluar???? Tapi kemana sayang?" tanya Imoto


"Ke rumah sakit wongdo ibu untuk menghadiri pembubaran panitia kegiatan amal waktu itu", ucap sakura.


"Oh, yasudah sayang pergilah kalau begitu, tapi apa daichi sudah mengetahuinya?"Tanya Imoto


"Belum ibu, aku akan meneleponnya setelah memberitahu ibu", ucap imoto.


"Yasudah, pergilah sayang", ucap Imoto.


"Terima kasih ibu, sakura bersiap-siap duluh kalau begitu", ucap sakura.


Sakura pun meninggalkan kamar imoto untuk kembali kedalam kamarnya, saat tiba dikamar sakura langsung mengambil ponselnya untuk menghubungi daichi, namun daichi tidak menjawab teleponnya. Sakura terus mencoba menghubungi daichi hingga beberapa kali dan hasilnya tetap saja sama tidak ada jawaban.


"Mungkin dia sedang meeting, nanti saja aku menghubunginya ", ucap sakura yang kembali meletakan ponselnya dia atas kasur dan mulai bersiap-siap.


Dia memilih mengenakan sebuah dress sederhana untuk membalut tubuh indahnya, mengenakan sebuah anting di telinga dan gelang di tangan kanannya dengan riasan makeup yang tipis di wajahnya bahkan meskipun tanpa makeup sakura tetap terlihat cantik. Kesederhanaan yang dimilikinya membuat banyak orang kagum dengannya, meski dia terlahir dari keluarga yang memiliki segalanya dia tetap hidup dengan sederhana tanpa menunjukan kemewahan yang ada pada dirinya bahkan kini dia telah menjadi seorang istri dari Daichi Tama, pria yang memiliki segalanya dan hidup dengan penuh kemewahan, tetapi sakura tetaplah sakura yang sederhana.


Ketika dia merasa semua telah siapa, dia pun bergegas untuk berangkat menujuh rumah sakit wongdo.


__ADS_1


"Apa kamu sudah mau berangkat sayang?"


"Ibu, sakura baru saja ingin pamit kepada ibu", ucap sakura.


"Kamu sangat cantik sayang", ucap Imoto.


"Ibu, Jangan membuat ku malu", ucap sakura yang tertawa.


"Baiklah, ibu akan mengantarmu keluar, sepertinya pak Yuko sudah siap dan sedang menunggumu", ucap Imoto.


Merekapun bersama-sama turun kebawah dan melangkah berjala menujuh keluar, tepat sekali disana pak Yuko sudah bersiap-siapa dan tinggal menunggu sakura.


"Oh iya, apa kamu sudah memberitahu daichi sayang?"Tanya Imoto.


"Sakura sudah mencoba menghubungi daichi Bu, tetapi telepon sakura tidak diangkat", ucap sakura.


"Yasudah yang penting kamu sudah mencobanya sayang", ucap Imoto.


"Kalau begitu sakura pergi duluh ya Bu", ucapnya.


"Ia putriku, hati-hati dan cepat kembali karena ibu pasti kesepian sendirian", ucap Imoto.


"Aku akan kembali saat semuanya sudah selesai", jawab sakura.


Dia pun masuk kedalam mobil untuk berangkat menujuh kerumah sakit wongdo. Pertama kalinya setelah resmi menikah dengan Daichi Tama akhirnya dia dapat merasakan udara di luar rumah, hampir lima hari dia terus terkurung dirumah tanpa pergi kemana pun sejak dia menikah.


Melihat keramaian di jalanan, suara klakson mobil yang berisik, kemacetan yang panjang dan keramaian orang- orang kini terasa begitu menyenangkan melihat semuanya. Rasanya dia begitu rindu dengan aktivitas yang selama ini dilakukannya, bekerja dan bersosialisa dengan lingkungan di sekitarnya.


°


°


°


"Kita sudah sampai nona sakura", ucap pak Yuko.


"Terima kasih pak".


"Ahh, Bapak pulang saja, jangan menunggu saya", ucap sakura.


"Kenapa nona sakura, Nyonya akan memarahi saya jika meninggalkan anda sendirian", ucap pak Yuko.


"Saya tidak ingin bapak menunggu saya terlalu lama karena saya juga belum tau jam berapa saya akan siap", jawab sakura.


"Tidak apa-apa nona sakura, saya akan menunggu anda di parkiran", ucap pak yuko.


"Jangan pak, lebih baik anda sekarang pulang atau begini saja, saya akan menelepon jika saya sudah selesai, bagaimana??" tanya sakura.


"Itu lebih baik nona, kabari saya jika anda sudah siap"


"Saya akan langsung menjemput anda segera", ucap pak yuko.


"Hmmm, kita sepakat", ucap sakura yang tersenyum.


"Sepakat nona sakura", ucap polos pak Yuko.


Sakura hanya tertawa melihat kepolosan yang ditunjukan Supir pribadi dari keluarga Tama, meski sakura baru mengenalnya tetapi dia dapat begitu dekat dengan seluruh orang yang bekerja di keluarga Tama.


"Sakura masuk duluh", ucapnya


"Ia nona sakura", ucap pak yuko.


Dia pun bergegas membuka seatbelt yang ada di badannya untuk turun membukakan pintu sakura, melihat hal itu sakura menyadari maksud dan tujuan pak Yuko.


"Tidak perlu pak Yuko, saya bisa membuka pintu sendiri", ucap sakura yang membuka pintu mobil itu.


Begitu herannya pak yuko melihat majikannya itu, dia begitu mandiri tanpa harus menyusahkan orang. Ini pertama kalinya pak Yuko berhubungan langsung dengan sakura sejak dia resmi menjadi istri sah anak dari Tuannya, dia hanya mendengar cerita dari para pelayan saat berkumpul bahwa nona muda mereka sangat baik,ramah dan begitu sopan. Namun semua hal yang dikatakan orang kini dia dapat melihat langsung sifat yang dimiliki Sakura Agata.


Sakura pun turun dari mobil, dia melangkahkan kakinya masuk kedalam rumah sakit wongdo tanpa dia tau apa yang akan terjadi di depannya.

__ADS_1


Pembaca setia ku, terima kasih atas masukan yang kalian berikan kepada saya. Semua masukan yang kalian berikan akan menjadi motivasi buat saya dalam menulis novel saya. Jangan lupa untuk selalu like,coment apa saja yang ingin kalian tulis dan yang paling penting vote untuk saya.🥰🌸


Bersambung..


__ADS_2