Pernikahan Yang Dijodohkan

Pernikahan Yang Dijodohkan
Episode 135 Kepanikan


__ADS_3

"Kimi?" dengan spontan dia memutar badannya menoleh kearah belakang.


"A-yana", ucapnya .


"Kamu terlihat sangat kaget kimi", ucap ayana.


"Sama sekali tidak, aku juga tadi sudah melihatmu di dalam", jawab kimi yang begitu santai, meski ayana sudah mengetahui dirinya adalah sekertaris pribadi sakura.


"Aku sama sekali tidak menyangka bertemu dengan kamu", ucap ayana.


"Hmmm, aku juga", balas kimi.


"Ternyata kamu bekerja dengannya?"tanya ayana.


"Benar sekali, aku sudah bertahun-tahun mengabdikan diri ku dengan nona sakura", jelas kimi.


Ayana mendesah, kedua matanya menatap kimi."Hmmm, sudah terlihat begitu", jawab ayana.


Kimi hanya tersenyum, namun senyumnya tidak menggambarkan dengan perasaanya saat ini. Ayana adalah sahabat lamanya,tapi mengingat dirinya bekerja bersama dengan sera membuatnya lebih menjaga jarak. Baginya sifat ayana saat ini sama seperti sera, tatapan matanya memandang orang terlihat berbeda dan cenderung menyepelekan orang yang berhadapan dengannya.


"Baiklah ayana, aku harus mencari nona sakura dulu", ucap kimi.


"Kupikir saat itu kamu datang ingin bertemu denganku, tapi sepertinya kamu memiliki tujuan lain, bukankah begitu kimi?"tanya ayana, sorot matanya sangat tajam melihat kearah kimi.


Dia mendongak menatap wajah ayana, tapi tatapannya terlihat tenang dengan senyum mengembang yang membuat wajahnya terlihat sempurna, ayana mengerutkan keningnya tidak suka melihat ekspresi yang diperlihatkan kimi untuknya.


"Kenapa kamu berbicara seperti itu ayana? Apakah saat kita jumpa, aku ada menanyakan mu tentang sera? Justru, kamu sendirilah yang menceritakannya kepadaku sendiri tanpa aku tanya", jelas kimi yang tersenyum.


Kerutan di keningnya semakin dalam saat mendengar ucapan kimi.


"Oh, ya, bisa saja sebenarnya aku menyampaikan apa yang kamu katakan padaku waktu itu mengenai sera", ucap kimi, wajahnya sama sekali terlihat santai tanpa beban saat berbicara kepada ayana


"Are you crazy!!!"


Emosi ayana benar-benar mulai terpancing karena itu dia bereaksi berlebihan kepada kimi.


"Ayolah ayana, aku hanya bercanda saja. Jangan terlalu serius, tapi aku sama sekali tidak akan bernegosiasi dengan mu atau sera jika kalian mengganggu nona sakura", ucap kimi, kali ini matanya terlihat serius. Kata-kata itu meluncur begitu saja secara spontan, bahkan belum terpikir olehnya apa yang akan dilakukannya jika sera menyakiti sakura.


Kedua tangan ayana mengepal, tanpa ada sepatah katapun keluar dari mulutnya


"Baiklah ayana, aku harus mencari nona sakura dulu karena banyak orang-orang yang berbahaya berkeliaran disini, sampai jumpa", ucapnya yang berlalu pergi meninggalkan ayana.


"Ini semua karena kamu sera, hingga aku dipermalukan seperti ini", ucap ayana.


Kimi kembali ketempat berlangsungnya acara tadi, masih banyak peserta-peserta yang sibuk berfoto- foto dengan para juri yang melakukan penilaian terhadap mereka, tapi sosok sakura tak terlihat dari penglihatan kimi. Dia sengaja mengenakan kacamata miliknya agar dapat lebih jelas melihat sakura diantara kerumuman orang- orang. Mata itu terbuka lebar, namun tetap saja dia tidak menemukan sakura dan membuatnya semakin cemas.


"Dimana nona sakura?"ucapnya sembari mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi sakura.


°°°


"Hallo".


"Hallo, nona sakura. Anda dimana? saya tidak melihat anda disini", ucap kimi.


"Ah, aku sedang di toilet kimi", jawab sakura.


"Toilet? baiklah saya akan menyusul anda kesana sekarang", jawab kimi, dia langsung menutup panggilannya dengan sakura.


Sakura menatap wajahnya yang terlihat pucat disebuah cermin, dia merasa kepalanya kembali begitu sakit bahkan lebih sakit dari sebelumnya.


"Kenapa kepala ini sakit sekali", ucapnya.


Setelah selesai dia berjalan keluar, dia sangat terkejut saat melihat seorang wanita sedang berdiri di depan toilet, bukan kimi dan sepertinya telah menunggunya dari tadi.


"Sera..",ucapnya.


"Hai, sakura", sapa nya.


Sakura merasa sedikit curiga melihat sikap sera.


"Ada apa?"tanya sakura.


Sera mengangkat bahu. "Tidak ada", jawabnya santai.


"Oh". jawab sakura yang melangkahkan kakinya untuk melewati sera.


"Apa kamu bahagia dengan pernikahanmu?"tanya sera.

__ADS_1


Langkah kaki sakura terhenti, dia masih membelakangi sera sambil tersenyum miring.


"Sudah kuduga", batin sakura, dia langsung membalikkan badannya menatap kearah sera dengan wajah yang terlihat santai.


Ditatapnya mata sera selama beberapa detik.


"Tentu saja,aku sangat bahagia",jawabnya.


Sera tertawa, dia terlihat begitu bahagia. Tawanya seakan sedang mengejek sakura.


"Apa ada yang salah?"tanya sakura yang merasa aneh melihat sera.


"Tidak, maafkan aku", ucapnya, namun wajahnya terlihat seolah tak merasa bersalah.


Ditatapnya sera dengan sorot mata yang semakin bingung, kemudian ekspresi wajahnya datar menatapnya, sementara sera hanya tersenyum sinis. Dia mencoba membuka mulutnya , suaranya rendah dan dingin.


"Sepertinya ada sesuatu yang tidak kamu ketahui, sakura", ucapnya.


"Soal apa?"tanya sakura.


"Jadi kamu benar-benar tidak tahu?"tanyanya, dengan satu tangan yang menutup mulutnya seolah tidak percaya.


"Jika kamu tidak ingin mengatakannya, aku tidak masalah", jawab sakura dengan santai.


"Aku ingin sekali mengatakannya, tapi aku takut kamu akan terkejut sakura", balas sera.


"Katakan sekarang atau aku akan pergi!"ucap sakura.


Tujuan sera untuk memancing rasa penasaran sakura dengan apa yang ingin dibicarakannya sepertinya berhasil, melihat sakura yang mulai terlihat kesal dengannya.


"Baiklah, kalau kamu memaksanya. Aku akan memberitahu mu", ucapnya dengan suaranya yang pelan berbisik kepada sakura.


"Itu lebih bagus", jawab sakura, dia berusaha untuk tetap terlihat tenang dan kuat didepan sera, meskipun dia harus menahan rasa sakit dikepalanya.


"Apa kamu masih ingat, dulu di acara kantor daichi pertama kali kita bertemu bukan?"tanya sera.


Sakura mencoba mengingatnya, dia menganggukkan kepalanya melihat sera.


"Dan kalau tidak salah saat itu tepat 2 hari pertunangan kalian, bukan?"tanya sera.


"Sebenarnya apa yang ingin kamu katakan sera?"tanya sakura.


"Itu lebih bagus", ujar sakura.


"Setelah acara perusahan kantor itu. Apa kamu tahu kemana daichi pergi? Dia datang menemui ku di apartemen dan kami menghabiskan malam panjang bersama, sepertinya dia sangat merindukanmu setelah lama tak bertemu", ucapnya yang terlihat bahagia dan tanpa merasa bersalah kepada sakura.


Seluruh badannya terasa gemetar, ucapan itu terasa menusuk hatinya, bibirnya tertutup rapat dan diam seketika.


"Sakura, maafkan aku. Sungguh,aku tidak bermaksud untuk mengatakannya, tetapi kamulah yang memaksaku untuk berkata yang sebenarnya", ucapnya.


Pandangan mata sakura perlahan mulai terlihat buram, sera yang berdiri didepannya tampak berbayang dan samar-samar.


"Kau tidak melakukan kesalahan apa-apa, sera", ucap sakura. Dia menarik napasnya dalam-dalam sebelum kembali berbicara kepada sera."Tapi, aku tidak akan langsung percaya begitu saja, tanpa mendengar langsung dari suamiku sera. Bukankah itu terlihat cukup adil?"tanya sakura.


"Ten-tu saja", jawab sera, dia mulai terlihat ragu-ragu,wajahnya yang dari tadi terlihat bahagia dengan kemenangannya, kini mengeras seperti patung.


"Aku tidak boleh hanya mendengarkan satu pihak saja karena itu tidak adil", ucapnya.


Wajah sera tampak merenung sesaat saat mempertimbangkan kata-kata sakura.


"Jika tidak ada lagi yang ingin kamu katakan, aku permisi",ucapnya dengan senyum dan pergi meninggalkan sera.


Langkahnya begitu cepat pergi meninggalkan sera, diletakkannya tangannya di dadanya dan merasakan detak jantungnya yang mendadak cepat, sikap yang diperlihatkannya seolah -olah dia baik-baik saja dengan semua ucapan sera akhirnya tak tertahankan lagi. Kadang - kadang berpura-pura untuk baik-baik saja justru membuat perasaan semakin sakit dan hancur.


"Nona sakura", ucap kimi, dilihatnya wajah sakura terlihat muram penuh dengan kesedihan.


"Kimi", ucapnya, pandangannya kini benar -benar gelap dan kedua mata tertutup.


"Nona sakura!!!!!!!!"teriak kimi, dia langsung berlari dengan kepanikannya saat melihat sakura jatuh pingsan.


"Nona sakura,sadarlah!!!! Nona!!!!!


Dia menempelkan satu tangannya di kening sakura dengan wajah yang terlihat sangat pucat.


"Astaga, badannya panas sekali.Tolong!!! Tolong!!! Tolong!!! Siapapun yang ada, tolong aku!!!" teriaknya.


Beberapa orang mulai berlarian menghampirinya, mereka terlihat kaget saat melihat sakura jatuh pingsan dan terlihat tak berdaya.

__ADS_1


"Apa yang terjadi?"tanya seorang panitia penyelenggara acara itu


"Sepertinya dia demam, tolong telpon ambulan. Dia harus segera dibawa kerumah sakit", pintanya.


"Saya sudah menelepon ambulan, sebentar lagi ambulan akan datang nona", ucapnya seorang pria.


"Terima kasih tuan", jawab kimi, air matanya terus mengalir sembari memegang tangan sakura yang terasa sangat dingin.


Sekitar 15 menit, suara sirine ambulan mulai terdengar memasuki area gedung tersebut.


"Ambulan sudah datang", ucap pria tersebut.


Dua orang petugas medis berlari membawa sakura masuk kedalam mobil ambulan dengan diikuti kimi dari belakang, semua orang terlihat bingung dengan apa yang sebenarnya terjadi.


"Ada apa ini?"tanya ayana, dia berjalan mendekat karena rasa penasarannya.


"Maaf, apa yang terjadi?"tanya ayana kepada salah seorang wanita yang ada ditempat itu.


"Katanya, nona sakura Agata jatuh pingsan ", ucapnya.


"Pingsan? tapi kenapa? bukankah tadi dia terlihat baik-baik saja?"tanya ayana.


"Entahlah, tadi sekertaris pribadinya yang pertama menemukan dia pingsan", ucapnya.


"Ada apa ini sebenarnya?"batinnya.


Dia merasa pingsannya sakura begitu aneh, bahkan dia melihat sakura baik-baik saja beberapa menit yang lalu saat mereka berada diruangan yang sama dengan sakura.


"Sera!!!" hanya satu kata itu yang terlintas dalam pikirannya, dia langsung pergi meninggalkan tempat itu untuk menemui sera.


Semetara kimi terus saja menangis didalam mobil ambulan yang membawa sakura yang masih belum sadar dan membuatnya merasa begitu sangat ketakutan.


"Nona sakura, kumohon sadarlah", ucapnya dengan air mata yang terus keluar dan membasahi pipinya.


••••••


Saat dia baru ingin beranjak mencari sera, orang yang ingin dicarinya berdiri dihadapannya. Wajahnya terlihat santai dengan sebuah senyum yang terlihat bahagia memandangi sakura yang telah dibawa oleh mobil ambulan.


"Sera!"erangnya keras-keras.


Sedetik sera menatap ayana dengan sorot tanpa ekspresi, sebelum kembali melihat perginya mobil ambulan yang membawa sakura pergi.


"Aku ingin berbicara denganmu sera, ikut aku sekarang", perintah ayana.


Sera terdiam sebentar, lalu dia mengikuti ayana. Mereka pergi menjauh dari keramaian dan berhenti di sebuah lorong yang sunyi.


"Ada apa?"tanya sera.


"Aku harap, apa yang aku kupikirkan itu salah sera", ucap ayana


"Memangnya apa yang kau pikirkan?"tanya sera.


"Yang terjadi pada sakura, itu bukan perbuatan kamu kan?"tanya ayana,matanya menatap sera begitu dalam


Sera tertawa begitu kuat sangkin merasa sangat bahagia.


"Apa ada yang lucu?"tanya ayana, suaranya begitu sinis berbicara kepada sera.


"Aku tertawa karena tebakan mu sangat tepat ayana", kata sera.


"Jangan bercanda sera", ucap ayana.


"Tidak." jawab sera singkat.


Ayana terlihat jengkel dengan kata-kata sera, rasanya ingin sekali dia mendaratkan satu tangannya di pipi sera karena rasa marah yang sangat besar dirasakannya saat ini.


"Apa kamu sudah gila!!!!"teriak ayana.


"Hmmm, aku rasa hampir", jawab sera dengan begitu tenang dan tampa sedikitpun terlihat ada raut wajah penyesalan dalam dirinya.


"Hidupmu akan benar-benar hancur sera", ucapnya dengan jengkel.


Sera terdiam saat otaknya mencoba mencerna perkataan ayana, sampai akhirnya raut wajahnya berubah marah menatap ayana.


"Berani sekali kamu berbicara seperti itu kepadaku ayana!!!!!"teriak sera yang tak terima.


"Aku hanya ingin memperingati mu sera, jika terjadi sesuatu denganmu nanti. Jangan pernah menyesal", ucap ayana dan pergi meninggalkan sera begitu saja dengan rasa kesalnya.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2