
Esok paginya cuaca begitu cerah menyambut aktivitas yang dilakukan keduanya hari ini. Daichi masih duduk disamping sakura , menunggu wanita yang dicintainya itu membuka kedua matanya.
"Selamat pagi, sayang", sapa daichi saat melihat sakura bangun.
Sakura tersenyum saat melihat pemandangan indah pagi ini, wajah yang tampan terlihat jelas saat dia membuka kedua matanya. Daichi langsung meletakan bantal dibelakang punggung sakura saat melihat sakura ingin bangun dari tidurnya.
"Terima kasih, sayang", ucap sakura.
"Apa tidurmu nyenyak?"tanya daichi.
"Hmm,sangat nyenyak saat berada dikamar sendiri",jawab sakura.
Daichi tersenyum, lalu mencium kening sakura cukup lama sebelum mandi dan bersiap-siap berangkat kekantor. Sama halnya seperti daichi, sakura cepat-cepat bersiap-siap sebelum daichi selesai karena dia harus menyiapkan keperluan suaminya itu, dia langsung turun dari ranjang tidurnya dan menyiapkan pakaian yang akan dikenakan daichi.
Saat kakinya hendak ingin melangkah keluar, suara ketukan pintu terdengar beberapa kali. Sakura langsung membuka pintu kamar itu dan langsung tersenyum.
"Selamat pagi bibi", sapa sakura.
"Selamat pagi sayang. Bagaimana kondisi kamu?"tanya.
"Sudah jauh enakan bi", jawab sakura.
"Tidak demam lagi?"tanyanya kembali.
"Sama sekali tidak", jawab sakura.
"Sarapan pagi sudah siapa", ucapnya.
"Baik bi, aku dan daichi akan segera menyusul", ucapnya.
"Baiklah", ucap bibi mori yang melangkah pergi.
"Apa itu bibi mori?"
Sakura langsung tersentak saat mendengar suara daichi tiba-tiba dari arah belakangnya.
"Astaga, kamu membuatku kaget", ucap sakura sembari menutup pintu kamarnya.
Daichi hanya tersenyum, mengambil dasi yang telah disiapkan sakura di atas ranjang.
"Biar aku bantu", ucap sakura.
Daichi hanya tersenyum. Matanya terus melihat sakura tanpa berpaling sedikitpun, tentu saja sakura merasakannya.
"Kenapa melihatku seperti itu?"tanya sakura.
"Ini pertama kalinya aku melihatmu masih mengenakan piyama dan tanpa riasan makeup", ucapnya.
"Apa aku terlihat jelek?"tanya sakura.
"Tidak, kamu tetap cantik meski tanpa riasan di wajahmu",jawab daichi dengan senyum yang terlihat indah saat dipandang.
"Aisss, sudah hentikan. Ayok kita keluar, bibi pasti sudah menunggu kita", ucap sakura.
"Hmmm", jawab daichi, diraihnya tangan sakura hingga membuat sakura kaget.
"Ada apa?"tanya sakura.
"Ayok, kita keluar bersama", ucapnya sambil menarik tangan sakura.
Entah bagaimana daichi selalu mempu membuat perasaan sakura melayang dengan setiap perlakuan manis yang ditunjukkannya. Dua tahun masa pernikahan sama sekali tidak memudarkan keromantisannya, rasa cinta dan kasih sayangnya justru terasa semakin bertambah diberikannya kepada sakura.
"Selamat pagi",ucap keduanya.
"Selamat pagi. Duduklah, sarapannya sudah siap dari tadi", ucap bibi mori.
"Kamu mau makan apa, daichi?"tanya bibi mori.
"Roti saja bi", jawab daichi.
"Ini,selamat makan",ucap bibi mori.
"Terima kasih bi", jawab daichi dengan senyum.
"Sakura, minum ini", ucap bibi mori.
"Ehm, apa ini bi?"tanya sakura sambil mencium aroma minuman yang diberikan kepadanya.
"Obat tradisional yang bibi buat sendiri untukmu", jelasnya.
"Terima kasih bi", jawab sakura sembari meminumnya.
Dreg...Dreg...Dreg..
"Sekertaris yun", ucap daichi.
"Hallo", jawabnya.
Dengan spontan ekspresi daichi terlihat begitu senang saat menerima telpon masuk dari sekertaris yun, entah apa yang dikatakannya hingga mampu membuat daichi tersenyum dan membuat sakura begitu penasaran.
"Baiklah", ucap daichi dan mengakhiri panggilan telponnya.
Bisa dirasakannya kebahagian yang masih terlihat jelas diwajahnya.
"Ada apa? Kenapa kamu terlihat sangar bahagia?"tanya sakura.
"Ah, itu soal pekerjaan sayang", jawab daichi.
"Oh", jawab sakura tanpa bertanya lagi.
Mereka kembali melanjutkan sarapan pagi yang berlangsung cukup singkat.
__ADS_1
"Baiklah, aku berangkat kerja dulu", ucapnya mengecup kening sakura.
Sakura hanya tersenyum."Hati-hati".
Daichi masih memperhatikan wajah sakura yang terlihat ada beban yang sedang dipikirkannya.
"Apa ada yang sedang mengganggu mu?"tanya daichi.
Sakura ragu-ragu untuk mengatakan apa yang ada dipikirannya, dia penuh pertimbangan sampai akhirnya dia membuka mulutnya.
"Apa ada yang sedang kamu sembunyikan?"tanya sakura.
Daichi tertawa. "Sembunyikan apa?"
"Entahlah, apa saja", jawabnya.
"Tidak ada sayang", jawab daichi, ditempelkannya satu tangannya yang besar tepat di pipi sakura dan mengusap pipi itu dengan lembut.
"Percayalah padaku",pintanya.
"Aku percaya", jawabnya senyum.
"Aku pergi dulu, jaga kesehatan", ucap daichi.
"Baiklah", jawab sakura.
"Bibi, aku titip sakura ya. Tolong jaga dia selama aku tidak ada", pinta daichi.
"Jangan khawatir , bibi akan menjaga sakura", ucapnya.
"Kalau begitu aku berangkat kerja dulu. Jaga dirimu", ucapnya dengan mengelus lembut lengan sakura.
"Aku akan mengantarmu ", ucap sakura yang hendak bangkit dari kursinya, namun langsung dicegah daichi.
"Tidak perlu. Makanlah", ucapnya.
"Hati-hati", ucap sakura.
Daichi pergi meninggalkan ruang makan, terdengar pintu terbuka dan tertutup kembali menandakan bahwa daichi telah pergi. Dia kembali termenung, tidak dapat dipungkirinya, meski mulutnya berkata bahwa dia mempercayai suaminya,namun masih ada yang mengganggu pikirannya sampai saat ini.
"Sakura, apa yang sedang kamu pikirkan?"tanya bibi mori.
"Tidak ada bi. Bibi, aku istirahat dikamar dulu ya", ucap sakura.
"Baiklah sayang", jawab bibi mori
Dia melangkah menuju ke kamarnya, duduk di sofa putih disudut kamarnya. Mencoba memenangkan pikirannya yang semakin kacau dengan mengingat perkataan sera yang terus terdengar di telinganya. Pikirannya kini terbagi menjadi dua bagian yang berlawanan, di satu sisi dia mempercayai daichi,tapi di satu sisi dia masih terus mempertanyakan kebenaran dari perkataan sera.
"Tidak, kamu tidak boleh meragukan suami mu sakura. Dia tidak mungkin membohongimu", ucapnya
Dia tahu bahwa inilah yang diinginkan sera, membuat hubungan yang dimilikinya dengan daichi hancur saat dia tidak mempercayai daichi dan lebih mempercayai omongannya, namun menjaga keutuhan rumah tangganya adalah yang terpenting untuknya. Apapun itu selamanya dia akan mempercayai daichi, seperti yang dilakukan daichi kepadanya dan melupakan semua perkataan sera karena keadaan akan semakin susah bila dia terus memikirkannya.
Sakura....
"Bibi mori", ucapnya. Dia langsung berdiri membukakan pintu kamarnya.
"Ada apa bi?"tanya sakura
"Sakura, ada tamu yang datang", ucapnya
"Tamu? Siapa?"tanya sakura yang penasaran siapa tamu yang berkunjung ke apartemennya pagi-pagi begini.
"Kalai tidak salah, dia mengatakan namanya Yuka", jawab bibi mori.
"Kak Yuka", ucapnya yang kaget, dia langsung berjalan bergegas menghampiri kakak iparnya tersebut, ada perasaan khawatir dirasakannya saat mendapat kunjungan tiba-tiba seperti sekarang.
Dilihatnya yuka sedang duduk menunggunya diruang tamu, wajahnya terlihat tenang seperti biasanya, setidaknya itu membuat sakura merasa sedikit tenang.
"Kakak", ucapnya.
"Sakura", sahut yuka sambil bangkit berdiri.
"Apa kabar kak?"tanya sakura.
"Baik sayang. Bagaimana kesehatanmu?"tanya Yuka.
"Sudah membaik", jawabnya sembari keduanya duduk.
"Kakak senang mendengarnya", ucap Yuka.
"Ada apa kakak datang pagi-pagi kemari?"tanya sakura yang penasaran.
"Ah, kakak hanya ingin melihat keadaanmu. Kamu tahu kan, kakak mu itu sangat posesif terhadap dirimu dan selalu menyuruh kakak untuk melihat langsung keadaan kamu sayang, sementara dia enggan menginjakkan kakinya disini karena tidak ingin bertemu dengan daichi", jelas Yuka .
"Kak tana masih saja belum bisa menerima daichi", ucapnya dengan nada sendu.
Guratan kesedihan terlihat jelas di wajah sakura, dua pria yang sangat berarti di hidupnya saling tidak akur satu sama lain. Melakukan pilihan bukanlah hal yang tepat saat berada di situasi seperti ini bagi sakura, karena keduanya telah memiliki tempat di hati sakura masing-masing. Tana Agata sosok kakak yang selalu melindungi adiknya selama ini, sedangkan Daichi Tama sosok suami yang begitu mencintainya dan menjadi pelindung dirinya saat ini.
"Sudah sayang, jangan pikirkan kakak mu itu. Dia kan memang sangat keras dan hanya bertahan dengan pemikirannya ", ucap Yuka, setidaknya dia paling memahami sifat suaminya itu.
"Kakak benar",jawab sakura dengan senyum singkat.
Mata sakura melirik sebuah paper bag bermotif bunga yang berada disamping Yuka.
"Apa itu kak?"tanya sakura, satu alisnya terangkat melirik paper bag tersebut.
"Hmm", ucap Yuka. Matanya tertujuh kearah yang dimaksud sakura.
"Astaga, kakak hampir lupa. Kakak membelikan beberapa baju untukmu sayang, kebetulan teman kakak baru membuka butik", ucapnya sambil menyodorkan paper bag itu kepadanya.
"Ya ampun kakak. Makasih ya", ucap sakura.
__ADS_1
"Cobalah nanti, oke", pinta Yuka.
"Baik kak", sahut sakura, keduanya kembali mengobrol santai antara kakak dan adik yang telah lama tak bertemu karena kesibukan mereka masing-masing.
Ditempat lain, tepatnya dikantor daichi tama. Kesibukan masih terlihat disana, terutama untuk sekertaris yun yang diberikan tugas oleh daichi, tapi kali ini tugas yang diberikan itu berbeda dan sam sekali tidak ada hubungannya dengan perusahan.
Tangannya terulur hendak mengambil sebuah pulpen untuk menandatangani dokumen -dokumen dihadapannya, tapi belum sempat dia mengguratkan tinta pulpen di atas kertas, sudah terdengar suara ketukan pintu dari luar.
Tok..Tok..Tok...
"Masuk", ucapnya.
"Tuan, dia sudah datang", ucap sekertaris yun.
"Suruh dia masuk", perintahnya.
"Baik tuan", jawab sekertaris yun dan kembali pergi.
Daichi langsung menyingkirkan dokumen-dokumen yang hendak ditandatangani itu, baginya kapanpun dia bisa menandatangani itu semua, tapi tidak dengan urusannya sekarang yang jauh lebih penting.
"Selamat datang", sapa daichi.
"Terima kasih sudah mengundang saya tuan", ucap pria tersebut, dia mengulurkan tangannya di hadapan daichi dan dengan cepat daichi menjabat tangannya.
"Silakan duduk",ucap daichi.
"Ini masih seperti mimpi mendapatnya undangan dari anda", ucapnya.
Daichi hanya tertawa. "Bagaimana dengan perusahan anda?"tanya daichi.
"Seperti yang anda ketahui, masih membutuhkan bantuan dari perusahaan yang besar seperti perusahaan anda tuan", ucapnya.
"Benar-benar mengambil kesempatan", batin sekertaris yun yang memandangi pria tersebut.
"Saya berharap, perusahan saya dapat bekerja sama dengan perusahan Tama Group", ucapnya.
Daichi hanya duduk diam tak bergerak sesaat, menyerap semua perkataan pria yang ada dihadapannya itu. Perlahan senyumnya merekah, hingga membuat sekertaris yun bingung dengan apa yang ada dipikiran daichi sekarang.
"Dengar, untuk bekerja sama dengan perusahaan Tama group sepertinya belum bisa", katanya.
"Maaf? Apa saya tidak salah dengar?"tanyanya.
Daichi menghembuskan napasnya keras-keras. "Anda sama sekali tidak salah dengar",jawabnya.
"Kalau begitu, kenapa anda mengundang saya?"tanyanya.
"Begini untuk bekerja sama dengan Tama Group sepertinya itu belum bisa dilakukan, tapi saya memilki penawaran yang bagus untuk perusahaan anda", ucapnya, dia menatap dengan tatapan tajam dan terlihat licik tentunya.
"Permainan akan dimulai", batin sekertaris yun yang memahami makna dark senyum bossnya itu.
"Penawaran?"tanya kembali.
"Hmm. Saya akan menjadi investor secara pribadi di perusahaan anda", ucapnya.
Dia mendesah, matanya terpejam sesaat karena senang saat mendengar ucapan daichi.
"Apa saya tidak salah dengar? Anda akan menjadi investor untuk perusahaan saya?"tanyanya dengan perasaan bahagia.
"Tentu saja", jawabnya langsung.
"Terima kasih banyak , tuan daichi", katanya.
Daichi hanya tersenyum. "Tapi dengan satu syarat",ucapnya.
Spontan saja senyum yang terlihat di wajah pria tersebut terhapus begitu cepat, kalimat yang keluar dari mulut daichi seperti sebuah sambaran petir disiang hari baginya.
"Syarat apa tuan?"tanyanya, dia menunggu untuk bersiap-siap mendengar apa yang ingin dikatakan daichi.
Daichi menyadari bahwa pria itu sedang menunggu syarat yang ingin diberikannya. Dia berbicara dengan lambat-lambat, membuat siapapun yang menunggunya merasa tidak sabar dan kesal.
"Saya ingin anda membatalkan niat perusahaan anda untuk memakai nona sera sebagai model kalian.", ucapnya tenang.
"Membatalkan kerja sama dengan nona sera?"tanyanya.
"Benar. Apa anda merasa keberatan?"tanya daichi.
"Sama sekali tidak, tuan. Apa hanya itu syarat yang anda berikan?"tanyanya yang mencoba memastikan kembali dengan syarat tersebut.
"Hmmm. Itu saja", balasnya.
"Baiklah tuan. Aku akan menerimanya, apa pun itu", ucapnya.
"Baguslah, sekertaris saya akan mengurus semuanya, jika anda sudah melakukan sesuai dengan perintah saya", ucap daichi.
"Saya akan segera memenuhi syarat itu tuan",jawabnya.
"Baiklah, itu yang ingin saya dengar", kata daichi.
"Kalai begitu, saya izin pamit tuan", ucap pria itu, bangkit berdiri.
"Silakan, sekertaris saya akan mengantar anda", ucapnya sembari menjabat tangannya.
"Sampai jumpa, tuan daichi", ucapnya.
"Silakan tuan, saya akan mengantar anda", ucap sekertaris yun.
"Baik, tuan yun", jawabnya yang melangkah pergi meninggalkan ruang daichi.
Mata daichi mengantarkan kepergian mereka keluar dari ruangannya, hidup ini seperti permainan untuknya. Kekuasaan dapat mengalahkan hati nurani yang dimiliki setiap orang, apapun akan dilakukan untuk mendapatkan keuntungan tanpa memperdulikan hidup orang lain.Daichi hanya menyunggingkan senyum miringnya dan kembali melanjutkan pekerjaan yang tertunda .
Bersambung.....
__ADS_1