
Setiap saat dia selalu memperingati sera agar tidak mendekati sakura, baginya ancaman yang diberikan daichi saat dirumah sakit waktu itu bukanlah main-main. Wajahnya terlihat sangat serius saat mengatakannya kepadanya, bahkan mengingat tatapan mata daichi kepadanya saat itu membuat dia merinding.
"Ayana",panggil yumi.
"Yumi, pulanglah nanti dengan sera", ucapnya.
"Kamu mau kemana?"tanya yumi.
"Aku mau pulang duluan", ucapnya.
"Kenapa tidak pulang bersama kalau begitu, bukankah acaranya juga telah selesai dan sera tadi meneleponku barusan untuk menyiapkan mobil", jelas yumi.
"Tidak yumi, aku ingin pulang sendiri naik taxi", ucap sera.
"Kenapa harus naik taxi, ayana?"tanya yumi.
Kali ini kesabarannya benar-benar sangat diuji saat harus berhadapan dengan yumi.
"Yumi, lakukan saja apa yang aku suruh tadi. Jangan banyak bertanya", ucapnya, nada suaranya mulai meninggi dan merasa kesal.
"Maafkan aku ayana", ucap yumi.
"Yasudah, aku pergi dulu", ucap ayana.
"Hmm, hati-hati ayana", teriak yumi.
Dia terus memperhatikan ayana yang telah pergi dengan taxi. Meskipun ayana tidak mengatakan apapun kepadanya, tapi dengan melihat sikapnya dia tahu bahwa dia sedang bermasalah dengan sera. Ketika dia membalikan badannya, begitu kaget nya dirinya saat melihat sera sudah berdiri di belakangnya, matanya fokus mengantarkan kepergian ayana.
"Nona se-ra. Anda mengagetkan ku", ucap yumi.
"Kemana dia?"tanya sera.
"Ahh, dia mengatakan ingin pulang duluan", ucap yumi.
"Sepertinya dia benar-benar marah denganku", ucap sera, tanpa merasa bersalah.
"Apa kalian berantam lagi?"tanya yumi.
"Aku rasa, aku terlalu baik sampai-sampai orang yang bekerja denganku seenaknya ikut campur urusan pribadiku dan tidak tahu menempatkan dimana posisinya", ucap sera.
Yumi hanya diam, dia sama sekali tidak mengerti dengan ucapan yang dilontarkan sera.
"Bukan pintu mobilnya", perintah sera.
"Ah, baik", ucap yumi, dia langsung membuka pintu mobil itu untuk sera dan langsung menutupnya saat sera sudah masuk kedalam.
°°°°°
Kimi terus menangis di depan kamar sakura di ujung lorong dilantai dua, dia terlihat begitu cemas saat sakura sedang diperiksa oleh dokter.Beberapa menit di dalam, dokter tersebut keluar dari ruangan sakura dan langsung diserbu kimi dengan banyak pertanyaan.
"Bagiamana keadaannya dok? Apa yang sebenarnya terjadi? Dia baik-baik saja, bukan?"tanya kimi
"Dia baik-baik saja nona,hanya kelelahan", jelas dokter tersebut.
"Syukurlah", ucap kimi.
"Saya sudah memberikannya obat dan saat ini sedang istirahat. Apa anda keluarganya?"tanya dokter itu.
"Ahh, saya adalah sekertaris pribadinya", jawab kimi.
"Kalau begitu , tolong kabari keluarga pasien dan tolong untuk jangan membuatnya terlalu banyak pikiran", jelas dokter tersebut.
"Baik dokter. Apa saya bisa melihatnya?"tanya kimi.
"Tentu saja, silakan", jawab dokter tersebut.
"Terima kasih dokter", ucap kimi.
Dia membuka pintu ruangan tersebut, tangisnya kembali pecah saat melihat sakura terbaring lemah sedang tidur.
"Nona sakura", ucapnya dengan air matanya yang terus keluar tanpa henti.
Perasaannya merasa sangat bersalah, seandainya saja tadi dia tidak meninggalkan sakura sendirian,seandainya tadi dia menemani sakura ke toilet, hal seperti ini tentu tidak akan terjadi.
__ADS_1
"Apa yang harus aku katakan dengan tuan daichi", ucapnya.Dia mengambil ponsel didalam tasnya, mencari kontak yang ingin dihubunginya saat ini.
°
°
Seperti memiliki ikatan batin yang kuat, daichi terus termenung. Dia sama sekali tidak berkonsentrasi dengan pekerjaannya, bahkan dia mengabaikan sekertaris yun yang dari tadi berbicara menjelaskan sesuatu kepadanya.
"Tuan daichi. Tuan daichi"panggil sekertaris yun, sambil mengetuk pelan meja kerja daichi.
"Ya, sekertaris yun?"desisnya. Dia langsung tersadar dalam lamunannya dan menatap sekertaris yun
"Apa anda dari tadi tidak mendengarkan ku?"Tanya sekertaris yun.
"Aku mendengarnya", jawab daichi dengan cepat.
"Benarkah?"tanya sekertaris yun, menatapnya dengan tak yakin.
"Tentu saja. Kamu tadi membicarakan kerja sama kita dengan perusahan CLc , bukan?"tanya daichi, dia terlihat sangat percaya diri mengatakannya.
"Kita sedang membahas perusahan Atzura, tuan daichi", jawab sekertaris yun.
"Atzura?"tanya daichi.
"Benar. Atzura bukan CLC. Sebenarnya apa yang sedang anda pikirkan tuan?"tanya sekertaris yun
"Entahlah, aku terus saja memikirkan sakura. Perasaanku tidak enak", ucap daichi.
"Apa lebih baik kita menemui nona sakura, tuan daichi?"tanya sekertaris yun.
Dia menimbang - nimbang ajakan sekertaris yun untuk pergi menemui sakura.
"Bagaimana kalau kamu menelepon kimi, tanyakan dia apa sakura baik-baik saja",perintah daichi
"Baik Tuan", jawabnya, namun baru saja dia ingin menelepon kimi, ponselnya berdering dan dia hanya tersenyum saat orang yang ingin dihubunginya sudah meneleponnya duluan.
"Kebetulan sekali", ucapnya sambil tersenyum, tapi senyum itu menghilang seketika saat dia mengingat ucapan kimi yang mengatakan akan menghubunginya jika terjadi sesuatu dengan sakura dan tanpa berpikir panjang, dia langsung menjawab telepon itu.
"Hallo", ucapnya , suaranya terdengar berat.
Sekertaris yun dengan refleks menatap kearah daichi saat mendengar suara kimi, sepertinya hal buruk telah terjadi saat ini dengan sakura.
"Kenap anda menangis nona kimi?"tanya sekertaris yun perlahan.
Daichi langsung bangkit dari tempat duduknya dan berjalan mendekat kearah sekertaris yun, perasaannya semakin was-was saat mendengar pertanyaan yang dilontarkan sekertaris yun.
"Tu-an yun, no-na sakura sekarang ada di rumah sakit", ucap kimi yang terus saja menangis hingga membuat sekertaris yun kurang jelas mendengar suaranya.
"Nona kimi, tolong tenanglah. Sekarang tarik napas anda, tenangkan diri anda karena jika anda menangis saya tidak bisa mendengar suara anda dengan jelas", ucap sekertaris yun.
Kimi mulai menenangkan dirinya dengan mengikuti saran yang diberikan sekertaris yun kepadanya, saat kondisinya dirasa telah tenang, dia kembali berbicara.
"Tuan yun, nona sakura saat ini sedang dirawat dirumah sakit", ucapnya.
"Apa!!" sekertaris yun benar-benar kaget saat mendengarnya.
"Ia tuan, nona sakura tadi jatuh pingsan",jelasnya.
"Dirumah sakit mana?"tanyanya.
"Marata Hospital",jawab kimi
"Baiklah, kami akan segera kesana. Tunggulah kami disana", ucap sekertaris yun.
"Hmmm", jawab kimi dan langsung menutup teleponnya.
"Ada apa?"tanya daichi yang semakin panik saat sekertaris yun telah selesai menjawab telpon kimi.
Sekertaris yun merasa bingung, bagaimana menyampaikannya kepada daichi.
"Aku bertanya kepadamu sekertaris yun!!!!"teriak daichi, wajahnya begitu merah dan marah.
Sekertaris yun memutar bola matanya dan berkata, "Nona sakura, saat ini sedang dirawat dirumah sakit.
__ADS_1
"Apa kamu bercanda? Apa maksudmu sekertaris yun?"tanya daichi sambil mengguncang -guncang sekertaris yun.
"Nona kimi mengatakan seperti itu tuan", jawabnya.
Tanpa banyak bicara daichi langsung berlari meninggalkan ruangannya, pikirannya benar-benar sangat kacau. Sekertaris yun yang melihat hal tersebut langsung mengejar daichi, dia tidak mau pikiran kacau daichi sekarang membuatnya dalam bahaya.
"Tuan, jangan seperti ini", ucap sekertaris yun yang menahannya.
"Istriku sedang dirumah sakit!!! Bagaimana aku tidak panik, sekertaris yun!!!"teriaknya.
"Saya mengerti tuan, saya akan menemani anda. Saya hanya tidak ingin ada kenapa- kenapa jika menyetir sendirian", jelas sekertaris yun.
Daichi langsung melemparkan kunci mobil kepadanya, sepertinya bujukannya berhasil dan membuat daichi sedikit lebih tenang. Keduanya langsung masuk kedalam mobil dan pergi dari sana menuju rumah sakit.
Sekertaris yun langsung menginjak gasnya, kecepatan penuh dibutuhkan saat ini agar bisa cepat sampai kerumah sakit. Dia mengemudi dengan ngebut menyusuri jalan raya yang panjang sampai akhirnya sekitar 15 menit mereka tiba dan memarkirkan mobil mereka disana.
Dibantingnya pintu mobil dan berjalan dengan langkah terburu-buru masuk kedalam rumah sakit itu dan diikuti sekertaris yun di sebelahnya.
"Dimana?"tanya daichi
"Lantai 2 ", jawab sekertaris yun sambil menekan tombol lift.
Saat pintu lift itu terbuka, pandangan mata mereka langsung tertuju kepada kimi yang berada diujung lorong.
"Itu nona kimi", ucap sekertaris yun.
"Kimi", ucap daichi.
"Tuan daichi", dia langsung menghampirinya.
"Apa yang terjadi?"tanya daichi.
"Nona sakura tadi jatuh pingsan tuan", jawabnya yang masih saja menangis.
"Pingsan? Dimana dia sekarang?"tanya daichi.
"Ada didalam, dokter baru saja memeriksanya dan nona sakura sedang tidur saat ini", jawabnya.
"Aku kedalam dulu", ucap daichi.
Daichi terdiam saat satu kakinya melangkah masuk kedalam ruang rawat sakura, dia tertegun
bingung melihat istrinya tidur disana sedangkan tadi pagi mereka masih bersama- sama dan terlihat sangat baik. Perlahan dia mencoba melangkahkan kakinya berjalan lebih dekat kearah sakura, di lihatnya wajah istrinya itu sangat pucat, bibir merah muda yang selalu menggoda untuknya begitu kering. Dengan lembut disentuhnya pipi sakura yang terasa masih hangat dan mengelusnya lembut.
"Seandainya tadi kamu mendengarkan ku sayang", ucapnya yang merasa bersalah tak mampu menahan sakura untuk tidak pergi hari ini dan beristirahat dirumah..
Setelah selesai melihat sakura sebentar, dia kembali keluar ruangan untuk menanyakan kimi bagaimana semuanya bisa terjadi dan apa penyebab sakura hingga bisa pingsan seperti itu, saat terdengar suara pintu terbuka, sekertaris yun dan kimi yang menunggu diluar langsung berdiri dan menyambut daichi.
"Bagaimana keadaan nona sakura tuan?"tanya sekertaris yun.
"Dia masih tidur dan belum sadar", jawab daichi.
"Apa sebaiknya kita memindahkan nona sakura dari rumah sakit ini kerumah sakit wongdo?"tanya sekertaris yun.
"Itu tidak perlu, sekertaris yun", ucap daichi
"Baik tuan", jawab sekertaris yun.
"Kimi, apa sebenarnya yang terjadi?"tanya daichi.
"Soal itu, saya tiba-tiba melihat nona sakura pingsan tuan", jawab kimi.
"Apa yang membuatnya bisa pingsan seperti itu? Apa acaranya tadi begitu melelahkan? Jika iya, aku akan menuntut mereka", ucap daichi dengan wajah yang marah.
"Tidak tuan, acaranya berlangsung cukup singkat. Lagipula nona sakura juga tidak terlalu lelah saat melakukan kegiatannya", sahut kimi
"Lalu apa yang membuatnya bisa seperti saat ini?"tanya daichi.
Kimi ragu-ragu sejenak saat ingin mengatakannya, wajahnya terlihat ragu untuk memberitahu daichi apa yang sebenarnya terjadi dengan sakura.
"Kenapa kamu diam kimi?"tanya daichi.
Dia berusaha memikirkan bagaimana dia menyampaikannya kepada daichi karena apa yang didengarnya tidak seharusnya dia mendengarnya. Semakin dia mencoba memikirkannya, desakan yang diberikan daichi membuat pikirannya hampa. Ditatapnya mata daichi dengan penuh kepercayaan dan tanpa keraguan lagi sambil membuka mulutnya untuk berbicara dan hanya dua kata yang terucap keluar dari mulutnya dan langsung membuat daichi tersentak saat mendengarnya dua kata yang terucap.
__ADS_1
"Nona sera".
Bersambung....