Pernikahan Yang Dijodohkan

Pernikahan Yang Dijodohkan
Episode 138 Ancaman


__ADS_3

"Daichi",ucap ayana.


Matanya tajam menatap ayana, wajahnya masih terlihat garang, mulutnya terkatup rapat. Dia masih menatap ayana galak selama beberapa detik, sampai akhirnya dia membuka mulutnya dan mengeluarkan suara.


"Dimana sera!


"Se-ra", namun belum sempat ayana menjawab pertanyaannya daichi, dia langsung menyelonong masuk kedalam.


"Sera!!!!!!"teriak daichi.


"Sera.., keluar!!!!


"Daichi, ada apa?"tanya ayana.


Dipandanginya ayana yang terlihat bingung dengan matanya yang tajam dan menyala seperti bara api.


"Suruh sera keluar sekarang!!!!perintahnya


"Tapi ada apa?"tanya ayana.


"Ayana", ucap yumi yang keluar dari kamar.


"Dimana sera?" mata daichi menatap tajam kearah yumi.


"Dia ada dikamar nya tuan"jawab yumi


Sontak saja, ayana langsung melotot kearah yumi yang begitu polos dan terbuka kepada daichi.


"Kenapa ribut sekali", ucap sera yang keluar dari kamarnya, dia sama sekali belum menyadari kehadiran daichi. Ekspresi wajahnya benar-benar berubah saat matanya melihat keberadaan daichi.


"Daichi", ucapnya dengan senyum dan berjalan menghampirinya.


"Apa yang kamu lakukan disini", ucapnya dengan satu tangan ingin menyentuh daichi, tapi dengan cepat daichi menahan tangan yang ingin menyentuhnya.


"Awww", teriak sera, dia merasa begitu kesakitan saat daichi mencengkram pergelangan tangannya begitu kuat.


"Daichi, sakit",ucap acap sera yang mencoba melepaskan tangannya dari cengkraman daichi.


Seketika itu ketegangan terjadi disana, semakin sera memohon kepada daichi, semakin kuat cengkraman tangannya.


"Daichi, apa yang kamu lakukan. Dia merasa sangat kesakitan",ucap ayana.


Daichi hanya tersenyum sinis mendengar perkataan ayana.


"Tutup mulutmu!!!!"ucapnya dengan ayana.


Ayana sontak langsung terdiam saat di lihatnya kemarahan daichi yang begitu memuncak.


"Kamu bisa merasa sakit?"tanyanya kepada sera dan semakin mencengkram tangan sera dan mengabaikan rasa sakit yang dikeluhkan sera.


"Lepaskan daichi, sakit", ucap sera.


"Sakit? Lalu bagaimana dengan sakura?"tanya daichi.


Sera tersentak. "Apa maksudmu daichi, aku sama sekali tidak mengerti", ucapnya.


"Jangan berpura-pura lagi sera, aku sudah muak", ucap daichi, wajahnya kembali menegang.


"Aku sama sekali tidak tahu apa yang kamu katakan daichi", kata sera.


"Hentikan daichi.Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa kamu datang dan marah- marah seperti ini?tukas ayana.


Daichi menghembuskan napasnya, lalu melepaskan cengkraman tangannya dari sera dan menghempaskan tangan sera.


"Sera, apa kamu baik-baik saja?"tanya ayana.


Sera hanya diam sambil memandangi pergelangan tangannya yang merah dan berbekas akibat cengkraman daichi. Ditatapnya daichi yang terlihat masih penuh dengan kemarahan.


"Daichi", ucap sera yang mencoba mendekatinya.


"Jangan pernah mendekat kepadaku.Aku sudah muak denganmu sera", ucapnya dengan kedua matanya yang membara penuh kebencian kepada sera.


"Aku mohon jangan katakan itu", ucap sera sambil menangis.


"Kesempatanmu sudah habis sera! Berkali-kali aku menahannya, tapi kali ini apa yang telah kau lakukan sungguh keterlaluan. Aku tidak akan pernah memaafkan siapapun yang mencoba melukai sakura, aku akan menghancurkan siapapun itu", ucapnya.


Kali ini ayana hanya diam, perkataan daichi membuatnya mulai mengerti dengan situasi yang terjadi saat ini. Baginya masa depan sera benar - benar akan hancur di tangan seorang daichi tama, kali ini dia merasa bahwa apa yang dikatakan daichi bukan lagi sebuah peringatan hingga membuat sekujur tubuhnya bergidik.

__ADS_1


Ayana mencoba memikirkan sesuatu yang dapat mengubah semuanya.


"Daichi, aku mohon. Jangan lakukan itu pada sera", pinta ayana.


"Kau pun akan menjadi target yang akan aku hancurkan ayana. Aku sudah memperingati mu berkali-kali dan sepertinya kau sedang mencoba bermain-main dengan ku", ucap daichi.


"Itu tidak benar, daichi. Selama ini aku sudah mencoba memperingati sera untuk menjauh dari mu dan dari nona sakura", kata ayana.


"Terimalah kehancuran kalian sebentar lagi",ucapnya dengan nada yang dingin dan mata yang tajam sambil melihat wajah mereka satu demi satu, sebuah wajah yang terlihat ketakutan, tapi itu sama sekali tidak berarti intuk seorang daichi.


"Kau tidak bisa memperlakukan ku seperti itu daichi!!!"teriak sera.


Daichi memandangi sera dengan sinis.


"Aku bisa melakukan apapun denganmu sera!! Selama ini aku diam bukan karena aku masih memiliki perasaan atau memandang mu sebagai mantan kekasihku, tapi aku melakukannya karena masih mengingat orang tua mu. Jika bukan karena itu, aku sudah menghancurkan mu dari dulu",ucap daichi.


Ketegangan dapat dengan jelas terlihat diantara sera dan daichi. Dia melangkah berjalan mendekat kearah sera, didekatkannya wajahnya kehadapan sera untuk menyampaikan sesuatu kepadanya.


"Dengar sera, aku akan membuat mu merasa menyesal telah kembali ke negara ini", ucapan, suara itu terdengar tenang, ditatapnya wanita itu datar tanpa ekspresi sebelum dia akhirnya benar - benar pergi.


Kaki yang menopangnya kini benar -benar tidak memiliki kekuatan lagi,hingga ia terjatuh dilantai dengan wajah yang masih terlihat syok. Dia merasa hidupnya benar - benar hancur dan tidak ada gunanya lagi sekarang, saat pria yang dicintainya begitu membencinya. Banyak pertanyaan yang saat ini muncul dalam pikirannya. Bagaimana jika apa yang dikatakan daichi benar? Bagaimana jika terjadi sesuatu dengannya nanti? Pemikiran itu membuatnya benar - benar merasa ketakutan sekarang.


"Sera, apa kamu baik-baik saja?"tanya ayana.


"Itu tidak benar, bukan? Tuan daichi tidak akan melakukan apapun kepada kita kan?"tanya yumi yang terlihat panik.


"Dia tidak akan melakukan apapun yumi, dia tidak akan mungkin melakukannya kepadaku", ucap sera.


Tidak ada bantahan yang diberikan ayana atas perkataan sera, baginya hanya menunggu yang dapat mereka lakukan sampai besok dan besar kemungkinan bahwa apa yang di ucapkan daichi benar -benar akan terjadi.


Dari kejauhan sekertaris yun dapat melihat daichi yang berjalan kearahnya, ekspresi wajahnya sama sekali tidak berubah saat dia pergi tadi. Dia sama sekali tidak memiliki keberanian untuk bertanya apa yang telah terjadi di dalam karena bukan waktu yang tepat.


"Kita kembali ke rumah sakit sekarang", ucapnya yang telah duduk disamping sekertaris yun.


"Baik tuan", jawabnya.


Dinyalakannya mesin mobil dan dilakukan mobil itu menembus rintikan hujan diiringi gemuruh di langit yang gelap.


"Hujannya deras sekali", ucap sekertaris yun yang mencoba mencairkan suasana.


Mobil itu melaju melintasi jalan raya yang licin menuju kerumah sakit, selama diperjalanan daichi hanya diam dan fokus memandang kedepan .


"Apa itu tuan?"tanya sekertaris yun yang sekilas melirik daichi.


"Cari tahu semua perusahaan yang menggunakan sera sebagai model mereka", ucapnya.


Sekertaris yun hanya mengangguk, meski matanya dipenuhi rasa ingin tahu.


"Saya akan menjalankan perintah anda segera tuan", jawabnya.


••••••••••••


Rumah sakit🏥


Ruangan itu kini kembali sunyi,hanya tertinggal kimi yang menjaga sakura saat semua orang telah pulang, setidaknya ruangan yang sunyi sangat diperlukan sakura yang sedang sakit dan membutuhkan ketenangan.


"Kimi", panggil sakura dengan lembut.


"Ia nona, apa anda membutuhkan sesuatu?"tanya kimi yang berjalan mendekatinya.


"Tidak kimi, hari sudah malam.Lebih baik kamu pulang sekarang", ucapnya.


"Saya akan tetap disini untuk menemani anda nona, sampai tuan daichi kembali", ucap kimi.


"Sebenarnya kemana mereka pergi, kimi?"tanya sakura.


Kimi terdiam sejenak, dia pun merasa penasaran kemana daichi dan sekertaris yun pergi. Pikirannya hanya tertuju kepada sera, sikap daichi berubah seketika saat dirinya menceritakan apa yang terjadi antara sera dan sakura tadi. Untuk pertama kalinya, dia melihat secara langsung sekarang daichi tama terlihat emosi dan marah.


"Kimi???? Kimi???"panggil sakura.


"Ah, iya nona", jawab kimi yang tersadar.


"Apa yang sedang kamu pikirkan?"tanya sakura.


"Tidak ada nona", jawabnya sambil tersenyum.


"Kenapa mereka belum datang juga", ucap sakura yang terlihat sedih menantikan kehadiran suaminya itu.

__ADS_1


"Nona, sebentar lagi tuan daichi pasti akan kembali", jawab kimi.


"Hmmm". Kimi, pergilah keluar untuk mencari makan, kamu pasti belum makan kan dari tadi", ucap sakura .


"Saya akan makan setelah tuan daichi kembali nona", ucapnya.


Sakura menggelengkan kepalanya. "Tidak kimi, makanlah sekarang. Aku tidak ingin kamu jatuh sakit", ucap kimi.


"Apa anda yakin tidak apa- apa jika saya tinggal sebentar?"tanya kimi.


"Tentu saja, pergilah kimi. Aku baik-baik saja", jawab sakura.


"Kalau begitu saya pergi dulu nona, saya akan makan di kantin rumah sakit saja karena sepertinya hujan sangat deras diluar", ucap kimi.


"Hmmm, pergilah kimi", ucapnya.


Angin berhembus sangat kencang, gemuruh petir memecahkan keheningan langit dimalam hari. Keduanya turun dari mobil sambil berlari menembus derasnya hujan yang membuat mereka berdua basah kuyup saat tiba di loby rumah sakit.


"Hujannya tidak berhenti dari tadi", ucap sekertaris yun, tangannya mengelus -elus pakaiannya yang basah.


"Bukankah itu nona kimi?"ucap daichi.


Sekertaris yun langsung melihat kearah yang dimaksud daichi, tepat sekali wanita yang sedang berjalan itu ada kimi.


"Ia tuan, itu nona kimi", jawabnya.


Daichi langsung berjalan menghampiri kimi, sekertaris yun langsung mengikuti daichi dari belakang.


"Nona kimi", ucap daichi.


"Oh, tuan daichi", ucap kimi yang terlihat kaget.


"Nona kimi", sapa sekertaris yun.


"Akhirnya kalian sudah kembali", ucap kimi yang terlihat lega.


"Anda mau kemana?"tanya daichi.


"Saya ingin ke kantin tuan untuk makan malam, nona sakura yang menyuruh saya. Padahal saya sudah mengatakan kepadanya akan makan setelah anda kembali", jelas kimi.


"Lalu sakura? Dengan siapa dia disana? Apa kak sena yang menemaninya?"tanya daichi.


"Nona sena dan yang lain sudah pulang tuan, sekitar 15 menit yang lalu", jelas sakura.


"Yang lain?"tanya daichi, bingung.


"Tadi tuan rici, tuan tana dan nona Yuka juga datang menjenguk nona sakura",ucapnya.


"Kalau begitu sekarang sakura sendirian di ruangan nya", ucap daichi.


"Benar tuan. Maafkan saya", ucap kimi.


"Kamu tidak perlu minta maaf kimi. Terima kasih sudah menjaga sakura", ucap daichi.


"Sama-sama tuan", jawab kimi.


"Kalau begitu saya pergi dulu melihat sakura", ucap daichi sambil tersenyum, wajahnya kini mulai terlihat tenang, ekspresi kemarahannya perlahan mulai menghilang sejak mereka tiba dirumah sakit.


"Saya akan menemani anda tuan", ucap sekertaris yun, satu kakinya hendak melangkah mengikuti daichi.


"Tidak perlu sekertaris yun, lebih baik sekarang kamu juga pergi makan malam bersama nona kimi", ucap daichi.


"Lalu bagaimana dengan anda tuan? Anda juga dari tadi belum ada makan", ucap sekertaris yun.


"Jangan mencemaskan diriku, sekertaris yun. Pergilah dan ajak nona kimi untuk pergi makan", perintah daichi.


"Baik tuna", jawab sekertaris yun.


Daichi langsung pergi meninggalkan keduanya sendirian menuju ruangan sakura dan tinggal tersisa sekertaris yun dan kimi yang terlihat kaku satu sama lain. Sejak kejadian waktu itu, hubungan keduanya terasa canggung.


"Kenapa harus bersama sekertaris yun", batin kimi, dia selalu berusaha sebisa mungkin menghindari dirinya untuk bertemu dengan sekertaris yun, ada perasaan yang tidak dapat dipahaminya saat bersamanya. Jantungnya langsung berdebar saat berduaan dengannya, bahkan dia semakin tidak mengerti dengan dirinya sendiri saat sekertaris yun menatap dirinya.


"Nona kimi, mari", ucap sekertaris yun.


"Iya", ucap kimi.


Keduanya berjalan menuju kantin rumah sakit untuk menikmati makan malam berdua dalam suasana yang kurang romantis tentunya, tapi tidak untuk kimi saat bersama sekertaris yun.

__ADS_1


Bersambung.....


__ADS_2