Pernikahan Yang Dijodohkan

Pernikahan Yang Dijodohkan
Episode 86 Memohon


__ADS_3

Selepas selesai makan malam, mereka pergi meninggalkan ruang makan tersebut dan hanya tersisa sakura dan beberapa pelayan yang sedang membereskan meja makan tersebut.


"Sakura....," panggil daichi.


"Hmm..., Iya", jawab sakura sambil menoleh kearah belakangnya.


"Aku pergi menemui ayah duluh, masih ada hal yang ingin kamu bahas. Naiklah duluan kekamar nanti, aku akan menyusul", ucap daichi.


"Hmmmm.....," jawab sakura.


Daichi pun pergi meninggalkan sakura untuk menemui ayahnya yang berada diruang kerjanya.


"Nona sakura, biar kami saja yang mengerjakannya. Anda lebih baik pergi beristrahat", ucap salah seorang pelayan wanita.


"Tidak apa - apa, biarkan saya membantu kalian", ucap sakura.


"Ta-pi kepala pelayan Ling akan marah kepada kami nanti jika dia melihat ini", ucap pelayan wanita itu.


"Tenang saja, tidak akan ada yang marah kepada kalian", ucap sakura yang tersenyum kepada para pelayan yang ada di ruangan itu.


Sakura kembali membatu mereka merapikan meja makan yang masih berserakan dengan piring - piring kotor, para pelayan wanita itu hanya tersenyum saat melihat majikan mereka membantu pekerjaan yang seharusnya menjadi tanggung jawab mereka.


"Sakura, Apa yang sedang kamu lakukan disini sayang?" tanya Imoto.


"Ibu...," ucap sakura yang hanya melemparkan sebuah senyuman kepada ibu mertuanya.


"Ibu pikir kamu sudah naik keatas", ucap Imoto.


"Belum Bu. Sakura masih membantu merapikan ini", ucap sakura.


"Kenapa kamu harus melakukannya, biarkan mereka yang mengerjakannya sayang", ucap Imoto.


"Tidak apa- apa Bu, sakura Senang melakukannya", jawab sakura.


"Sudah sayang, lebih baik sekarang kamu beristrahat. Biarkan mereka yang menyelesaikannya", ucap Imoto.


"Baiklah bu. Tolong diselesaikan", ucap sakura.


"Ia nona sakura", jawab pelayan wanita itu.


Mereka pun pergi meninggalkan ruangan makan itu bersama- sama.


"Dimana daichi?" tanya Imoto yang memperhatikan sekelilingnya.


"Oh, dia sedang menemui ayah Bu", ucap sakura


"Urusan apa yang sebenarnya mereka bahas", ucap Imoto.


"Mungkin mengenai perusahaan Bu", jawab sakura.


"Yasudah sayang, lebih baik kamu sekarang ke kamar. Beristirahatlah putriku", ucap Imoto.


"Baiklah bu, sakura ke kamar duluh. Selamat malam bu", ucap sakura


"Selamat malam putriku", ucap Imoto.


Dia pun pergi meninggalkan Imoto menujuh ke kamarnya. Di dalam kamar sakura merasa kebingungan apa yang harus dilakukannya karena tidur berjam - jam membuat rasa kantuknya hilang. Dia merasa kesepian sendirian berada di kamarnya yang begitu luas apa lagi daichi tak kunjung datang menghampirinya.


Dia meraih remot TV yang ada di atas meja dan menghidupkan TV yang begitu jarang mereka nyalakan selama keduanya menempati kamar tersebut.


"Kenapa tidak ada siaran yang bagus", ucap sakura sambil terus memilih - milih siaran Tv.


Tidak menemukan siaran yang dirasanya menarik untuknya, dia pun kembali mematikan Tv dan meletakan kembali remotnya. Pandangan matanya tertujuh kearah balkon di kamarnya, dia pun melangkah berjalan menujuh kerah balkon kamarnya yang sesungguhnya menjadi salah satu tempat favorit untuk keduanya saat berada dikamar.


Hembusan angin terasa begitu dingin saat dia baru membuka jendela kamarnya. Dia melangkah berjalan keluar menikmati udara malam yang terasa dingin akibat hujan deras yang terjadi sepanjang sore hari. Langit yang awalnya berwarnah biru cerah dengan gumpalan awan putih yang tersebar, dengan tiba - tiba

__ADS_1


berubah warnah menjadi abu - abu disertai dengan percikan air yang turun setetes demi setetes dan kemudian turun begitu deras.


"Sama sekali tidak ada bintang", ucap sakura yang menatap langit di malam hari.


Tidak ada sinar bintang yang menerangi langit malam ini, hingga langit terlihat begitu gelap.


"Apa yang sedang kamu lakukan diluar.


Suara itu mengagetkannya yang dari tadi begitu fokus menatap langit.


"Astaga.., daichi," ucap sakura yang refleks memukul bahu daichi.


"Kenapa?" tanya daichi yang begitu kebingungan


"Kamu mengagetkan ku", ucap sakura..


"Akhhh, Maafkan aku", ucap daichi yang tersenyum kepada sakura.


"Jangan lakukan itu lagi", ucap sakura.


"Apa yang kamu lakukan diluar? Udara begitu dingin ", ucap daichi.


"Aku hanya bosan dan tak tau harus melakukan apa", ucap sakura.


"Apa kamu kesepian saat aku tidak ada?" tanya daichi yang tersenyum menatap sakura.


"Tidak", ucap sakura.


Daichi berjalan mendekat kearah sakura yang dari tadi mengalihkan pandangannya dari daichi.


"Benarkah??" tanya daichi yang kini telah berada di depannya.


"Jangan menatapku seperti itu", ucap sakura yang hanya menundukkan kepalanya.


"Aku mencintaimu", ucap daichi.


Kepala yang dari tadi hanya tertunduk, seketika terangkat saat mendengarkan kalimat yang terucap dari bibir daichi. Mata yang dari tadi begitu liar menatap entah kemana kini seakan memiliki keberanian menatap kedua mata indah yang ada di pandangannya saat ini. Sebuah senyum indah terlukis di wajah yang terlihat begitu tampan dan membuatnya terhanyut dalam senyum yang tertujuh untuk dirinya.


"Ada apa? Kenapa menatapku seperti itu?" tanya daichi.


Sakura hanya menggelengkan kepalanya, bibirnya seakan sulit mengeluarkan kata- kata.


"Tidak", jawab sakura dengan wajahnya yang terlihat malu- malu.


"Kemarilah, kamu selalu saja malu kepada suamimu.", ucap daichi sambil menarik sakura di dalam pelukannya.


Terasa begitu hangat itulah yang dirasakan sakura saat berada di dekapan daichi, hembusan angin yang dingin seakan terhalang menembus kulit sakura saat tubuhnya berada dalam pelukan daichi.


"Daichi", ucap sakura dengan suara yang terdengar begitu lembut.


"Hmm...," jawab daichi.


Sakura mencoba melepaskan dirinya dari pelukan daichi, menyadari hal itu dengan perlahan daichi melepaskan pelukannya kepada sakura. Dia mengangkat kepalanya untuk menatap daichi yang jauh lebih tinggi dari dirinya.


"Aku mencintaimu juga suamiku", ucapnya dengan senyum yang begitu manis.


"Benarkah?" tanya daichi sambil menundukkan kepalanya agar sejajar dengan sakura.


"Tentu saja", jawab sakura sambil mendekatkan wajah ke wajah daichi.


Begitu dekat hingga kedua kening mereka saling bersentuhan dengan senyum yang tergambar dikedua wajah mereka dan sorot mata yang saling beradu satu sama lain. Perlahan pandangan mata itu berpindah menatap bibir sakura yang merah dan tipis, semakin dekat hingga membuat sakura begitu gugup dan sulit untuk mengatur napasnya, namun dengan refleks sakura langsung membalikan wajahnya hingga daichi hanya mampu mengggit bibir bawahnya saat mendapatkan penolakan dari sakura kepadanya.


"Lihatlah, itu seperti bintang jatuh ", ucap sakura sambil menujuh kearah yang dimaksudnya dengan begitu bersemangat.


Daichi hanya tertawa saat mendengarkan ucapan sakura yang begitu jelas terlihat sedang salah tingkah dan mencoba mengalihkan situasi yang terjadi.

__ADS_1


Kedua mata sakura tercengang, badannya seakan membeku dan tak mampu bergerak saat daichi melingkarkan kedua tangannya tepat di atas dada sakura dan wajahnya yang begitu dekat di samping wajah sakura.


"Tidak ada bintang malam ini sayang", ucap daichi yang membisikkannya tepat di telinga sakura dengan suaranya yang terdengar begitu Serak, namun lembut.


Seperti sebuah patung itulah yang terjadi kepada diri sakura saat berada di posisi saat ini, kedua pipinya merona menahan rasa malunya. Udara yang tadinya terasa begitu dingin, kini terasa begitu panas seperti ada bara api yang membakar tubuhnya saat ini dengan detak jantungnya yang berdetak begitu cepat.


"Aku tidak sabar", ucap daichi.


"Untuk apa?" tanya sakura.


"Melakukan perjalan berdua kita bersama- sama", ucap daichi.


"Bukankah kita selalu bersama- sama?" tanya sakura.


"Kamu benar sakura, tetapi aku ingin hanya ada kita berdua saja tanpa ada orang lain diantara kita", ucap daichi.


"Aku pun tak sabar untuk itu semua", ucap sakura.


"Minggu depan kita akan berangkat", ucap daichi.


"Daichi", ucap sakura yang masih berada dirangkulan daichi.


"Ada apa?" tanya daichi yang berada dibelakang sakura.


"Apa aku bisa meminta sesuatu kepadamu?" tanya sakura.


"Tentu saja, katakanlah", ucap daichi.


"Bisakah saat disana kita menyewa sebuah apartemen?" tanya sakura.


"Apartemen?"Tanya daichi yang terdengar bingung.


"Hmmm, sebuah apartemen", ucap sakura yang memperjelas sekali lagi apa yang baru saja diucapkannya.


"Tapi kenapa sakura? Sekertaris Yun pasti sudah memesankan hotel untuk kita", ucap daichi.


"Aku hanya ingin mandiri", ucap sakura.


"Mandiri? Aku sama sekali tidak mengerti", ucap daichi.


"Iya, aku ingin menjadi seorang istri yang seutuhnya. Mengurus suami dan melakukan pekerjaan rumah sendirian tanpa ada yang membantuku", ucap sakura.


"Apa?? Ayolah sakura, kamu tidak perlu melakukan itu semua. Aku tidak ingin kamu kelelahan", ucap daichi.


"Sama sekali tidak, biarkan aku melakukannya", ucap sakura yang memohon kepada daichi.


Merasa tidak tega melihat sakura yang memohon kepadanya dan mengingat sakura tidak pernah meminta apapun kepada dirinya selama ini, dia pun akhirnya menuruti segala keinginan dari sakura.


"Baiklah kalau begitu, aku akan meminta sekertaris Yun untuk mencarikan sebuah apartemen untuk kita disana", ucap daichi.


"Sungguh? Benarkah?" tanya sakura sambil membalikan badannya menatap daichi dengan kedua matanya yang berbinar - binar.


"Apapun akan kulakukan untukmu sakura", ucap daichi.


"Terima kasih daichi", ucap sakura dengan pipi yang terangkat sedikit, kedua mata yang menyipit dengan tarikan ujung bibir yang melengkung begitu indah.


"Ahhhh, manis sekali", ucap daichi yang ikut tersenyum.


Entah mengapa saat melihat senyum sakura, dia merasa begitu bahagia. Hatinya terasa begitu tenang dan nyaman saat melihat senyuman tulus sakura untuknya.


Aku berharap vote kalian ya untuk mendukung novel yang author tulis masuk 100 besar.


Pembaca setia ku, terima kasih atas masukan yang kalian berikan kepada saya. Semua masukan yang kalian berikan akan menjadi motivasi buat saya dalam menulis novel saya. Jangan lupa untuk selalu like,coment apa saja yang ingin kalian tulis dan yang paling penting vote untuk saya.🥰🌸


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2