
"Terima kasih kalian bekerja luar biasa", ucap Rei.
"Anda juga dokter", ucap para perawat yang bekerja sama dengannya saat operasi.
"Baiklah, tolong selesaikan sisanya", ucap Rei yang meninggalkan ruangan operasi.
Hampir dua jam berada diruangan operasi membuat seluruh badannya terasa begitu pegal terutama kedua tangannya, dia berjalan menujuh keruangannya untuk beristrahat sebelum dia pulang.
"Dokter Rei!!!!
Rei langsung menoleh kearah belakang saat seseorang memanggil namanya.
"Dokter Yeri", ucap Rei.
Dokter Yeri tersenyum kepadanya sambil berjalan menghampiri Rei.
"Bagaimana dengan pertemuannya? "Apa sudah selesai?" tanya Rei .
"Hmmm, baru saja selesai, bagaimana dengan operasinya apa berjalan lancar?" tanya Yeri.
"Baru saja selesai dan berjalan lancar", jawab Rei.
"Syukurlah kalau begitu, lalu kamu mau kemana?"Tanya Yeri.
"Aku ingin keruangan ku ", jawab Rei.
"Aku dengan dokter Kelvin dan dokter Sona mau pergi makan keluar, apa kamu mau ikut?" tanya Yeri.
"Ahhh, sepertinya aku tidak bisa ikut bersama kalian karena badanku sangat pegal", ucap Rei.
"Baiklah kalau begitu, beristirahatlah", ucap Yeri yang menepuk pundak Rei.
"Aku pergi duluh", ucapnya.
"Hati-hati", ucap Rei.
Dia kembali berjalan menujuh keruangannya, dari kejauhan dia melihat seorang wanita dengan rambut panjang yang tergerai sedang berdiri di koridor menghadap ke depan salah satu ruangan, semakin dekat hingga begitu jelas melihat wajah wanita itu.
"Nona sakura!!!!
Baginya suatu kebetulan dia dapat bertemu kembali dengan sakura, saat dia ingin memanggil nama sakura dia melihat sakura begitu berbeda tidak seperti sakura yang biasanya. Sakura seperti seorang patung hanya berdiri diam dengan tatapannya yang kosong, melihat kondisi itu Rei mengurungkan niatnya dan hanya diam dari kejauhan mengamati sakura.
"Menangis", ucap Rei dengan sorot matanya yang melebar.
"Apa yang sedang dilihatnya?" batin Rei.
Terlihat kurang jelas dari kejauhan, namun dia begitu yakin sakura senang menangis saat dia melihat sakura berulang-ulang menyentuh pipinya dengan tangannya sambil menundukkan kepalanya.
Dia penasaran melihat kondisi sakura yang terlihat seperti sedang sedih, melihat sakura seperti itu membuatnya ingin mengahampiri sakura untuk menenangkannya, tetapi dia sadar bahwa itu tidak pantas dilakukannya terhadap wanita yang kini telah memiliki seorang suami dan akan menimbulkan ke salah pahaman ketika orang melihatnya.
•••••••
__ADS_1
Begitu sakit dengan pemandangan yang di depannya, rasanya ingin berlari sekuat tenaga dari tempat itu, tapi begitu sulit melangkahkan kedua kakinya untuk beranjak pergi, seperti sedang berdiri diatas tumpukan paku terasa begitu perih dan sakit saat melihat keduanya begitu asyik bercerita dengan senyum Sera yang terus menatap kearah daichi.
Hati itu begitu sakit, namun tidak ada lagi kesedihan yang terpancar di wajah sakura, setetes air yang jatuh di pipinya dengan cepat dia menghapusnya. Dia merasa seperti orang yang tengah mati rasa, perlahan dia melakahkan kakinya berjalan meninggalkan tepat itu dan melupakan semua ingatan buruk yang terjadi saat ini.
Dia berjalan dengan sempoyongan hingga membuatnya hampir terjatuh, dia menyandarkan badannya tepat di dinding untuk menenangkan perasaannya. Dokter Rei yang dari tadiasi terus memeperhatikan sakura begitu ingin membantu sakura yang seperti tidak mampu berjalan, tetapi dia sadar mungkin kehadirannya akan membuat sakura semakin tidak nyama untuk sakura.
Sakura kembali berjalan dengan langkah kaki yang perlahan, dokter Rei yang berpikir bahwa sakura akan pulang justru melihat sakura berjalan menujuh kearah rooftop rumah sakit itu.
"Apa yang ingin dilakukannya", batin Rei.
Pikirannya menjadi semakin luas mengarah ke hal-hal yang aneh, dia pun memutuskan untuk mengikuti sakura. Tepat di depan sakura tadi berdiri, Rei menatap kearah ruangan itu.
"Dia, bukankah dia pria yang semalam aku lihat?"batinnya.
Kedua matanya terbuka begitu lebar saat dia mulai mengingat siapa pria yang berpapasan dengannya semalam yang begitu tak asing baginya.
"Daichi Tama yang kini telah resmi menjadi suami dari Sakura Agata".
"Siapa yang dirawat di dalam?" batinnya
Sama seperti apa yang dilihat sakura, Rei pun melihat sosok wanita yang sedang berbaring di ranjang dengan mengenakan alat bantu pernapasan.
"Siapa wanita itu??" batinnya kembali.
Rei mulai memahami situasi yang sedang terjadi saat ini saat mengingat sakura, dia beranjak dari tempat itu dan bergegas mengejar sakura yang berjalan kearah rooftop. Langkah kakinya begitu panjang melewati setiap dua anak tangga sekaligus agar bisa sampai lebih cepat, perasaannya semakin cemas mengingat kondisi sakura tadi.
°°°°°°°
Di sana sakura hanya diam membisu dengan tatapannya yang terlihat kosong. Air mata yang tertahan dari tadi akhirnya meluap saat dia berada sendirian di tempat itu. Perasaanya begitu hancur bahkan lebih sakit dari sebelumnya, kaki yang dari tadi berusaha menopang badannya agar tidak terjatuh kini tak kuasa menahannya dan membuatnya jatuh kebawah dengan suara tangisan yang begitu kencang.
"Sa-kura", ucap Rei.
Entah kenapa dirinya begitu marah saat melihat kondisi sakura saat ini, dia ingin marah kepada orang yang membuatnya terluka. Wajah Rei mendadak menjadi merah menahan kan kemarahannya dengan mengepal kedua tangannya begitu erat.
Dia yang dari tadi mencoba menahan dirinya, kini tidak mampu dan memilih mendekat kearah sakura. Perlahan dia melangkah berjalan menujuh kearah sakura yang masih tergeletak di bawah.
"Sakura", ucap Rei.
Sakura langsung menoleh kebelakang saat menyadari ada seseorang yang berada di tempat itu selain dirinya.
"Dokter Re-i ", ucapnya dengan sorot matanya yang terkejut.
"Ayok berdiri ", ucap Rei.
Dia memegang pundak sakura sambil membatu sakura untuk bangkit berdiri, tanpa perasaan canggung dia menyentuh sakura. Dia mengabaikan semuanya dan hanya fokus terhadap sakura tanpa memikirkan penilaian sakura terhadap dirinya yang begitu lancang dan berani menyentuh dirinya.
"Apa kamu baik-baik saja?"Tanya Rei dengan pandangannya menatap kedua mata sakura yang terlihat sembab.
"Ahh, aku baik-baik saja dokter Rei", jawab sakura dengan tersenyum.
"Jangan tersenyum , jika perasaan mu terluka", ucap dokter Rei.
__ADS_1
"A-pa?" Sakura begitu terkejut mendengar ucapan yang baru saja keluar dari mulut dokter Rei.
"Kamu tidak perlu membohongi perasaanmu di depan saya nona sakura", ucap Rei.
"Sa-ya tidak mengerti maksud anda", ucap sakura.
"Tapi aku mengerti perasaanmu saat ini", ucap Rei.
Kedua bibir sakura tertutup begitu rapat dengan matanya yang menatap dokter Rei, dia begitu tidak paham dengan semua ucapan Rei kepadanya.
"Aku melihatnya semalam disini", ucap Rei.
"A-ku tidak mengerti?" ucap sakura dengan tawa yang terlihat dipaksakan.
"Bukankah pria yang berada di kamar 305 adalah Daichi Tama?" tanya Rei.
Seketika ekspresi wajah sakura berubah saat mendengar nama Daichi dan mulai memahami perkataan yang dari tadi dilontarkan Rei kepadanya.
"Semalam aku melihat daichi datang kerumah sakit dengan begitu terburuh-buruh", ucap Rei.
Hati yang masih terluka kini semakin terasa perih saat seseorang menaburkan garam di atas luka yang masih belum sembuh. Ingatan itu kembali terlintas, sakura mulai memutar semua kejadian yang terjadi semalam. Perkataan daichi yang mengatakannya bahwa tidak bisa makan malam bersama dengannya karena lembur, ditambah lagi dengan ucapan sekertaris Yun kepadanya tadi pagi bahwa dia tidak lembur.
Seperti permainan puzzle, sakura mencoba menyusun setiap potongan dan menyatukannya. Perasaanya semakin hancur saat menyadari bahwa pria yang kini telah berhasil menaklukan hatinya dengan tega membohongi dirinya.
Kepercayaan yang telah diberikannya kepada daichi dengan mudah dihancurkannya begitu saja hanya demi Sera.
"Sakura, apa kamu baik-baik saja ?" ucap Rei
"Iya dokter Rei aku baik-baik saja. "Sepertinya terjadi ke salah pahaman disini?" ucap sakura.
"Salah paham?" tanya Rei.
"Saya berharap anda tidak berpikir sesuatu yang salah", ucap sakura.
"Maksud anda?" tanya Rei yang tidak paham kemana arah perkataan sakura saat ini.
"Soal anda melihat suami saya semalam dan apa yang anda lihat saat ini".
"Terma kasih untuk informasi yang anda berikan kepada saya, tetapi sebelumnya saya juga sudah tau bahwa suami saya semalam kesini".
"Dan untuk wanita yang dirawat dikamar 305, saya sangat mengenalnya dia adalah Sera seorang model yang bekerja sama dengan perusahan suami saya".
"Bahkan saat anda melihatnya semalam, dia datang untuk menjenguk nona Sera hang sedang dirawat dirumah sakit ini", ucap sakura sambil tersenyum
"Benarkah?" tanya Rei.
"Hmmm, saya harap anda untuk tidak salah paham", ucap sakura.
"Tentu saja tidak nona sakura ", ucap dokter Rei
Sebesar apapun kekecewaan sakura terhadap daichi saat ini, dia tetap tidak ingin membuat orang lain menilai buruk daichi. Sakura tetap menjaga kehormatan suaminya di depan orang lain, sebagai seorang istri dia tidak ingin membuat reputasi daichi hancur di mata orang.
__ADS_1
Pembaca setia ku, terima kasih atas masukan yang kalian berikan kepada saya. Semua masukan yang kalian berikan akan menjadi motivasi buat saya dalam menulis novel saya. Jangan lupa untuk selalu like,coment apa saja yang ingin kalian tulis dan yang paling penting vote untuk saya.🥰🌸
Bersambung....