Pernikahan Yang Dijodohkan

Pernikahan Yang Dijodohkan
Episode 90 Maaf


__ADS_3

Author ingin berterima kasih buat kalian yang sudah mendukung saya selama ini, terutama untuk kalian yang terus vote novel yang saya tulis.


Disini saya juga ingin meminta maaf, jika mungkin ada penulisan yang sering salah saya lakukan dan kedepannya saya akan lebih teliti lagi


Jika di episode awal ada banyak kesalahan dalam penulisan, saya akan berusaha untuk memperbaikinya saat saya memiliki waktu yang kosong karena jika saya fokus memperbaiki tulisan saya kemungkinan akan memakan waktu buat saya melanjutkan episode sebelumnya.


Saya berterima kasih buat kritik yang kalian berikan untuk saya dan akan menjadikannya masukan kedepannya.


Terima kasih


..


Aku sayang kalian ❤️🌺


°°°°°°°°°°°°°°


Pandangan mata daichi tertujuh kepada pintu yang terbuka, dia begitu menantikan siapa sosok dibalik pintu itu. Kedua matanya terbuka begitu lebar saat melihat sosok yang masuk kedalam ruangannya, dia terlihat begitu kaget dan langsung bangkit dari bangkunya.


"Sa-kura", ucap daichi sambil terus menatap sakura yang berjalan mendekat kearahnya.


"Kejutan", ucap sakura sambil tersenyum.


Dia mencoba menutupi perasaan cemasnya saat ini di balik senyum ceria yang diperlihatkan kepada daichi, dia mencoba berpura - pura tidak tau mengenai suasana hati daichi yang kurang baik hari ini.


"Apa aku mengganggu mu?" tanya sakura.


Mulut daichi hanya tertutup rapat tanpa mengeluarkan perkataan apapun bahkan sama sekali tidak menjawab pertanyaan yang dilontarkan sakura. Dia hanya berdiri tegap seperti seorang patung sambil terus menatap sakura.


"Apa kamu terkejut melihat ku?" tanya sakura.


"Kenapa datang tiba - tiba?" tanya daichi.


"Aku membawakan mu makan siang", ucap sakura sambil meletakannya di atas meja.


"Makan siang?" tanya daichi


"Hmm.., Aku ingin makan siang bersama suamiku hari ini", ucap sakura.


Sakura berjalan menghampiri daichi yang masih berdiri kaku, dia meraih tangan daichi dan menariknya untuk mengikutinya.


"Duduklah", ucap sakura.


Daichi hanya diam dan mengikuti perintah sakura untuk duduk.


"Aku memasak makan kesukaanmu", ucap sakura.


"Makana kesukaan ku?" tanya daichi yang mulai sadar dari lamunannya.


"Aku memasak sup daging, kepala pelayan Ling yang mengatakan bahwa itu adalah makan kesukaan mu", ucap sakura.


Dia mengeluarkan termos yang berisi sup daging dari tas dan menuangnya sup yang masih panas di sebuah mangkuk.


"Aku harap kamu menyukainya", ucap sakura.


"Aku pasti menyukainya, apa lagi jika kamu sendiri yang memasaknya untuk ku ", ucap daichi.


Sakura mulai meniup sup yang ada di atas sendok, sup itu masih mengeluarkan uap yang masih panas. Dia tidak ingin lidah daichi merasa terbakar saat meminu kuah dari sup panas itu dan memberikannya kepada daichi saat sup itu sudah dirasanya tidak panas lagi.


"Bagaimana rasanya?" tanya sakura.


Dia melihat daichi yang menutup kedua matanya yang menikmati sup yang mendarat di mulut nya, sakura hanya menunggu daichi memberi pendapatnya soal rasa masakannya.


"Sangat lezat", ucap daichi.


"Benarkah?" tanya sakura yang mencoba memastikannya lagi.


"Hmm.., aku sangat suka", ucap daichi.

__ADS_1


"Syukurlah kalau begitu, aku hampir cemas jika kamu tidak menyukainya", ucap sakura.


"Ini sangat enak", ucap daichi.


Dia mulai melahap makan siang yang dibawakan sakura untuknya, sakura hanya tersenyum saat melihat daichi begitu lahap makan hingga membuatnya merasa kenyang.


"Kenapa kamu tidak makan?" ucap daichi.


"Aku sudah merasa kenyang hanya melihat kamu makan begitu lahap", ucap sakura.


"Makanlah ini", ucap daichi sambil menyulangngi sakura makan.


Sakura hanya tersenyum saat melihat daichi menyodorkan makanan kepadanya dan langsung membuka mulutnya.


"Makanan ini semua sangat lezat", ucap daichi.


"Itu karena aku memasaknya dengan cinta untuk mu", ucap sakura yang mencoba menggoda daichi.


Daichi tampak terlihat tak percaya mendengar ucapan sakura, ini untuk pertama kalinya dia mendengar sakura berani menggodanya hingga mampu membuat wajah daichi memerah. Perasaanya juga begitu bahagia saat mendapatkan perhatian dari sakura, menikmati makan siang bersama dikantor dengan pasangan ini untuk pertama kalinya dirasakan oleh daichi.


"Apa kamu tau, ini adalah salah satu mimpi ku dan sekarang terwujud", ucap sakura.


"Mimpi?" tanya daichi.


"Hmm..., dulu aku selalu bermimpi kelak dapat memasak makan siang untuk pasanganku, menemainya saat makan siang bersama dan sekarang itu terwujud", ucap sakura.


Daichi meletakan sendok yang ada di pegangannya, dia meraih tangan sakura sambil menatap wajah sakura begitu dalam.


"Kita akan mewujudkan segala mimpi yang kamu miliki bersama - sama sakura , meskipun kita harus melalui jalan yang begitu sulit kedepannya,tapi aku percaya jika kita bersama - sama semua akan terasa lebih mudah untuk dilewati", ucap daichi yang tersenyum kepada sakura.


"Aku akan selalu ada bersama mu daichi", ucap sakura yang membalas senyum daichi.


Keduanya sadar bahwa kedepannya mereka akan melalui lebih banyak persoalan yang akan dihadapi dan untuk mewujudkan pernikahan yang bahagia tidak cukup hanya dengan sebuah harapan saja karena pernikahan yang bahagia tidak akan terjadi begitu saja karena keduanya harus saling bekerja kerasa untuk membangun dan mempertahankan pernikahan yang bahagia.


"Apa sudah selesai?" tanya sakura.


"Baiklah, aku akan merapikan ini semua", ucap sakura.


"Aku akan memanggil OB untuk merapikannya", ucap daichi.


"Itu tidak perlu daichi, biar aku saja yang merapikannya", ucap sakura.


"Apa tidak apa - apa ?" tanya daichi.


"Tentu saja, ini adalah pekerjaan yang mudah", ucap sakura.


Daichi terus melihat sakura yang begitu telaten melakukannya sendiri, dia sama sekali tidak merasa risih melakukan pekerjaan yang seharusnya dilakukan seorang pelayan. Dia begitu berbeda dari wanita yang pernah dikenal daichi, wanita - wanita yang terlahir dari keluarga kaya sama sekali tidak akan sudih mengerjakan pekerjaan yang mereka anggap begitu kotor, namun sakura sama sekali tidak memperlihatkan perilaku yang sama seperti wanita - wanita kaya itu dan itulah salah satu alasan mengapa dia begitu menyukai sakura, kepribadian yang ada pada diri sakura yang membuat dia jatuh cinta kepada wanita yang kini telah menjadi istrinya.


"Jangan menatapku seperti itu", ucap sakura yang dari tadi merasa bahwa daichi terus saja memperhatikannya.


"Kedua mataku terus saja ingin melihat mu", ucap daichi.


"Aisss..., Dasar...,"ucap sakura yang tersenyum hingga keduanya saling memandang satu sama lain.


Dreg....Dreg...Dreg...


Pandangan mata keduanya yang tadinya saling bertatapan menikmati keindahan mata dan wajah keduanya terpecah saat mendengar bunyi ponsel daichi yang terus berbunyi.


"Ponselmu bunyi", ucap sakura.


"Aku angkat sebentar", ucap daichi yang bangkit dari bangkunya berjalan kearah meja kerjanya.


Sakura kembali merapikan tempat makan yang masih berserakan di meja, sambil melihat daichi yang sedang menjawab telponnya begitu serius sambil berjalan kearah jendela ruangannya.


"Siapa yang menelepon?" batin sakura.


"Ah.., hentikan sakura. Jangan berpikir yang aneh - aneh", ucap sakura.

__ADS_1


Dia berjalan menghampiri daichi yang telah selesai menelepon.


"Suamiku", ucap sakura yang datang dari arah belakang daichi sambil melingkarkan kedua tangannya di pinggang daichi.


"Hmm..," jawab daichi dengan raut wajahnya yang terlihat kaget saat merasakan sesuatu yang menempel di pinggang dan punggungnya.


"Maafkan aku", ucap sakura yang melirik daichi dari arah sampingnya.


"Maaf untuk apa sakura?" tanya daichi yang masih membelakangi sakura.


"Karena pergi tanpa memberitahumu tadi pagi", ucap sakura.


Sebuah senyum simpul tergambar di bibir daichi saat mendengarkan alasan di balikan permohonan sakura kepadanya. Dia melepaskan kedua tangan sakura yang masih melingkar di pinggangnya sambil membalikan badannya untuk berhadapan dengan sakura.


"Apa kamu masih kesal?" tanya sakura yang masih menatap daichi.


"Hmm.., Sejujurnya aku begitu kesal tadi pagi saat membuka kedua mataku dan tidak menemukan dirimu sama sekali sakura", ucap daichi yang menatap tajam ke sakura.


"Maafkan aku daichi", ucap sakura yang terlihat begitu bersalah.


"Dari tadi pagi bahkan sampai sebelum kamu datang perasaan ku begitu kesal kepadamu, bahkan kamu sama sekali tidak ada menghubungiku", ucap daichi.


Sakura hanya mampu menundukkan kepalanya dan tak sanggup menatap wajah daichi lagi saat mendengar ucapan kekecewaan daichi kepadanya.


"Ta-pi..," ucap daichi.


Dia mengangkat satu tangannya dan memegang dagu sakura yang perlahan mulai mengangkat wajah yang dari tadi hanya tertunduk.


"Saat melihat wajah ini", ucap daichi dengan tangannya yang terus bergerak mengelus pipi sakura yang bagitu mulus seperti kulit bayi.


"Rasa kesal ku seketika menghilang dan langsung luluh", ucap daichi.


Kedua bibir sakura tertarik ke setiap sudut hingga menciptakan sebuah senyum yang begitu indah dengan dihiasi dua lesung pipi yang terlihat begitu jelas, setiap orang yang melihat senyum itu akan merasa meleleh karena begitu indahnya.


"Ah.., Kenapa kamu selalu memperlihatkan senyum yang begitu indah sayang sampai membuat hatiku meleleh melihatnya", ucap daichi.


"Apa begitu indah?" tanya sakura sambil menempelkan badannya ke badan daichi.


Sakura terus menatap daichi dengan terus tersenyum kepada daichi, hingga membuat daichi merasa tak kuasa melihat tingkah sakura yang terus menempel kepadanya.


"Hei...Hei..., Lihat ini. Apa kamu seekor koala?" tanya daichi.


"Benar aku adalah seekor koala betina yang akan selalu menempel dengan mu", ucap sakura.


"Ah..., ini membuat ku gila", ucap daichi yang tertawa melihat tingkah sakura yang begitu agresif dari biasanya.


"Apa kamu menyukainya?" tanya sakura.


"Tentu saja, aku sangat menyukai sifat nakal mu ini", ucap daichi yang mendekatkan wajahnya ke wajah sakura.


Merasa terkejut saat melihat daichi mendekatkan wajahnya terhadapnya, membuat dirinya langsung menarik dirinya kebelakang hingga membuat daichi yang melihatnya tertawa.


"Kenapa?"tanya daichi yang tertawa begitu kuat melihat sakura yang kembali menjadi dirinya kembali.


Melihat daichi yang terus saja mentertawakan dirinya membuatnya sedikit kesal, dia kembali mendekatkan dirinya kepada daichi. Kali ini dengan posisi yang berbeda, dia melingkarkan kedua tangannya di leher daichi sambil menatap wajah daichi yang terlihat begitu tampan saat melihatnya begitu dekat.


"Daichi", ucapnya yang tak lepas memandangi daichi.


"Hmm..," jawab daichi yang hanya tersenyum menatap sakura.


"Aku mencintaimu suami ku daichi Tama", ucap sakura sambil mendaratkan sebuah kecupan yang manis dibibir daichi secepat kilat.


Begitu mendadak hingga membuat daichi hanya diam tanpa merespon ciuman yang diberikan sakura kepadanya, namun saat sakura ingin melepasakan dirinya dengan cepat daichi menahannya. Dia menempelkan satu tangannya dibelakang kepala sakura dan menarik wajah sakura kembali ke wajahnya dan kembali mencium bibir sakura. Seakan tidak ada hari esok dia begitu penuh gairah melumet bibir sakura, lidahnya menjelajahi bibir sakura hingga sakura merasa kesulitan bernapas dan begitu sulit mengimbangi daichi saat hasratnya muncul. Ujung lidahnya menekan bibir sakura yang tipis dan dia hanya mampu mendesah saat merasakan sesuatu yang terus bergerak, hanya terdengar bunyi nafas keduanya yang selaras berhembus di kedua wajah mereka.


"Aku juga mencintaimu sakura", ucap daichi dan memeluk sakura.


Begitu nyama itulah yang dirasakan keduanya saat ini dan merasa tidak rela saat kebahagian yang dirasakan saat ini harus cepat berakhir.

__ADS_1


Bersambung.....


__ADS_2