Pernikahan Yang Dijodohkan

Pernikahan Yang Dijodohkan
Episode 126 Tidak Sengaja


__ADS_3

Semua usaha akan dilakukan untuk mendapatkan malaikat kecil yang telah lama dinantikan. Hari ini cuaca seperti tidak bersahabat, awan gelap mulai menutupi langit yang tadi cerah dan suara gemuruh yang terdengar saling bersahutan memecahkan keheningan langit sore hari.


Waktu menunjukan pukul 14:40, tapi sakura masih sibuk dengan tumpukan kertas yang ada di depannya sambil menggoreskan tanda tangannya di atas kertas.


"Lho, anda belum bersiap-siap nona?"tanya kimi yang datang menghampirinya.


"Belum, aku akan menyelesaikan ini dulu", ucapnya sambil bicara, tapi tangan tetap bekerja.


Kimi terus memperhatikan kesibukan sakura dengan mata yang melotot dan bibir mengerucut.


"Apa tidak sebaiknya anda bersiap- siap?" Sebentar lagi tuan daichi akan menjemput anda", protesnya.


Sakura melongok melihat kearah kimi yang terus menatapnya.


"Baiklah sekertaris kimi", jawabnya kalem.


Dia mulai merapikan kertas - kertas yang ada di mejanya, memasukan semua barang- barangnya kedalam tas.


"Jangan lupa masukan ponsel anda nona", ucap kimi.


Sakura mendesah memperhatikan kimi yang terlihat sangat cerewet hari ini.


"Baik", jawabnya.


Gemuruh petir disertai kilat menggema begitu kuat disertai derasnya hujan yang membasahi kota sore ini. Sakura berjalan memandang keluar jendela melihat hujan yang turun begitu deras.


"Deras sekali bukannya, pasti jalanan akan sangat macet", ucap sakura.


"Mungkin tuan daichi sebentar lagi sampai", balas kimi.


Matanya melirik jam yang dikenakannya, kurang dari 20 menit tepat pukul 15:00 dan daichi belum juga datang menjemputnya. Dia kembali melirik jam tangannya, perasaannya mulai terlihat gelisah .


"Nona, jangan gelisah seperti ini", ucap kimi.


"Sebentar lagi jam 15:00 kimi, sepertinya kami akan sedikit telat", jawab sakura.


"Sebentar lagi, bersabarlah", ucap kimi yang mencoba menenangkan sakura.


Kemudian wajah sakura mendadak merekah membentuk senyum lebar, wajah dengan kegelisahan yang terlihat tadi menghilang seketika, kimi yang melihat perubahan itu terlihat bingung.


"Ada apa nona?"tanya kimi.


"Dia sudah datang. Ayok kita turun kebawah sekarang", ucapnya dengan penuh kegirangan.


"Sungguh?" Bagaimana anda tau?"tanya kimi dengan bingung.


Sakura mengacungkan telunjuknya kearah jendela dengan mata yang melihat kebawah.


"Itu mobilnya", ucap sakura.


Kimi mengikuti arah mata sakura dan tepat sekali dia dengan jelas dapat melihat mobil sedan berwarnah hitam milik daichi sudah berhenti di depan pintu masuk loby. Keduanya bergegas turun kebawah menghampiri daichi yang sudah menunggu kehadiran sakura.


Dreg...Dreg...Dreg..


Ponsel yang ada di dalam tasnya berbunyi, dengan cepat dia mengeluarkan ponsel itu dan mengangkat panggilan masuk dari daichi.


"Hallo", jawab sakura.


"Aku sudah dibawah", ucap daichi.


"Hmm. Aku tau, aku sedang turun", ucap sakura.


"Baiklah", ucap daichi yang mengakhiri telepon.


Dia yang dari tadi berdiam diri di dalam mobil, langsung keluar dari mobil saat melihat kehadiran sakura yang berjalan mendekat kearahnya.


"Maaf membuatmu menunggu", ucap sakura.


"Tidak masalah", jawab daichi dengan wajah yang terlihat serius.


Terkadang ada perasaan was-was atau bingung yang dirasakan sakura, ketika tiba - tiba saja daichi bersikap dingin seperti pertama kali dia mengenalnya. Wajahnya terlihat dingin, serius dan sedikit kata yang keluar dari mulutnya membuat dia terlihat seperti Daichi Tama yang sesungguhnya.


"Pergi sekarang?"tanya daichi.


"Tunggu Sebentar!" seru sakura yang memutar badannya melihat kimi, sementara daichi terus memperhatikannya.


"Kimi", ucap sakura.


"Iya nona", jawab kimi.


"Saya pergi dulu. Tolong tangani selama saya pergi",ucap sakura.

__ADS_1


"Baik nona, jangan khawatir soal itu", jawab kimi.


"Terima kasih kimi", ucap sakura yang tersenyum.


"Pergi sekarang?"tanya daichi.


"Hmm", jawab sakura.


Dia mengulurkan tangannya kepada istrinya itu, sakura yang melihatnya langsung meraih tangan daichi dan menggenggamnya.


"Masuklah", perintah daichi yang membukakan pintu untuk sakura.


"Kami pergi dulu nona kimi", ucap daichi.


"Baik tuan, hati- hati", ucap kimi.


Dia berjalan masuk kedalam mobil, melajukan mobil itu pergi menuju rumah sakit. Selama diperjalanan menuju rumah sakit, perasaan sakura tak menentu. Dia merasa begitu gugup saat harus menemui dokter kandungan untuk pertama kalinya,banyak pikiran yang aneh- aneh tiba - tiba muncul dikepalanya.


"Sakura? Sakura!"


Suara daichi menyentak sakura yang dari tadi melamun. Dia melambaikan tangannya di depan wajah sakura yang menatap kosong kedepan, melihat ekspresi sakura membuat daichi menyadari bahwa ada sesuatu yang sedang menggangunya.


"Apa yang menggangu pikiranmu sakura?"tanya daichi dengan nada suara yang tenang, mata yang fokus menatap kedepan jalan.


"Tidak ada",jawab sakura.


"Badan mu ada disini, tapi tidak dengan pikiranmu sakura. Apa kamu merasa gugup?"tanya daichi yang melirik sakura dalam beberapa detik.


"Sedikit", ucap sakura dengan kedua telapak tangan yang mulai basa.


Cemas berlebihan membuat perutnya mendadak mulas, apalagi saat menyadari sebentar lagi mereka tiba dirumah sakit. Mobil itu berhenti di parkiran rumah sakit, daichi melepaskan seatbelt yang terpasang di badannya dan menatap sakura. Dia menggenggam tangan sakura yang terasa sangat dingin saat tangan daichi menyentuhnya.


"Tangan mu dingin sekali sakura", ucap daichi yang menatap istrinya.


Sakura hanya tersenyum simpul, senyum yang terlihat terlalu dipaksakan terukir di wajah sakura.


"Dengar sayang, semua akan baik - baik saja. Aku akan selalu menemani", ucapnya dengan suara rendah dan halus,.


Jari-jarinya menggenggam erat tangan sakura yang dingin, sentuhan yang diberikan daichi untuknya sejenak dapat membuat perasaanya menjadi tenang dan rasa cemas yang dirasakannya mendadak lenyap.


"Kita turun sekarang?"tanya daichi yang tersenyum melihat sakura.


"Ayok", jawab sakura.


Diwaktu dan tempat yang sama, seperti takdir selalu ingin mempertemukan mereka bertiga. Sera yang dari tadi ada dirumah sakit tersebut, tanpa disengaja kedua matanya melihat keberadaan sakura dan daichi yang terlihat terburu- buru berjalan menyusuri lorong rumah sakit yang berada di depannya.


"Daichi! "Apa yang mereka lakukan disini?"batinnya.


"Aku sudah membeli obatnya",ucap yumi.


"Yasudah, ayok kita pergi", ucap ayana.


"Kalian kembalilah duluan", ucap sera.


"Loe, ada apa sera?"tanya ayana.


"Aku masih ada urusan, aku akan pulang naik Taxi nanti", jawab sera yang matanya masih fokus melihat kemana arah daichi dan sakura pergi.


"Urusan apa?"tanya ayana.


"Ayana ku mohon! Jangan banyak bertanya!" wajahnya berubah merah menahan kekesalannya kepada ayana yang selalu ingin mengetahui urusannya.


"Baiklah sera", ditatapnya wajah sera dengan sikap tidak percaya.


"Pergilah sekarang!"perintah sera.


"Hmm. Ayok yumi", ucap ayana yang pergi meninggalkan sera seorang diri.


Matanya sekilas mengantarkan kepergian ayana dan yumi, dia ingin memastikan keduanya benar-benar telah pergi, saat semua dirasanya telah aman dia melangkah pergi mengikuti arah daichi dan sakura tadi lewati. Terlalu lama berdebat dengan ayana membuat dia kehilangan jejak keberadaan daichi, dia melangkah pelan-pelan memperhatikan sekitarnya sambil membaca nama ruangan yang dilewati.


Langkah kakinya berhenti saat dia merasakan kejanggalan lorong yang dilewatinya saat ini, setiap ruangan yang dilewati berhubungan dengan spesialis anak dan kandungan.Hatinya terasa sesak saat melihat poli yang dimasukinya saat ini, pikirannya begitu kacau menyusuri lorong yang dilaluinya hingga akhirnya kakinya berhenti pandangan matanya terkunci pada suatu ruangan yang begitu jelas dia dapat melihat keberadaan daichi dan sakura dari bagian pintu yang transparan.


"Apa yang mereka lakukan disini?


"Apa dia hamil?


"Tidak! Itu tidak mungkin", ucapnya dengan tangan yang terkepal kuat.


"Permisi".


Sera langsung memutar badannya dengan refleks,terlihat seorang perawat wanita berdiri dihadapannya dengan membawa amplop berwarnah putih. Dia menyunggingkan senyum ramah kepada perawat yang terus menatapnya dengan penuh curiga.

__ADS_1


"Apa ada yang bisa saya bantu?"tanya perawat wanita itu.


"Ah. Begini kebetulan pasangan suami istri yang sedang di dalam itu adalah sayang saya. Apa sesuatu telah terjadi dengan kehamilan sahabat saya itu?"tanya sera dengan sandiwaranya.


"Hamil?" Tidak ada yang hamil nona", jelas


Sera tersenyum bahagia. Dia merasa begitu bahagia saat mengetahui bahwa sakura tidak hamil setidaknya perasaannya terasa lega, tapi itu tidak berlangsung lama saat perawat itu kembali melanjutkan ucapannya.


"Justru mereka kesini, ingin melakukan program kehamilan", jelasnya.


Seketika dia terdiam kaku sesaat, wajahnya menegang.


"Tidak!" nada suaranya meninggi kepada perawat yang terlihat bingung dengan perubahan sikap sera yang menjadi sangat marah , dipandanginya kedua tangan sera yang mengepal seperti menahan amarah.


"Apa anda baik-baik saja nona?"sambil menyentuh bahu sera yang terlihat kondisinya tidak baik.


Mendadak ekspresinya jauh lebih tenang, dia mencoba mengatur napasnya sebelum kembali berbicara kepada perawat itu


"Saya baik-baik saja", jawabnya dengan suara yang lembut.


"Baiklah nona, saya permisi dulu. Dokter telah menunggu saya", ucap perawat wanita itu, melangkah masuk kedalam ruangan.


Sera masih berdiam diri pada posisinya seperti patung, sampai akhirnya dia tersadar bahwa dirinya tidak boleh ketahuan berada dirumah sakit ini.


"Aku harus pergi sebelum mereka melihat ku", ucapnya yang beranjak pergi.


Suasana hati yang dirasakan sera bertolak belakang dengan apa yang dirasakan sakura, senyum dia wajahnya terus terlihat saat dokter memberikan kabar yang baik untuknya. Meskipun sampai sekarang belum ada tanda-tanda kehamilan, setidaknya perasaannya sedikit lega saat hasil pemeriksaan mengatakan bahwa kondisi kesehatannya dan daichi tidak ada masalah. Jujur saja sempat ada ketakutan sendiri didalam dirinya untuk sesaat, jika hasil pemeriksaan itu mengatakan ada gangguan pada dirinya dan akan membuat harapannya dan daichi akan hancur seketika, tapi kini matanya hidup memancarkan secercah sinar harapan untuknya.


Daichi yang duduk disampingnya mengulurkan tangannya untuk menggenggam tangan sakura,dia selalu mendampingi sakura sepanjang pemeriksaan yang berlangsung.


"Kita akan berjuang bersama", ucap daichi, keinginannya yang besar membuat sakura semakin yakin untuk menjalani semua program yang akan mereka ikuti.


"Ia daichi", jawab sakura, dengan fokus menatap mata daichi.


"Saya akan memberikan anda vitamin, anda harus meminumnyadan jangan sampai lupa", ucap dokter tersebut.


Wajah daichi terlihat serius mendengarkan semua perkataan yang keluar dari mulut dokter itu


"Anda juga harus mengingatkan istri and untuk meminum vitamin", ucap dokter itu yang melirik daichi.


"Baik dokter", jawab daichi.


"Kita akan melihat perkembangannya 2 minggu kemudian, jadi tolong nanti semua resep yang saya berikan diminum",ucapnya.


"Jangan khawatir dok, saya pasti akan meminum semua resep yang dokter berikan ", ucap sakura, baginya memiliki anak adalah sebuah penantian yang sudah lama diinginkannya, apapun akan dilakukannya agar keinginannya itu dapat terwujud.


"Baiklah, mudah-mudahan program kehamilan ini bejalan sesuai dengan harapan kita semua", ucap dokter tersebut.


"Amin", jawab keduanya.


"Baiklah dok, terima kasih", ucap daichi yang bangkit dari kursinya diikuti sakura. Keduanya saling berjabat tangan sebelum pergi meninggalkan ruangan tersebut.


"Sama-sama", ucap dokter itu yang mengantarkan keduanya keluar sari ruangannya.


••••


Selama di perjalanan, sakura terus melihat keluar jendela tanpa ada berbicara sejak meninggalkan rumah sakit. Dia terus memikirkan bahwa sedikit lagi keinginannya memiliki seorang anak akan benar - benar menjadi kenyataan.


"Apa yang kamu pikirkan sayang?"tanya daichi yang dari tadi memperhatikan sakura sembari menyetir mobilnya.


"Tidak ada sayang", ucap sakura yang memalingkan wajahnya melihat daichi.


Dipeluknya lengan daichi dengan erat, menyandarkan kepalanya di lengannya yang kekar, meski dia tau apa yang dilakukannya saat ini akan menggangu daichi saat mengemudi mobil.


"Ada apa ini?"tanya daichi yang kaget melihat sakura tiba - tiba terlihat manja kepadanya.


"Aku hanya ingin bersandar pada suamiku saja", ucap sakura dengan mata yang terpejam.


Daichi hanya tertawa, diangkatnya tangan yang menyilang mengelus rambut sakura dan membiarkannya bersandar di lengannya.


"Apa kamu tahu betapa aku sangat mencintaimu?"tanya daichi yang pandangannya bergantian menatap sakura dan jalanan didepan.


"Hmm." Tentu saja aku tahu, bahwa hanya Sakura Agata saja yang ada di hati dari Daichi Tama", ucapnya tanpa bergerak dari posisinya dan tetap dengan matanya yang terpejam.


"Kamu salah sayang", ucap daichi.


Sakura membuka matanya, bola matanya berputar mencoba memahami ucapan daichi.


"Sekarang kamu adalah Nyonya Sakura Tama, bukan Agata", ucapnya sambil mengecup ubun-ubun sakura.


Sakura mendesah saat mengetahui maksud perkataan daichi, dia kembali memejamkan kedua matanya dengan tangannya yang menggenggam erat lengan daichi.

__ADS_1


"Tidurlah sayang", ucapnya yang melajukan mobil dengan pelan agar tidak menggangu tidur sakura yang terlihat begitu lelah.


Bersambung....


__ADS_2