
Berjam-jam mengabiskan waktu bersama di taman bermain, mereka pun kembali pulang kerumah saat terangnnya matahari mulai tenggelam. Mereka kembali dengan rasa senang di hati keduanya. Sepanjang perjalanan hanya ada senyum yang tergambar di wajah keduanya, sesekali mereka saling bertatapan,
Beberapa jam kemudian mereka sampai di rumah, mereka bergegas masuk kedalam rumah. Kedatangan mereka sudah dinantikan Imoto yang dari tadi menunggu keduanya.
"Kalian sudah pulang?" tanya Imoto yang datang dari ruangan keluarga.
"Iya ibu, maafkan sakura karena baru pulang", ucap sakura.
"Tidak apa-apa sayang, daichi tadi sudah mengabari ibu", ucap Imoto.
"Apa ayah belum pulang Bu?" tanya daichi.
"Sudah, dia sedang mandi", ucap Imoto.
"Yasudah sayang lebih baik sekarang kamu mandi", ucap Imoto.
"Baiklah ibu, sakura ke kamar duluh", ucap sakura yang meninggalkan daichi dan Imoto.
Ketika tiba dikamar, sakura meletakan tasnya sambil melepaskan anting-anting yang dikenakannya dan tak lupa menghapus makeup di wajahnya yang menjadi rutinitasnya sebelum mandi. Setelah semua selesai dia pun berjalan dan masuk kedalam kamar mandi untuk membersihkan badannya.
"Ahh, nikmatnya", ucapnya.
Dia merasa begitu santai saat merendam tubuhnya di dalam bathtub dan menikmati waktu untuk dirinya sendiri, tidak lupa dia menambahkan minyak esensial untuk menikmati rileksasi.
Hampir satu jam dia merendam dirinya hingga membuatnya tidak sadar bahwa dia telah lama berada di dalam kamar mandi, seperti sebuah kebiasaan yang selalu terjadi jika dia sedang berendam.
Tok...Tok...Tok..
"Sakura..Sakura..., "Apa kamu masih didalam?" tanya daichi.
Dia terlihat begitu cemas karena sakura tak kunjung keluar dari dalam kamar mandi hampir satu jam, bahkan daichi sudah selesai mandi. Dia terus mengetuk pintu kamar mandi itu hingga terdengar suara dari dalam.
"Ia daichi, aku masih didalam", ucap sakura.
Mendengar suara sakura membuat perasaannya tenang, dia pun berjalan kearah balkon kamarnya menikmati udara di malam hari.
Beberapa menit kemudian sakura keluar dari kamar mandi, ruangan kamar itu tampak sunyi dan sama sekali tidak terdengar suara daichi.
Dreg...Dreg..Dreg..
Tiba-tiba bunyi dering handphone dari dalam tas sakura yang terletak di atas kasur, dengan tangan yang masih sedikit basah sakura mengambil handphone itu dan mendekatkan ke telinganya.
"Hallo, Kimi", ucap sakura.
"Hallo nona sakura, anda dimana? Suara itu terdengar begitu bersemangat.
"Tentu saja dirumah Kimi. Ada Apa??" Tanya sakura
"Nona saya sudah mendapatkan informasi yang anda minta", ucap Kimi
"Maksud kamu mengenai Sera?" tanya sakura
"Benar nona, saya sudah mendapatkan informasi mengenai nona Sera. "Saya akan datang kerumah anda", ucap Kimi.
"Jangan kimi!!!! "Besok saya akan datang ke kantor", ucap sakura.
"Ahh, Baiklah kalau begitu nona", ucap Kimi.
__ADS_1
"Kimi, Terima kasih sudah membantuku", ucap sakura.
"Iya nona, saya senang bisa membatu anda", jawab Kimi
Panggilan telepon itu pun berakhir, sakura terus memperhatikan ponsel yang dipegangnya dengan tatapan mata yang kosong. Sakura berjalan mondar mandir dengan gelisah, ketenangannya seketika buyar.
"Apa yang terjadi?"
Suara yang terdengar itu membuat sakura tersentak kaget dan langsung membalikan badannya, dia begitu kaget saat melihat daichi yang datang dari luar balkon dimana sakura sama sekali tidak menyadarinya. Sakura hanya diam lalu dengan menatap daichi tanpa ekspresi. Melihat sikap yang ditunjukan sakura terasah aneh, dia pun berjalan mendekat kearah sakura.
"Siapa yang menelepon?" tanya daichi.
Sakura terus memandang daichi dengan raut wajah yang tampak kebingungan. Otaknya sedang berputar mencari jawaban yang pas untuk pertanyaan hang lontarkan daichi kepadanya.
"Ahh, itu Ki-mi yang telpon", ucap sakura dengan suara yang terbatah-batah.
"Kenapa dia menelepon malam-malam?" Apa ada masalah?"Tanya daichi.
"Iya, dia memintaku untuk datang besok kekantor karena anda dokumen yang harus aku tanda tangani", jawab sakura.
"Sepenting itukah? Tanya Daichi.
"Ah, Iya karena itu adalah surat perjanjian kerja sama dengan perusahaan yang sudah lama aku nantikan", Jawab sakura.
"Apa kamu sudah siap?" Tanya daichi.
"Sudah", jawabasakura.
"Yasudah ayok kita turun kebawah, ayah dan ibu pasti sudah menunggu kita untuk makan malam", ucap daichi.
"Iya", jawab sakura.
"Apa bedanya aku dengan dirinya, jika aku juga membohonginya", batin sakura.
"Selamat malam ayah, ibu", sapa keduanya.
"Kalian sudah datang, baru saja ibu ingin menyuruh pelayan memanggil kalian", ucap Imoto.
Mereka pun duduk di kursi mereka masing-masing, semua makanan telah tersedia di atas meja dan terlihat begitu lezat. Mereka mulai menikmati makan malam dengan suasana kehangatan yang terjadi di tengah keluarga mereka.
"Jadi kapan rencana kalian pindah?"Tanya Imoto
"Soal itu, rencananya kami akan pindah akhir pekan ini ibu", jawab sakura.
"Ahhh, rumah ini akan terasa begitu sunyi" ucap Imoto.
"Jangan berkata seperti itu ibu, kami akan sering datang kesini mengunjungi ayah dan ibu atau menginap disini", ucap sakura.
"Kenapa kalian tidak tinggal disini saja?" ucap Imoto.
"Ibu, biarkan kami mandiri dalam membangun keluarga kecil kami", ucap daichi.
"Disini kalian juga bisa mandiri, ayah dan ibu tidak akan ikut campur dalam urusan rumah tangga kalian berdua, bukankah itu sama saja", ucap Imoto.
"Ayolah ibu mana mungkin itu sama", ucap daichi.
"Kami hanya memiliki satu putra dan satu menantu apa salahnya jika kita tinggal bersama, bahkan bibi soru tinggal dalam satu rumah bersama zero", ucap Imoto.
__ADS_1
Ketika daichi ingin menjawab ucapan Imoto, sakura langsung memegang tangan daichi untuk menahannya. Sakura begitu menyadari rasa sayang yang dimiliki Imoto kepada mereka berdua, namun daichi sulit memahaminya hingga menjadi perselisihan untuk keduanya.
"Ibu sejak kami memutuskan menikah, aku dan daichi sudah sepakat akan tinggal dirumah kami sendiri. "Kami ingin bertanggung jawab dan menjalankan sendri kehidupan rumah tangga kami sendiri tampa campur tangan kedua orang tua kita masing-masing. "Ibu jangan khawatir sakura berjanji kepada ibu akan sering datang mengunjungi ibu dan ayah", ucap sakura dengan suaranya yang lembut dan senyum yang tampak menenangkan perasaan.
"Apa kamu sudah mendengar ucapan menantumu?",Tanya Arashi kepada Imoto.
"Suamiku", ucap Imoto.
"Jangan terus merengek seperti kamu tidak bisa bertemu dengan mereka lagi istriku", ucap Arashi.
"Aku hanya merasa akan merindukan sakura saja", ucap imoto yang terlihat sedih.
Melihat air mata yang jatuh di pipi Imoto, membuat sakura sedih dan berjalan menghampirinya untuk memeluknya.
"Ibu jangan menangis", ucap sakura sambil memeluk dengan sangat erat ibu mertuan nya.
Bagi Imoto sakura bukan hanya sekedar menantunya melainkan sudah dianggap seperti putrinya sendiri, sifat baik, hormat, perhatian yang dimiliki sakura selalu menyenangkan hatinya dan membuat tidak ada jarak untuk keduanya. Begitu pula sakura, dia tidak perna membedakan perlakuannya terhadap ibu kandung dan ibu mertuanya berbeda. Dia memperlakukan keduanya setara dengan kasih sayang dan rasa hormat yang sama untuk keduanya.
Sakura merasa sangat beruntung memiliki mertua yang menyayanginya, di saat banyak diluar sana orang-orang yang memilki hubungan yang kurang harmonis antar menantu dan mertua akibat kesalah pahaman yang sering terjadi.
"Terkadang aku bingung, siapa sebenarnya anak ibu?" ucap daichi.
Mendengar pertanyaan daichi membuat semua orang tertawa, suasana yang diselimuti kesedihan itu kembali ceria saat daichi mencairkan suasana.
"Kalian berdua adalah anakku", ucap Imoto yang tersenyum.
Mereka kembali melanjutkan makan malam yang sempat berhenti sejenak.
Selepas makan malam sakura dan daichi langsung menujuh kekamar mereka, tidak ada lagi obrolan ringan yang dilakukan di ruangan keluarga seperti biasanya karena hari ini mereka merasa kelelahan saat berjalan-jalan di taman bermain setengah harian.
"Aku mau ganti Piyaman duluh", ucap sakura.
"Pergilah, aku juga mau mengganti pakaianku ucap daichi.
Beberapa menit kemudian sakura keluar dari kamar mandi dengan menggunakan piyama tidurnya, dia melihat daichi yang sudah berada di atas tempat tidur dengan selimut yang membungkus tubuhnya sambil membaca sebuah buku.
"Kamu belum mengantuk?" tanya sakura sambil naik keatas kasur.
"Belum", jawab daichi hang masih fokus membaca.
Sakura pun membaringkan tubuhnya di tempat tidur.
"Yasudah, kalau begitu aku tidur duluan", ucap sakura sambil menutup matanya.
Daichi langsung menutup buku yang dibacanya, dia bermain-main dengan selimut yang menutupi tubuh sakura hingga tertarik. Menyadari hal itu membuat sakura tersadar dan langsung menatap daichi yang sedang menatapnya seperti vampire yang haus akan darah.
"Ada apa daichi?" tanya sakura.
"Secepat itu ingin tidur?" tanya daichi yang mendekatkan wajahnya kepada sakura.
Dia menarik dan memeluk sakura di dadanya, rasanya begitu hangat hingga sakura merasa tidak perlu membutuhkan penghangat ruangan jika dia merasa kedinginan. Begitu nyama rasanya, sakura menguap hingga perlahan dia menutup kedua matanya.
"Aku sangat lelah", ucap sakura dengan suara yang terdengar begitu kecil di balik pelukan daichi.
Dia menoleh kebawah dan melihat sakura sudah tidur terlelap, dia hanya tersenyum sambil mencium kening sakura.
"Selama tidur sakura", ucapnya dengan memeluk sakura begitu erat.
__ADS_1
Pembaca setia ku, terima kasih atas masukan yang kalian berikan kepada saya. Semua masukan yang kalian berikan akan menjadi motivasi buat saya dalam menulis novel saya. Jangan lupa untuk selalu like,coment apa saja yang ingin kalian tulis dan yang paling penting vote untuk saya.🥰🌸
Bersambung...