
Malam indah itu ditutup dengan ciuman hangat yang diberikan daichi kepada sakura dan seperti biasa meski itu bukan ciuman pertama mereka, jantung sakura selalu bereaksi berlebihan dengan detak lebih cepat dari normalnya.
Bibirnya ******* bibir sakura secara perlahan, tapi kemudian berubah lebih ganas, tangannya berpindah ke belakang kepala sakura dan mendekap wajahnya lebih dekat kepadanya hingga akhirnya mereka menjatuhkan tubuh bersama- sama di ranjang yang terasa begitu empuk. Keduanya berada di balik selimut putih yang menutupi tubuh mereka, sakura menempelkan tubuhnya erat- erat ke tubuh daichi yang terasa hangat dan hanya terdengar napas terengah- engah keduanya, tapi saat sakura begitu bersemangat tiba - tiba saja daichi mendorong sakura dengan pelan dan sangat hati - hati.
Respon pertama yang diperlihatkan sakura tentu kekecewaan dengan kening yang mengkerut menatap daichi.
"Istrhatlah sayang, kamu sudah lelah",ucap daichi dengan tangan yang mengelus pipi sakura.
"Apa kamu sedang tidak ingin melakukannya?", ucapnya sakura, ada perasaan malu yang dirasakannya saat dia menanyakan hal yang dirasanya sangat konyol kepada daichi.
"Ayolah sakura, pertanyaan apa itu", batinnya yang terlihat malu.
Daichi hanya tertawa simpul menatap sakura.
"Aku selalu ingin melakukannya denganmu sayang, tapi tidak malam ini karena kamu sudah lelah satu harian menyetir", ucapnya.
"Hmm. Kamu benar. Aku setuju", balas sakura, perjalanan panjang tadi membuatnya benar - benar lelah dan membutuhkan istirahat.
"Istirahatlah", ucap daichi yang menarik sakura dan meletakan lengannya menjadi Sandara kepala sakura.
"Selamat malam sayang", ucap sakura yang memeluk daichi dengan erat.
"Selamat malam sayang", balas daichi.
Saat kedua mata sakura benar - benar ingin tertutup, dia dapat merasakan kecupan daichi yang mendarat di keningnya dan menjadi pengantar di tidurnya malam ini.
°
°
Keesokan paginya, saat dia membuka matanya pemandangan pertama yang terlihat adalah wajah tampan daichi yang sedang tertidur. Perasaanya benar - benar bahagia saat melihat daichi ada disampingnya, hingga mampu membuat tidurnya begitu nyenyak tadi malam.
"Selamat pagi", sapa sakura saat melihat daichi membuka kedua matanya.
Senyum tergambar di wajah daichi saat melihat sakura dan mengecup dahinya sekilas.
"Selamat pagi sayang. Apa tidur mu nyenyak?", tanya daichi.
"Hmmm", balas sakura.
Sadar bahwa waktu tidak berhenti dan terus berputar, sakura bangkit dari tempat tidur meninggalkan daichi untuk bersiap- siap berangkat kekantor untuk memulai rutinitas rutin di pagi hari.
Seperti biasa di pagi hari, keduanya menikmati sarapan yang telah disiapkan sakura di meja makan sebelum berangkat kekantor.
"Aku berangkat duluan sayang", ucap daichi yang mengecup kening sakura.
"Hati - hati", jawab sakura.
Begitulah kebiasa pagi yang selalu dilalui keduanya, melepas daichi berangkat kekantor setelah itu dia juga berangkat kekantor dan meninggalkan apartemen itu kosong beberapa jam.
•••••••
Kantor Daichi Tama
"Selamat pagi tuan daichi, anda memanggil saya", ucap sekertaris yun.
"Benar sekertaris yun. Aku ingin kamu mengatur jadwal dengan dokter kandungan terbaik di kota ini", ucap daichi.
"Dokter kandungan?" Apa nona sakura hamil tuan?"tanya sekertaris yun.
"Tidak. Ah,maksudku belum. Kami berencana ingin melakukan program kehamilan untuk sakura", jelas daichi.
"Apa saya tidak salah dengan tuan?"tanyanya dengan was-was.
Daichi memandangi sekertaris yun sebelum menjawab pertanyaanya.
"Kamu tidak salah dengar, aku rasa sudah saatnya aku memiliki anak. Bukankah aku sudah pantas sekertaris yun?"tanya daichi.
"Tentu saja tuan", balas sekertaris yun tanpa memikirkannya, mendengar keinginan daichi membuat sedikit lebih lega. Dengan adanya kehadiran anak di tengah- tengah pernikahan yang mereka jalani akan membuat ikatan diantar keduanya semakin kuat, apalagi mengingat banyak wanita yang terus ingin menjadi benalu di hidup daichi .
"Aku juga merasa sakura sudah menginginkannya dari dulu, tapi aku selama ini seolah tidak tau", ucapnya.
Perasaan bersalah membuatnya tak mampu mengangkat kepala yang dari tadi tertunduk. Dia membuat sakura tersiksa dengan rasa keegoisannya yang merasa belum siap memiliki seorang anak di dalam pernikahan yang mereka jalani.
"Sudahlah tuan, berhenti merasa bersalah. Anda dan nona sakura akan memulai kehidupan pernikahan yang sesungguhnya dan menantikan anak dalam pernikahan kalian", ucap sekertaris yun yang mencoba menghibur.
Daichi hanya diam tanpa menyahut,kebisuan semakin terasa di ruangan yang cukup luas itu dan sekertaris yun menjadi orang yang memecahkan kebisuan itu.
"Saya akan secepatnya membuat janji untuk anda dan nona sakura".
"Terima kasih sekertaris yun", balas daichi.
"Tuan, hari ini ada pertemuan dengan perusahan yang akan bekerja sama dengan Dapertement Store kita",jelas sekertaris yun.
__ADS_1
"Jam berapa?"tanya daichi.
"Jam 10 siang nanti", ucapnya.
"Oh," gumam daichi.
"Tapi anda harus bersiap- siap", ucap sekertaris yun dengan begitu serius.
"Untuk apa?"tanya daichi yang penasaran.
"Karena sera akan menghadiri rapat itu juga tuan", jelas sekertaris yun, dia selalu menganggap kehadiran sera akan membuat masalah besar di hidup daichi,untuk itu dia perlu mengingatkan daichi.
"Sera..., Sera.., Sera!!!!!" ucap daichi dengan frustasi.
"Bagaimana cara untuk menyingkirkannya", ucap daichi yang menatap sekertaris yun.
"Itu sangat mudah tuan,kita bisa meminta agensi yang bekerja denganmu untuk mengakhiri hubungan kerja sama dengannya",jelas sekertaris yun yang terlibat begitu sungguh- sungguh.
Sekertaris yun menunggu respon daichi, dia mengira daichi akan menyetujui kata- katanya.
"Tidak sekertaris yun. Aku rasa kita tidak perlu melakukan sejauh itu", sahut daichi.
"Lalu apa anda memiliki rencana lain tuan?"tanya sekertaris yun.
"Entahlah aku juga belum memikirkannya. lagi pula, membuatnya kehilangan pekerjaan sangat tidaklah manusiawi dan aku tidak tega untuk itu", ucap daichi.
"Tapi dia tega menghancurkan rumah tangga anda tuan daichi", ucapnya dalam batinnya yang tak mampu mengutarakan kepada daichi.
"Mungkin jauh lebih baik jika aku saja yang menghindarinya, dari pada harus menghancurkan kehidupannya", ucap daichi.
"Baiklah tuan", ucap sekertaris yun yang hanya mampu mendukung pilihan daichi.
Tepat pukul 09:55, keduanya pergi menuju ruang pertemuan berlangsung. Semua peserta rapat itu telah hadir hanya tinggal menunggu kehadiran daichi dan sekertaris yun. Begitu dia melangkah kakinya masuk kedalam, mereka berdiri menyambut kehadiran daichi.Dia hanya menundukkan kepalanya dengan wajah yang terlihat serius sambil berjalan ke kursinya dan duduk.
"Silakan duduk", perintah daichi.
Dia berusaha fokus dengan jalannya rapat, tanpa memperdulikan kehadiran sera yang tak hentinya menatapnya.
"Jadi rencananya kami akan tetap menggunakan nona sera sebagai brand ambasador kami tuan, tidak ada perombakan sama sekali dari pihak kami", ucap salah seorang perwakilan dari perusahaan tempat sera bekerja saat ini.
"Baiklah, saya hanya ingin setiap brand yang ada di dapertement milik saya adalah perusahaan - perusahaan yang berkualitas termasuk orang - orang yang terlibat dalam kerja sama kita", ucap daichi dengan sorot matanya yang tajam dan nada suara yang tegas.
"Anda tidak perlu khawatir tuan. Kami tentu memilih orang- orang yang berkompeten di bidangnya dan tentu saja jauh dari skandal dan rumor negatif", ucapnya dengan penuh keyakinan.
"Saya hanya ingin mengingatkan, jika ada yang melanggar dari perjanjian yang telah kita sepakati. Saya akan memutuskan kontrak kerja sama yang telah disepakati secara sepihak. Saya harap ini dapat dimengerti", ucap daichi.
Ayana terus melihat daichi, dia mulai memahami kepada siapa sebenarnya tujuan ucapannya itu dan tentu saja dia ingin menyerang sera secara tidak langsung dan memperingati sera. Kedua matanya kini fokus kepada sera, entah apa yang ada di dalam pikiran sera saat ini yang tidak henti - henti mengguratkan senyum di wajahnya dengan mata yang terus menatap daichi.
"Sera, apa kamu tidak mengerti bahwa daichi sedang memperingati mu", batin ayana.
"Tuan daichi, saya hanya ingin mengatakan bahwa saya akan menjaga nama baik perusahaan anda dan tentu saja nama perusahan yang menjadikan saya sebagai brand ambasador", jawabnya dengan senyum.
Wajah daichi menegang, kali ini dia menatap sera dengan matanya yang tajam.
"Saya tidak butuh ucapan nona sera, pembuktian yang saya perlukan", ucapnya dengan tegas.
"Baik tuan daichi", jawabnya yang menahan rasa kesal. Dia merasa dirinya saat ini sedang dipermalukan dihadapan orang lain.
"Nona sera akan membuktikannya tuan daichi", sambung ayana.
"Itu bagus", ucapnya yang menatap wajah ayana dengan sinis.
Rapat berlangsung begitu cepat, daichi langsung meninggalkan ruang tersebut di temani sekertaris yun kembali keruangannya. Sera memandangi daichi dari sudut matanya, yang begitu terburu- buru keluar dari ruangan dan tampak sedikit pun melirik kearahnya.
"Aku ingin bertemu dengan daichi", ucap sera.
Ayana langsung bergegas menahan keinginan sera.
"Tidak sera. Jangan lakukan itu", ucapnya.
"Apa yang kamu lakukan ayana, kenapa kamu menghalangiku?"tanya sera.
"Menjauhlah dari daichi saat ini sera. Apa kamu tidak melihat sikapnya barusan dengan mu?"tanya ayana.
Dia berusaha mengendalikan dirinya, menerima penjelasan yang masuk akal yang diberikan ayana kepadanya. Hal yang buruk dapat terjadi, jika dia memaksakan keinginannya untuk bertemu daichi sekaran, berbagai kemungkinan dipertimbangkannya kali ini. Dia tidak ingin terlalu terburu-buru yang pada akhirnya akan menjauhkannya dengan daichi.
"Oke ayana, apa yang kamu katakan benar", ucapnya.
"Tentu saja sera. Aku selalu menginginkan yang terbaik untukmu", ucap ayana.
"Yasudah, lebih baik kita pergi dari sini sekarang", ucap sera .
"Baik sera", ucapnya.
__ADS_1
••••••••••
"Akhirnya selsai juga", ucap daichi yang duduk dengan tanyanya melonggarkan ikatan dasi yang dikenakannya.
"Anda tadi luar biasa tuan, bersikap tegas dengan nona sera", ucap sekertaris yun.
"Karena itu harus sekertaris yun", jawab daichi.
"Saya harap dia mengerti dengan sikap anda Tuan", ucap sekertaris yun.
"Semoga saja", jawab nya.
"Lalu bagaimana dengan yang aku perintahkan sekertaris yun?"tanya daichi.
"Saya sudah mengatur jadwal anda besok, jam 3 sore dengan nona sakura tuan",ucap sekertaris yun.
"Jam 3 sore?" Aku harus memberitahu sakura agar dia mengosongkan jadwalnya besok", ucapnya yang mengambil ponsel dan menelepon sakura.
Tidak perlu menunggu lama, terdengar suara wanita yang lembut di balik sambungan telepon itu.
"Hallo", jawabnya
"Hallo, apa yang sedang kamu lakukan sayang?"tanya daichi.
"Sedang membicarakan jadwal kerja besok, ada apa sayang?"tanya sakura.
"Tepat sekali. Sekertaris yun sudah mengatur jadwal konsultasi kita dengan dokter kandungan besok jam 3 sore. Apa kamu bisa?"tanya daichi.
"Jam 3 sore?"tanya sakura.
"Benar", balas daichi.
Kebisuan berlangsung beberapa detik, hingga akhirnya suara sakura kembali terdengar.
"Ia aku bisa, kebetulan tidak ada jadwal meeting di jam itu", jawab sakura.
"Baguslah kalai begitu. Jam berapa kamu akan pulang?"tanya daichi.
"Jam 5 sore", jawab sakura.
"Baiklah aku akan menjemputmu nanti", ucap daichi.
"Baiklah, sampai jumpa nanti", jawab sakura.
"Sampai jumpa nanti sayang. I love you", ucapnya.
"I love you too", jawab sakura dan mengakhiri panggilan tersebut.
Guratan wajah daichi saat ini sudah bisa ditebak oleh sekertaris yun bahwa sakura menyanggupi pertemuan besok. Melihat kebagian daichi saat ini membuatnya ikut bahagia, meski terkadang dia merasa sikap daichi terlalu kekanak-kanakan saat berhadapan dengan sakura.
"Sepertinya nona sakura bisa tuan", ucap sekertaris yun.
"Kamu benar! Tolong urus pertemuan kami besok", perintah daichi.
"Baik tuan, saya akan mengurusnya", jawab sekertaris yun.
•••••••••
"Ada apa nona sakura?" Apa yang barusan menelepon anda tuan daichi?"tanya kimi.
"Benar, aku lupa memberitahu mu bahwa aku dan daichi akan memulai program untuk memiliki anak", jelas sakura dengan wajah yang berseri .
"Apa?" Memiliki anak?" Sungguh nona sakura?" tanya kimi dengan pertanyaan yang bertubi-tubi.
"Ia kimi, aku sangat senang semalam saat daichi mengatakannya",ucap sakura.
"Saya juga sangat senang mendengarnya nona. Akhirnya setelah dua tahun tuan daichi ingin memiliki seorang anak", ucap kimi.
"Kimi, doakan semoga semua berjalan lancar ya", ucap sakura.
"Pasti nona. "Apalagi saya tau bahwa keluarga anda dan keluarga tuan daichi selalu menanyakan kapan kalian memiliki anak, bukan?"tanya kimi
"Tepat sekali, dan itu yang membuat aku terkadang malas ikut dalam acara kumpul keluarga karena mereka akan terus bertanya tanpa bosan", jawab sakura sambil menggelengkan kepalanya.
"Itulah yang akan selalu dirasakan pasangan yang telah menikah nona", jawab kimi yang tertawa.
"Dan kamu akan merasakannya nanti kimi", balas sakura.
"Sepertinya begitu nona", ucap kimi.
Penantian panjangnya akhirnya perlahan akan terwujud, setiap pasangan yang telah menikah tentu menginginkan adanya suara tangis bayi yang terdengar di dalam rumah yang mereka tinggali. Suasana rumah akan semakin hidup saat ada anak, tapi kesunyian dan kekosongan itulah yang selama ini dirasakan selama dua tahun menjalani pernikahan.
Memilki suami yang menyayangi dan mencintainya tentu membuat sakura bahagia menjalani pernikahan, tapi masih ada yang kurang dirasakannya selama ini tanpa berani mengutarakan isi hatinya kepada daichi yang sama sekali belum menginginkan anak di dalam pernikahan mereka dan sekarang hati itu telah luluh dan siap memiliki anak hingga membuat sakura tak henti- hentinya mengucap syukur.
__ADS_1
Awan terang di siang ini mewakili apa yang dirasakan sakura, melihat sakura yang begitu bahagia membuat kimi yang ada di dekat sakura merasakan aura positif yang diberikan sakura kepadanya. Baginya kebahagian sakura adalah hal yang paling penting, melihat sakura tersenyum membuatnya juga ikut tersenyum seakan dia tau apa yang ada di dalam pikiran sakura. Dia tidak akan membiarkan ada satu orang pun yang bisa menghancurkan kebahagian yang dimiliki wanita yang selama ini telah banyak membantunya.
BERSAMBUNG...