Pernikahan Yang Dijodohkan

Pernikahan Yang Dijodohkan
Episode 110 Indah


__ADS_3

Hari berganti demi hari, bulan pun berganti hingga keduanya telah melewati empat musim bersama - sama. Tanpa terasa mereka telah menjalani biduk rumah tangga mereka selama satu tahun, namun meski sudah satu tahun bersama belum terdengar tangisan bayi yang menghiasi rumah tangga mereka karena kesepakatan keduanya yang memilih untuk menunda memiliki anak agar keduanya bisa menghabiskan waktu berdua lebih lama.


Perjodohan yang terjadi membuat keduanya tidak merasakan apa namanya pacaran hingga membuat mereka kurang mengenal satu sama lain dan untuk itu mereka memutuskan menghabiskan waktu mereka bersama setelah menikah.


Malam ini tidak seperti biasanya dimana sakura selalu pulang lebih awal, tetapi kali ini daichi lah yang tiba duluan di apartemen. Suasana tampak gelap saat dia masuk kedalam, lampu - lampu masih mati dan menandakan bahwa sakura belum pulang.


"Sepertinya dia belum pulang", ucap daichi sambil menghidupi lampu di setiap ruangan.


Dia melangkah berjalan kekamar untuk bersiap mandi, satu persatu pakaian yang ada di badannya dilepaskannya hingga tak ada satu helai pun benang yang menempel ditubuhnya dan beranjak pergi menujuh kekamar mandi.


Hampir setengah jam didalam kamar mandi dan saat dia keluar dari sana, situasi masih terlihat sunyi belum ada tanda - tanda kehadiran sakura pulang. Kesepian itulah yang saat ini dirasakannya, tangannya begitu ingin meraih ponsel yang terletak di atas ranjang dan menghubungi sakura, namun dia tidak ingin menggangu sakura yang saat ini sedang sibuk mengerjakan tender yang didapatnya.


"Apa yang harus kamu lakukan saat ini daichi", ucapnya.


Dia meraih ponsel yang ada di atas kasur sambil berlalu keluar dari dalam kamarnya. Matanya terarah melihat kearah jarum jam yang menunjukan pukul 20:00 malam.


"Ah.., pantas saja perutku sangat lapar", ucapnya.


Kakinya melangkah berjalan kearah dapur, tepat di depan kulkas dia langsung membuka nya untuk mencari makanan yang bisa di makan nya.


"Hanya ada bahan- bahan mentah", ucapnya yang kembali menutup kulkas.


Ketika kakinya ingin beranjak pergi, sesuatu terlintas di dalam pikirannya dalam hitungan detik dan kembali membuka kulkas tersebut untuk memeriksa bahan makanan apa saja yang ada didalam kulkas itu.


•••••••


"Ayolah kimi.., bisakah kamu menyetirnya lebih cepat lagi??"ucap sakura yang terus melihat jam tangannya.


"Saya sudah cepat nona sakura, tetapi lihatlah jalanan sangat macet", ucap kimi.


"Aku sudah telat", ucap sakura yang tampak tidak tenang dan gelisah saat melihat jam.


"Ada apa nona sakura? kenapa anda terlihat sangat gelisah?"tanya kimi yang memberhentikan laju mobilnya saat lampu merah.


"Bagaimana aku tidak gelisah kimi, sekarang sudah jam 8 malam. Daichi pasti sudah tiba di apartemen saat ini", ucap sakura.


"Tetapi bukankah anda sudah mengatakan kepada Tuan daichi bahwa anda akan pulang sedikit terlambat karena masih ada pekerjaan?"tanya kimi.


"Iya kimi..,kamu benar", jawab sakura.


"Lalu apalagi yang perlu anda khawatirkan nona? Saya juga yakin bahwa tuan daichi akan mengerti dan tidak akan mempermasalahkannya selagi anda telah meminta izin kepadanya ",ucap kimi yang kini mulai melajukan mobilnya.


"Sekarang sudah jam 8 malam kimi, dia pasti saat ini belum makan dan kelaparan", ucap sakura yang kini terlihat raut wajahnya sedih.


"Astaga nona sakura, tuan daichi bukanlah anak kecil dan ketika dia merasa lapar, dia pasti akan memesan makanan untuknya", ucap kimi.


"Entahlah kimi.., tetapi aku tidak yakin dia akan melakukan itu", ucap sakura.


"Jadi saat tiba nanti anda masih harus memasak makan malam?"tanya kimi.


"Hmmm..,"jawab sakura.


"Apa anda tidak merasa lelah nona? Bagaimana kalau kita membeli makanan untuk anda bawa pulang, jadi anda tidak perlu repot -repot lagi harus memasak saat tiba", ucap kimi.


"Tidak kimi.., itu tidak perlu. Aku sama sekali tidak merasa lelah. Baiklah.., jika aku mengatakan aku tidak lelah akan terdengar bahwa aku berbohong. Aku sejujurnya sangat lelah, tetapi itu adalah tanggung jawab ku sebagai seorang istri kimi", ucap sakura.


"Ayolah nona sakura, saya juga yakin bahwa Tuan daichi bukanlah pria yang banyak menuntut untuk anda harus melakukan semuanya, bahkan saya rasa dia sama sekali tidak keberatan saat anda harus memperkerjakan seorang pelayan untuk mengurus pekerjaan rumah tangga kalian", ucap kimi.


"Kamu benar dia sama sekali tidak pernah menuntut ku melakukannya, tetapi mengurus suami adalah kewajiban seorang istri meskipun dia bekerja diluar sana karena itu adalah tanggung jawab seorang wanita yang telah menikah dan memiliki suami", ucap sakura sambil menatap kimi.


"Anda sangat luar biasa nona, saya sangat salut dengan prinsip anda dan saat ini saya tau mengapa tuan daichi begitu mencintai anda bahkan dia sangat takut untuk kehilangan anda", ucap kimi.


"Jangan berlebihan kimi.., semua wanita yang telah menikah pasti akan berpikiran hal sama seperti apa yang aku pikirkan", ucap sakura.


"Mungkin tidak semua nona ", ucap kimi yang tertawa.


Kimi menambah kecepatan laju mobil yang dikemudikannya, menyelip setiap mobil yang berada di jalanan hingga membuat sakura begitu takjub melihat keahlian kimi.


"Kamu sungguh luar biasa kimi, kamu seperti seorang pembalap", ucap sakura yang tertawa.


"Saya hanya ingin anda sampai lebih cepat nona", jawab kimi yang begitu fokus menatap kedepan.


"Aku sama sekali tidak menyangka, kimi yang dulu tidak bisa menyetir kini berubah menjadi seorang pembalap wanita di jalanan", ucap sakura yang tertawa.


"Ayolah nona.., jangan meledek saya", ucap kimi.


Berjam - jama melawan kemacetan panjang yang terjadi di jalan, akhirnya mereka tiba di depan loby apartemen sakura tinggal.


"Akhirnya kita sampai", ucap kimi.


"Terima kasih kimi", ucap sakura.

__ADS_1


"Sama - sama nona, yasudah lebih baik anda segera turun agar dapat bertemu dengan suami tercinta anda", ucap kimi yang menggoda sakura.


"Dasar!!!! Hati - hati kimi", ucap sakura sambil turun dari mobil.


"Baik nona sakura", ucap kimi.


Langkah kakinya berjalan begitu cepat, di langsung menekan password pintu apartemen mereka dan saat pintu itu terbuka cahaya lampu begitu terang menyambutnya.


"Daichi pasti sudah pulang", ucap sakura yang melangkah masuk.


Perlahan dia menyusuri setiap ruangan di apartemen yang cukup luas, langkahnya pertama kali berjalan menuju ruang Kerja daichi, namun sosok yang dicarinya sama sekali tidak ada.


"Dimana dia? Apa dia dikamar?"ucap sakura.


Saat kedua kakinya ingin beranjak berjalan menuju kekamar, bunyi penggorengan minyak terdengar hingga memberhentikan langkah kakinya.


"Siapa yang sedang memasak di dapur?"batin sakura.


Dia langsung pergi menujuh ke dapur dan alangkah terkejutnya dirinya saat melihat daichi yang mengenakan celemek sedang memasak di dapur.


"Apa yang sedang kamu lakukan?", ucap sakura yang berjalan menghampiri daichi sambil meletakan tasnya.


"Kamu sudah pulang sayang?"tanya daichi dengan senyum yang terlukis di wajahnya.


"Apa yang kamu lakukan daichi?"tanya sakura tanpa menjawab pertanyaan daichi.


"Ah.., aku sedang memasak makan malam untuk kita", ucap daichi sambil mengaduk sup yang sedang dimasaknya.


"Tapi kenapa kamu melakukannya? Itu adalah tugas ku", ucap sakura yang terlihat bersalah kepada suaminya.


"Tidak masalah sayang.., Aku tau kamu pasti sudah lelah bekerja dikantor dan pasti kamu sudah lapar. Jadi aku memutuskan untuk memasak saat aku melihat ada banyak bahan makanan di kulkas", ucap daichi.


"Aku merasa sangat gagal saat melihatmu melakukannya, seharusnya seorang istri lah yang menyediakan makan malam untuk suaminya",ucap sakura.


"Dengar sayang.., Kita adalah suami istri dan harus saling mendukung pasangan kita masing - masing. Sudahlah lebih baik sekarang kamu mandi setelah itu kita makan malam bersama", ucap daichi.


"Tidak.., aku akan menyelesaikannya", ucap sakura sambil mencuci tangannya.


Daichi langsung memegangi kedua pundak sakura dari arah belakang.


"Tidak sayang., aku yang akan menyelesaikannya dan lebih baik kamu mandi", ucap daichi sambil mendorong sakura dari belakang.


"Ta- pi...", ucap sakura yang mencoba menyela perintah daichi.


Dia memutar badannya untuk berhadapan dengan daichi, wajahnya terlihat melas dihadapan suaminya dan berharap dia akan membiarkan sakura untuk membantunya, namun hal yang tidak disangka justru yang didapatnya. Daichi mendaratkan satu kecupan kilat di keningnya sambil berkata....


"Mandilah sayang..", ucapnya dengan segaris senyum indah tergambar diwajahnya.


Seakan tak mampu untuk melawan daichi, sakura hanya pasrah melangkah pergi menujuh kekamarnya untuk mandi dan saat daichi telah melihat sakura masuk kedalam dia kembali melanjutkan masakannya sembari menunggu sakura selesai mandi.


Beberapa menit berlalu, sakura keluar dari kamarnya dengan wajahnya yang terlihat lebih segar dari sebelumnya dengan rambut panjangnya yang terurai begitu indah, kedua mata indahnya begitu fokus menatap pria yang saat ini sedang sibuk memasak di dapur. Perasaannya seakan masih tidak percaya saat melihat sosok Daichi Tama yang dikenalnya dahulu begitu berbeda dengan yang dilihatnya saat ini, pria yang kesehariannya selalu mengenakan jas rapi kini mengenakan celemek memasak, pria yang selama hidupnya selalu dilayani para pelayanan saat ini sedang memasak makanan untuknya.


"Kamu sudah siap mandi?"


Suara serak itu sontak menyadarkan sakura yang sibuk dengan pikirannya.


"Hmm..", ucap sakura yang berjalan melangkah mendekat kepada daichi.


"Pas sekali.., semua makannya sudah masak", ucap daichi.


"Aku akan membantu membawanya kemeja makan", ucap sakura, namun niatnya langsung terhalang oleh daichi.


"Tidak usah.., aku yang akan membawanya. Lebih baik kamu menunggu di meja makan ", ucap daichi.


"Baiklah", ucap sakura yang pergi meninggalkan daichi.


"Ini dia supnya", ucap daichi.


"Kelihatannya sangat lezat", ucap sakura.


"Makanlah", ucap daichi sambil memberikan semangkuk sup kepada sakura.


"Terima kasih suamiku", ucap sakura.


"Sama- sam sayang", jawab daichi.


"Hmmm..., Ini sangat lezat. Aku tidak menyangka kami bisa memasak makanan seenak ini", ucap sakura.


"Benarkah? Syukurlah kalau rasanya sesuai dengan selera kamu", ucap daichi


"Tapi dari mana kamu belajar memasak?"tanya sakura.

__ADS_1


"Sama sekali tidak belajar", ucap daichi .


"Ha?? Sungguh?"tanya sakura.


"Aku hanya mencoba - coba untuk memasak saat aku tinggal sendiri tanpa seorang pelayan saat itu ", jelas daichi.


"Jadi kamu pernah merasakan hidup sendiri?"tanya sakura.


"Benar.., Sejak memasuki bangku SMA, aku memutuskan untuk tinggal di apartemen sendiri karena aku ingin hidup mandiri", ucap daichi.


Banyak hal mengenai masa lalu daichi yang sama sekali tidak diketahui sakura dan satu persatu kini di mulai mengetahuinya. Kini dia lebih paham tentang seorang daichi tama, meski dia terkenal begitu Aragon, pemarah dan egois, tetapi tanpa diketahui orang - orang dia memiliki sifat lain seperti kemandirian dan pekerja keras hingga mempu membangun bisnisnya semakin besar.


Awalnya untuk menatap matanya saja selalu membuat sakura ketakutan, namun sekarang dia hanya selalu ingin melihat kedua mata indahnya yang selalu menunjukkan cinta yang besar untuk.


"Aku akan membereskannya", ucap sakura.


"Baiklah.., aku keruang kerja ku dulu", ucap daichi.


"Hmmm", jawab sakura.


Sakura mulai merapikan meja makan dan mencuci piring makan keduanya.


"Beres juga", ucap sakura.


"Aku ingin makan buah", ucapnya sambil berjalan kearah kulkas untuk memeriksa buah yang ada.


Dia mengambil dua buah apel dari dalam kulkas, tak lupa dia mencucinya. Kemudian membawanya dalam piring menujuh ke ruang televisi.


"Apa daichi masih diruang kerjanya", ucap sakura dengan pandangan mata menatap kearah ruang kerja daichi.


Tangannya langsung meraih remot TV yang terletak di atas meja, dia mulai menyalakan Tv yang begitu jarang mereka hidupkan dan mulai mencari - cari siaran yang menarik dirasanya. Dari ruang tv sakura dapat mendengar bahwa daichi sedang berbicara dengan seseorang dan suara itu semakin jelas terdengar saat daichi melangkah keluar dari ruang kerjanya dan berjalan menghampiri sakura yang sedang duduk menonton tv.


Tepat disamping sakura daichi duduk dan dari obrolannya sakura langsung tau bahwa dia sedang bertelepon dengan sekertaris yun membahas masalah pekerjaan. Itulah yang setiap hari di dengar sakura, meskipun sudah dirumah daichi tidak pernah benar- benar berhenti bekerja bahkan dia bisa menghabiskan waktunya seharian di ruang kerjanya saat weekend.


"Hubungi mereka secepatnya sekertaris yun", ucap daichi dibalik sambungan telepon nya dengan sekertaris yun.


Sakura yang duduk disamping daichi hanya fokus menonton siaran tv tanpa memperdulikan daichi yang sedang bertelepon, dia sama sekali tidak pernah ingin mengganggu ataupun ikut campur dalam bisnis daichi dan hanya akan memberi pendapat atau saran jika daichi bertanya kepadanya. Dia meraih apel yang ada di atas meja dan mengambil pisau untuk mengupasnya, namun belum sempat dia meraih pisau yang ada di depannya daichi langsung mengambilnya dan mengambil apel yang ada ditangan sakura.


Dia menahan ponsel yang masih tersambung dengan lengannya, kepalanya setengah miring saat kedua tangannya bergerak mengupas buah apel yang ingin dimakan oleh sakura. Melihat hal itu tentu membuat sakura sama sekali tidak tega, dia mencoba mengambilnya dari daichi, namun daichi hanya menggelengkan kepalanya.


"Biar aku saja yang mengupasnya ", ucap sakura.


Dia terus menolaknya dan dengan begitu telaten mengupas kedua buah apel tersebut dan memotong - motongnya lebih kecil agar sakura lebih mudah memakannya.


"Baiklah.., sampai jumpa besok sekertaris yun", ucap daichi yang mengakhiri sambung teleponnya dengan sekertaris yun.


Matanya kembali fokus menatap wanita yang dicintainya.


"Makanlah", ucap daichi sambil memberikan buah yang telah selesai dipotongnya.


"Kenapa kamu melakukannya? Aku bisa memotong buahnya sendiri daichi", ucap sakura.


"Kerena aku tidak ingin tanganmu terluka", ucapnya dengan wajah yang terlihat serius dan menatap sakura.


Enam kata yang keluar dari mulutnya membuat hati sakura seakan melayang bebas di udara, kalimat yang biasa, namun terasa begitu menyayat hatinya saat terucap dari mulut daichi. Betapa beruntungnya dirinya sebagai seorang wanita saat memiliki seorang suami yang begitu mencintainya dan menyayangi nya bahkan dia sama sekali tidak akan membiarkan wanita yang dicintainya terluka.


"Bagaimana kamu bisa membuat perasaanku melayang?"tanya sakura dengan wajahnya yang memerah menatap daichi.


"Entahlah.., Justru aku yang ingin bertanya kepada kamu", ucap daichi.


"Hmm.., Bertanya?? So-al apa?"tanya sakura.


"Bagaimana kamu bisa membuatku begitu mencintaimu bahkan aku begitu takut kehilangan mu", ucap daichi sambil tersenyum.


"Arg!" Sakura tersentak saat mendengarkan pertanyaan daichi untuknya dan butuh beberapa saat untuk memproses pertanyaan itu dalam otaknya.


Dia mendesah dan menatap daichi, piring yang dari tadi ada di genggamannya diletakan kembali di atas meja sambil bangkit dan kini berpindah duduk dalam pangkuan daichi dengan wajah yang saling berhadapan kedua saling melihat satu sama lain.


"Mmm..., aku akan memberitahu mu sebuah rahasia", ucap sakura.


"Baiklah apa itu?"tanya daichi dengan mata yang tak lepas menatap sakura.


"Sebenarnya aku telah menghipnotis mu untuk selalu memikirkan ku karena itu kemana pun kamu pergi kamu akan selalu mengingatku", ucap sakura sambil tertawa saat mengatakannya kepada daichi.


"Kalau begitu aku berharap agar selamanya kamu menghipnotis ku", ucap daichi dengan wajahnya yang masih serius.


Keheningannya terjadi untuk beberapa saat, detak jantung sakura berdebar kencang saat kedua mata tajam itu menatap wajahnya. Hingga hitungan detik saja bibirnya menempel di bibir sakura, bibirnya melumet bibir sakura begitu kuat. Sejenak dia mencoba melepaskan wajahnya dari wajah sakura, memberikan udara untuk sakura bernapas, keduanya saling menatap sambil melemparkan sebuah senyum bahagia yang jelas terlihat dari keduanya.


"Aku mencintaimu sayang", ucap nya sambil kembali menarik sakura dalam dekapannya.


Jari - jari tangan kanan sakura menyentuh kepalanya, tangan kirinya melingkar tepat di leher daichi. Tangannya kanannya mengunci tubuh sakura mendekat kepadanya dan tangan kirinya menjelajahi setiap bagian tubuh indah sakura, hasratnya berpacu semakin tinggi hingga malam panjang itu dilalui bersama keduanya dengan kebahagiaan.

__ADS_1


Bersambung..


__ADS_2