
Selama di perjalanan, daichi mencoba memejamkan matanya sesaat. Dia merasa sangat lelah, tidur dirumah sakit membuat badannya begitu pegal apalagi dia harus berbagi tempat tidur dengan sakura di ranjang tidur yang kecil, namun belum sempat di memejamkan kedua matanya ponsel yang ada disaku jasnya berbunyi. Satu pesan masuk, setiap sudut bibir daichi tertarik saat melihat layar ponselnya tertera nama sakura, nama yang mampu menghilangkan semua rasa lelahnya dan menjadi sumber energi untuknya.
💌 Kamu belum pulang?"tanya sakura.
💌 Sebentar lagi aku akan sampai.
💌 Apa sekertaris yun bersama mu?
Kening daichi mengkerut saat membaca pesan dari sakura dan menatap kedepan melihat sekertaris yun.
💌 Hmmm.
💌 Ajaklah sekertaris yun untuk singgah nanti.
💌 Ada apa?
💌 Aku ingin mengundangnya makan malam bersama kita,sebagai ucapan terima kasih karena kita sudah selalu merepotkan.Kimi juga ada disini, kami sedang menunggu kalian.
💌 Oke
Sejenak dia merasa kesal saat sakura menanyakan pria lain kepadanya, sungguh kekanak-kanakan sifat yang dimiliki daichi yang cemburu dengan sekertaris pribadinya sendiri. Pikirannya sesaat bertanya -tanya. Kenapa sakura harus menanyakan keberadaan sekertaris yun? Kenapa harus mengundangnya makan malam bersama mereka? Bukankah melaksanakan segala perintahnya adalah salah satu tugas dan tanggung jawabnya?
"Aku sama sekali tidak mengerti denganmu, sakura", batinnya.
Beberapa menit kemudian, mobil yang dikemudikan sekertaris yun memasuki parkiran apartemen tempat tinggal daichi.
"Kita sudah sampai, tuan", ucap nya.
"Ikutlah turun, sakura mengundang mu makan malam", ucap daichi kembali turun dari mobilnya.
Keduanya berjalan bersama dalam keheningan,sedangkan sekertaris yun merasa begitu beruntung memiliki boss yang menganggap keberadaanya. Tepat di depan pintu apartemen itu dengan sigap sekertaris yun menekan bel, daichi hanya meliriknya dan kembali sibuk melihat ponselnya.
"Selamat datang", ucap bibi mori yang membukakan pintu untuk keduanya.
Daichi melempar senyum dan melangkah masuk kedalam.
"Apa sakura dikamar?"tanya daichi.
"Tidak,dia ada di dapur", jawab bibi mori.
"Dapur? Untuk apa dia di dapur?"tanya daichi.
"Bibi sudah melarangnya, tapi dia memaksa ingin memasak makan malam hari ini", jelas bibi mori.
"Sekertaris yun, duduk dulu. Aku ingin melihat sakura", ucapnya.
"Baik tuan daichi", jawab sekertaris yun.
Daichi berjalan perlahan memasuki dapur, sorot matanya langsung fokus kepada wanita yang mengenakan dress berwarnah coklat dengan rambut yang diikat sedang sibuk mengaduk masakan di atas kompor, senyum diwajahnya membuat perasaan daichi begitu bahagia.
"Apa yang sedang kamu lakukan?"tanyanya
"Daichi!"seru sakura yang kaget.
"Sayang." Dia tersenyum dan memeluk sakura. "Aku sangat merindukan mu?"
Menyadari bahwa mereka tidak hanya berdua di dapur, sakura langsung melepaskan dirinya dari pelukan daichi dan melihat kimi yabg terlihat kaku dengan situasi saat ini.
"Hallo, kimi", sapa daichi.
"Selamat malam, tuan daichi", balas kimi.
"Kenapa kamu tidak istirahat? Bukankah dokter mengatakan bahwa kamu harus beristirahat beberapa hari saat keluar dari rumah sakit?"ucap daichi.
"Ya ampun sayang, aku baik-baik saja. Justru jika aku kelamaan beristirahat, badanku terasa sakit", ucap sakura.
Daichi menghela napas dalam-dalam. Baginya sulit berdebat dengan sakura, dia akan selalu bersikeras dengan apa yang ada dipikirannya sedangkan daichi adalah orang yang cukup malas untuk berdebat apalagi jika berdebat bersama sakura.
"Apa kamu mengajak sekertaris yun?"tanya sakura yang terlihat begitu antusias saat menyebut namanya membuat kembali kesal.
"Hmm, dia ada diruang TV", jawabnya.
"Baguslah kalau begitu. Sebentar lagi kita bisa makan malam bersama", ucap sakura.
Ekspresi daichi semakin kesal saat sakura seolah mengabaikannya yang berdiri di depannya. "Kalau begitu aku mandi dulu".
"Baiklah", jawab sakura, dia sama sekali tidak menyadari sikap kesal yang diperlihatkan daichi dan kembali mengaduk masakan yang ada dia atas kompor itu.
Oven berbunyi, artinya makanan mereka telah masak. Kimi langsung mengambil kue yang dipanggang tadi.
"Wangi sekali", ucap kimi, dengan hati-hati dia mengeluarkannya.
"Sudah masak?"tanya sakura yang menghampiri kimi.
"Sudah nona, kelihatannya sangat enak", ucap kimi.
"Biarkan saja sampai dingin, lalu bisa di masukan ke toples", ucap sakura..
"Baik nona", jawab kimi.
Setelah semua hidangan telah siap, keduanya berpindah kemeja makam. Kimi dibantu dengan bibi mori menata meja makan itu dengan sempurna.
"Sakura luar biasa memasak semua hidangan ini", ucap bibi mori.
"Apa sudah siap?"tanya daichi yang datang bersama sekertaris yun.
"Sudah tuan", jawab kimi.
Daichi langsung duduk di bangkunya, kedua matanya langsung melihat meja makan yang penuh dengan beberapa menu masakan.
__ADS_1
"Sepertinya hari ini, kita benar - benar sedang mengadakan pesta", ucap daichi.
"Ini hanya makan malam biasa saja", sahut sakura yang datang dari dapur.
Dreg...Dreg...Dreg...
Daichi melirik ponselnya dan memandangi no yang tertera di layar. No yang tidak dikenalnya, tapi sekilas dia membaca pesan yang dikirimkan kepadanya.
"Sudah kuduga", gumamnya, kemudian mematikan layar ponselnya.
"Ada apa?"tanya sakura.
"Tidak ada. Ayok makan", ucap daichi.
"Selamat makan", ucap semuanya.
Beberapa menit suasana terasa begitu hening, semua berubah saat sakura memulai pembicaraan ditengah - tengah jamuan makan malam tersebut.
"Sekertaris yun, bagaimana dengan makanannya? Apa anda menyukainya?"tanya sakura yang terus melemparkan senyumnya.
"Ini sangat lezat nona", jawab sekertaris yun.
"Ahh, syukurlah kalau anda menyukainya sekertaris yun. Kimi, tambah lagi sayurnya untuk sekertaris yun", ucap sakura.
"Baik nona", jawab kimi
"Terima kasi nona kimi",ucap sekertaris yun.
"Makanlah yang banyak sekertaris yun, anda pasti sangat lelah bekerja satu harian. Belum lagi jika daichi memberi anda pekerjaan diluar jam kerja anda", ucap sakura.
"Itu tidak masalah nona, sudah menjadi tanggung jawab saya", ucap sekertaris yun.
"Daichi beruntung memiliki anda di sisinya", ucap sakura sembari melirik daichi sesaat dan kembali menatap sekertaris yun.
Daichi terus memperhatikan sakura, wajahnya terlihat masam dengan satu tangan mengepal di bawah meja.
"Ini membuatku gila", gumamnya pelan sambil menyantap makanannya.
Setengah detik kemudian, sakura kembali melanjutkan pertanyaannya untuk sekertaris yun.
"Apa anda tinggal sendiri?"tanya sakura.
"Benar nona, saya hanya tinggal sendiri di apartemen", jawab sekertaris yun, dia terlihat canggung saat berbicara dengan sakura saat daichi seolah ingin menerkamnya.
"Lalu bagaimana dengan makan anda?"tanya sakura.
"Jika saya memiliki waktu yang kosong, saya memasak atau memesan makanan siap saji", jawabnya.
"Memasak? Anda bisa memasak?"tanya sakura .
"Iya nona", jawab sekertaris yun yang merasa sedikit malu.
Kening daichi mengkerut, dia merasa benar -benar kesal melihat sakura yang terus saja memuji sekertaris yun di hadapannya.
"Aku sudah selesai", ucap daichi yang meletakan sendok dan garpu.
"Sudah selesai?"ulang sakura yang melihat kearah daichi.
"Hmmm. Aku ingin keruang kerja ku dulu", ucapnya yang bangkit berdiri dari kursinya.
Dia melihat kearah sekertaris yun. " Kamu bisa pulang setelah selesai makan, tidak ada lagi tugas untuk mu ", ucap daichi yang meninggalkan ruang makan
"Baik tuan daichi", jawab sekertaris yun.
Sakura terus melihat daichi, dia benar-benar tidak mengetahui apa yang sedang dirasakan daichi saat ini.Wajahnya terlihat berubah dengan sikapnya yang dingin berlalu begitu saja. Mungkin dia akan mendapatkan jawabannya nanti saat berduaan dengan daichi, tapi untuk sekarang prioritas yang ingin dilakukannya adalah membuat sekertaris yun dan kimi lebih dekat.
"Nona sakura, terima kasih buat makan malamnya", ucap sekertaris yun.
"Sama-sama sekertaris yun", ucap sakura.
"Nona, saya pamit pulang kalau begitu. Terima kasih juga telah mengundang saya", ucap kimi.
"Kamu akan menyetir sendirian, malam-malam begini?"tanya sakura.
"Tidak nona, saya akan mengantar nona kimi", jawab sekertaris yun.
"Ahhh.., syukurlah kalau begitu", ucapnya
"Sekali lagi terima kasih nona. Kami pamit", ucap sekertaris yun.
"Hati- hati", ucap sakura.
Perasaannya begitu senang saat melihat sekertaris yun dan kimi bersama, seperti yang direncanakannya.
"Baiklah saatnya menemui daichi", ucapnya yang melangkah menuju ruang kerja daichi.
TOK...TOK...TOK..
"Boleh aku masuk?"tanya sakura
TOK...TOK...TOK.....
Dia terus mengetuk pintu ruang kerja daichi, namun tak ada sahutan dari dalam ruangan.
"Sakura, kamu sedang apa?"tanya bibi mori yang muncul dari arah belakang nya.
"Bibi", ucap sakura yang terlihat kaget
"Daichi tidak ada didalam, dia baru saja masuk kekamar", ucap bibi mori.
__ADS_1
"Kekamar? Ah, baiklah bi. Aku kekamar dulu kalau begitu", ucap sakura.
"Ia, beristirahatlah", ucap bibi mori.
"Selamat malam bi", ucap sakura.
"Selamat malam sayang", ucap bini mori.
Dibukanya pintu kamar itu dengan pelan, ditatapnya daichi yang berbaring di atas ranjang sambil memainkan ponselnya dengan baju yang telah berganti dengan piyama.
"Sayang", kata sakura yang berjalan mendekatinya.
"Mereka sudah pulang?"tanya daichi.
"Hmmm", jawab sakura
Sakura terus tersenyum kepada daichi, sedangkan daichi hanya menatapnya dengan pandangan kosong.
"Ada apa?"tanya sakura dengan suara lembutnya.
Daichi mendesah, dia hanya diam tanpa berkata apapun kepada sakura.
Sakura tersenyum, diletakkannya tangannya di bawah dagu daichi. Ditatapnya mata daichi sembari memegangi dagunya. "Apa kamu marah?
"Tidak!"jawabnya dengan cepat.
"Kita sudah tiga tahun bersama. Aku sudah memahami sifat mu Tuan Daichi Tama", ucap sakura.
Dipandanginya sakura, dia berusaha memahami jalan pikiran sakura dan mencoba untuk menghilangkan rasa cemburu yang dirasakannya, namun itu semua tidak semudah yang dipikirkan nya. Rasanya begitu bodoh dan sangat konyol saat dia harus merasa cemburu kepada sekertaris yun yang telah lama bersamanya.
"Sakura", kata daichi. Kali ini dia berniat untuk mengutarakan apa yang dirasakannya kepada sakura yang terlihat belum menyadarinya.
"Ehmm" , jawab sakura.
"AKu tidak suka jika kamu bersikap terlalu baik kepada sekertaris yun karena aku merasa cemburu", ucapnya.
"Astaga", ucap sakura yang menggelengkan kepalanya sambil tertawa.
"Aku sedang tidak bercanda", ucap daichi dengan suara yang dingin.
Diraihnya tangan daichi dan digenggamnya dengan erat, ditatapnya kedua mata indah yang dimiliki daichi.
"Dengar sayang, kamu tidak perlu cemburu dengan sekertaris yun atau siapapun itu karena hatiku telah aku berikan sepenuhnya untukmu", ucapnya.
Daichi hanya menganggukkan ketika sakura memberikan penjelasan kepadanya.
"Lagian aku melakukannya untuk kimi", ucap sakura.
"Untuk kimi? Aku tidak mengerti", ucap daichi.
"Benar, sayang. Aku ingin menjodohkan kimi dengan sekertaris yun. Aku rasa mereka akan sangat cocok", ucap daichi.
"Menjodohkan mereka?Jangan lakukan itu, sayang", ucap daichi yang tidak setujuh.
"Tapi kenapa?"tanya sakura.
"Sudah tidak zamannya lagi menjodohkan orang, biarkan mereka mencari pasangan mereka sendiri",ucapnya.
"Bukankah kita juga dijodohkan?"tanya sakura.
"Benar, kita memang dijodohkan", jawab daichi.
"Lalu kenapa aku tidak bisa jika ingin menjodohkan mereka. Sekertaris yun dan kimi juga belum memiliki pasangan", ucap sakura.
"Jangan samakan itu dengan kita, itu berbeda", ucap daichi.
"Berbeda bagaiman?"tanya sakura yang terus bersikeras meminta penjelasan dari daichi.
"Sudahlah,tidak usah dibahas lagi",kata daichi.
"Berikan penjelasannya dulu", desak sakura.
"Itu karena aku sudah jatuh cinta denganmu saat pertama kali melihatmu dan membuatku menerima perjodohan itu sedangkan sekertaris yun atau kimi, kita belum tahu perasaan mereka masing-masing apakah mer.....
Sakura memotong perkataan daichi dengan sebuah ciuman cepat di bibirnya.
"Aku mencintaimu", ucap sakura.
Sakura melepaskan wajah daichi, namun dengan cepat daichi menyambar tangan sakura, kemudian merengkuh wajahnya dengan kedua tangannya yang besar.
"Aku juga mencintaimu, sakura tama", ucapnya.
Daichi menariknya dan mendekapnya erat-erat ke dadanya dan mencium bibir sakura dengan sangat antusias dan begitu agresifnya seperti yang dilakukannya di rumah sakit tadi malam, sakura merasa kehabisan napas saat daichi terus mencium bibirnya tanpa henti hingga akhirnya dia melepaskannya.
"Tidurlah", ucapnya.
"Ehmm",ucap sakura yang bingung.
"Ada apa?"tanya daichi yang tertawa pelan.
"Tidak, selamat malam", ucapnya dengan nada kecut dan berlari kecil ke tempat tidur.
Daichi hanya tertawa saat matanya melihat sakura yang membelakanginya.
"Selamat malam istriku. Cepatlah sembuh agar aku tidak perlu menahannya lagi",ucapnya sembari mencium rambut sakura yang begitu wangi.
Sakura hanya tersenyum saat mendengar perkataan daichi sembari menarik selimut dan memejamkan kedua matanya tanpa menoleh kearah belakangnya, setidaknya berada didekat daichi dan bersama dengannya sudah cukup untuk sakura.
BERSAMBUNG....
__ADS_1