Pernikahan Yang Dijodohkan

Pernikahan Yang Dijodohkan
Episode 97 Adaptasi


__ADS_3

Semua masakannya akhirnya selesai, dia meletakkannyau semua di atas meja makan dan menyusun peralatan makan yang akan digunakan keduanya.


"Akhirnya siap juga dan saatnya aku harus membangunkan daichi", ucap sakura.


Dia melangkah menuju ke kamar sambil membuka pintu dengan begitu pelan agar tidak membangunkan daichi.


"Sepertinya dia masih tidur", ucap sakura yang berjalan mendekat kepada daichi.


Dia mendekatkan wajahnya tepat di wajah daichi, untuk memastikan bahwa daichi masih benar- benar tidur, namun dia langsung tertawa saat melihat daichi tersenyum yang tak kuasa saat melihat wajah sakura begitu dekat dengannya.


"Kamu tidak tidur?" tanya sakura yang tertawa.


"Aku tidak bisa tidur lagi saat terbangun", ucap daichi.


"Apa karena aku, sehingga kamu terbangun?" tanya sakura.


"Jangan berpikir seperti itu. Apa kamu sudah siap memasak?" tanya daichi.


"Sudah.., sekarang lebih baik kamu mandi", ucap sakura.


"Baiklah..., jawab daichi sambil bangkit dari tempat tidur.


"Aku akan menyiapkan pakaianmu", ucap sakura.


"Terima kasih istriku", ucap daichi


"Hentikan itu, pergilah mandi", ucap sakura yang mendorong tubuh daichi dari belakang untuk masuk ke kamar mandi.


"Apa kita tidak mandi sama?" tanya daichi sambil membalikan badannya menghadap sakura.


"Daichi.....", ucap sakura yang menatap tajam.


"Baiklah...baiklah...", ucapnya sambil masuk kedalam kamar mandi.


Disaat daichi mandi, sakura disibukan dengan menyiapkan pakaian daichi yang akan dikenakannya hari ini dan seperti biasa meletakkannya dia atas tempat tidur.


"Astaga...., aku lupa menyeduh teh hangat untuk daichi", ucapnya.


Setelah selesai menyiapkan pakaian daichi, sakura keluar dari kamar menujuh ke dapur untuk menyiapkan minuman untuk daichi.


Mengerjakan semua pekerjaan sendiri tanpa bantuan orang lain membuatnya sedikit kewalahan hingga membuat sesuatu terlewat, namun dari situ dia tau bahwa menjadi seorang ibu rumah tangga bukanlah sebuah pekerjaan yang mudah untuk dikerjakan dan dia paham bahwa keberadaan para pelayan di sekitarnya begitu banyak membatunya dan dia merasa bersyukur.


"Sakura...," ucap daichi.


"Daichi..., kamu sudah siapa?" tanya sakura.


"Sudah.., jawab daichi.


"Kenapa tidak memanggil aku, lihatlah kamu memakai dasi tidak rapi", ucap sakura yang berjalan menghampiri daichi dan merapikan dasi yang dikenakannya.


"Terima kasih sakura", ucap daichi.


"Ini adalah tanggung jawab ku. Yasudah, mari kita sarapan, duduklah", ucap sakura.


"Wahhh..., apa kamu semua yang memasak ini?" tanya daichi saat melihat menu makanan yang tersaji di hadapannya.


"Hmmm..., aku memanfaatkan bahan makanan yang ada di kulkas, tetapi aku tidak menemukan beras sehingga aku menggantinya dengan roti gandum. Aku berharap kamu menyukainya daichi", ucap sakura.

__ADS_1


"Ini terlihat begitu lezat", ucap daichi sambil duduk dan mulai menyantap makanan yang ada di hadapannya.


Seperti biasa sakura mengamati daichi saat dia menyantap masakannya, dia ingin melihat ekspresi yang ditunjukan daichi saat makanan itu masuk di mulutnya.


"Bagaimana, Apa kamu menyukainya?" tanya sakura.


Daichi hanya diam, dia begitu fokus menikmati makanan yang masuk ke mulutnya hingga mengabaikan pertanyaan sakura kepadanya.


"Daichi.., bagaiman rasanya?" tanya sakura untuk kedua kalinya.


"Kenapa kamu begitu penasaran sakura?" tanya daichi.


"Karena aku ingin tau apakah kamu menyukai masakan yang aku buat", ucap sakura.


"Apapun yang kamu masak untuk ku, aku pasti akan menyukainya", ucap daichi yang tersenyum kepada sakura.


"Hmmm..., yasudah makanlah", ucap sakura.


Pagi ini sangat berbeda dari biasanya, tidak ada ayah dan ibu mertua saat sarapan pagi dan hanya ada keduanya dan ditempat yang masih asing untuk sakura, namun kehadiran daichi di dekatnya membuatnya merasa nyaman dan mencoba beradaptasi dengan tempat yang akan ditinggalinya selama satu minggu kedepan.


"Apa kamu nyaman dengan tempat tinggal kita saat ini sakura?" tanya daichi disela - sela dia menyantap sarapan nya.


"Sejauh ini aku tidak ada masalah daichi dan aku merasa nyaman", ucap sakura.


"Baguslah kalau begitu, dengar sakura saat diri mu mulai merasa tidak nyaman kamu harus memberitahukan aku. Apa kamu mengerti?" tanya daichi.


"Aku nyaman daichi, jangan cemaskan itu", ucap sakura.


"Kebahagiaanmu yang paling penting untukku nyonya Tama", ucap daichi.


Setiap perkataan yang keluar dari mulut daichi selalu membuat perasaan sakura begitu tersentuh dan tanpa di sadarinya pipinya memerah.


"Jam berapa pertemuannya?" tanya sakura.


"Jam 8 pagi, tetapi tempat tinggal kita saat ini lumayan jauh dari kantor tuan Haga", ucap daichi sambil bangkit dari bangku.


"Baiklah, lebih baik berangkat sekarang ", ucap sakura.


Keduanya bangkit dari tempat duduk mereka dan bersama - sama berjalan menujuh kearah pintu.


"Apa yang akan kamu lakukan setelah ini?" tanya daichi


"Aku akan beres - beres, mencuci piring, pakaian dan membersihkan ruangan", ucap sakura dengan begitu santai mengatakannya kepada daichi.


Daichi langsung memberhentikan langkah kakinya dan mengarahkan pandangannya kepada sakura yang berada di sampingnya.


"Jangan lakukan itu", ucapnya dengan raut wajah yang begitu serius.


"Ta- Pi kenapa?" tanya sakura yang terlihat bingung.


"Aku akan menyuruh orang untuk mengerjakan itu, jangan lakukan itu karena aku tidak ingin kamu kelelahan sakura", ucap daichi.


"Astaga..., aku akan beristrahat jika aku merasa lelah daichi. Kamu tidak perlu khawatir", ucap sakura.


"Kita kesini untuk berbulan madu setelah pekerjaan aku selesai, aku tidak ingin kamu mengerjakan semuanya", ucap daichi.


Sakura menatap daichi begitu dalam sambil meletakan kedua tangannya tepat di pipi daichi.

__ADS_1


"Dengar..., aku senang melakukan dan mengerjakan itu semua karena disini, ditempat ini aku bisa merasakan menjadi seorang istri seutuhnya. Aku bisa mengurus suamiku sendiri tanpa bantuan orang lain, aku sangat bahagian daichi karena itu adalah impianku selama ini karena itu adalah tugas dan tanggung jawab seorang wanita yang telah menikah", ucap sakura yang tersenyum kepada daichi.


Terdiam membeku tanpa berkata apa - apa lagi hanya itu yang bisa dilakukan daichi saat mendengar ungkapan hati sakura, dia merasa begitu beruntung memiliki seorang istri yang begitu tulus dalam melakukan tanggung jawabnya sebagai seorang istri. Dia menggapai tangan sakura yang dari tadi menempel di pipinya, meremas kedua tangannya dan tersenyum kepada sakura.


"Aku berjanji sakura, aku akan menjadi suami yang terbaik untuk mu sama seperti kamu yang telah menjadi istri yang sangat luar biasa untuk ku", ucap daichi sambil mencium kedua tangan sakura.


" Kita akan berusaha bersama - sama daichi", ucap sakura.


Dia menarik sakura dalam pelukannya,sakura menyandarkan kepalanya di atas dada yang begitu besar dan kekar, terasa begitu keras namun sakura merasa nyaman saat menyandarkan kepalanya. Dia mencium rambut sakura yang begitu wangi sebuah aroma yang sangat disukainya dan dia melakukannya berulang kali.Butuh beberapa menit hingga akhirnya sakura menarik tubuhnya dari pelukan daichi.


"Kamu harus berangkat sekarang", ucap sakura.


"Baiklah.. , kamu tidak perlu mengantar aku kebawah", ucap daichi.


"Hmmm...,. baiklah", ucap sakura.


"Setelah urusan ku selesai dengan tuan Haga, aku akan langsung pulang dan kita akan berjalan - jalan", ucap daichi.


"Aku akan menunggu mu dan jangan khawatirkan aku disini", ucap sakura.


"Aku mengerti nyonya Tama", ucap daichi yang mendekatkan wajahnya kepada sakura dan mencium bibirnya.


"Aku berangkat", ucap daichi.


"Hmmm.., Hati - hati ", jawab sakura.


Daichi pun pergi dan hanya tinggal dirinya seorang di apartemen yang cukup besar itu. Dia kembali menujuh ke ruang makan untuk membersihkan meja makan yang masih berserakan dengan piring bekas makan mereka tadi.


Mengangkat piring - piring kotor ke wastafel, membersihkan meja makan, mencuci piring, menyapu dia mengerjakannya semua tanpa sedikitpun mengeluh. Apa yang dilakukannya saat ini mengingatkannya saat dia masih kuliah dimana dia hanya hidup seorang diri jauh dari keluar hingga memaksanya untuk hidup mandiri dan membuatnya terbiasa melakukan pekerjaan yang dulu sering dikerjakannya.


•••••••••••


Kantor Haga 🏢


Pertemuan dengan tuan Haga berlangsung cukup lama dari yang diperkirakan daichi sebelumnya. Selain rekan bisnis Haga adalah teman semasa kuliah bersama daichi, jarangnya bertemu membuat Haga memanfaatkannya untuk mengobrol lebih lama dengan daichi, tentu saja membuat daichi tak kuasa untuk menolaknya.


"Diaman hotel kamu menginap daichi?" tanya Haga.


"Aku tidak menginap di hotel Haga, aku menyewa apartemen", ucap daichi.


"Apartemen?" tanya Haga.


"Benar..., kebetulan aku membawa istriku dan dia lebih memilih untuk tinggal di apartemen dari pada di hotel", ucap daichi.


"Apa kata mu??? Istri? Kamu membawa istrimu?" tanya Haga yang terlihat kaget dan bingung.


"Apa kamu lupa kalau aku sudah menikah? Bahkan aku mengundangmu", ucap daichi.


"Ahhh...,aku sampai lupa kalau kamu telah menikah. Hei...., Sejak kapan seorang Daichi Tama seperti ini", ucap Haga yang menggoda daichi.


"Hentikan Haga", ucap daichi sambil menikmati minumannya.


"Aku sudah lama sekali tidak bertemu dengannya, hanya sekali saja waktu itu saat kamu membawanya ke kampus kita. Seorang wanita yang sederhana dengan latar belakang yang berbeda denganmu, aku sama sekali tidak menyangka bahwa akhirnya kalian bisa menikah daichi", ucap Haga.


Mendengar perkataan Haga membuat daichi menyadari bahwa saat ini Haga salah menyimpulkan sesuatu dengan apa yang dipikirkannya mengenai sosok wanita yang menjadi istrinya.


"Bukan dia Haga", ucap daichi sambil menatap Haga dengan matanya yang serius.

__ADS_1


"Apa maksud mu daichi?" tanya Haga yang saat ini membutuhkan penjelasan dari daichi.


Bersambung........


__ADS_2