Pernikahan Yang Dijodohkan

Pernikahan Yang Dijodohkan
Episode 148 LEGAH


__ADS_3

"Nona sakura, nona kimi", sapa nya yang keluar dari mobil.


"Sekretaris yun", ucap sakura senyum.


"Maaf membuat anda menunggu. Silakan nona", ucapnya yang membukakan pintu untuk sakura dan kimi.


"Terima kasih ", ucap sakura sambil masuk kedalam mobil dengan diikuti kimi.


Dia menutup pintu mobil itu dan langsung masuk kedalam mobil.


"Kemana tujuan kita nona?"tanya sekertaris yun.


"Restoran shibo", jawab kimi dari belakang.


"Baik nona kimi", jawab sekertaris yun yang melajukan mobilnya.


Sekertaris yun menyipitkan matanya, berusaha melihat kemana jalan mereka selanjutnya. Restoran shibo begitu asing untuknya dan sama sekali belum pernah kesana.


"Setelah tikungan kita belok ke kanan, tuan yun", ucap kimi, dia menyadari bahwa sekertaris yun sedikit bingung dengan jalan yang ingin mereka tujuh.


"Baik", sahut sekertaris yun.


Sebuah restoran yang mewah terlihat di sebrang jalan.


"Itu restorannya", ucap kimi.


"Iya", gumam sekertaris yun yang memasuki parkiran mobil.


"Tunggulah disini. Aku akan masuk sendirian untuk menemui sera", ucap sakura.


"Menemui sera!"ucap sekertaris yun dengan syok.


"Tuan yun nanti saya yang akan menjelaskan kepada anda, nona sakura pergilah", ucap kimi.


"Baik kimi", ucap sakura yang pergi meninggalkan mereka.


Didalam restoran, sera sudah menantikan kehadiran sakura. Dia terus melirik jam tangannya, khawatir jika sakura tak jadi datang menemuinya karena daichi tak membiarkannya bertemu dengannya. Namun rasa khawatirnya kini sirna saat melihat sosok sakura yang berjalan kearahnya, dia langsung bangkir berdiri menyambut kedatangan sakura.


"Selamat datang. Silakan duduk", ucapnya yang mempersilahkan sakura.


Keduanya duduk dan saling berhadapan, diam sesaat saling menatap satu sama lain. Hingga akhirnya sakura memulai pembicaraan tanpa berbasa- basi.


"Langsung saja sera, apa yang ingin kamu katakan sebenarnya?"tanya sakura.


Dia duduk diam menunggu. Sera menatap matanya sejenak sebelum dia membuka mulutnya.


Sera tersenyum dan mendesah. "Aku ingin minta maaf."


"Apa aku tidak salah dengar. Apa yang barusan kamu katakan", ucapnya.


"Begini sakura, aku tahu mungkin aku sudah terlambat untuk meminta maaf kepadamu, tapi aku menyadari kesalahanku", ucapnya.


"Soal apa?"tanya sakura


"Aku berbohong. Benar daichi saat itu datang ke apartemen ku dan menginap karena aku yang memintanya, tapi kami tidak ada melakukan apapun ", jelasnya.


Perasaannya sedikit lebih lega saat mengatakan yang sebenarnya kepada sakura.Sejak mengatakan permintaan maafnya rasa gelisah yang dirasakannya dari semalam kini telah menghilang, perasaan bersalah yang menghantuinya tidak akan mengusik pikirannya lagi, namun tidak dengan sakura yang merasa aneh tiba-tiba saja sera meminta maaf kepadanya.


"Apa sebenarnya yang sedang kamu rencanakan sera?"tanya sakura.


"Mungkin kamu masih tidak percaya sakura, tapi aku benar - benar ingin minta maaf kepadamu. Bukan karena daichi telah menghancurkan karir ku, tapi aku tulus untuk permohonan maaf ku", ucapnya.


"Menghancurkan karir mu?"tanya sakura.


"Mmmmm, dia marah karena sudah memfitnahnya", gumamnya.


"Aku sama sekali tidak tahu soal itu semua", ucap sakura.


"Aku tahu", jawab sera.


Kedua tangan sakur mengepal kuat dibawah meja, sorot mata sera menggambarkan kesedihan yang mendalam dan itu dapat dirasakannya saat menatap kedua matanya.


"Apa daichi begitu berarti di hidup mu?" bibirnya bergetar saat menanyakan pertanyaan yang mungkin akan menyakiti perasaannya.


Terkejut bahkan sama sekali tidak menyangka itu yang ada dipikiran sera, air matanya menetes memandang sakura tanpa disadarinya.


"Sangat. Dia sangat berarti untuk ku. Kami bersama sejak kecil, aku begitu naif hingga tidak menyadari bahwa kehidupan kami sangat berbeda", ucapnya.


Di mendesah, menatap ke langit-langit mencoba membendung air mata yang terus keluar, sebelum akhirnya dia melanjutkan ceritanya kepada sakura yang dari tadi menantinya.


"Aku pertama kali bertemu dengannya pada saat karya wisata sekolah ku dan kebetulan sekolahnya juga mengadakan karya wisata di tempat yang sama. Mereka semua sangat berbeda, mereka berasal dari sekolah yang sangat terkenal dan mahal, tapi saat itu dia mengatakan bahwa dia berbeda dengan mereka dan aku menyalah artikan perkataannya. Aku kira dia anak sederhana seperti diriku dan mendapatkan beasiswa hingga bisa bersekolah ditempat itu", jelasnya.


"Lalu?"tanya sakura, dia penasaran.


" Sampai akhirnya dia mengundangku di acara ulang tahunnya ke 17, mataku akhirnya terbuka saat aku melihat orang-orang yang ad di sekitar ku berbeda. Mereka mengenakan gaun-gaun mahal, perhiasan yang bagus dan membuatku sadar bahwa bukan tempat ku disitu. Aku anak seorang pegawai rendahan tidak pantas berhubungan dengannya, tapi aku tidak bisa meninggalkan daichi karena aku sangat mencintainya sakura. Disaat orang memandangku begitu rendah, hanya dia yang menatapku seolah aku begitu berharga ", jelasnya dengan isak tangisnya.


"Jika kamu sangat mencintainya kenapa kamu harus pergi keluar negeri meninggalkan daichi dan memilih membangun karir model mu?"tanya sakura, banyak hal yang ingin diketahuinya mengenai masa lalu hubungan daichi dengan sera, meskipun sekilas kimi telah memberi tahu nya saat pernah bertemu dengan ayana.


"Benar. Sejak ayahku meninggal kehidupan keluarga ku semakin sulit. Ibuku terpaksa bekerja apapun agar kami dapat bertahan hidup, hingga dia harus menjadi pelayan di sebuah restoran. Tidak mungkin seorang anak dari pelayan restoran seperti ku dapat diterima di keluarga daichi, hingga aku memutuskan untuk bekerja menjadi model dan mengambil kesempatan yang datang kepadaku saat mendapat tawaran keluar negeri. Semua karena untuk membuatku sepadan dengan daichi, agar keluarga besarnya menerima ku , tapi harapan itu selamanya hanya akan menjadi harapan saat kamu menikah dengannya", ucapnya nadanya sendu, matanya sayu menatap sakura.


"Ta-pi aku akan melupakannya, sakura. Semuanya hanya kenangan", ucapnya.


Hari ini dia mencoba melupakan semua kenangan yang dimilikinya, tidak peduli seberapa besar rasa rindu kepada daichi dia akan menghapusnya. Waktu yang dilalui mereka bersama, tempat -tempat yang mereka singgahi semuanya hanya akan menjadi kenangan. Meski dia sendiri tidak tahu apakan semudah itu melupakan semua kenangan tentang dirinya.


"Bisakah aku melupakanmu?"batinnya.


"Bagaimana aku bisa melupakan kenangan itu dari ingatanku?


Hatinya begitu sulit menerimanya, air matanya kembali menetes saat dia kembali mengingat kenangan masa lalunya bersama daichi, seandainya waktu dapat kembali saat- saat mereka bersama , dia begitu merindukan pria yang dulu menjadi pelindungnya.


•••••


"Kenapa nona sakura lama sekali?"tanya sekertaris yun,bola matanya berputar memperhatikan sekelilingnya.


"Sebentar lagi tuan yun",ucap kimi santai.


Dia menoleh kebelakang, melihat kimi yang sama sekali tak terlihat kecemasan diwajahnya.


"Anda terlihat tenang sekali nona kimi. Apa tidak masalah membiarkan nona sakura menemui sera?"tanyanya.


"Awalnya saya juga khawatir tuan yun, tapi sekertaris pribadi sera mengatakan itu permintaannya sebelum mereka meninggalkan negara ini", jelasnya, ditatapnya sekertaris yun yang dari tadi memandanginya.

__ADS_1


"Meninggalkan negara ini?"ulangnya.


"Benar tuan", jawab kimi.


"Itu pilihan yang tepat", gumam sekertaris yun.


"Lihat itu nona sakura", ucap kimi, keduanya memperhatikan sakura yang berjalan kearah mobil.


Pintu mobil terbuka.


Dalam sekejap suasana langsung berubah hening saat sakura masuk kedalam. Senyum hangat dan ramah langsung terlihat di wajah sakura.


"Maaf membuat kalian menunggu lama", ucapnya.


"Tidak masalah nona", jawab kimi.


"Kita pergi sekarang, nona?"tanya sekertaris yun.


"Ia sekertaris yun, tolong antara saya kerumah mertua saya", ucap sakura.


"Apa ada masalah, nona?"tanya kimi.


"Tidak kimi, nanti malam akan ada acara makan malam bersama", jelasnya.


"Ahhhh", ucap kimi sambil mengangguk.


Mobil itu pun melaju pergi meninggalkan parkiran restoran. Selama diperjalanan , sakura hanya diam tanpa sedikit pun menyinggung pertemuannya tadi dengan sera. Sesekali sekertaris yun melirik sakura dari kaca spion tengah, memperhatikan ekspresi wajah sakura yang terdiam termenung menatap keluar jendela.


"Apa yang sebenarnya terjadi?"batin sekertaris yun


°


°


Ditempat lain, pertemuan daichi dan haga masih terjadi. Keduanya mengobrol lebih santai tanpa membahas mengenai pekerjaan sama sekali. Keduanya mencoba bersikap biasa saja, seolah tak pernah terjadi sesuatu. Berjam - jam setelah membahas kenangan saat mereka kuliah dulu, daichi mulai menyelidiki tujuan kedatangan haga sesungguhnya.


"Jadi apa yang sebenarnya ingin kamu bicarakan haga, tidak mungkin kamu datang kesini tanpa sebuah tujuan", tanya daichi.


"Well, sepertinya tujuanku sudah terbaca olehmu", ucapnya.


"Itu sama sekali tidak sulit bagiku",gerutunya.


Haga menatap daichi, dia tahu sekarang adalah waktunya dia untuk mengatakannya. Suara Haga yang berat terdengar jelas ditelinga daichi, wajahnya langsung berubah terkejut mendengarnya. "Aku ingin pamit meninggalkan negara ini".


"Apa aku tidak salah mendengarnya?"tanya daichi.


Haga hanya tersenyum, menyandarkan punggungnya dan lebih tenang menanggapi pertanyaan daichi. "Kamu tidak salah dengar daichi. Tolong sampaikan salam perpisahan ku dengan sakura", ucapnya


"Apa yang sebenarnya terjadi? daichi ingin tahu apa yang membuatnya mendadak ingin kembali pergi meninggalkan negara kelahirannya lagi.


"Sama sekali tidak ada alasan, daichi. Aku hanya merasa disini bukan tempatku lagi. Jika aku masih bertahan disini, maka akan sulit aku melupakan sakura dan aku juga tidak mau hubungan persahabatan kita berakhir hanya karena seorang wanita", jelasnya.


"Maaf!" seru daichi. "Aku benar - benar minta maaf. Aku sama sekali tidak tahu bahwa wanita yang selama ini kamu cintai adalah sakura dan untuk kejadian waktu itu di restoran aku telah bersikap kasar terhadap mu yang mencoba mengingatkanku."


"Oh, ayolah. Daichi. Jangan lakukan itu. Aku mengerti kenapa kamu bersikap seperti itu, kamu sangat mencintai sakura dan tidak ingin kehilangannya. Berjanjilah padamu, jaga dia dan tetaplah berada di sisi nya selamanya atau aku akan kembali merebutnya dari dirimu", ucapnya sambil tertawa.


"Oke," gumam daichi.


"Maaf", ucap daichi kembali.


Haga mengangkat wajahnya dan tersenyum kepada daichi. "Tidak, jangan katakan itu."


"Kapan kamu akan berangkat?"tanya daichi.


"Besok pagi", jawabnya.


"Apa kamu tidak ingin bertemu dengan sakura, aku tidak masalah untuk itu", ucapnya.


"Aku tidak bisa bertemu dengannya, karena itu akan membuat keadaan semakin sulit", ucapnya yang menolak.


"Baiklah, jika kamu mengatakan seperti itu", jawab daichi.


"Daichi, aku harus pergi sekarang", ucapnya yang bangkit dari kursinya.


"Aku akan mengantarmu", ucap daichi.


"Itu tidak perlu. Aku akan keluar sendiri", ucapnya.


"Baiklah. Jaga dirimu baik- baik", ucap daichi yang memeluk sahabatnya itu.


"Itu pasti", jawab haga sambil memeluk daichi beberapa menit, sampai akhirnya mereka saling melepas pelukan satu sama lain.


Haga tersenyum , dan pergi meninggalkan ruangan daichi.Langkah kakinya terhenti saat diluar dan menatap kembali kerah pintu ruangan daichi untuk sesaat.


"Aku sangat ingin, daichi", ucapnya.


"Aku sangat ingin bertemu dengan sakura, aku ingin memberitahunya untuk terakhir kali bahwa aku mencintainya, tapi itu semua tidak akan mengubah segalanya saat hatinya telah dikuasai oleh mu", ucapnya.


"Selamat tinggal daichi , selamat tinggal sakura", ucapnya dan kembali melangkah pergi meninggalkan tempat itu.


Selepas kepergian haga, daichi menarik napas panjang, perasaannya sedikit lebih lega sekarang saat mengetahui haga telah memutuskan mundur dan melupakan segala kenangan yang dimilikinya untuk sakura.


Saat dia baru ingin membalikkan badannya kerah kursinya terdengar sebuah ketukan pintu dari luar.


"Masuk!"teriaknya.


Sekertaris yun masuk, dia tersenyum kepada daichi.


"Bagaimana?"tanya daichi.


"Saya sudah selesai menjalankan tugas dari anda tuan dan mengantar nona sakura kembali ke rumah orang tua anda", jelasnya.


"Rumah orang tua ku?"ucap daichi.


"Benar tuna. Nona sakura tadi mengatakan, jika malam ini ada acara makan malam disana", jawabnya.


"Ahhh, aku hampir lupa. Lalu bagaimana pertemuannya dengan sera? Apa yang dikatakan sera kepadanya?"tanya daichi.


"Soal itu saya tidak tahu tuan karena nona sakura meminta saya dan nona kimi untuk menunggu di dalam. Hanya nona sakura saja yang masuk menemui sera", jawabnya.


"Apa yang sebenarnya tujuan sera", ucapnya.

__ADS_1


"Sepertinya dia tidak mengatakan hal - hal yang a aneh dengan nona sakura, tuan", ucap sekertaris yun.


"Kenapa kamu bisa beranggapan seperti itu sekertaris yun, sedangkan kamu tidak ikut bersama sakura tadi", ucapnya.


"Itu karena wajah nona sakura tampak baik-baik saja saat baru keluar dari dalam restoran", jelasnya lagi, setidaknya itulah yang terlihat olehnya tadi.


Mungkin yang dikatakan sekertaris yun ada benarnya, sakura adalah wanita yang gampang terlihat jika perasaan baik atau pun tidak baik dengan melihat wajahnya saja. Hanya saja dia belum yakin apakah sakura benar baik - baik saja atau sedang menyembunyikan perasaannya. Dia belum bisa memastikannya sampai dia bertemu langsung dengan sakura.


"Kalau begitu, kita pergi sekarang sekertaris yun. Acara makan malam nanti jam 7,aku tidak ingin membuat sakura kecewa karena aku terlambat."


"Baik tuan. Silakan", ucap sekertaris yun.


Hari mulai gelap, kemacetan panjang menghambat perjalan mereka tiba tepat waktu di rumah.


"Apa yang terjadi, sekertaris yun?"


"Entahlah tuan, sepertinya terjadi sesuatu didepan", jawab sekertaris yun.


"Cari jalan lain, aku tidak ingin terlambat ", ucap daichi.


"Tapi kita sudah tidak bisa lagi keluar tuan", jelasnya.


Daichi langsung melihat mobil yang mereka kendarai telah diapit mobil lain hingga mereka sama sekali tidak bisa bergerak. Menunggu hanya itu pilihan yang ada untuknya saat ini.


Beberapa jam kemudian, akhirnya mereka sampai dirumah orang tua daichi.


"Sampai jumpa besok, sekertaris yun", ucapnya yang turun dari mobil dan berjalan menuju pintu utama.


Bel pintu berbunyi.


Seorang pelayan wanita yang membukakan pintu untuk daichi yang dari tadi terlihat tak sabar menunggu pintu dibuka untuknya.


"Selamat datang,tuan daichi", sapa nya.


"Kenapa lama sekali. Dimana sakura?"tanyanya..


"Maaf tuan. Nona sakura ada di kamarnya, tuan",katanya.


"Baiklah", ucap daichi yang pergi melewati pelayan itu.


Dia bergegas menaiki tangga menuju kekamar nya,saat masuk kedalam kamar tersebut suasana benar - benar terlihat sunyi. Sosok yang dicarinya tak terlihat didalam kamar, bola matanya berputar memperhatikan sekeliling ruangan kamar itu,hingga pandangannya terhenti kearah jendela kamar yang terlihat terbuka sedikit dan langsung berjalan kerah balkon kamar.


"Sayang?"


Suara lembut daichi terdengar dari arah belakangnya, dia berbalik dan langsung berlari kearah suaminya itu. Hembusan angin yang kencang malam itu, membuat rambutnya yang panjang berantakan karena berlari dan terhembus angin.


Daichi yang melihat sakura berlari kearahnya, dengan spontan membentangkan kedua tangannya menyambut sakura yang menjatuhkan tubuhnya dalam pelukannya.


"Aku merindukan mu", ucap sakura, terlalu banyak kegelisahan yang dirasakannya semalam ini, rasa ketakutannya jika suatu saat daichi akan berpaling dengan dirinya dan memilik kembali dengan sera. Dia takut saat pikiran itu muncul dalam kepalanya, dan selalu


mencoba meyakinkan dirinya sendiri untuk menghilangkan rasa ketakutannya.


Daichi menarik sakura dari dirinya agar bisa menatap wajahnya.


"Ada apa sayang?" Apa yang terjadi? Apa sera mengatakan sesuatu kepadamu?"tanya daichi.


"Tidak sayang. Bisakah mulai sekarang kita melupakan orang - orang yang telah menjadi masa lalu di hidup kita", gumamnya, sambil menatap kedua mata daichi.


Daichi hanya diam, dia merengkuh wajah sakura dengan kedua tangannya dan mencium sakura. Ciuman itu membuat sakura begitu menikmatinya, caranya ******* bibir sakura, seakan daichi tak ingin melepasnya dan akan selalu bersama - sama selamanya. Daichi kembali menarik wajahnya dari wajah sakura, menatap wanita yang dicintainya itu kembali.


"Mulai sekarang hanya ada aku dan kamu dalam pernikahan kita, tidak akan ada lagi yang menjadi pengganggu", ucapnya.


Sakura hanya tersenyum dan kembali menjatuhkan tubuhnya dalam dekapan daichi. Keduanya saling bertatapan sesaat dan saling memberikan senyum indah. "Kita turun kebawah?"tanyanya.


Sakura menganggukkan kepalanya.


Daichi membukakan pintu untuknya sambil tersenyum, bersama mereka turun kebawah menujuh ruang makan. Baru beberapa langkah sakura menuruni anak tangga, dia kehilangan keseimbangan badannya dan dengan sigap daichi yang berdiri disampingnya memegangi lengan sakura yang hampir terjatuh.


"Sayang, ada apa?" Apa kamu baik-baik saja?"tanyanya yang terlihat cemas.


"Aku hanya merasa sedikit pusing saja. Jangan khawatir, aku baik - baik saja sayang", jawab sakura.


"Aku akan memegangi mu", ucap daichi.


.


Meja makan itu telah diubah menjadi begitu cantik, bunga mawar putih tersebar di setiap sudut ruang makan dengan lilin besar yang menyala di atas meja.


"Kalian sudah datang!" seru imoto yang tersenyum menyambut keduanya.


Mereka hanya tersenyum.


"Duduklah, sayang", perintah imoto.


"Baik bu", jawab keduanya.


Acara makan malam itu berlangsung, keluarga tama menikmati acara makan malam yang berlangsung sekarang, kesibukan yang masing- masing mereka miliki membuat mereka jarang untuk berkumpul seperti sekarang dan saat imoto tahu ada waktu kosong yang dimiliki daichi, dia langsung mengatur acara makan malam karena begitu merindukan suasana hangat berkumpul bersama anak dan menantunya.


"Istriku, bukankah kamu membuat sup kepiting?"tanyanya kepada imoto.


"Ah benar. Aku akan mengambilkannya", ucap imoto.


"Ibu, tidak usah. Biar sakura yang mengambilnya ke dapur",sergah sakura.


"Terima kasih, sayang", ucap imoto.


Dia bangkit dari kursinya, namun baru beberapa langkah di beranjak dari tempatnya. Rasa pusing dikepalanya kembali menyerangnya hingga membuatnya jatuh pingsan di lantai.


"Sakura!!!!!!


Semua orang berlari kearahnya dengan panik.


"Sayang.., sayang.., bangunlah", ucap daichi.


"Bawa sakura sekarang kerumah sakit putraku", ucap ayahnya.


"Baik ayah", ucap daichi, dia mengangkat sakura dan menggendong istrinya diikuti kedua orang tuanya yang sudah masuk terlebih dahulu ke dalam mobil untuk menemani daichi membawa sakura kerumah sakit.


Dia melajukan mobil itu dengan kecepatan penuh, menginjak pedal gas sekuat tenaganya agar bisa lebih cepat sampai kerumah sakit yang kebetulan taj jauh dari rumah mereka. Melihat wajah sakura yang pucat, membuat semakin khawatir dan terus mengemudikan mobil dengan kecepatan penuh.


Bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2