
Keduanya saling bertatapan dalam suasana hening sesaat, haga melirik jam tangan yang dikenakannya. Dia memulai pembicaraan,mencoba mencairkan suasana yang terasa menegangkan.
"Sepertinya aku harus kembali sekarang", ucap haga.
"Kenapa cepat sekali?"tanya daichi dengan suara yang masih dingin.
"Masih ada urusan yang harus aku kerjakan", jawabnya.
"Baiklah kalau begitu", ucapnya sambil bangkit dari bangkunya.
"Kuharap tidak ada ke salah pahaman diantara kita daichi", ucap haga.
"Tentu saja, aku baik- naik saja",jawabnya yang mencoba meyakinkan haga, meski sejujurnya perasaanya begitu kesal.
"Sampai jumpa", ucap haga.
"Sampai jumpa", jawab daichi.
Dia melangkah berjalan meninggalkan ruangan itu,sedangkan daichi masih memandang haga yang keluar dari ruangannya. Perhatiannya masih terfokus kepada haga yang telah menghilang dari pandangannya,lalu dia berbalik berjalan kearah meja kerjanya. Wajahnya yang tampan dan menawan menghilang ditutupi kemarahan yang begitu mendalam, dia begitu marah hingga membutuhkan waktu beberapa detik untuk mengembalikan suasana hatinya menjadi baik.
Diluar sekertaris yun menyambut haga yang keluar dari ruangan daichi.
"Apa urusan anda sudah selesai dengan Tuan daichi?"tanya sekertaris yun.
"Sudah tuan yun, saya harus pergi sekarang karena masih ada urusan yang harus saya selesaikan", ucap haga dengan wajah ramah yang selalu diperlihatkannya.
"Kalau begitu saya akan mengantar anda kebawah", ucap sekertaris yun.
"Tidak". Dia mencoba melakukan penolakan atas tawaran yang diberikan sekertaris yun untuknya.
"Kamu tidak perlu mengantar saya sekertaris yun, lanjutkan saja pekerjaanmu. Aku pasti dapat menemukan jalan keluar dari sini", jawabnya sambil tersenyum.
"Baiklah tuan Haga, hati - hati dijalan tuan", ucapnya sambil menundukkan kepalanya.
"Sampai jumpa sekertaris yun", ucapnya yang melangkah pergi meninggalkan sekertaris yun.
Dia berjalan menyusuri lorong yang membawanya menujuh ke loby, setiap wanita - wanita yang berpapasan dengannya akan memandanginya, menikmati ketampanan wajahnya dan dengan sikap sopan yang dimilikinya guratan senyuman akan diberikan kepada setiap orang yang menatapnya.
Saat kedua kaki telah tiba diluar gedung dari kantor daichi, suara seorang wanita terdengar menyapanya dari arah belakang.
"Maaf."
Dia langsung memutar badannya, melihat sosok yang menyapanya. Sosok wanita yang tak asing untuknya, tapi butuh untuk dipastikan apakah sosok yang terlintas dalam pikirannya tersebut adalah wanita yang sama atau dia salah.
"Maaf, apa anda masih mengenal saya? suaranya terdengar pelan.
Dia terus memandang kearah sera, tentu saja sera dapat merasakan tatapannya di wajahnya dan tanpa ragu sera membalas tatapannya.
"Kamu sera, bukan? tanyanya.
"Ah. Anda masi mengingat saya?" dia terdengar terkejut. Dia sama sekali tidak menyangka bahwa haga masih mengingatnya.
"Tentu saja, aku masih mengingat mu sera", jawabnya sambil tersenyum.
Kali ini dia merasa keberuntungan benar- benar memihak dengannya, dia terus menunjukkan ekspresi wajahnya yang terlihat baik dan lembut kepada haga. Dia sedang mencoba membangun karakter yang baik di dalam dirinya agar haga memberikan rasa simpati untuknya, seakan dirinya adalah wanita yang begitu menderita.
"Bagaimana kabarmu sera?"tanya haga.
"Aku sangat baik haga. Rasanya sudah lama sekali kita tidak bertemu ", ucap sera.
"Kamu benar, kalau tidak salah hampir empat tahun", jawab haga yang tersenyum.
Mereka masih berbicara di depan pintu masuk kantor daichi. Orang - orang berlalu lalang melintas didekat meraka, tentu itu sangat wajar karena posisi mereka yang berdiri tepat di depan pintu masuk dari kantor itu.
"Haga, apa kamu ada waktu untuk kita makan siang bersama?"tanya sera.
"Oh, maaf sera. Hari ini aku tidak bisa karena aku sudah ada janji dengan seseorang",jawab haga.
"Ah, sayang sekali", jawab sera terlihat kecewa sambil menghela napas.
"Apa besok kita bisa bertemu?"tanyanya.
"Besok? Ya, sepertinya bisa", jawab haga.
"Baiklah, kalau begitu kita bisa bertemu saat makan siang",jawab sera.
Terdengar begitu memaksakan keinginannya, namun itu adalah salah satu cara untuk memuluskan rencananya. Melakukan pendekatan yang baik kepada haga yang terlihat pria yang menyenangkan.
"Kamu janji akan datang besok kan? Kita bertemu di restoran di ujung jalan itu saja", ucapnya yang mengarahkan tangannya ke sebuah restoran diseberang dari kantor daichi.
"Baiklah sera. Aku pasti akan datang", ucapnya.
"Aku akan menunggu mu", ucapnya.
"Hmm, sera maaf aku harus pergi sekarang", ucap haga yang melirik jam tangannya.
"Oh baiklah, hati-hati", ucap sera.
"Sampai jumpa besok sera", jawab haga yang beranjak dari tempatnya menujuh ke mobilnya.
Dia sama sekali tidak bergerak dari tempatnya, pandangan matanya terus tertujuh kearah mobil silver yang dikemudikan haga melaju pergi dan menghilang meninggalkan kantor daichi.
"Sebentar lagi apa yang aku inginkan akan terwujud", ucapnya dan pergi dari tempat itu.
••••••
Kantor sakura
"Kimi, apa besok malam kamu ada acara?"tanya sakura.
"Besok malam?" Sepertinya tidak ada nona, ada apa?"tanya kimi.
"Ahh, ku ingin mengundang mu untuk makan malam di apartemen", jawab sakura.
"Makan malam? Ada acara apa nona?"tanya kimi yang terlihat penasaran.
"Besok tepat dua tahun pernikahan kami, jadi aku ingin mengundang mu makan malam", jawab sakura.
"Astaga!!!" Benar juga, besok adalah hari ulang tahun pernikahan anda dengan tuan daichi. Waktu begitu cepat berlalu dan tidak terasa sudah dua tahun pernikahan anda dengan taun daichi", ucap kimi.
"Iya kimi, aku juga terkadang tidak percaya", jawab sakura.
Kimi mulai mengingat - ingat kejadian masa lalu, kisah pilu sakura yang menentang perjodohan yang dilakukan kakeknya. Wajah yang selalu terlihat murung dengan mata yang sembab setiap berjumpa sakura, hanya ada isak tangis yang mengiringi setiap malam yang dilaluinya.
__ADS_1
"Apa anda ingat begitu bencinya anda dulu dengan tuan daichi?"tanya kimi yang menatap sakura
Dia hanya diam saat mulut tak mampu berbicara, menganggukkan kepalanya sebagai bentuk isyarat yang diberikan bahwa dia masih mengingatnya. Dia hanya tersenyum sekilas, saat ingatan akan masa lalu kembali dikenang.
"Kamu benar- benar mengingatkan ku kimi akan kenangan itu", ucapnya.
"Tentu saja nona, anda tidak boleh melupakan masa- masa yang pernah kalian alami sampai bisa ada ditahap sekarang", ucap kimi.
"Kamu benar kimi, dia yang dulu tidak pernah aku inginkan berada di dekatku, justru sekarang aku merasa tidak bisa bernapas saat dia jauh", ucap sakura dengan tatapannya memandang kedepan.
"Itulah yang dinamakan cinta nona sakura", ucap kimi.
Saat itu sakura sama sekali tidak mengerti apa sebuah cinta, tentu itu sangat wajar saat dirinya sama sekali tidak pernah membuka hatinya untuk seorang pria. Hidup sendiri di rasanya lebih menyenangkan dibandingkan harus memiliki pasangan yang saat itu dengan pemikiran logisnya dia selalu beranggapan jika memiliki seorang pasangan akan membatasinya dalam melakukan apapun yang ingin dilakukannya. Tentu dengan pemikiran yang ditanamnya seperti itu membuat benar- benar menutup dirinya untuk siapapun.
Bahkan dia sama sekali tidak menyadari bahwa perasaan cintanya terhadap daichi mulai muncul, ketikan setiap di melihat tatapan mata daichi kepadanya akan membuat jantungnya berdetak lebih cepat, wajahnya terlalu terlintas dipikiran nya hingga membuatnya merasa resah dengan apa yang dirasakannya saat itu, hingga akhirnya dia dapat menyimpulkan bahwa perasaan yang dirasakannya pada saat itu adalah rasa cinta yang mulai tumbuh untuk daichi.
"Aku bahkan sangat mencintainya kimi", ucapnya sambil tersenyum menatap kimi.
"I know", jawab kimi.
"Untuk itu, aku ingin merayakan hari bahagia kami dengan orang - orang yang banyak membantu kami", jelas sakura.
"Orang- orang?" Maksudnya?"tanya kimi perasaanya berubah tak tenang.
"Tentu saja kamu dan sekertaris yun", jawab sakura
"Sekertaris yun?"tanyanya dengan ragu.
"Ia kimi, ada apa?"tanya sakura.
"Tidak ada nona", jawabnya nyengir.
Dibalik senyumnya yang terlihat ada perasaan gundah gulana yang dirasakan seorang kimi. Bagaimana tidak, kejadian yang terjadi semalam tentu membuat perasaan canggung dirasakannya saat akan bertemu kembali dengan sekertaris yun. Bahkan perasaan yang aneh sering dirasakannya saat menatap wajah sekertaris yun, ada sebuah perasaan yang bergejolak dirasakannya dan itu terasa seperti perasaan yang tidak wajar untuk ada di dalam hatinya.
"Apa yang kamu pikirkan kimi?" Kenapa kamu tiba- tiba melamun?tanya penasaran.
Kimi mengangkat kepalanya memandang kedua mata sakura, dia mencoba menimbang - menimbang perasaan yang saat ini tengah dirasakannya. Bingung dengan pilihan yang ada saat ini apakah mengatakan yang sejujurnya kepada sakura atau tidak.
"Tidak ada yang saya pikirkan nona", jawabnya dengan senyum.
"Dengar kimi, jika kamu punya masalah. Jangan pernah ragu untuk memberitahuku",ucap sakura.
"Tentu saja nona, anda adalah orang yang pertama yang menjadi tempat saya mengadu", ucap kimi, tapi tidak untuk saat ini, ketika dirinya sendiri masih ragu dengan perasaan yang dirasakannya.
"Aku akan menunggunya", jawab sakura.
"Lupakan soal itu nona. Lalu apa yang bisa saya bantu untuk besok malam?"tanya kimi.
"Sepertinya tidak ada", jawab sakura dengan santai.
"Ayolah nona, biarkan saya membantu anda.Saya tidak enak jika sama sekali tidak memberikan kontribusi", pinta kimi.
"Apa kamu benar- benar ingin membantuku?"tanya sakura mencoba meyakinkannya.
"Tentu saja nona", jawabnya dengan percaya diri
"Kalau begitu, temani aku belanja ke supermarket",ucap sakura.
"Hanya itu? Baiklah, ayok kita belanja sekarang", jawabnya dengan lebih semangat
"Saya ke ruangan saya dulu nona untuk mengambil tas", ucapnya yang berlari meninggalkan ruangan itu.
Selagi menunggu kimi, dia merapikan barang- barangnya. Meraih tas yang terletak di atas meja kerjanya dan melangkah berjalan menuju keluar, namun saat satu tangan baru memegang pegangan pintu, tiba - tiba ponsel yang berada di dalam tasnya berbunyi dan mengagetkannya.. Langkah kakinya terhenti, mengambil ponsel yang ada didalam.
"Suamiku 🖤" nama yang tertera di layar ponselnya dan langsung dengan cepat mengangkatnya.
"Hallo", ucapnya.
"Sakura", terdengar suara serak dari balik telpon tersebut.
"Ya,"jawab sakura dengan spontan saat mendengar namanya disebut.
"Apa yang sedang kamu lakukan sayang?" Apa pekerjaan mu sudah siap?"tanya daichi.
"Aku baru saja ingin pergi bersama kimi", jawab sakura .
"Pergi?" Kemana?"tanya daichi .
"Aku ingin belanja keperluan dapur ke supermarket", jawab sakura.
"Kalau begitu biar aku menjemputmu sekarang. Aku akan menemanimu belanja", ucap daichi sambil bangkit dari kursinya.
"Tapi supermarket lebih dekat dari kantor ku daichi, biar aku pergi bersama kimi saja. Dia akan mengantar ku nanti",pinta sakura.
"Tidak....tidak.., aku sudah dijalan sekarang. Kalau tidak suruh kimi mengantar duluan ke supermarket dan kita akan bertemu disana", ucap daichi yang masih berada di loby kantornya.
"Baiklah kalau begitu", jawab sakura yang terdengar pasrah sambil mengakhiri panggilan telepon tersebut.
Beberapa menit kemudian, kimi muncul dihadapannya dengan wajah yang terlihat ceria.
"Kimi, begini", ucapnya dengan suara yang terdengar ragu.
"Ia nona sakura, ada apa?"tanyanya dengan santai.
"Daichi baru saja meneleponku dan mengatakan dia akan menemaniku belanja",ucap sakura.
"Oh begitu, jadi anda akan pergi dengan tuan daichi?"tanya kimi.
"Kami akan bertemu disana, bisakah kamu mengantarku ke supermarket?"tanya sakura.
"Ahh, saya mengerti sekarang. Jadi maksudnya anda dan tuan daichi akan bertemu disana",ucap kimi.
"Benar kimi", apa kamu marah?"tanya sakura.
"Tentu saja tidak nona. Yasudah ayok kita pergi sekarang sebelum tuan daichi tiba duluan disana", ucap kimi.
"Terima kasih kimi", ucap sakura dengan senyum indahnya.
Diluar cuaca gelap dan berkabut, awan cerah mulai menghilang dengan awan mendung yang menghiasi langit dengan angin berhembus sangat kencang
"Sepertinya sebantar lagi hujan akan turun", ucap sakura menatap langit.
"Benar nona. Sebaiknya kita masuk ke mobil karena angin sangat kencang, sebelum hujan turun", ucap kimi
__ADS_1
Masuk kedalam mobil salah satu pilihan yang tepat saat udara diluar begitu dingin. Mereka masuk kedalam mobil yang terasa lebih hangat dibanding saat berada diluar. Kimi melajukan mobilnya begitu kencang menembus jalan raya menujuh supermarket yang tak jauh dari kantor sakura, hanya butuh waktu sekitar 15 menit menuju ketempat tersebut.
Tepat 15 menit akhirnya keduanya tiba di parkiran supermarket. Rintikan air mulai turun dari langit diiringi angin kencang yang terus bertiup menyapu jalanan.
"Sudah gerimis nona", ucap kimi yang melirik dari jendela mobilnya.
"Benar kimi, benar - benar terlihat gelap", ucap sakura yang ikut melirik keluar.
"Tapi dimana tuan daichi?"tanya kimi yang melirik sakura.
"Mungkin dia belum sampai kimi", jawab sakura.
"Yasudah nona, lebih baik anda menunggu didalam sebelum hujan benar - benar turun deras dan akan membasahi anda", ucap kimi.
"Baiklah kimi, kamu hati - hati ya", ucap sakura.
"Ia nona sakura", jawab kimi.
Dia membuka pintu mobil, melangkah keluar dan kembali menutup pintu tersebut dan berjalan melangkah menjauh meninggalkan mobil kimi dan masuk
kedalam supermarket. Mengambil troli belanjaan tanpa menunggu kehadiran daichi yang dia sendiri tidak tau dimana keberadaan daichi.
Berbelanja sendirian membuatnya sama sekali tidak canggung, dia mulai mendorong troli menelusuri setiap lorong mencari bahan makanan yang dibutuhkannya untuk besok. Gemuruh petir yang kuat terdengar begitu jelas dari dalam dan membuatnya kaget saat mendengar langit seolah sedang murkah.
"Sepertinya diluar sudah hujan sangat deras", batinnya.
Dia kembali melanjutkan berbelanja dan tanpa disadarinya troli kosong tadi, kini penuh dengan bahan makanan.
"Dimana daichi, kenapa dia belum datang juga", ucapnya yang menunggu antrian untuk pembayaran di kasir.
Perasaanya mulai merasa kecewa saat yang ditunggu tak kunjung datang, kesedihan tampak nyata terlihat diwajahnya sambil mendorong troli yang kini penuh dengan kantong- kantong belanjaan menuju pintu keluar. Tiba - tiba dari arah belakang seseorang memukul pundaknya yang membuat sakura terkejut dan dengan cepat memutar badannya menghadap kebelakang. Dia sama sekali tidak tau dan tak melihat dari arah mana daichi datang, rambutnya terlihat sedikit basa dengan pakaian yang dikenakannya.
"Maaf aku terlambat sayang. Hujan yang deras membuat jalanan macet", teriaknya agar sakura dapat mendengar ucapannya dibalik derasnya hujan yang turun.
"Tidak apa-apa sayang, aku mengerti", jawab sakura.
"Apa kamu sudah selesai?"tanya daichi.
"Hmm", jawabnya sambil menganggukkan kepalanya.
"Yasudah, ayok kita pergi dari sini. Mobil ada di sana", ucap daichi.
"Baiklah", ucap sakura sambil mendorong troli belanjaannya.
"Biar aku yang mendorongnya", ucap daichi.
Dia membukakan pintu mobil untuk sakura.
"Terima kasih sayang", ucap sakura sambil masuk kedalam mobil.
"Tunggulah, aku akan memasukan belanjaan ke bagasi dulu", ucap daichi.
Setelah selesai memasukan semua belanjaan, dia masuk kedalam mobil dan menutupnya. Sakura hanya tersenyum saat melihat suaminya kini ada disebelahnya, perasaan kesal yang dirasakannya menghilang saat melihat daichi didekatnya.
Dia mengambil jas krem yang berada di sandaran bangku dan memberikannya kepada sakura.
"Pakailah ini sayang, aku tidak ingin kamu sakit karena pakaian mu basah", ucap daichi.
"Tidak, lebih baik kamu yang memakainya karena baju kamu sudah basah", ucap sakura.
"Aku adalah seorang pria sayang dan seorang pria tidak akan selemah itu ", jawab daichi yang tersenyum kepada sakura.
"Benar, aku lupa bahwa memiliki suami yang kuat", jawab sakura sambil memakai jas yang diberikan daichi.
Aroma daichi begitu terasa saat sakura mengenakan jas miliknya dan itu terasa hangat. Hanya dengan mencium aromanya saja dapat membuat senyum mengembang diwajahnya, ingatan manis saat daichi memeluknya dengan erat selalu dirindukannya karena kini daichi telah mewarnai hidupnya dan menjadi sumber kebahagiannya.
Dia mengemudikan mobilnya dengan pelan,jalanan terlihat sulit dipandang saat derasnya hujan menjadi penghalang. Wajahnya daichi terlihat begitu serius dan fokus menatap kedepan,hingga tanpa disadari suasana begitu hening saat didalam mobil. Sakura hanya diam sambil menunggu dia memulai pembicaraan dan seperti harapannya daichi meliriknya.
"Kenapa tiba - tiba belanja sebanyak ini?"tanya daichi.
"Aku ingin mengundang kimi dan sekertaris yun untuk makan malam bersama kita besok", jawab sakura.
"Makan malam? Kenapa mendadak sekali?"tanya daichi tanpa menatap sakura.
"Apa kamu lupa besok hari apa?"tanya sakura.
"Apa ada hari yang penting?"tanya daichi kembali.
"Tidak ada!!!" jawab sakura dengan wajah cemberut, memalingkan tatapannya yang kecewa ke jalan. Pertanyaan yang dilontarkan daichi melukainya, rasanya begitu kesal saat suaminya melupakan hari pernikahan mereka.
"Aku serius bertanya sayang?"tanya daichi dengan suara yang lembut.
"Aku juga serius, tidak ada yang penting dengan tanggal besok",geramnya terus memandang jalan.
"Apa yang kamu pikirkan?"tanya daichi.
"Tidak ada!" jawabnya dengan suara muram.
Selintas dia melirik sakura yang duduk di sampingnya, wajahnya terlihat terkejut menatap sakura.
"Kamu menangis?"tanyanya.
Terasa menyakitkan untuknya tanpa disadari air mata telah menetas membasahi pipinya.
"Tidak", jawabnya dengan suara parau sambil mengusap air mata.
Ingin rasanya dia mengulurkan tangannya untuk menghapus tetesan air mata yang ada di pipinya, dia begitu menyesal dengan sikap konyol yang dilakukannya.
"Maafkan aku sayang telah membuat mu sedih", suaranya penyesalan tersengat begitu jelas.
Kegelapan malam menyusup diantara keheningan, sakura hanya diam tanpa ekspresi di wajahnya.
"Aku tentu mengingatnya sayang. Dua tahun pernikahan kita", ucapnya.
Dengan refleks dia memalingkan wajahnya menatap daichi, wajahnya kali ini terlihat bingung saat melihat kedua sudut bibir daichi tertarik.
"Dasar!!!" Kamu berhasil membuatku kesal untuk beberapa menit", ucap sakura.
"Bagaimana mungkin aku melupakan tanggal dan bulan yang begitu penting untuk ku sayang. Tanggal dan bulan dimana kedua hati kita saling menyatu", ucap daichi.
Sakura dapat dengan jelas mendengar senyumnya di balikan ucapannya. Pipinya merona memerah akibat tersipu malu saat mata daichi menatap wajahnya untuk sesaat. Dia meraih tangan sakura dan menggenggamnya dia antara jari - jari tangannya dengan begitu erat.
"Aku mencintaimu Nyonya Tama", ucapnya dengan lembut mencium tangan sakura.
__ADS_1
"Aku juga mencintaimu Tuan Tama", jawabnya dengan senyum dan tatapan mendalam melihat daichi.
Bersambung...