Pernikahan Yang Dijodohkan

Pernikahan Yang Dijodohkan
Episode 149 Akhir


__ADS_3

Keduanya menatapnya, dia terdiam membeku saat hendak berjalan masuk kedalam pesawat. Dia melirik sekitarnya, dia bertanya -tanya di dalam hati apakah meninggalkan negara ini selamanya adalah pilihannya yang tepat?. Begitu banyak kenangan yang dimiliki disini bersama orang - orang yang disayanginya dan sangat berarti dihidupnya.


Lalu dia teringat bahwa dia telah berjanji kepada sakura akan melupakan daichi dan meninggalkan negara ini. Dia tersenyum, berusaha meyakinkan dirinya sendiri agar tidak melanggar janji yang telah diucapnya sendiri.


"Sera, sudah waktunya", ucap ayana.


Dia menatap ayana yang berdiri disampingnya kirinya. Keduanya tertegun menunggunya yang tiba - tiba saja memberhentikan langkah kakinya saat berjalan memasuki pesawat.


"Hmmmm!" serunya kaget.


"Ada apa?"tanya ayana.


"Tidak ada apa-apa. Ayok kita masuk kedalam", ucapnya , sambil berbalik dan melangkahkan kakinya kembali memasuki pesawat dengan diikuti ayana dan yumi.


Sejujurnya dia tidak mengerti dengan apa yang dirasakannya saat ini, hatinya begitu bergejolak mengingat bahwa semuanya telah berakhir. Pria yang dicintainya selama bertahun - tahun tidak akan pernah kembali kepadanya dan hanya akan menjadi kenangan di hatinya, tapi baginya itu semua wajar, karena tidak semudah itu melupakan sosok pria yang dulu pernah sangat berarti dihidupnya.


Langkah yang dipilihnya saat ini membuatnya bangga pada dirinya sendiri, setidaknya meski sedikit terlambat, namun pada akhirnya dia menyadari bahwa apa yang dilakukannya selama ini adalah sesuatu yang salah. Menginginkan seorang pria yang telah memiliki seorang istri dan keduanya saling mencintai.


"Aku akan memulai hidupku yang baru, tanpa bayangan mu daichi ", ucapnya yang kini benar - benar melupakan semuanya dan pergi meninggalkan negara berjuta kenangan itu untuk selamanya.


°°°°°°°°°°°


Apartemen


Keduanya berjalan cepat - cepat menembus rintikan hujan yang mulai turun , hari semakin gelap diselimuti awan mendung menghiasi langit di malam hari dengan udara dingin, tapi genggaman tangan sekertaris yun yang hangat dan erat membuatnya merasa hangat.


"Dingin sekali", ucap kimi.


Sekertaris yun hanya tersenyum. Tepat di depan pintu apartemen itu, dia melepaskan genggaman tangannya dan menekan bel tersebut. Mereka mendengar seseorang dari dalam membukakan pintu dan beberapa detik kemudian pintu itu terbuka.


"Kalian sudah datang," sapa daichi , sikapnya begitu santai.


Sakura muncul dari belakang daichi, mengenakan dress coklat yang membuatnya begitu sempurna dengan tubuhnya yang indah.


"Sudah datang. Masuklah", ucap sakura yang tak henti tersenyum kepada keduanya.


Keduanya masuk kedalam, duduk di sebuah sofa berwarnah putih panjang. Ada rasa penasaran yang dirasakan mereka sesungguhnya, mendapatkan sebuah undangan makan malam tanpa memberitahu alasan jamuan makan malam itu kepada keduanya.


"Sayang, apa tidak sebaiknya kita langsung makan. Bibi mori sudah menyiapkan semuanya", ucap sakura.


"Baiklah. Kita makan dulu kalau begitu", ucap daichi.


Diruang makan terlihat bibi mori yang sudah menunggu kedatangan mereka, mata kimi dan sekertaris yun tercengang melihat begitu banyaknya hidangan makanan yang tersedia di meja makan. Makanan sebanyak itu mungkin baru akan benar - benar habis, jika ada 15 orang yang memakannya. Itulah yang terlintas dalam pikiran sekertaris yun saat melihat makanan yang tersaji di meja makan.


"Silakan duduk", ucap bibi mori.


"Apa kita sedang merayakan sesuatu, tuan?"tanya sekertaris yun, dia menatap daichi yang duduk di didepannya.


"Nikmatilah makan malam mu, sekertaris yun", ucap daichi sambil masukan makanan ke dalam mulutnya.


"Maafkan saya, tuan," ucapnya.


Mata kimi menyipit memandangi sakura penuh rasa curiga dan penasaran, tak ada kata ataupun pertanyaan yang keluar dari mulutnya, tapi sama seperti sekertaris yun dia pun begitu penasaran apa sebenarnya tujuan undangan makan malam ini. Kedua matanya tak lepas memandangi sakura dan saat sakura melihatnya hanya ada senyuman yang diberikan sakura untuknya hingga membuat kimi semakin frustasi.


"Apa sebenarnya yang mereka rencanakan?"gerutunya pada diri sendiri, keningnya berkerut.


Masakan yang dibuat bibi mori membuat semuanya begitu lahap menikmati setiap menu hidangan yang tersaji di hadapan mereka. Beberapa menit kemudian, daichi dan sekertaris yun pergi meninggalkan ruangan makan menuju ke ruang tengah, sementara para wanita sibuk membersihkan meja makan yang berserakan dengan beberapa piring kotor.


"Sudah biar sisanya bibi yang mengerjakannya, sayang", ucap bibi mori.

__ADS_1


"Biar kami membantu bibi", balas kimi.


"Tidak, bergabunglah dengan mereka", ucap bibi mori.


"Apa tidak apa- apa meninggalkan bibi sendirian mengerjakannya?"tanya sakura.


"Tentu saja, ini adalah pekerjaan bibi", jawab bibi mori.


"Baiklah kalau begitu bi, kami kedepan dulu", ucap sakura.


Keduanya akhirnya pergi meninggalkan bibi mori di ruang makan, kimi terus memandangi sakura waktu mereka berjalan menuju ruang tengah.


"Nona, apa yang sebenarnya terjadi?"tanyanya, dia terlihat ragu,namun rasa penasarannya membuatnya memberanikan diri untuk bertanya.


Sakura hanya tertawa, tak ada kata yang keluar dari mulutnya sama sekali bahkan saat mereka telah tiba diruang tengah. Sakura langsung berjalan menghampiri suaminya itu,sementara kimi duduk di sebelah sekertaris yun.


Begitu melihat semua telah berkumpul,daichi bangkit dari tempat duduknya. Mengulurkan satu tangannya kearah sakura, tanpa berpikir panjang sakura meraih tangan suaminya itu dan bersama - sama berdiri memandang kearah sekertaris yun dan Kimi. Tingkah keduanya semakin membuat sekertaris yun dan kimi semakin bertanya-tanya apa yang sebenarnya ingin mereka lakukan.


"Ada apa ini sebenarnya, nona?"tanya kimi.


"Ada yang ingin kami sampaikan kepada kalian berdua", kata daichi dengan tenang.


"Soal apa tuan, saya semakin penasaran? Apa ada masalah?"tanya sekertaris yun.


"Tidak tuan yun", sakura langsung dengan cepat membatah pertanyaan sekertaris yun.


"Kalau begitu, soal apa nona?"tanya kimi.


"Yang ingin kami sampaikan ini adalah kabar baik",ucap sakura.


Ekspresi keduanya yang dari tadi terlihat cemas langsung berubah.


Sakura tersenyum, memandangi beberapa detik daichi yang berdiri disampingnya sebelum dia menyampaikan kabar bahagia itu kepada dua orang yang begitu berjasa dalam hidup mereka. Daichi nyengir saat kedua matanya bertemu dengan mata sakura dan menganggukkan kepalanya sebagai isyarat untuk sakura dapat mengatakannya sekarang.


"Baiklah, kabar baik i-tu adalah.....",ucap sakura yang menggantung di ujung kalimatnya.


"Adalah???"lanjut kimi yang semakin penasaran.


"Sakura hamil", ucap daichi dengan begitu santai.


Sakura langsung melirik daichi, dia memandangi suaminya itu dengan kesal.


"Anda hamil?" Saya tidak salah dengar? "Anda hamil?"ulang kimi yang masih tidak percaya.


Sakura hanya mengangguk, membentangkan tangannya kepada kimi dan tanpa banyak kata dia langsung berjalan menghampiri sakura dan memeluk sakura dengan begitu bahagianya, sementara sekertaris yun hanya terdiam dengan senyum simpulnya yang menatap daichi yang tersenyum kepadanya. Berita ini yang telah lama mereka tunggu- tunggu, kehamilan sakura yang akan menjadi pelengkap kebahagian mereka. Dia bisa melihat, bagaimana pancaran mata daichi yang bersinar penuh kebahagian saat ini dan tentu saja membuat dia yang telah bertahun - tahun bersama daichi ikut merasakan kebahagian itu.


"Selamat nona sakura", ucap sekertaris yun.


"Terima kasih, sekertaris yun", balas sakura.


Kimi tak hentinya memegangi tangan sakura dengan senyum kebahagian yang masih mengembang di wajahnya, keheningan terjadi beberapa detik. Kemudian, sekertaris yun berdiri dan berjalan kearah kimi yang dari tadi berada di samping sakura, digenggamnya tangan kimi dan membuatnya terkejut bahkan sakura dan daichi yang melihatnya bingung.


"Ada yang ingin kami sampaikan juga kepada anda berdua", ucap sekertaris yun.


Kimi mendongak menatap sekertaris yun, perasaannya dicekam kepanikan, tapi tidak dengan sekertaris yun yang terlihat tenang. Dia tersenyum kepada kimi, menegakkan bahunya, lalu kembali menatap daichi dan sakura.


"Tuan, nona, kami ingin memberi tahu kalian juga bahwa saya dan nona kimi, kami berdua telah resmi berkencan ", ucapnya , suaranya terdengar lantang dan penuh keyakinan saat mengatakannya, semetara kimi selama beberapa detik jantungnya terasa berhenti berdetak sesaat.


"Sungguh?"ucap sakura.

__ADS_1


"Selamat buat kalian", kata daichi .


"Terima kasih, tuan", balas sekertaris yun.


"Itu adalah kabar yang selama ini diharapkan sakura", gerutu daichi.


"Sekertaris yun, berjanjilah untuk selalu menjaga kimi. Dia adalah wanita yang sangat luar biasa, jangan pernah menyakitinya", ucap sakura.


"Nona sakura", ucap kimi yang begitu tersentuh mendengar permintaan sakura.


"Pasti nona, saya akan selalu menjaganya", ucap sekertaris yun.


"Sayang, kenapa kamu menangis?"tanya daichi, dihapusnya air mata sakura yang membasahi pipinya.


"Ini adalah air mata kebahagian", ucap sakura.


"Jangan menangis lagi", kata daichi yang menatap istrinya itu.


Situasi berangsur -angsur kembali normal, mereka saling mengobrol hingga tak menyadari waktu terus berputar hingga larut malam.


"Kami harus pulang", ucap sekertaris yun.


"Benar, sudah malam sekali ternyata ", ucap daichi.


Mereka bangkit berdiri, berjalan bersama meninggalkan ruangan itu. Langkah kaki keduanya terhenti tepat di ambang pintu dan menatap daichi dan sakura yang mengantar mereka kedepan.


"Kami pamit, tuan, nona", ucap keduanya.


"Hati- hati", ucap sakura, sementara daichi hanya menganggukkan kepalanya saat melihat mereka pergi.


Malam panjang itu akhirnya berakhir, dengan kebahagian yang tak henti - hentinya diterima sakura hingga membuat hatinya yang mudah tersentuh meneteskan air mata penuh kebahagian. Dia menghirup napasnya dalam- dalam sambil memejamkan kedua matanya menikmati hembusan angin di malam hari, saat matanya terpejam dia dapat merasakan seseorang berdiri di belakangnya dan merasakan sentuhan tangan daichi yang memeluknya dari belakang.


"Apa yang sedang kamu lakukan diluar seperti ini?"bisiknya, suaranya terdengar berat di telinga sakura.


"Menikmati udara dimalam hari", jawabnya, dengan mata yang masih terpejam tanpa berpaling kearah daichi.


"Apa ada yang menggangu pikiranmu?"tanyanya.


Mata itu terbuka, dia memutar badannya berhadapan dengan daichi, melihat kedua mata indah itu menatapnya begitu dalam dan membalas tatapan daichi kepadanya hingga tatapan keduanya bertemu. Sakura benar - benar merasa bersyukur pada kehidupan yang dijalani saat itu,memiliki suami yang begitu mencintainya dan melindungi dirinya dan perlahan kebahagian yang mereka miliki akan bertambah saat buah hati yang mereka nanti - nantikan selama dua tahun lebih akan hadir ke dunia ini melengkapi kehidupan mereka.


"Terima kasih telah menjadi suami yang luar biasa untukku, bahkan aku percaya bahwa kamu juga akan menjadi ayah yang baik untuk dia yang masih berada di sini", ucap sakura dengan satu tangannya yang mengelus- elus perutnya.


Mata daichi ikut melihat kearah mata sakura yang menatap ke perutnya. Begitu terkejutnya sakura saat melihat daichi tiba- tiba berlutut dihadapannya dengan tangannya yang ikut menempel diperut istrinya itu dan mengelusnya.


"Apapun akan aku lakukan untuk mu dan calon anak kita nantinya, bahkan jika aku harus mengorbankan nyawaku sekalipun", ucapnya.


Daichi berdiri, dia menarik sakura dalam pelukannya. Seperti biasa tubuh daichi yang wangi membuatnya begitu nyaman dalam dekapannya. Daichi mendesah, hembusan napasnya yang wangi membelai wajahnya , lalu ******* bibirnya yang tipis, ciuman itu otomatis merespon sakura setiap kali bibirnya menempel di bibir sakura. Rasanya seperti sebuah mimpi, pria yang sama sekali tidak pernah terpikirkan oleh dirinya, bahkan yang menjadi pertentangan di hatinya justru kini dia seakan tak mampu jika harus berjauhan dengannya. Pria yang memiliki hati yang baik, wajah yang rupawan, tubuh yang indah, namun dari semua itu hanya satu yang begitu penting untuk sakura bahwa dia pria yang akan selamanya berada di sisi nya. Meskipun dia tahu tidak mudah sampai mereka berada ditahap sekarang, banyak krikil -krikil yang telah mereka lalui bersama bahkan rintangan itu akan selalu ada dalam mereka menjalani rumah tangga mereka, tapi dia yakin dan percaya semua dapat keduanya lalui jika mereka selalu bersama.


Bibir daichi kembali ******* bibirnya dan membuyarkan segala konsentrasinya.


"Ada apa sayang?"tanyanya, dia terlihat bingung saat sakura melepaskan dirinya.


"Aku mencintaimu", ucap sakura.


Daichi hanya tersenyum saat mendengarnya dan kembali menciumnya, sementara sakura menempelkan kedua tangannya di wajah daichi ketikan merasakan ciuman daichi begitu bergairah.


"Aku juga mencintaimu,sakura tama", bisik daichi.


Tamat...

__ADS_1


__ADS_2