Pernikahan Yang Dijodohkan

Pernikahan Yang Dijodohkan
Episode 65 Tak Mampu


__ADS_3

Melihat kehadiran sakura membuat orang-orang yang mengenalinya terus menyapanya sepanjang jalan dengan senyumnya yang begitu ramah dia membalas orang-orang yang menyapa dirinya , dia memutuskan untuk menemui Rici Agata sebelum menujuh ruang pertemuan karena dia begitu merindukan Kakak tertuanya yang sejak pernikahannya belum bertemu dengan lagi.


TOK...TOK..TOK


"Kenapa tidak ada sahutan, apa kakak tidak ada di dalam?" batin sakura.


Dia kembali mencoba mengetuk pintu ruangan itu.


TOK...TOK...TOK..


"Masuklah!!!


Dari luar sakura mendengar suara teriakan kakaknya yang ternyata ada di dalam, dia membuka pintu itu dan masuk kedalam. Rici Agata yang masih terlihat sibuk di meja kerjanya belum menyadari sosok yang masuk kedalam ruangnya.


"Kakak", ucap sakura dengan suaranya yang lembut.


Rici Agata langsung menoleh saat mendengar suara yang tak asing di telinganya, suara yang begitu familiar.


"Sa-kura", ucap rici yang terlihat kaget melihat kehadiran sakura.


Dia bangkit dari kursinya meninggalkan semua pekerjaan yang sedang dikerjakannya, begitu bahagianya melihat sakura dan langsung memeluk adik perempuannya itu.


"Kakak sangat merindukanmu sakura", ucap rici.


"Aku juga sangat merindukan kakak", ucap sakura.


Rici melepas pelukannya untuk melihat dengan jelas wajah adiknya itu.


"Kamu terlihat jauh berbeda sakura", ucap rici.


"Berbeda bagai mana kak?" sakura terlihat bingung.


"Kamu semakin cantik dengan aura yang bahagia ", ucap rici.


Sakura hanya tertawa saat mendengar ucapan kakaknya, dia bingung sejak kapan kakak nya itu pandai menggombal.


"Bagaimana pernikahanmu?


"Apa daichi memperlakukanmu dengan baik adik ku?" tanya rici dengan melihat sakura.


"Iya kak, daichi bahkan ayah dan ibu mertuaku sangat menyayangi diriku, aku sangat bahagia dengan keluarga baruku ", ucap sakura.


"Syukurlah kalau begitu, kakak sangat senang mendengarnya",ucap rici.


"Oh iya kakak, jam berapa pertemuannya", tanya sakura.


"Ahh, sepertinya sebentar lagi akan dimulai", ucap rici sambil melihat jam tangannya.


"Kalau begitu ayok kita kesana sekarang", ucap sakura.


"Hmmm, mari", ucap rici.


Mereka berdua menujuh keruang tempat pertemuan itu akan diselenggarakan, saat mereka memasukan ruangan semua orang sudah hadir dan tinggal menunggu kehadiran keduanya.


"Ternyata sudah ramai", ucap sakura kepada rici.


"Duduklah di kursi mu", ucap rici.


Ada dua kursi yang masih tersisa kosong, sakura memilih duduk di sisi kanan dari bangku yang masih tersedia.


"Apa kabar nona sakura, selamat untuk pernikahan anda", ucap dokter Yeri yang tepat berada di samping sakura.


"Terima kasih dokter Yeri", ucap sakura dengan melempar senyum kepada dokter Yeri.


Sakura tanpa penasaran dengan bangku yang masih kosong itu, bahkan hingga pertemuan itu berlangsung bangku itu tetap saja kosong tanpa ada orang yang duduk disana.


"Maaf dokter Yeri, apa ada yang tidak hadir?" tanya sakura yang pandangannya tertujuh kearah bangku kosong itu.


Dokter yeri yang mendengar pertanyaan sakura, mengikuti arah pandangan sakura yang begitu fokus melihat sesuatu, saat melihat kemana arah pandangan sakura tertujuh sepertinya kini dia mulai mengerti.


"Dokter Rei tidak hadir nona", ucap dokter Yeri.


"Ahhh benar, dokter Rei?" ucap sakura


Dia baru menyadari bahwa tidak ada keberadaan dokter Rei dalam pertemuan itu sedangkan dia seharusnya ikut dalam rapat tersebut mengingat dia adalah ketua dari kegiatan amal.


"Kemana dokter Rei?"


"Kenapa dia tidak hadir?" tanya sakura.

__ADS_1


"Dokter Rei tadi sudah hadir nona sakura , tetapi dia mendadak mendapatkan telepon dari UGD bahwa ada pasien yang harus di operasi karena terluka begitu parah akibat kecelakaan ", ucap dokter Yeri


Mendengar penjelasan dokter Yeri, sakura hanya menganggukkan kepalanya sambil tersenyum dan kembali fokus kedalam jalanannya rapat yang sedang berlangsung dimana saat ini Rici Agata sedang berbicara.


°


°


°


Ruang Kamar Sera


"Cepat lakukan yang aku minta!!!"Teriak Sera yang mulai kesal.


"Maafkan kami nona, kami tidak bisa melakukannya", ucap perawat itu.


"Kenapa kalian begitu menyebalkan sekali yaampun", ucap Sera.


"Sudah hentikan Sera untuk apa kamu membutuh alat bantu oksigen sedangkan dokter mengatakan kondisimu sudah stabil bahkan kamu juga bernapas Normal", ucap Ayana.


"Jangan ikut campur Ayana!!! ucap Sera dengan sorot mata yang tajam menatap nya.


"Cepat pasang selang oksigen untuk ku sekarang, masukan semua biayanya kedalam tagihan rumah sakit aku atau jika kalian tidak melakukannya aku akan mengadukan ini kepada pemilik rumah sakit ini, apa kalian tidak tau siapa aku?" tanya Sera yang melihat kedua perawat yang sedang berdiri di depannya.


Kedua Perawat itu hanya bisa menundukkan kepala mereka karena begitu takut melihat tatapan mata Sera yang begitu tajam dengan sebuah ancaman kepada mereka.


"Baik nona, kami akan menyiapkan alatnya duluh", ucap keduanya yang pergi meninggalkan ruangan itu.


"Sera untuk apa kamu melakukan semua itu?"Tanya Ayana


"Untuk mendapatkan simpati daichi yang lebih besar terhadapku, aku yakin dia akan menjenguk ku hari ini",ucap Sera dengan senyum liciknya.


Alasan Sera membuat Ayana tidak habis pikir bagiamana bisa Sera melakukan hal-hal serendah itu hanya untuk mendapatkan simpati dari seorang Daichi Tama. Kini dia semakin tidak mengenal sosok Sera yang berada dihadapannya sekarang, obsesinya yang terlalu besar membuat dia melakukan segala cara meski harus melukai dirinya sendiri.


Beberapa menit kemudian, dua perawat itu kembali datang dengan membawa alat bantu pernapasan sesuai dengan permintaan seram.


"Kami akan memasang selanya untuk anda nona", ucap perawat itu.


"Cepat lakukan", ucap Sera.


Ayana hanya diam dan terus memperhatikan Sera yang kini terlihat sangat menyeramkan untuknya.


°


°


Pertemuan itu pun selesai, dimana hampir kurang lebih dua jam mereka berada di ruangan itu untuk membahasa segala hal. Sakura berjalan menghampir rici Agata untuk berpamitan.


"Kakak, aku harus pulang sekarang", ucap rici


"Pulang??? Kenapa cepat sekali sakura??


"Mampirlah keruangan kakak lagi untuk mengobrol", ucap rici.


"Maafkan aku kak, tapi aku tidak bisa", ucap sakura.


"Tapi kenapa sakura?" tanya rici.


"Karena sakura sudah berjanji kepada ibu mertua sakura akan langsung pulang saat urusan sakura sudah selesai kak", ucap sakura.


"Baiklah..baiklah... , kakak lupa jika sekarang kamu sudah memiliki keluarga baru", ucap rici.


"Kakak!!! (Teriak sakura)


"HAHAHAHAH, ayolah asik ku kakakmu ini hanya bercanda ", ucap rici sambil tertawa.


"Tapi sakura tidak suka dengan candaan seperti itu kak", ucap sakura


"Maafkan kakak ya", ucap rici yang memeluk sakura.


"Jangan ulangi lagi", ucap sakura


"Iya, kakak berjanji tidak akan mengulanginya lagi", ucap rici yang tersenyum kepada sakura.


"Yasudah, kalau begitu sakura pamit ya kak", ucapnya sambil mencium pipi rici.


"Kakak akan mengantarmu ", ucap rici.


"Tidak perlu kak, aku bisa sendiri", ucap sakura.

__ADS_1


"Yasudah, hati-hati", ucap rici.


"Hmmmm, aku pergi kak", jawab sakura.


Sakura pun pergi meninggalkan ruangan itu menujuh ke loby, selangkah demi selangkah dia berjalan dengan begitu anggun melintasi setiap lorong rumah sakit itu. Para dokter atau pun perawat yang mengenal sakura terus menyapanya atau pun melemparkan senyuman untuknya, bahkan banyak yang begitu terpesona dengan kecantikan yang dimiliki sakura termasuk para dokter laki-laki yang ada dirumah sakit itu.


"Astaga", ucapnya sambil memberhentikan langkahnya.


"Aku lupa menghubungi pak Yuko",batin sakura.


Dia membuka tasnya, mengambil ponselnya untuk menghubungi pak yuko. Namun saat dia masih mencari-cari ponselnya yang ada di dalam tasnya, pandangannya teralihkan pada sosok pria yang begitu dengan baik dikenalnya yang baru saja melintas dari arah pandangannya.


"Da-ichi", ucap sakura.


Pandangan yang begitu kurang jelas saat melihat daichi lewat membuatnya merasa penasaran dengan sosok pria yang baru saja dilihatnya itu sehingga dia ingin memastikan lebih jelas lagi bahwa pria yang dilihatnya barusan benar adalah daichi. Sakura berjalan kearah dimana dia melihat daichi berjalan, dengan langkah kaki yang panjang dia melangkah begitu cepat.


"Apa itu daichi?


"Jika itu daichi, apa yang dilakukannya dirumah sakit?


Pikirannya kembali di penuhi dengan pertanyaan - pertanyaan yang saat ini dia membutuhkan semua jawaban untuk semua pertanyaan yang ada dipikirannya itu, entah mengapa perasaannya kini berubah tidak tenang. Ada rasa ketakutan yang begitu terasa dalam dirinya saat ini yang dia pun tidak mengerti kenapa perasaan menjadi tidak tanang, namun dia tetap memilih mencari tau apa yang sebenarnya telah terjadi dan apa yang telah disembunyikan daichi dari dirinya.


"Aku tidak salah, itu daichi", ucap sakura.





Dari kejauhan daichi melihat dua orang perawat baru saja keluar dari ruangan sera dengan raut wajah yang terlihat kesal.


"Pasien yang sangat aneh", ucap perawat itu.


"Sudahlah, mungkin dia terlalu banyak uang hingga tidak tau bagaimana menghabiskannya", ucap perawat satunya.


"Kenapa dia harus menggunakan selang oksigen jika dia baik-baik saja", ketus perawat itu kembali.


Tanpa sengaja daichi mendengarkan obrolan kedua perawat yang baru saja keluar dari ruangan sera saat berpapasan dengannya, daichi memberhentikan langkah kakinya dan menoleh kearah kedua suster yang baru saja melewatinya.


"Apa yang dimaksud mereka adalah Sera", batin daichi.


Dia pun kembali berjalan menujuh ruang Sera untuk memastikan apa yang dimaksud kedua perawat itu adalah Sera atau tidak, jika itu adalah Sera sepertinya dia tau apa yang akan dilakukannya.


Dengan terburuh-buruh -buruh daichi masuk kedalam sebuah ruangan, melihat hal itu membuat sakura begitu penasaran ruangan kamar siapa yang dimasuki daichi. Jantungnya berdetak begitu cepat, perasaan menjadi semakin tidak tenang. Pandangannya begitu fokus melihat kedepan dengan perlahan dia berjalan menujuh kearah kamar itu.


Tepat di depan pintu kamar itu dia berhenti, kedua matanya tertujuh ke sudut dari sisi pintu kamar itu untuk melihat nama pansien yang sedang dirawat, tetapi begitu kecewanya dia saat melihat tidak ada nama yang terterah.


Dia melangkah lebih dekat ke depan pintu kamar itu, dari sisi sudut bagian ujung pintu yang terlihat transparan, dia mengintip kedalam kamar itu. Di sana dia begitu jelas melihat daichi yang sedang berdiri, dia mencoba melihat lebih dekat untuk dapat melihat siapa sosok yang sedang berbaring di ranjang itu, tetapi begitu sulit baginya karena terhalang oleh tubuh daichi yang menutupi wajahnya.


"Perempuan", ucap sakura.


Matanya begitu fokus terarah kearah tangan yang sedang menggenggam lengan daichi, sebuah tangan yang begitu mulus dengan hiasan di kukunya dengan begitu yakin sakura memastikan bahwa itu adalah seorang perempuan, sakura mencoba melihat lebih dekat siapa wanita itu.


Kedua matanya begitu tercengngang, dia melangkah mundur dari depan pintu kamar itu, dia merasakan seakan ada sesuatu yang menghantamnya saat ini hingga membuatnya begitu lemas dan tidak mampu untuk berdiri.


"SE-RA", ucap sakura dengan suara yang gemetaran.


Wajah itu begitu jelas terlihat bahkan terlihat semakin jelas saat dia tersenyum kepada daichi, senyum yang membuat hati sakura begitu tersayat.


Dengan tangan yang gemetar, dia meraih ponsel yang ada di dalam tasnya, mencari nama yang ingin dia hubungi.


"SUAMIKU"


Itulah no yang dihubunginya, pandangannya tertujuh kepada daichi sambil terus menghubunginya, namun kekecewaan itu semakin memuncak saat daichi mengabaikan panggilan telaponnya bahkan dia sama sekali tidak melihat ponselnya hanya demi Sera yang saat ini berada di dekatnya.


Terasa sakit hingga dia tidak mampu mengeluarkan air matanya, seakan ada sebuah tali yang melilit dadanya dengan begitu kuat sampai membuatnya sulit bernapas hingga terasa begitu sesak.


Wajah terlihat pucat seperti aliran darah yang berhenti mengalir ke tubuhnya, sulit baginya mengungkapkan perasaan yang kini tengah dirasakannya, kesedihan, kemarahan dan kekecewaan bercampur menjadi satu saat melihat suaminya saat ini bersama dengan mantan kekasihnya, begitu sakit hingga membuatnya ingin menghilangkan ingatannya saat ini.


Dia mencoba menutup kedua matanya, berharap bahwa apa yang dilihatnya saat ini adalah sebuah mimpi bukan sebuah kenyataan, namun saat dia kembali membuka kedua matanya, sakura sadar bahwa itu adalah sebuah kenyataan yang harus diterimanya.


"Bisakah aku melupakan ini semua?


"Hilangkan ingatanku saat ini, Kumohon Tuhan", ucapnya dengan suara yang terasa berat keluar dari mulutnya dan pandangannya yang melihat kelangit- langit.


Pembaca setia ku, terima kasih atas masukan yang kalian berikan kepada saya. Semua masukan yang kalian berikan akan menjadi motivasi buat saya dalam menulis novel saya. Jangan lupa untuk selalu like,coment apa saja yang ingin kalian tulis dan yang paling penting vote untuk saya.🥰🌸


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2