
TIK....TIK...TIK...
Hujan rintik-rintik turun dari langit yang terlihat begitu gelap, perlahan bulir-bulir air berlomba meluncur turun membasahi bumi. Sakura hanya diam menikmati setiap tetesan air hujan yang membasahinya, suara gemuruh petir mewakili kemarahan yang tertahan di hatinya dan akhirnya air matanya jatuh karena hati terasa tak sanggup menahan kan rasa sakitnya.
Dia meluapkan kesedihannya dibalik derasa nya air hujan membasahi dirinya, dia terus mencoba menguatkan dirinya sendiri. Semakin dia mencoba untuk melupakan rasa sakit yang diberikan daichi kepadanya, semakin terasa bahwa dia sedang memaksakan hatinya.
Hanya menangis yang bisa dilakukannya saat ini karena dengan menangis dia bisa meluapkan kemarahannya dan membantunya mengurai sesaknya perasaan yang ada dihatinya, sakura yang sekarang begitu berbeda dari biasanya kini dia terlihat begitu lemah tak berdaya.
•
•
•
•
KANTOR DAICHI TAMA
"Akhirnya kita mendapatkan proyek itu tuan", ucap sekertaris Yun dengan wajahnya yang sangat ceria
Sejak berlangsungnya pertemuan hingga berakhir, daichi terlihat tidak konsentrasi seakan ada sesuatu yang sedang dipikirkannya dan sekertaris Yun menyadari hal itu.
"Apa yang anda pikirkan tuan?" tanya sekertaris Yun.
"Entahlah, perasaanku tidak tenang dari tadi", ucap daichi sambil menarik napasnya.
"Soal apa ?" tanya sekertaris Yun
"Aku juga tidak tau apa yang membuatku merasa sangat cemas",ucap daichi.
Jgeeer....Jgeeer.....Jgeerrr...
Suara petir yang begitu kuat mengagetkan keduanya, daichi berjalan menujuh kearah jendela ruangannya melihat derasnya hujan yang membasahi kota itu.
"Hujannya deras sekali", ucap sekertaris Yun yang kini berada tepat di samping daichi.
Pandangannya daichi terus menatap keluar, dengan pikirannya yang semakin tidak tenang. Tiba-tiba saja wajah sakura terlintas dalam pikirannya dan membuatnya seperti mengetahui apa yang dari tadi membuatnya tidak tenang.
"Sekertaris Yun, ambilkan ponselku", ucap daichi.
"Ahh, baik tuan", ucap sekertaris yun.
Sekertaris Yun meraih ponsel yang terletak di meja kerja daichi dan memberikannya kepada daichi.
"Ini tuan daichi", ucap sekertaris Yun.
"Terima kasih sekertaris yun.
Dia kembali mencoba menghubungi sakura yang dari tadi tidak dijawab sakura, sama seperti panggilan sebelumnya sakura juga tidak menjawabnya.
"Kenapa dia tidak menjawabnya", batin daichi.
Melihat ekspresi wajah daichi yang terlihat semakin cemas membuat sekertaris Yun bertanya-tanya siapa yang sebenarnya sedang dihubungi daichi
"Apakah nona sakura?" batin sekertaris Yun.
Dengan mengumpulkan keberanian dirinya, dia pun memberanikan diri untuk bertanya kepada daichi.
"Apa anda sedang menghubungi nona sakura tuan?
"Hmmm, tapi dari tadi dia sama sekali tidak menjawab nya",ucap daichi yang masih mencoba menghubungi sakura.
"Kemana nona sakura pergi?" ucap sekertaris Yun yang ikut penasaran.
__ADS_1
"Aku harus pulang", batin daichi.
"Sekertaris Yun", ucap daichi.
"Iya tuan daichi, ada apa?" tanyanya.
"Semua sudah beres , bukan? Tanya daichi.
"Iya tuan, semua sudah beres", ucap sekertaris Yun.
"Baiklah, aku ingin pulang sekarang", ucap daichi.
"Apa anda yakin akan pulang saat hujan deras seperti itu tuan?" tanya sekertaris Yun
"Hmmm, perasaan ku tidak tenang dari tadi, apa lagi sakura tidak menjawab teleponku ", ucap daichi.
"Tunggulah sebentar lagi tuan, sampai hujannya sedikit lebih rendah",ucap sekertaris Yun .
"Aku tidak bisa menunggu lagi sekertaris, aku harus pulang sekarang", ucap daichi.
"Biarkan saya menemani anda tuan", ucap sekertaris yun.
"Tidak perlu sekertaris Yun, kamu pulanglah kerumah mu jika pekerjaanmu sudah selesai", ucap daichi.
"Baiklah tuan", jawab sekertaris Yun.
"Aku pergi duluh sekertaris Yun", ucap daichi
"Hati-hati tuan, hubungi saya jika anda membutuhkan bantuan saya",ucap sekertaris Yun.
Daichi hanya menepuk-nepuk bahu sekertaris Yun, dia pun pergi meninggalkan sekertaris Yun menujuh loby sambil menghubungi pak hans yang tak lain adalah supir pribadi dari Daichi Tama.
Lak Hans yang dari tadi telah menunggu kehadiran daichi, langsung membukakan pintu mobil saat melihat daichi dari kejauhan.
Daichi langsung masuk kedalam mobil untuk bersiap-siap pulang menujuh kerumahnya, mobil itu pun melaju meninggalkan kantor daichi Tama. Selama di perjalanan daichi kembali mencoba menghubungi sakura, namun kali ini ponsel sakura tidak aktif.
"Apa yang sebenarnya sedang terjadi denganmu sakura", ucapnya yang kini mulai terlihat kesal.
Menyadari mobil yang ditumpanginya sama sekali tidak bergerak membuat kekesalan daichi semakin memuncak dan melampiaskannya kepada pak Hans.
"Bisakah jalan lebih cepat lagi!!!!
"Maafkan saya tuan daichi, jalanan begitu macet", ucap pak Hans yang terlihat kaget mendengar amukan daichi.
Sesekali pak hans melihat daichi dari sebuah kaca kecil yang duduk di bangku penumpang, rasanya sudah lama sekali dia tidak melihat ekspresi wajah daichi saat ini dan menyadari seperti ada sesuatu yang membuat daichi sangat kesal hingga dia kembali menjadi DAICHi TAMA yang pemarah.
Maklum saja sejak pernikahannya dengan sakura bahkan sejak pertunangannya perubahan sifat daichi begitu berubah drastis, dia yang terkenal dengan sifat yang dingin, angkuh, arogan bahkan sombong seketika berubah secara perlahan sejak kehadiran Sakura Agata dihidupnya.
Begitu besar dampak perubahan dalam hidup seorang Daichi Tama sejak kehadiran sakura dan itu sangat dirasakan orang-orang yang berada di dekat daichi, sakura telah memberikan warnah baru di hidup daichi.
Hujan itu semakin deras, membuat kemacetan semakin panjang di jalan. Melihat hal itu membuat daichi semakin gelisah, disaat dia ingin cepat sampai dirumah kemacetan semakin panjang terjadi dan hanya terdengar bunyi klakson yang saling bersahut-sautan di sepanjang jalan.
••••••
Baberapa jam kemudian Meraka akhirnya tiba di kediaman Tama, tanpa menunggu pak Hans membukakan pintu untuknya daichi langsung dengan cepat membuka dan keluar dari mobil itu. Sifat aneh yang dari tadi di tunjukkan daichi membuat pak Hans kebingungan dengan apa yang sedang terjadi.
Dia bergegas masuk kedalam rumah, tentu saja kehadirannya membuat para pelayan begitu terkejut melihat daichi yang tiba-tiba saja muncul tanpa terdengar suara saat dia masuk.
"Daichi, kamu sudah pulang", ucap Imoto yang datang dari ruang keluarga.
"Ibu, dimana sakura?" wajah daichi terlihat panik.
"Sakura belum pulang daichi", ucap Imoto dengan santai.
__ADS_1
"Dari tadi????" Tanya daichi
"Kamu tidak usah cemas daichi, ibu sudah menyuruh pak Yuko menjemput sakura dan sebentar lagi mereka akan kembali", ucap Imoto.
"Benarkah?" tanya daichi.
"Ia daichi, sudahlah lebih baik kamu mandi sekarang", ucap Imoto.
"Baiklah bu, aku ke kamar duluh", ucap daichi.
"Ia nak", ucap Imoto.
•
•
Ketika daichi tiba di kamarnya dengan sakura, Susana kamar itu terlihat begitu sunyi tanpa kehadiran sakura saat ini. Dia begitu merindukan kehadiran sakura yang selalu menyambut kepulangannya dengan senyum yang indah di wajahnya, senyum yang selalu membuat daichi melupakan lelahnya saat melihat sakura.
"Aku merindukanmu sakura", ucap daichi.
Pandanganya teralihkan kemeja yang terlihat berantakan, dia pun mendekat untuk melihat apa yang berserakan di atas meja itu. Beberapa lembar kertas dengan sketsa hasil gambar sakura yang terlihat belum selesai.
"Bahkan dia belum menyelesaikan gambarnya", batin daichi.
Dia merapikan meja yang begitu berantakan itu, merapikan lemabaran kertas yang berserakan dimana- dimana, menyusun semua pensil - pensil yang digunakan sakura pada tempatnya semula , meja yang tadinya berantakan kini terlihat lebih rapi.
Selepas selesai merapikan semuanya, daichi berjalan menujuh ke kamar mandi untuk mandi sebelum sakura tiba dirumah karena dia ingin menyambut saat sakura pulang.
••••••
Dia keluar dari kamar mandi dengan wajah yang terlihat segar dengan mengenakan Koes bewarna hitam dengnn celana panjang bewarna coklat, suasana kamar itu masih sama seperti dia masuk pertama kali, hanya ada keheningan tanpa kehadiran sakura yang selalu membuat suasana kamar itu terasa hangat.
Pandangannya tertujuh keluar balkon kamarnya, hujan yang dari tadi mengamuk dengan gemuruh petir yang begitu kuat terdengar seakan langit akan runtuh akhirnya melembut dan berdamai dengan alam, hanya tersisa rintikan hujan dari atas langit.
Bimmm...Bim...Bimmm..
Dari luar terdengar bunyi klakson mobil yang memasuki kediaman Tama, sebuah mobil sedan berwarnah hitam yang dikemudikan pak Yuko.
"Sakura", ucap daichi dengan senyumnya.
Hatinya terasa begitu senang saat akan bertemu sakura, dia langsung keluar dari kamar dan bergegas turun kebawah untuk menyambut kehadirannya,namun dari bawah terdengar suara samar-samar yang sedang marah.
Perlahan dia menuruni anak tangga satu persatu membuat suara yang tadinya terdengar samar-samar semakin jelas terdengar oleh daichi dan suara itu tidak asing baginya.
"Itu suara ibu", ucap daichi.
Dia semakin penasaran dengan siapa ibunya itu marah-marah, sedangkan imoto adalah orang yang jarang sekali marah dan berbicara dengan nada yang tinggi kepada seseorang.
"Apa yang terjadi?" Tanya daichi yang berjalan menghampiri Imoto.
Pandangan mata Imoto masih tertujuh kepada pak Yuko yang berdiri menunduk di depannya, kedua mata Imoto memerah seperti memancarkan bara api yang membara.
"Maafkan saya Nyonya ", ucap pak Yuko.
"Ada apa ini ibu, kenapa ibu marah-marah dengan pak Yuko ", ucap daichi.
Imoto hanya diam dengan mulut yang tertutup rapat tanpa menjawab pertanyan daichi, suara yang keluar begitu lantang menjadi hening seketika. Pikirkan Imoto menjadi tidak karuan saat mendengarkan ucapan pak Yuko
"Dimana kamu sayang", batin Imoto dengan tatapan mata yang sayu.
Pembaca setia ku, terima kasih atas masukan yang kalian berikan kepada saya. Semua masukan yang kalian berikan akan menjadi motivasi buat saya dalam menulis novel saya. Jangan lupa untuk selalu like,coment apa saja yang ingin kalian tulis dan yang paling penting vote untuk saya.🥰🌸
Bersambung....
__ADS_1