
Kediaman Tama 🏡
Seperti biasanya selepas mereka menikmati makan malam bersama , mereka akan menghabiskan waktu di ruang keluarga untuk berkumpul meski hanya sekedar menonton TV bersama atau pun mengobrol sama seperti kebiasaan yang dilakukan di keluarga Agata.
"Sudah jam 21:35 daichi belum pulang juga", ucap Imoto yang melihat jam.
"Ibu, daichi tadi bilang jika pekerjaannya sudah selesai dia akan langsung pulang", ucap sakura.
"Dia masih saja begitu!!!! (Imoto terlihat kesal)
"Baginya pekerjaan selalu no satu untuknya, ibu kira setelah dia menikah dia akan berubah, tetapi lihat lah sama saja", ucap Imoto.
"Sudahlah istriku hentikan itu", ucap arashi.
"Kamu kenapa membelanya?" ucap Imoto.
"Aku tidak membelanya, tetapi dia bukan lagi daichi putra kita yang dulu. Kini dia sudah berkeluarga dan memiliki keluarganya sendiri", ucap Arashi.
"Karena itu aku kesal suamiku. Kini dia telah memiliki seorang istri, tetapi dia seakan masih seorang pria lajang yang bebas melakukan apapun semaunya".
"Padahal sekarang sudah ada sakura dihidupnya, menantu kesayanganku", ucap Imoto sambil memegang dagu sakura dan tersenyum kepadanya.
"Aku baik-baik saja ibu, jangan cemaskan aku", ucap sakura.
"Ahhh, Terima kasih sayang. "Daichi sangat beruntung memiliki istri seperti kamu", ucap Imoto.
"Tidak ibu, kami berdua sama-sama saling beruntung", ucap sakura.
"Yasudah sayang, lebih baik sekarang kamu istirahat dikamar",ucap Imoto.
"Hmmm, Iya ibu", ucap sakura.
"Kamu tidak perlu menunggu daichi ", ucap Imoto.
"Hentikan itu istriku ", ucap Arashi yang dari tadi terus memeperhatikan Imoto.
"Baiklah....baiklah aku tidak akan menceritai putramu lagi", ucap Imoto yang mengedipkan sebelah matanya kepada sakura.
Sakura hanya tertawa melihat ibu mertuanya yang begitu terlihat kesal dengan putranya sendiri, seakan sakura lah yang menjadi anaknya dan daichi adalah menantunya.
"Ayah, Ibu, sakura istrhat duluan", ucap sakura.
"Selamat beristirahat sakura", ucap Arashi.
"Selamat malam semuanya", ucap sakura
"Selamat malam", (jawab ayah dan ibu mertuanya)
Dia pun pergi meninggalkan ruang keluarga menujuh kekamarnya untuk beristrahat. Di dalam kamar dia terlihat begitu gelisah menunggu kepulangan daichi di balkon kamarnya.
"Kenapa kamu belum pulang", ucap sakura yang masih menunggu.
Tik...Tik...Tik...
Setetes demi setetes hujan mulai jatuh, sakura mengulurkan tangannya untuk merasakan rintikan hujan yang turun.
"Akh semakin deras", ucap sakura yang berjalan masuk kedalam kamarnya.
Melihat pakaiannya yang sedikit basah akibat terkena hujan, dia pun mengambil baju tidur dari dalam lemarinya dan menggantinya di kamar mandi.
"Jadi basah", ucapnya sambil mengusap - ngusap baju yang dikenakannya.
Dia menghidupkan keran air untuk membasuh wajahnya, menggosok giginya yang menjadi rutinitasnya di malam hari sebelum tidur. Ketika dia membasuh wajahnya dengar air yang terasa begitu dingin, pikirannya kembali tertujuh kepada daichi yang sampai saat ini belum kembali sambil meraih handuk yang tergantung dan mengusap wajahnya yang kini terlihat begitu segar.
Sakura pun berjalan menujuh keluar dengan perlahan dia membuka pintu kamar mandi, saat dia ingin menutup kembali pintu itu, kedua matanya tercengang saat pandangannya tertujuh kepada sosok seseorang yang sedang duduk di sofa panjang yang terletak di sudut kamar itu.
"Da-ichi", ucap sakura sambil menutup pintu kamar mandi.
Kedua bibirnya tertarik pada setiap sudut dengan membentuk lengkungan, kedua mata yang dari tadi terlihat begitu sayu kini mulai memancarkan sebuah sinar kebahagian. Dia melangkahkan kakinya berjalan mendekat kearah daichi yang sedang duduk di sofa dan terus menatap dirinya sambil tersenyum.
"Aku tidak tau kalau kamu sudah pulang", ucap sakura sambil berjalan kearah daichi.
"Hmmm, Aku sengaja menunggumu disini", ucap daichi yang pandangannya tidak lepas dari sakura.
"Apa kamu basah, hujan begitu deras diluar", ucap sakura sambil menoleh kearah balkon kamarnya.
"Tidak", ucap daichi.
"Kami sudah ma-kan?" tanya sakura yang kini kembali menatap daichi.
Sakura terdiam sejenak saat kedua mata mereka saling bertemu dan bertatapan, dia melihat sorot mata daichi yang begitu tajam menatap dirinya dan membuat sakura tidak mampu melihat kedua sorot mata itu.
"Ada apa?" tanya daichi dengan suara serak nya.
"Jangan melihatku seperti itu", ucap sakura yang menunjukan kepalanya.
Daichi hanya tertawa melihat tingkah sakura yang masih saja malu terhadap dirinya.
"Aku belum makan", ucap daichi.
__ADS_1
"Apa??? "Kenapa belum makan jam segini?" tanya sakura.
"Karena aku ingin makan malam bersama mu", ucap daichi.
"Ta-pi aku sudah makan tadi bersama ayah dan ibu", ucap sakura.
"Sayang sekali kalau begitu", ucap daichi dengan suaranya yang terdengar begitu kecewa.
"Tidak masalah, aku akan memasakkan mu makanan dan menemanimu makan", ucap sakura dengan begitu semangat.
"Sungguh?" Tanya daichi.
"Hmmm tentu saja."Katakan kamu ingin makan apa, aku akan memasakan nya untuk mu", ucap sakura.
"Aku ingin makan spaghetti", ucap daichi tanpa memikirkannya.
"Spaghetti?" tanya sakura.
"Apa bisa memasaknya untuk ku?"Tanya daichi.
"Tentu saja, aku akan membuatnya", ucap sakura.
"Terima kasih", ucap daichi.
"Mandilah, selagi kamu mandi aku akan membuat makan untukmu", ucap sakura.
Dia melangkahkan kakinya, namun langkah kaki itu terhenti saat tangannya tertahan dan membuatnya menoleh kearah daichi.
"Ada apa?" Tanya sakura yang terlihat bingung.
Daichi hanya tersenyum dan menarik tangan sakura dan membuatnya terjatuh di sofa panjang tepat di samping daichi saat ini berada.
"Jangan pergi", ucap daichi sambil membaringkan badannya dan meletakan kepalnya tepat di pangkuan sakura.
"Bukankah seharusnya saat ini kamu mandi dan aku akan membuat makanan untuk mu", ucap sakura.
Daichi menarik tangan sakura dan mencium tangan yang begitu mulus dan wangi.
"Aku sangat merindukanmu", ucap daichi.
"Hei, kenapa kamu selalu saja menggodaku", ucap sakura.
Dia mencoba menarik tangannya, namun daichi menahannya dan mendekap tangan sakura kedalam pelukannya seakan tidak ingin melepaskannya.
"Apa kamu tidak merindukan ku?" tanya daichi sambil menatap ke atas langit-langit.
Kedua bibir sakura tertutup begitu rapat dengan suara gigi yang saling bergesekan, sakura hanya diam membisu mendengar pertanyan daichi. Rasanya begitu sulit untuk sakura mengeluarkan kata-kata dari mulutnya hingga dia tidak mampu mengungkapkan perasaan yang dirasakannya dari tadi. Seberapa rindunya dia, seberapa cemasnya dirinya terhadap daichi entah kenapa dia sangat sulit mengutarakannya.
"Pikiranku terus saja memikirkan mu hingga membuatku sangat tersiksa berjauhan denganmu", ucap daichi.
Tanpa sadar air mata sakura keluar dan membasahi pipinya, hingga tetasan air mata itu jatuh ke pipi daichi yang sedang berbaring di pangkuan sakura.
"Apa kamu menangis?" tanya daichi yang bangkit untuk melihat sakura.
"Hei, jangan menangis", ucap daichi yang memegang dagu sakura dan mengangkat kepalanya.
"Kumohon jangan menangis", ucap daichi sambil menghapus air mata di pipi sakura.
Namun air mata sakura terus saja mengalir tentu saja melihat hal itu membuat daichi begitu bingung apa yang membuat sakura menangis dan tangisan itu semakin kencang, dia menarik sakura kedalam pelukannya.
"Jangan menangis lagi sakura, itu membuat aku sangat sedih", ucap daichi sambil membelai rambut sakura.
"Sekarang katakan apa yang membuat mu menangis?"
"Apa ada yang menyakitimu?"
"Cepat katakan kepadaku?" Tanya daichi.
Sakura hanya menggelengkan kepalanya sambil menghapus air matanya.
"Tidak ada yang menyakitiku daichi", ucap sakura yang kini terlihat mulai tenang.
"Kalau begitu kenapa kamu menangis?" tanya daichi yang menatap sakura.
"Entahlah, aku hanya merindukanmu",ucap sakura.
"Merindukan ku?" tanya daichi.
"Hmm, Aku selalu menunggu mu dan perasaanku begitu cemas saat kamu belum pulang",ucap sakura.
"Sakura", Daichi merasa terharu mendengar perkataan sakura.
"Aku merasa tidak mampu hidup tanpa mu, hingga membuatku terasa begitu sulit untuk bernapas saat aku jauh darimu", ucap sakura yang kembali menangis.
"Ussshhh, Sudah jangan menangis lagi", ucap daichi yang kembali menghapus air mata sakura.
"Sakura dengarkan aku".
"Aku sangat mencintaimu sakura, begitu mencintaimu".
__ADS_1
"Hanya kamu saja yang selalu di hatiku", ucap daichi sambil memeluk sakura.
"Aku juga mencintaimu daichi", ucap sakura yang memeluk daichi begitu erat di dalam pelukannya
Hujan begitu deras dengan suara gemuruh petir yang begitu kuat yang membuat sakura kaget saat mendengarnya hingga membuat badannya gemetaran.
"Apa kamu takut dengan petir?" tanya daichi yang melirik sakura.
Sakura hanya menganggukkan kepalanya dengan kedua tangannya yang menutupi telingan nya, daichi hanya tertawa melihat tingkah sakura yang begitu takut dengan suara petir.
"Heyyy, kenapa kamu tertawa?" tanya sakura yang terlihat kesal.
"Aku tidak tertawa", ucap daichi.
"Lihatlah kamu tertawa", ucap sakura sambil menunjuk kearah daichi.
Daichi menarik jari telunjuk sakura yang membuat badan sakura jatuh di dekapan daichi. Kedua mata mereka saling bertatapan memandang satu sama lain dengan detak jantung sakura untuk kesekian kalinya selalu berdetak begitu cepat, perasaan itu selalu muncul saat dirinya berada di situasi seperti sekarang terjebak dengan daichi.
Begitu cepat, sentuhan itu secepat kilat yang menyambar bibirnya hingga membuatnya sama sekali tidak mampu berkata apapun bahkan menggerakan badannya, sebuah kecupan bibir dari seorang Daichi Tama yang membuat sakura seperti patung saat bibirnya menyentuh bibir sakura.
"Daichi!!!! (Teriak sakura dengan kesalnya)
Bukannya merasa bersalah terhadap sakura, dia kembali mengecup bibir sakura dengan begitu cepat hingga membuat sakura kembali terkejut dengan aksi yang dilakukan daichi. Daichi mendekatkan wajahnya sambil melingkarkan tangannya di pinggang sakura dan menatap nya begitu dekat sambil berbisik tepat di telinga sakura.
"Jika kamu terus bicara aku akan terus mencium bibirmu", ucap daichi.
Hembusan nafas itu terasa hangat di telinga sakura yang membuat seluruh badannya terasa menggelitiknya hingga membuat bulu tangannya begitu merinding, dia mendorong tubuh daichi dengan kedua tangannya.
"Apa itu sebuah ancaman?" tanya sakura dengan tatapan mata yang tajam.
Daichi kembali mendekatkan dirinya kepada sakura, dengan tangannya yang mengelus rambut sakura dengan lembut.
"Tidak sayang itu bukan ancaman, melainkan peringatan untukmu", ucap daichi sambil tertawa.
"Sudah hentikan!!!!!
"Cepat mandi", ucap sakura yang berdiri.
"Baiklah aku akan mandi", jawab daichi yang bangkit dari tempat duduknya.
"Aku kebawa duluh kalau begitu dan cepat mandi", ucap sakura.
ketika sakura baru berjalan beberapa langkah menuju ke arah pintu, daichi kembali memanggil sakura.
"Sakura!!!!
"Iya daichi ada apa lagi?" tanya sakura yang kembali menoleh ke belakang.
"AKU MENCINTAIMU SAKURA TAMA!!!!
"AKU MENCINTAIMU SAKURA TAMA!!!!
Mendengar teriakan daichi membuat sakura tersenyum.
"Sudah hentikan daichi, ibu dan ayah akan dengar nanti jika kamu berteriak seperti itu", ucap sakura.
"Aku akan terus berteriak sampai kamu mengatakan bahwa kamu juga mencintaiku", ucap daichi.
"Astaga kamu terlalu ke kanak-kanakan", ucap sakura
"Baiklah jika kamu tidak mengatakannya, aku akan terus berteriak", ucap daichi.
"AKU MENCINTAIMU SAKURA TAMA!!!!
"A-kuuuuu",.
"Baiklah...baiklah... ".
"Kumohon hentikan ", ucap sakura.
"Jadi??" tanya daichi.
Perlahan sakura membuka mulutnya yang terasa begitu sulit untuk dibuka, seakan ada sesuatu yang membuat kedua bibirnya menempel hingga butuh tenaga untuk membukanya. Daichi terus menanti sebuah kata yang ingin di dengarnya dari mulut sakura keluar.
"A-KU JU-GA MENCINTAIMU DAICHI TAMA!!
"Apa kamu puas??" tanya sakura
"Sangat puas", jawab daichi dengan senyum lebarnya.
Dengan wajah yang terlihat malu sakura menatap kearah daichi, dia pun berjalan melangkah keluar meninggalkan daichi di kamar dengan sebuah senyuman di bibirnya. Sebuah senyum kebahagian yang diharapkannya selalu menghiasi bibirnya setiap hari dan selamanya tanpa ada yang merusak itu semua.
"Maafkan aku sakura".
Hanya tiga kata itu yang keluar dari mulut daichi saat melihat senyum sakura dengan sorot matanya yang berkaca-kaca dia merasa begitu bersalah saat melihat senyum tulus sakura kepadanya sedangkan dia telah membohongi sakura, perasaanya begitu menyesal harus berbohong dengan sakura sosok wanita yang sangat di cintanya.
Pembaca setia ku, terima kasih atas masukan yang kalian berikan kepada saya. Semua masukan yang kalian berikan akan menjadi motivasi buat saya dalam menulis novel saya. Jangan lupa untuk selalu like,coment apa saja yang ingin kalian tulis dan yang paling penting vote untuk saya.🥰🌸
Terima kasih buat kalian pembaca setia ku yang selalu memberikan vote untuk ku, selalu dukung aku dengan kalian memberikan vote dan penilaian yang bagus untuk ku.
__ADS_1
Bersambung..