
Matanya terbuka begitu lebar menatap wajahnya dalam pantulan cermin yang berukuran sedang menempel di dinding kamar mandi.
"Ba-gaimana ini?
"Apa yang aku lakukan?
Dia terlihat kebingungan dan dia semakin panik saat daichi terus berteriak memanggil namanya dari luar.
"Sakura.., Apa kamu baik - baik saja?" tanya daichi.
"Ia daichi..., Aku baik - baik saja", jawab sakura.
Matanya berputar mencari sesuatu, dia meraih sebuah handuk kecil berwarnah putih untuk menutupi wajahnya dan melangkah keluar dari kamar mandi. Tepat di depan pintu daichi masih berdiri menunggunya keluar, wajahnya begitu jelas terlihat begitu mengkhawatirkan sakura.
"Apa yang terjadi?" tanya daichi saat melihat sakura di hadapannya.
"Tidak ada?" jawab sakura yang terus memegangi handuk yang menutupi wajahnya.
"Kenapa kamu menutupi wajahmu sakura?"tanya daichi.
"Tidak ada daichi", ucap sakura
"Biarkan aku melihatnya sakura", ucap daichi yang melepaskan handuk di atas kepala sakura.
Matanya menegang, bibirnya membentuk garis yang rapat.
"Apa yang terjadi dengan wajahmu?" tanya daichi.
"Tidak apa- apa?" ucap sakura sambil meraih handuk dari tangan daichi.
"Aku bertanya apa yang terjadi sakura!!" teriak daichi.
Teriakan itu membuat sakura yang berada di depan daichi begitu kaget, badannya bergetar dengan mata yang terpejam sesaat.
"Kenapa kamu berteriak seperti ini?" tanya sakura yang masih mempertahankan nada suaranya yang lembut.
"Maafkan aku", ucap daichi.
"Aku baik - baik saja, wajahku akan memerah seperti ini saat aku berada di panas matahari terlalu lama. Aku memiliki kulit yang sensitif karena itu aku tidak pernah pergi ke pantai. Wajahku akan membaik seperti semula besok, ini hanya iritasi sebentar", jelas sakura.
"Dan itu terjadi karena aku", ucap daichi.
"Bukan...., ini bukan karena kamu daichi", ucap sakura.
"Seandainya aku tidak membawa mu kesini", ucap daichi yang terus menyalahkan dirinya.
"Hentikan itu, jangan berbicara untuk hal yang tidak masuk akal daichi", ucap sakura yang kini nada suaranya terdengar marah.
"Itu karena aku belum mengenal mu sakura, aku suami yang sangat payah", ucap daichi.
Dia menutup matanya dengan kedua tangannya, dirinya terlihat begitu kacau di hadapan sakura.
Sakura menggelengkan kepalanya, berjalan mendekati daichi. Jari - jari tangannya melingkar di lengannya yang kekar dengan sangat hati - hati dia menyentuh daichi.
"Jangan bicara begitu, aku baik - baik saja. Aku pun sama seperti mu daichi banyak hal tentang dirimu yang aku pun tidak tau bahkan untuk makanan kesukaan mu saja kepala pelayan ling yang memberitahukan ku , semuanya butuh proses untuk kita berdua saling mengenal lebih dalam satu sama lain", ucap sakura.
"Maafkan aku sakura", suaranya begitu rendah.
Dia meletakan tangannya di wajah sakura yang sangat merah.
"Oh..., lihatlah wajah mu", ucap daichi dengan lembut menyentuh wajah sakura.
"Apa aku terlihat sangat jelek?" tanya sakura
"Tidak...", jawab daichi yang tak lepas memandangi sakura.
"Ahh..., aku pasti sangat terlihat buruk saat ini", ucap sakura.
Dia mencoba menutupi wajahnya dengan handuk yang ada di tangannya, namun belum sampai dia melakukannya daichi langsung menahan tangan sakura.
"Apa yang ingin kamu lakukan?"tanya daichi dengan satu tangannya masih memegangi tangan sakura.
"Aku tidak ingin kamu melihat wajahku seperti ini, aku sangat malu", ucap sakura yang menundukkan kepalanya tanpa berani memandang daichi.
"Jangan lakukan itu, bagiku kamu selalu terlihat cantik di mataku dan apapun yang terjadi denganmu aku akan selalu ada bersama mu. Apa kamu mengerti?"tanya daichi yang mengangkat dagu sakura agar menatapnya.
"Dari mana kamu mendapatkan kata - kata itu?" tanya sakura yang kini mulai tersenyum.
"Entahlah..., itu keluar begitu saja saat aku melihatmu", ucap daichi sambil mengelus rambut sakura.
__ADS_1
"Terima kasih suami ku", ucap sakura.
"Untuk apa?"tanya daichi dengan keningnya yang mengkerut.
"Karena kamu mau menerima kekurangan yang ada pada diriku", ucap sakura.
"Kekuranganmu akan menjadi kelebihan untuk ku. Seharusnya akulah yang harus berterima kasih sakura", ucap daichi.
"Berterima kasih untuk apa?" kini giliran sakura yang bertanya kepada daichi.
"Karena kamu telah bersedia menjadi istri dari seorang daichi tama, pria yang terkenal kasar, angkuh, sombong dan begitu arogan", ucap daichi.
"Aku percaya kamu dapat berubah", ucap sakura.
Daichi menarik tangan sakura membawanya kearah tempat tidur, sakura langsung duduk sesuai dengan perintah daichi. Dia membungkukkan badannya agar sejajar dengan wajah sakura, lalu menatap wajah sakura dengan tatapan matanya yang lembut dengan kedua tangannya yang memegang pundak sakura.
"Tunggulah disini sebentar nyonya tama, aku akan keluar sebentar untuk mencari obat iritasi wajah mu", ucap daichi.
Saat dia baru ingin melangkahkan kakinya untuk meninggalkan sakura , tangan sakura menyentuh lengannya hingga membuat langkah daichi tertahan dan langsung memutar badannya kembali kearah sakura.
"Jangan pergi", ucap sakura sambil menggelengkan kepalanya dengan matanya yang terlihat sayu dan tangan yang masih menggantung menempel di lengan daichi.
Daichi hanya tersenyum sambil menatap wajah sakura, dia memegang tangan sakura yang memegang lengannya dan perlahan melepaskan tangan sakura dari lengannya. Dia memegang tangan sakura, menyatuhkan jari -jari mereka bersama dan menggenggamnya begitu erat.
"Aku hanya pergi sebentar saja dan akan segera kembali saat mendapatkan obat untuk menyembuhkan wajah mu sayang, supaya besok wajahmu akan kembali seperti semula', jelas daichi.
"Aku tidak membutuhkannya, aku sudah memilik obatnya dan wajahku kan kembali seperti semula besok pagi", ucap sakura.
"Apa? kamu memiliki obat?"tanya daichi.
"Hmmm..., cream yang aku gunakan setiap malam sebelum tidur", ucap sakura.
"Bukanlah itu cream kecantikan?tanya daichi dengan wajah bingungnya.
"Tidak..., Itu adalah obat yang berbentuk cream wajah karena aku yang selalu melakukan aktivitas di luar rumah sehingga untuk mencegah wajahku berubah memerah, aku begitu rutin menggunakannya setiap malam sebelum tidur", ucap sakura.
"Aku benar - benar suami yang sangat payah", ucap daichi yang kembali menyalahkan dirinya sendiri.
Ekspresi wajahnya tiba - tiba berubah murung sehingga sakura berhenti berbicara, dia sama sekali tidak tahu bagaimana lagi berkata dan menjelaskannya kepada daichi yang tak henti- hentinya terus menyalahkan dirinya.
"Daichi...", ucap sakura dengan suara lembutnya.
"Daichi?
"Hmm..", jawabnya yang tersentak dari segala pikirannya yang bergejolak.
"Bisakah kita berhenti membahas ini karena aku merasa sangat lapar", ucap sakura dengan tangan nya yang menempel di perutnya.
Daichi hanya tertawa saat melihat sakura, wajahnya seketika berubah lebih tenang seperti semula.
"Aku sudah memesankan makanan, makanlah", ucap daichi.
"Tidak..., aku ingin makan bersama mu", ucap sakura.
"Aku belum mandi sakura, makanlah duluan", ucap daichi.
"Aku akan menunggu mu. Aku ingin makan malam bersama suamiku", ucap sakura.
"Tapi kamu sudah lapar", ucap daichi.
"Aku akan menahannya sampai kamu siap mandi", ucap sakura.
Tidak ada lagi yang bisa dikatakan daichi, saat sakura terus memliki jawaban dari perdebatan yang tengah terjadi diantara keduanya.
"Baiklah.., aku mandi dulu", ucap daichi.
"Aku akan menunggu mu", ucap sakura sambil tersenyum kepada daichi yang pergi meninggalkannya.
Disaat sakura menunggu daichi selesai mandi, dia berjalan menujuh cermin itu melihat kondisi wajahnya yang begitu merah.
"Sangat mengerikan", ucapnya.
Dia mengambil Obat cream di atas meja dan secara rata mengoleskannya di wajahnya.
"Ahh..., aku sangat malu", ucap sakura.
"Sakura...",
Dia langsung membalikkan badannya.
__ADS_1
"Daichi.., kamu sudah siap mandi", ucap sakura.
"Sudah.., Ada apa?"tanya daichi.
"Hmmmm...", sakura terlihat bingung dengan pertanyaan yang di ajukan daichi.
"Apa yang sedang kamu lakukan sayang?"tanya daichi yang berjalan mendekat kearah sakura.
"Ahh..., aku baru saja menggunakan cream obat untuk wajah ku", ucap sakura.
"Aku yakin besok wajah mu akan kembali normal lagi", ucap daichi sambil mengelus rambut panjang sakura.
"Hmm.., Yasudah ayok kita makan , cacing di dalam perutku sudah meronta kelaparan", ucap sakura.
"Ayok..", ucap daichi.
Keduanya berjalan kearah meja dimana makan telah tersedia.
"Duduklah", ucap daichi yang menarik kursi untuk sakura.
"Terima kasih ", ucap sakura.
Daichi duduk tepat di depan sakura.
"Makanlah yang banyak", ucap daichi.
Dengan begitu lahap sakura menyantap makanan yang ada didepannya.
"Apa kamu sangat lapar?"Tanya daichi.
"Hmmm...", jawab sakura.
Pandangan mata daichi terus menatap wajah sakura dan saat melihat keadaan sakura terlintas dipikiran nya bahwa itu semua adalah kesalahannya.
"Kenapa kamu tidak makan?"Tanya sakura.
Disaat setengah makanan yang ada di piringnya hampir habis, namun tidak dengan yang ada di piring daichi yang masih utuh dan sama sekali belum ada tersentuh oleh daichi.
"Sakura.., bolehkah aku bertanya?" ucap daichi dengan suara yang terdengar begitu berat.
Sakura langsung mengangkat kepalanya, dia mengangkat satu alis dengan pandangan yang tertuju kepada daichi dan sorot mata itu begitu serius saat kedua mata mereka saling bertemu.
"Tentu saja", ucap sakura.
"Apakah ada yang tau mengenai kondisi mu ini?"Tanya sakura.
Sakura langsung memberhentikan makanannya dan meletakan pisau dan garpu di atas piringnya. Dia meletakan tangannya di atas meja menggabungkan jari - jari tangannya dan meletakan dagunya di atas tangan yang menopangnya.
"Hanya keluarga ku saja yang mengetahuinya dan sangat dirahasiakan karena itu dapat menjadi kelemahan di diriku", ucap sakura.
"Tidak ada lagi yang lain?"Tanya daichi yang mencoba menyelidiki.
Sakura memiringkan kepalanya dengan mata yang menatap ke langit - langit mencoba berpikir dan mengingat - ingat akan sesuatu.
"Ah..., Ada", jawab sakura.
"Siapa?"Tanya daichi.
"Orang - orang dirumah singgah", jawab sakura.
"Rumah singgah?"tanya daichi yang terlihat bingung.
"Hmmm, sebuah yayasan yang mendirikan rumah singgah untuk anak - anak yang kurang beruntung dan saat aku masih SMA aku menjadi relawan disana bahkan sampai sekarang disaat aku memiliki waktu kosong akan menyempatkan datang kesana", ucap sakura.
"Ahh..., begitu ",ucap daichi.
"Ada apa?"tanya sakura.
"Tidak ada..., makanlah lagi", ucap daichi yang tersenyum lebar kepada sakura.
Isi pikirannya saat ini terlintas nama haga, pertanyaannya mengenai kondisi sakura tadi terasa aneh untuk daichi yang secara kebetulan secara bersama kondisi sakura tidak baik seakan dia telah mengetahui apa yang akan terjadi terhadap sakura.
"Apa mungkin sebuah kebetulan?"batin daichi.
Banyak keanehan yang dirasakannya, namun dia tidak ingin pikirannya akan mengganggu waktu kebersamaannya dengan sakura yang hanya berdua saja dan sebentar lagi akan segera berakhir karena mereka harus segera kembali ke rutinitas mereka sebelumnya.
Membahagiakan sakura adalah tujuan utamanya dan untuk itu dia membawa sakura berbulan madu sebagai salah satu cara yang dilakukannya.
"Kamu adalah milik ku ", batinnya sambil tersenyum menatap sakura.
__ADS_1
Bersambung......