
Cuaca diluar begitu tampak gelap sepertinya akan turun hujan deras, awan gelap tersebut sekan menggambarkan perasaan daichi dan sakura. Daichi masuk kedalam mobil dengan sangat terburu- buru dengan diikuti oleh sekertaris Yun di belakangnya, mereka pergi meninggalkan kantor sakura.
Selama di dalam mobil daichi hanya diam termenung sambil melihat kesisi jalan dari samping kaca mobilnya, dia hanya diam tanpa berkata apapun sejak meninggalkan kantor sakura. Sekertaris Yun hanya memperhatikan daichi dari kaca kecil di depan mobil, rasanya dia begitu ingin bertanya kepada daichi tentang apa yang telah terjadi,tetapi dia menyadari ini bukanlah waktu yang tepat. Tanpa disangka-sangka daichi akhirnya mengeluarkan suaranya yang sedari tadi ditunggu-tunggu sekertaris yun.
"Sekertaris yun, kita kembali kerumah", ucap daichi yang terus menatap keluar jendela.
"Apa anda baik-baik saja tuan??? tanya sekertaris Yun sambil menoleh kearah daichi yang duduk dibelakangnya.
"Aku baik-baik saja, hanya hari ini aku merasa begitu lelah dan butuh istrahat", ucap daichi yang menyandarkan badannya sambil memejamkan kedua matanya.
"Saya mengerti tuan daichi", ucap sekertaris Yun yang membiarkan daichi untuk beristrahat.
•••••••
Setelah 35 menit, akhirnya mereka tiba di kediaman daichi.
"Tuan daichi ucap sekertaris Yun yang mencoba membangunkan daichi yang tertidur di mobil.
"Ehmmmm, ada apa sekertaris Yun? tanyanya dengan mata yang masih terpejam.
"Kita sudah sampai di rumah anda", ucap sekertaris Yun.
Daichi yang mendengar perkataan sekertaris Yun perlahan menggerakan kepalanya sambil membuka kedua matanya. Dia menatap keluar untuk memastikan bahwa dia benar telah sampai dirumahnya.
"Baiklah sekertaris Yun, kamu sudah bisa pulang juga",ucap daichi sambil membuka pintu mobilnya.
"Sa-ya akan menunggu disini tuan, jika anda membutuhkan sesuatu saya disini", ucap sekertaris Yun.
Daichi yang awalnya ingin turun dari mobil, kembali melihat kearah sekertaris Yun.
"Pulanglah kerumah mu dan beristirahatlah, aku tidak membutuhkan apa-apa lagi", perintah daichi kepada sekertaris Yun.
"Ba-iklah tuan daichi, saya akan pulang jika anda tidak membutuhkan saya lagi", ucapnya.
Daichi pun turun dari mobilnya dan berjalan masuk kedalam rumahnya. Ketika daichi telah masuk kedalam rumah, sekertaris Yun dan pak hans pergi meninggalkan kediaman daichi.
Daichi membuka pintu rumahnya dan masuk kedalam, saat dia masuk seluruh pelayan yang berada didalam rumah tersebut tampak begitu kaget melihat keberadaan daichi. Kepala pelayan melihat kearah jam dinding dimana jarum jam menunjukan pukul 5 sore dan membuat mereka bertanya-tanya apa yang terjadi kepada tuan mereka, tidak biasanya daichi pulang kerumah begitu cepat.
Kepala pelayan tersebut berjalan menghampiri daichi dengan raut wajah cemas,
"Tuan daichi, apakah anda sakit? tanya kepala pelayan tersebut.
"Tidak, aku baik-baik saja", ucap daichi yang menatap kepala pelayan tersebut.
__ADS_1
"Saya pikir terjadi sesuatu kepada anda karena tidak biasanya anda pulang secepat ini tuan", ucap kepala pelayan tersebut.
"Aku hanya ingin beristrahat saja karena hari ini aku merasa badanku sedikit lelah", ucap daichi sambil memegang leher belakangnya. "Baiklah aku kekamar duluh.
"Silakan tuan daichi, jika anda membutuhkan sesuatu silakan panggil saya ", ucap kepala pelayan tersebut.
"Hmmmmm", jawab daichi
Dia berjalan menujuh kamarnya yang berada di lantai dua, dia membuka pintu kamar tersebut dan masuk kedalam kamarnya. Dia melepaskan jas dan dasi yang dikenakannya sambil berjalan menujuh jendela kamarnya sambil menatap keluar dan menikmati hujan yang turun begitu deras.
Hujan diluar begitu sangat deras dengan suara petir yang mengiringi hujan yang turun. Dia hanya berdiri dengan kedua tangannya yang dimasukan di dalam saku celananya, dia menatap keluar sambil menikmati hujan yang turun,tetapi tatapan itu tampak kosong karena hati dan pikirannya berada di tempat lain. Hanya ada sakura yang terus dipikiran daichi saat ini, hingga membuatnya tidak semangat untuk melanjutkan pekerjaannya.
Dia terus dihantui rasa bersalah kepada wanita yang mulai dicintainya, selama ini dia terus mencari jawaban untuk perasaan yang dimilikinya kepada sakura. Apakah itu cinta atau obsesi semata kepada sakura dan kini dia mulai menyadari bahwa itu adalah cinta. Dia menyadari bahwa itu adalah cinta saat dia melihat sakura menangis dan membuat hatinya begitu sangat sakit dan merasa bersalah.
•••••
Ditempat lain sakura hanya mengemudi mobilnya tanpa tau kemana arah dia akan pergi, dia hanya ingin menenangkan perasaannya untuk sesaat dan melupakan semua yang telah terjadi. Semua terasa sakit sehingga membuat air matanya bahkan tidak keluar lagi.
Dreg.....dreg....dreg...
Ponsel sakura terus berdering, dia memberhentikan mobilnya di pinggir jalan dan meraih ponselnya yang dari tadi terus berdering.
"Kak Rici", ucapnya yang sedang melihat nama yang ada di layar poselnya dan mengangkat panggilan tersebut.
"Sakura, kamu dimana saat ini?"
"Ahhh,aku sedang dijalan kak. Ada apa?
"Apa kamu sibuk? Bisakah kamu datang kerumah sakit sekarang?
"Apa terjadi sesuatu? ( Sakura mulai panik)
"Tidak sakura, kakak hanya ingin membahas mengenai kegiatan amal yang akan dilakukan rumah sakit. Bukankah kamu ingin ikut berpartisipasi dalam kegiatan amal tersebut?
"Ahhhh, Ia kakak",
"Datanglah sekarang kerumah sakit, kebetulan dokter yang menjadi ketua panitia acara amal tersebut sedang ada saat ini dan tidak sibuk",
"Baiklah kak, aku akan segera kesana,"
"Oke kakak akan menunggumu dan mengabarinya",
"Baiklah kak,
__ADS_1
Panggilan itu pun berakhir, sakura memutar balik arah tujuannya dan melajukan mobilnya kerah rumah sakit. Hujan yang begitu deras membuat jalanan macet, begitu banyak mobil yang mengantri sehingga membuat sakura menghabiskan waktu yang lama dijalanan.
•••••
Tiga puluh menit kemudian sakura tiba di rumah sakit Wongdo, rumah sakit tersebut adalah tempat Rici Agata bekerja. Dia memarkirkan mobilnya dan keluar dari mobilnya. Dia masuk kedalam rumah sakit itu dan berjalan menujuh ruangan Rici Agata yang berada dilantai 6 dari rumah sakit tersebut dengan menggunakan sebuah lift. Ketika dia menunggu lift tersebut dia hanya termenung dengan terus memikirkan daichi Tama .
Dia merasa bahwa dirinya terlalu berlebihan kepada daichi dan tidak seharusnya dia berkata kasar kepadanya.
"Kenapa aku harus mengucapkan hal-hal yang bodoh kepadanya?", dia terus menyalahkan dirinya.
Pintu lift itu terbuka, seseorang pria yang berada di dalam lift itu terus memperhatikan sakura yang masih berdiri sambil melamun, sepertinya pria itu adalah seorang dokter dirumah sakit tersebut. Dia mengenakan jas putih dengan lambang logo rumah sakit tersebut disaku jasnya sebelah kiri, parasnya begitu sangat tampan, hidungnya begitu mancung , bibirnya sangat merah dan tipis dengan rambut yang sedikit pirang serta badannya begitu tinggi tegap.
Ketika pintu lift itu ingin tertutup, pria tersebut langsung menahan dengan tangannya sambil menatap sakura,
"Maaf, apakah anda tidak ingin masuk? Dia bertanya kepada sakura.
Sakura yang dari tadi pikirannya hanya terfokus kepada daichi, tersadar saat mendengarkan suara seseorang yang berasal dari arah depannya. Matanya tertujuh kepada seseorang yang berada di hadapannya, dia melihat seorang pria yang sedang menahan pintu lift itu untuknya.
"Ma-af kan saya ",ucap sakura sambil berjalan masuk kedalam lift.
Pria tersebut hanya tersenyum melihat sakura, dan menekan tombol lift tersebut,
"Anda ingin kelantai berapa? Dia melihat sakura sambil tersenyum.
"Ehh, saya ingin ke lantai 6", ucap sakura.
Pria tersebut langsung menekan tombol sesuai dengan angka yang disebutkan oleh sakura, sakura yang melihat hal tersebut langsung mengucapakan terima kasih.
"Terima kasih", ucapnya sambil menundukkan kepalanya
Pria tersebut hanya tersenyum kepada sakura tanpa berkata apa-apa. Suasana begitu hening selama di dalam lift tersebut, sakura mencoba menjaga jarak dengan pria yang berdiri di sampingnya. Dia melangkahkan kakinya perlahan mundur kebelakang, pria tersebut yang menyadari tingkah sakura hanya tersenyum.
*Tringgg..
Pintu lift tersebut terbuka saat tiba di lantai 5, pria tersebut melihat kearah sakura yang berada dibelakangnya sebelum keluar dari lift tersebut ,
"Saya Duluan", ucap pria tersebut sambil menatap wajah sakura yang tampak begitu sangat cantik meskipun kedua matanya terlihat sembab.
Sakura hanya menganggukkan kepalanya sambil tersenyum kepada pria tersebut yang mulai beranjak berjalan keluar dari lift, saat pria itu keluar sakura kembali menekan tombol yang ada di lift. Ketika pintu lift itu mulai tertutup, pria tersebut menolehkan pandangnya kembali kepada sakura begitu juga sakura dia mengangkat kepalanya yang dari tadi hanya tertunduk sambil menatap pria tersebut dan pintu lift itu pun tertutup secara perlahan.
Guyssss, jangan lupa like , coment and please vote karena itu sangat penting buat akuuuu....
Bersambung.....
__ADS_1