
Keesokan paginya....
"Aku berangkat duluan sayang", ucap daichi sambil mencium kening sakura.
"Hati - hati sayang", ucap sakura.
"Kimi akan menjemputmu, bukan?"tanya daichi.
"Ia sayang", jawab sakura.
"Baguslah.., sampai jumpa nanti", ucap daichi sambil melangkah pergi meninggalkan sakura.
Hari ini entah mengapa perasaan sakura terasa tidak tenang, dia merasa begitu sedih sejak dia bangun tidur di pagi hari, namun dia sama sekali tidak tau apa yang membuat perasaannya pagi ini tidak tenang.
Dreg...Dreg...
"Hallo.., nona sakura saya sudah sampai dibawah", ucap kimi.
"Baiklah kimi, aku akan segera turun kebawah", ucap sakura.
Dengan terburu- buru dia mengambil tasnya yang masih berada di dalam kamar dan melangkah keluar menujuh kebawa, terlalu terburu - buru membuat napasnya tidak beraturan akibat merasa kelelahan.
"Selamat pagi nona sakura", sapa kimi.
"Selamat pagi kimi", jawab sakura dengan napasnya yang tak beraturan.
"Apa yang terjadi nona? Kenapa anda terlihat seperti kelelahan?"tanya kimi
"Aku tadi berlari agar kamu tidak terlalu lama menunggu ku", jawab sakura yang masih mencoba mengatur pernapasannya.
"Yaampun nona anda tidak perlu buruh- buruh karen saya pasti akan menunggu anda", ucap kimi sambil melajukan mobilnya.
Selama diperjalanan menuju kekantor, sakura hanya termenung menatap keluar jendela dengan tatapan mata yang kosong.
"Nona sakura.., Apa yang sedang anda pikirkan?"tanya kimi.
"Tidak ada kimi, tetapi perasaanku hari ini tidak tenang. Aku merasa seperti akan ada sesuatu yang terjadi", ucap sakura.
"Itu hanya perasaan anda saja nona sakura", ucap kimi yang mencoba menenangkan pikiran sakura.
"Mungkin saja kimi", jawab sakur yang kembali mengarahkan pandangannya keluar.
••••••••••
Kantor Daichi Tama 🏙
"Harga saham kita terus naik setiap harinya tuan daichi ", ucap sekertaris yun.
"Hmmm..", jawab daichi dengan santai.
Mendengar harga saham perusahaannya naik bagi seorang daichi tama adalah hal yang biasa untuknya.
"Oh iya tuan.., Apa anda sudah mengatakannya kepada nona sakura?"tanya sekertaris yun.
"Soal apa?"tanya daichi sambil memeriksa berkas yang ada di mejanya.
"Mengenai perjalan bisnis anda keluar negeri tuan", ucap sekertaris yun.
Jari - jari yang dari tadi bergerak seketika berhenti, kedua matanya terbuka lebar dengan mulut yang tertutup rapat tanpa mengeluarkan suara. Melihat perubahan raut wajah dari seorang daichi tama, dia langsung dapat mengetahui jawabannya bahwa daichi sama sekali belum mengatakannya kepada sakura.
"Apa anda belum memberitahu nona sakura tuan?"tanya sekertaris yun.
"Belum.., aku lupa", ucap daichi.
"Astaga.., anda sama sekali belum memberitahu nona sakura? dua hari lagi anda akan berangkat tuan", ucap sekertaris yun.
Dia sama sekali tidak habis pikir dengan daichi yang begitu mudah melupakan sesuatu, tetapi sifat lupa itu hanya akan terjadi pada hal - hal tertentu saja dan itu tidak berlaku dalam urusannya menjalankan bisnisnya dan hasilnya dapat dilihat dari perusahannya yang maju.
"Aku akan memberitahunya nanti malam sekertaris yun", jawab daichi yang kembali membaca berkas.
"Tuan.., Apa tidak masalah meninggalkan nona sakura? Apa nona sakura tidak akan marah kepada anda?"tanya sekertaris yun.
"Aku rasa sakura akan mengerti sekertaris yun", jawab daichi.
"Saya harap juga begitu tuan daichi, semua akan baik - baik saja ", ucap sekertaris yun.
Matanya terlihat menatap berkas yang ada didepannya, namun pandangan itu kosong saat pikirannya berada di tempat lain. Ketika mulutnya berbicara dengan penuh keyakinan, tetapi tidak dengan pikirannya yang merasa ragu untuk mengatakannya kepada sakura karena dia takut sakura akan merasa sedih atau kecewa kepadanya saat harus meninggalkannya sendiri.
°°°°°°°
Apartemen 🌃
Sebagai permintaan maaf nya kepada daichi karena dia pulang telat semalam, dia pulang lebih awal dari biasanya untuk menyediakan makan malam yang spesial untuk suaminya. Begitu banyak hidangan makanan yang dimasaknya dan semua menu makanan yang dimasaknya adalah makanan kesukaan dari daichi.
Berkali - kali dia menata letak piring - piring yang ada di meja makan, dia ingin semuanya terlihat sempurna saat daichi melihatnya. Dia terus memandangi meja makan dengan ekspresi wajahnya yang terlihat puas dengan hasil pekerjaannya sendiri sembari menunggu kepulangan daichi, sesekali dia melirik jam tangannya untuk memastikan jam saat ini karena dia mulai merasa tak sabar hingga akhirnya dia mendengar bunyi bel.
Ting...Tong....Ting...Tong...
Dengan cepat dia berlari kedepan untuk membuka pintu, begitu bahagianya dirinya saat pintu itu terbuka dan dengan begitu jelas dia melihat wajah tampan suaminya.
"Selamat datang", ucapnya dengan senyum indah di wajahnya.
Daichi hany tersenyum saat melihat sakura yang meyambut kedatangannya.
"Masuklah..", ucap sakura sambil menarik tangan daichi.
"Apa telah terjadi sesuatu?"tanya daichi sambil melirik sakura sambil berjalan.
"Hmmm..", Sakura tampak bingung dengan pertanyaan daichi
"Kamu terlihat sangat bahagia sekali malam ini sayang",ucap daichi.
"Ahh..., Itu karena aku merasa senang saat bersama dengan suamiku setelah beberapa jam kita harus berjauhan", ucap sakura.
Langkah kaki daichi terhenti,dia membalikkan badannya menghadap sakura yang ada disampingnya. Dia mengangkat kedua tangannya dan meletakan tepat di kedua pundak sakura sambil menatap kedua mata indah sakura.
"Aku juga bahagia sayang saat bisa melihat wajah indah ini", ucap daichi dengan tangan kanannya yang kini berpindah memegang pipi sakura.
__ADS_1
Sakura merespon ucap daichi dengan senyum indah yang terlukis di wajahnya, sebuah senyum indah yang memperlihatkan lesung pipi di kedua sudut di pipinya.
"Apa kamu tau? Saat kita berjauhan, wajah ini selalu melintas di pikiranku dan membuat ku ingin langsung berlari untuk bertemu dengan wajah indah ini", ucap daichi.
"Hentikan itu..,Itu terdengar sangat berlebihan", ucap sakura yang tertawa.
"Itulah yang aku rasakan saat harus berjauhan denganmu sayang", ucap daichi.
"Sudahlah..., Lebih baik sekarang kamu mandi dan setelah itu kita makan malam karena aku sudah memasak makanan kesukaan mu", ucap sakura.
"Benarkah?? tetapi dari mana kamu tau bahwa itu adalah makanan kesukaanku?"tanya daichi yang begitu penasaran
"Aku bertanya kepada kepala pelayan ling dan mencatat semua menu makanan kesukaan mu",ucap sakura.
Deg...
Tidak akan kata atau pun kalimat yang dapat keluar dari mulut daichi, sakura selalu mampu membuat perasaannya tersentuh dan itulah yang selalu membuat perasaannya semakin bertambah kepada sakura.
"Daichi....", panggil sakura.
"Daichi....,", panggil sakura kedua kali sambil memegangi lengannya.
Panggilan keduanya dan sentuhan sakura akhirnya menyadarkannya.
"Ia sayang..", jawab daichi spontan.
"Apa yang sedang kamu pikirkan?" tanya sakura.
"Tidak ada sayang", jawab daichi.
"Hmm.., Yasudah pergilah mandi sebelum makanannya dingin", ucap sakura.
"Yasudah.., aku mandi dulu sayang", ucap daichi.
"Baiklah..", jawab sakura.
Daichi pun pergi meninggalkan sakura untuk mandi dan sembari menunggu daichi yang masih mandi , sakura kembali memeriksa makanan yang telah dimasaknya.
"Ahh.., ini sudah dingin. Lebih baik aku sekarang menghangatkannya kembali karena daichi tidak suka makan makanan yang sudah dingin", ucapnya.
Dia pun kembali menghangatkan beberapa makanan yang sudah dingin, sakura tidak ingin daichi menjadi tidak lahap makan karena memakan makan yang sudah dingin walaupun dia tau daichi akan tetap memakannya dan tidak akan pernah protes atau mengeluh meski dia tidak menyukainya. Itulah yang selalu dilakukan daichi kepada sakura selama ini, dia sama sekali tidak pernah mengatakan atau mengeluh mengenai apapun yang dilakukan sakura hingga akhirnya membuat sakura sama sekali tidak tau apa yang disukai dan tidak disukai oleh seorang daichi tama sampai akhirnya dia bertanya kepada orang yang selama ini mengurusi daichi yaitu kepala pelayan ling.
Setelah selesai menghangatkan makanan, dia kembali meletakkannya di meja makan dan merapikan piring - piring yang tersusun di meja.
"Sempurna!!!" ucap sakura yang terlihat bahagia.
"Apanya yang sempurna?
Sakura langsung mengalihkan pandangannya.
"Daichi...",ucap sakura dengan senyum yang mekar diwajahnya.
"Apa yang sempurna?"tanya daichi kembali.
"Ah..., aku tadi merapikan kembali letak piring - piring yang ada di meja ", jelas sakura sambil tangannya menunjuk ke meja makan.
"Apa kamu yang memasak semua makanan ini?"tanya daichi.
"Hmm.., duduklah", perintah sakura.
"Dari jam berapa kamu memasak semua ini? Apa ada sesuatu yang ingin kita rayakan?"tanya daichi.
"Aku pulang lebih awal dan memasaknya semua makanan kesukaan mu, tetapi aku hanya memasaknya sedikit - sedikit hanya jenis makanannya yang banyak agar tidak mubazir", ucap sakura.
Daichi pun memperhatikan semua hidangan yang ada di depannya, benar seperti yang dikatakan sakura meski banyak makanan yang terlihat namun porsi semua makana itu sangat sedikit.
"Kamu bahkan masih bisa memikirkan hal seperti itu", ucap daichi yang sangat takjub melihat istrinya.
"Makanlah selagi masih hangat", ucap sakura.
"Ia sayang..., selamat makan", ucap daichi yang mulai memasukan makan kedalam mulutnya.
"Bagaimana rasanya? Apa kamu menyukainya?"tanya sakura.
"Rasanya sangat enak dan sama seperti masakan bibi ling", ucap daichi.
"Sungguh?? Aku mencatat dan mengikuti langkah yang dikatakan kepala pelayan ling", ucap sakura.
"Pantas saja rasanya sama dengan masakannya", ucap daichi yang begitu lahap makan dan mencicipi semua hidangan yang ada di hadapannya.
"Oh iya.., sebentar lagi weekend. Bagaimana kalau kita mengunjungi ayah dan ibu saat weekend nanti, sudah lama sekali kita tidak berkunjung kesana", ucap sakura.
"Uhuk...Uhuk...Uhuk...
Tiba - tiba saja daichi batuk saat sedang makan.
"Hei.., pelan - pelan", ucap sakura sambil menuang air di gelas.
"Minumlah..", ucap sakura.
"Terima kasih sayang", ucap daichi.
"Apa sudah enakan?"tanya sakura.
"Sudah...", jawab daichi.
Dia terlihat mengatur napasnya sebelum mencoba berbicara kepada sakura.
"Sakura..", ucap daichi dengan sangat hati - hati.
"Hmmm.., Ada apa daichi", jawab sakura sambil menikmati makanannya.
"Sebenarnya ada sesuatu yang ingin aku katakan", ucap daichi.
"Soal apa? Katakanlah", jawab sakura dengan begitu tenang sambil menatap daichi karena dia tak sabar mendengar apa yang ingin dikatakan daichi kepadanya .
"Sepertinya kita tidak bisa berkunjung kerumah ayah,ibu weekend ini sayang", ucap daichi sambil memperhatikan ekspresi yang akan ditunjukkan sakura.
__ADS_1
Sakura langsung melihat kearah daichi yang dari tadi memperhatikannya. Keduanya saling menatap untuk beberapa detik hingga sakura memulai kembali pembicaraan.
"Apa kamu ada kerjaa?"tanya sakura.
"Benar..", jawab daichi.
"Ah.., yasudah tidak apa- apa kita bisa pergi lain waktu", jawab sakura yang tersenyum simpul kepada daichi.
"Begini sayang.., ada urusan bisnis yang sangat mendesak sekali", ucap daichi yang mencoba menjelaskan kepada sakura.
"Tidak apa- apa daichi..", ucap sakura yang menyela omongan daichi yang belum selesai dibicarakannya.
"Sakura.., sabtu ini aku harus berangkat keluar negeri", ucap daichi.
"APA!!!!!!!!
Nada suara sakura meninggi, dia begitu kaget mendengar ucapan daichi yang baru saja keluar dari mulutnya.
"Apa aku tidak salah dengar barusan? Ke- luar negeri?"tanya sakura dengan keningnya yang mengkerut dan mata yang tajam melihat daichi.
"Benar sayang.., kamu sama sekali tidak salah dengar", ucap daichi.
"HAHAHAHAHA.., Ayolah!!!!! Jangan bercanda", ucap sakura yang tertawa.
"Tidak sayang.., aku tidak sedang bercanda. Sabtu ini aku dan sekretaris yun akan berangkat untuk bertemu dengan Tuan Rolf", ucap daichi.
Raut wajahnya terlihat begitu serius saat berbicara kepada sakura, matanya begitu tajam menatap mata sakura hingga sakura sadar bahwa itu benar - benar serius. Ada perasaan sedih yang dirasakan sakura saat ini dan secepat kilat mengubah perasaan bahagia yang dari tadi dirasakannya, mengetahui dirinya harus berjauhan dengan suaminya untuk waktu yang belum diketahuinya membuatnya diliputi awan kesedihan.
"Sayang....",ucap daichi dengan suaranya yang lembut.
Kini dia mulai memahami, apa penyebab perasaan sejak tadi pagi terasa tak tenang dan jawabannya adalah ini.
"Berapa lama??"tanya sakura.
"Hmmm...", daichi tampak bingung.
"Berapa lama kamu akan pergi?"tanya sakura.
"Ahh.., Menurut sekertaris yun kurang lebih satu minggu, tetapi mungkin saja bisa lebih cepat tergantung dengan urusannya ", jawab daichi.
Mendengar kata 1 minggu membuat perasaan sakura seperti tersayat- sayat saat ini. Baginya 1 minggu adalah waktu yang cukup lama untuk dirinya, apalagi ini untuk pertama kalinya sejak keduanya menikah daichi pergi meninggalkannya.
"Kenapa lama sekali?"tanya sakura yang terlihat mulai sedih.
"Jangan bersedih sayang.., saat urusan disana selesai aku akan pulang secepatnya. Ini juga sangat menyiksa untuk ku karena harus berjauhan denganmu ", ucap daichi.
Sesungguhnya dia merasa begitu berat saat harus berjauhan, tetapi dia sadar bahwa dia tidak boleh egois karena ini menyangkut dengan bisnis suaminya dan banyak orang yang menggantungkan nasib mereka di perusahaan milik daichi dan mencoba menyembunyikan kesedihannya agar tidak menjadi beban untuk daichi.
"Pergilah..", ucap sakura yang terlihat sangat tenang.
"Apa??? Kamu tidak marah sayang?"tanya daichi.
"Ma-rah??? Untuk apa aku harus marah saat suamiku pergi untuk bekerja", jawab sakura sambil tersenyum kepada daichi.
Daichi bangkit dari kursinya dan berjalan menghampiri sakura yang duduk di seberangnya, dia langsung memeluk sakura dari arah belakang dan tak lupa mengucapkan...
"Terima kasih istriku untuk dukungan yang selalu kamu berikan untukku", ucap daichi tepat berbicara di telinga sakura.
Sakura hanya tersenyum sambil memegangi tangan daichi yang melingkar di dadanya, dia terus bersandiwara menyembunyikan kesedihannya dibalik senyum palsu yang diperlihatkan kepada daichi. Bibirnya menggambarkan sebuah senyum indah di wajahnya, namun hati dan perasaannya menggambar kesedihan yang teramat dalam yang begitu bertolak belakang dengan apa yang diperlihatkannya.
"Sudahlah.., ayok makan lagi", ucap sakura
"Baiklah..", ucap daichi yang kembali duduk di kursinya untuk melanjutkan makan malam keduanya.
•
•
Setalah selesai membersihkan meja makan, sakura langsung masuk kedalam kamar.
"Sakura...", panggil daichi yang baru keluar dari ruang kerjanya.
Dia sama sekali tidak menemukan sakura diruang TV
"Dimana sakura?"tanyanya.
Dia berjalan menuju kekamar dan tepat sekali dia menemukan wanita yang dari tadi dicarinya.
"Sakura..., Apa yang sedang kamu lakukan sayang? Aku pikir kamu tadi ada diruang TV", ucap daichi.
"Akhhh.., Aku sedang menyusun pakaian yang akan kamu kenakan selama disana", ucap sakura sambil memilih - milih pakaian di dalam lemari.
"Kamu tidak perlu melakukannya sayang, aku bisa melakukannya sendiri", ucap daichi.
"Tidak..., ini adalah tugas seorang istri", jawab sakura sambil tersenyum dan mengedipkan sebelah matanya.
"Terima kasih istriku", ucap daichi .
"Sama - sama suamiku", jawab sakura
"Ah..., Selama aku pergi. Bagaimana kalau kamu menginap saja dirumah ayah,ibu agar kamu tidak merasa kesepian saat aku pergi", ucap daichi.
"Tidak.., Aku akan tetap tinggal disini", ucap sakura.
"Apa kamu baik - baik saja jika harus tinggal sendirian disini? Kamu tidak takut?"tanya daichi.
"Tentu saja.., Ini adalah tempat tinggal kita. Kenapa aku harus takut tinggal di apartemen sendiri", ucap sakura sambil memasukan baju daichi kedalam kopernya.
"Sakura....," ucap daichi sambil memegangi tangan sakura.
"Maafkan aku sayang, aku tidak bisa menepati janjiku yang tak akan pernah meninggalkan mu", ucap daichi matanya terlihat jelas memancarkan kesedihan.
" Aku baik - baik saja, jangan khawatirkan aku. Cepatlah selesaikan pekerjaanmu nanti disana sehingga kita bisa bersama - sama kembali", ucap sakura dengan senyum indahnya yang kali begitu tulus dipancarkan oleh hati dan perasaannya untuk daichi.
"Aku nanti akan secepatnya kembali sayang", ucap daichi sembari mencium tangan sakura.
BERSAMBUNG.......
__ADS_1