
"Apa hari ini kamu keramas?" tanya daichi.
"Apa rambut ku bau?" tanya sakura yang mencoba melepaskan dirinya dalam pelukan daichi.
"Sama sekali tidak, rambut mu selalu wangi sampai membuat ku tidak berhenti selalu ingin menciumnya", ucap daichi.
"Sungguh karena itu?" tanya sakura yang melihat wajah daichi.
"Hmm..," ucap daichi yang menarik sakura kembali kedalam pelukannya.
Sakura sempat tidak percaya diri saat mendengar pertanyan daichi, dia langsung mencium rambutnya untuk memastikan apakah ada yang salah dengan aroma rambutnya.
"Shampo apa yang kamu gunakan?" tanya daichi sambil tersenyum.
"Shampo yang biasa aku pakai yang ada dikamar mandi", ucap sakura.
"Aku jarang memperhatikannya", ucap daichi yang begitu jarang mandi dikamar mandi yang ada dikamar keduanya dan lebih sering mandi di kamar mandi tamu.
Daichi terus menciumi rambut sakura yang begitu harum dengan aroma buah yang begitu segar di hidungnya, sambil mengelus rambut sakura yang terurai panjang.Sakura mulai menarik dirinya dalam dekapan daichi, sebuah gerakan refleks saat dia teringat akan sesuatu yang ingin di utarakan kepada daichi.
"Daichi..," ucap sakura yang kembali menatap wajah daichi yang begitu serius melihat sakura.
"Hmm..," jawab daichi dengan begitu santai.
"Aku ingin meminta izin untuk pergi kerumah keluarga ku", ucap sakura..
"Kapan?" tanya daichi.
"Hari ini, selepas dari sini aku akan langsung kerumah orang tua ku", ucap daichi.
Daichi terdiam sejenak, dengan kepalanya yang berputar memikirkan sesuatu.
"Boleh kan aku pergi?" tanya sakura.
"Apa terjadi masalah disana?" tanya daichi.
"Tidak ada, aku hanya rindu dengan keluarga ku dan ada beberapa pakaian yang ingin aku ambil untuk aku bawah saat kita berpergian", ucap sakura.
"Sakura", ucap daichi sambil memegang kedua bahunya.
"Apa tidak boleh?" tanya sakura saat melihat mata daichi.
"Bu-kan..., bukan begitu sakura", ucap daichi yang mencoba perlahan memberikan penjelasan kepada sakura agar tidak ada salah paham diantara keduanya.
"Lalu apa?" tanya sakura yang mulai menuntut jawaban.
"Begini, rasanya begitu tidak pantas jika kamu datang berkunjung ke rumah keluarga mu sendiri tanpa di dampingi diriku. Apalagi kita baru saja menikah dan sebaiknya jika kita pergi bersama - sama kesana untuk pertama kalinya menginjakkan kaki setelah kita resmi menikah", ucap daichi.
Sakura mencoba mencerna semua alasan dan penjelasan yang diberikan daichi kepadanya. Bagi sakura apa yang disampaikan daichi begitu masuk akal untuknya.
"Hmm..., aku paham daichi",ucap sakura.
"Aku bukan melarang mu untuk menemui keluarga mu sakura hanya saja aku memiliki pertimbangan sendiri", ucap daichi.
"Aku mengerti daichi dan alasan mu juga masuk akal", ucap sakura.
"Aku sudah memikirkannya, kita akan kesana selepas kita kembali dan sudah tinggal dirumah kita sendiri. Setelah urusan kita selesai, kita akan mengunjungi keluarga mu. Bagaimana apa kamu setujuh dengan rencana yang telah aku buat?" tanya daichi.
"Itu ide yang bagus", ucap sakura yang tersenyum kepada daichi.
"Mengenai barang - barang yang ingin kamu ambil, kamu bisa meminta bantuan kak Sena atau kak Yuka untuk mengirimnya", ucap daichi.
"Hmm...., Aku akan meminta bantuan kak Sena kalau begitu untuk mengirimkan pakaian ku ", ucap sakura.
"Kamu tidak marah kan?" tanya daichi.
"Tentu saja tidak", ucap sakura yang tertawa mendengar pertanyan daichi.
Selepas menikah, berkunjung kerumah mertua adalah salah satu hal wajib dilakukan setiap pasangan setelah menikah dan telah menjadi tradisi yang terjadi juga di keluarga Tama. Belajar dari para sepupunya yang telah menikah dari drinya, dia tau bahwa alangkah lebih baik jika keduanya datang bersamaan saat berkunjung kerumah keluarga istrinya.
Tok...Tok...Tok..
Suara ketukan itu membuat sakura tersentak kaget.
"Ada tamu", ucap sakura yang langsung melangkah pergi meninggalkan daichi dan kembali duduk di bangkunya.
Daichi hanya tertawa melihat kelakuan sakura yang tiba - tiba saja panik saat seseorang mengetuk pintu ruangannya.
"Kenapa kamu begitu menggemaskan sakura", ucap daichi sambil menggigit bibir bawahnya.
"Masuklah!!!!" Teriak daichi sambil merapikan pakaiannya.
Keduanya saling bertatapan dan melemparkan senyum satu sama lain.
"Apa saya menggangu?tanya sekertaris Yun dengan badan yang masih tertinggal diluar.
"Kamu sangat menggangu sekertaris Yun", batin daichi yang menatap sinis.
__ADS_1
"Masuklah sekertaris Yun", ucap sakura.
"Baik nona sakura", ucap sekertaris Yun.
"Apa sekertaris Yun sudah makan siang?" tanya sakura.
"Sudah nona sakura", ucap sekertaris Yun merasa begitu tersentuh mendapat perhatian dari sakura.
"Ada apa sekertaris Yun?" tanya daichi.
"Saya hanya ingin mengingatkan bahwa nanti jam 3 akan ada pertemuan dengan tuan Victor", ucap sekertaris Yun.
"Baiklah, terima kasih sudah memberitahukan ku sekertaris Yun", ucap daichi.
"Daichi...," ucap sakura.
"Ia sakura", jawab daichi.
"Aku pulang duluh kalau begitu", ucap sakura.
"Aku akan mengantarmu kalau begitu", ucap daichi.
"Tidak usah, pak Yuko sudah menunggu ku dibawah", ucap sakura.
"Kalau begitu aku akan mengantarmu kebawah", ucap daichi.
"Tidak perlu daichi, aku bisa turun kebawah sendiri. Lagian sebentar lagi kamu akan ada rapat", ucap sakura.
"Yasudah, hati- hati", ucap daichi yang berjalan menghampiri sakura dan mencium kening sakura.
"Hmmm.., sampai jumpa dirumah", ucap sakura.
"Sekertaris Yun sampai jumpa", ucap sakura sambil tersenyum.
"Hati - hati nona sakura", ucap sekertaris yun.
Dia pergi meninggalkan ruangan daichi menujuh ke parkiran di bawah, dari kejauhan dia melihat pak Yuko yang berdiri menunggu kehadirannya.
"Ayok kita kembali pak Yuko", ucap sakura sambil membuka pintu mobil.
"Baik nona", ucap pak Yuko yang masuk kedalam mobil dan langsung mengemudikan mobil begitu cepat meninggalkan kantor daichi Tama.
••••••••••••
Beberapa jam kemudian, mereka akhirnya sampai kembali di kediaman daichi Tama.
"Terima kasih pak yuko", ucap sakura yang keluar dari mobil dan masuk kedalam rumah.
"Ia kepala pelayan Ling", ucap sakura.
"Seseorang tadi datang mengantarkan koper Anda", ucap kepala pelayan Ling.
"Benarkah? Dimana sekarang kopernya", ucap sakura.
.
"Ada dikamar anda", ucapnya.
"Baiklah, aku akan melihatnya dulu", ucap sakura yang naik keatas menujuh kekamarnya.
Ketika dia membuka pintu kamarnya, pandangan matanya langsung tertujuh kepada koper besar berwarnah putih.
"Ahh..., kak Sena selalu bisa ku andalkan", ucap sakura.
Dia meletakan tasnya di atas meja dan langsung mengangkat koper yang terasa sangat berat kelantai untuk memeriksa isi yang ada didalamnya.
"Wah.., sepertinya tidak ada lagi baju ku yang tersisa disana karena kak sena sudah mengirimnya", ucap sakura.
Hari ini adalah waktu yang pas untuk dia mengpacking barang - barang yang akan dibawanya saat berpergian karena tinggal tersisa satu hari lagi sebelum mereka berangkat.
"Aku harus mulai dari mana?" ucapnya yang terlihat kebingungan.
"Baiklah, Aku harus mencari tau duluh sebelumnya musim apa yang ada di negara yang akan kami kunjungi", ucap sakura.
Dia mengambil ponsel yang ada di dalam tasnya, untuk mencari tau musim yang ada di negara itu di internet.
"Oh.., suhu disana sedikit panas. Aku harus menyingkirkan pakaian - pakaian yang tebal", ucap sakura.
"Ahh..., ini membuatku sangat bingung dari mana aku harus memulainya", ucap sakura sambil mengangkat kepalanya keatas menatap langit - langit.
Sejenak dia terduduk di lantai sambil menatap pakaian yang ada di kopernya saat ini, banyak hal yang ingin dikerjakannya hingga membuatnya sendiri kebingungan. Beberapa menit termenung, akhirnya dia mulai mencoba memilih pakaian, sepatu bahkan tas yang akan dikenakannya selama dia disana.
"Sepertinya aku membutuhkan koper lagi", ucapnya.
Dia bangkit berdiri berjalan kearah lemari untuk mengambil koper yang lain dikarena begitu banyak barang yang akan dibawahnya selama mereka menginap 1 Minggu disana.
"Sepertinya ini tidak perlu", ucap sakura sambil mengeluarkanya dari dalam kopernya.
__ADS_1
"Tapi, sebaiknya aku membawanya untuk berjaga - jaga ", ucapnya kembali.
Itulah yang dari terjadi, dia berkali - kali mengeluarkan barang - barang yang sudah dimasukannya dikeluarkannya kembali hingga membuatnya memakan waktu yang banyak.
"Astaga..., sudah jam 6. Aku harus mandi sekarang, sebentar lagi daichi akan pulang", ucapnya.
Barang- barang berserakan dilantai dan dibiarkannya begitu saja, dia meninggalkannya dan pergi mandi sebum daichi pulang.
•••••••••••
Mobil daichi melaju memasuki pekarangan kediaman Tama, pak Hans langsung keluar dari dalam mobil dan membukakan pintu mobil daichi.
"Silakan tuan daichi", ucap pak Hans.
"Terima kasih pak Hans", ucap daichi.
Dia melangkah masuk kedalam rumah mewah itu, saat dia membuka pintu kepala pelayan Ling langsung menyambutnya.
"Selamat datang tuan", ucapnya.
"Dimana ibu dan sakura?" tanya daichi.
"Ibu ada disini putraku", ucap Imoto yang suaranya terdengar berasal dari ruang tengah.
Daichi langsung berjalan menghampiri imoto.
"Kamu sudah pulang putraku", ucap Imoto.
"Dimana sakura Bu?"tanya daichi.
"Ibu dari tadi belum ada melihat sakura. Apa dia sudah pulang?" tanya Imoto.
"Nona sakura, dari tadi sudah pulang nyonya", ucap kepala pelayang ling.
"Benarkah?" ucap Imoto.
"Tuan daichi, nona sakura ada di dalam kamar. Sejak nona sakura kembali dia belum ada keluar dari kamarnya", ucap kepala pelayan Ling.
"Ibu, daichi keatas dulu untuk menemui sakura", ucap daichi.
"Baiklah sayang", ucap Imoto.
Dia berlalu pergi meninggalkan Imoto dengan langkah kakinya yang panjang berjalan begitu cepat menujuh kekamarnya dan saat dia tiba di depan kamar tanpa mengetuk pintu kamar itu, dia langsung membuka pintu itu dan masuk kedalam.
Matanya tercengang saat melihat sakura yang terduduk di lantai dengan masih memakai handuk dikepalanya untuk membungkus rambutnya yang basah.
"Sakura, Apa yang sedang kamu lakukan?" tanya daichi.
Sakura sama sekali tidak menyadari kehadiran daichi, bahkan dia sama sekali tidak mendengar saat pintu kamarnya terbuka dan tertutup kembali karena pikirnya masih disibukan dengan urusan mengpacking barang.
"Daichi, sejak kapan kamu datang?" tanya sakura.
"Baru saja, beberapa detik yang lalu", jawab daichi dengan matanya yang masih menatap sakura dan terlihat bingung.
"Aku sama sekali tidak mendengar kamu datang", ucap sakura.
"Tentu saja kamu tidak mendengarnya karena pikiranmu entah kemana sakura", ucap daichi.
"Hmm.., lihatlah aku sedang packing barang - barang dan aku begitu bingung daichi ", ucap sakura dengan nada suaranya yang begitu frustasi.
Rasa bingungnya semakin bertambah saat dia juga harus mengpacking pakaian daichi yang membuatnya sama sekali tidak tau pakaian apa yang harus disusunnya.
"Tidak perlu membawa banyak pakaian, kita bisa membelinya disana", ucap daichi dengan begitu santainya.
"Itu pemborosan daichi, itu bukanlah solusi", ucap sakura.
Daichi dan sakura memiliki sifat yang begitu berbeda bagi daichi semua dapat diatasi dengan uang, jika seseorang memiliki uang semua masalah dapat terselesaikan, namun tidak bagi sakura yang selalu berpikir bahwa uang bukanlah segalanya dan tidak semua masalah dapat diselesaikan dengan yang namanya uang.
"Aku hanya tidak ingin kamu kelelahan", ucap daichi.
"Sama sekali tidak, jika kamu membantu ku", ucap sakura yang memperlihatkan kedua matanya yang bersinar begitu terang menatap kepada daichi.
"Hey...Hey..., lihat tatapan itu. Kamu sangat cute sakura", ucap daichi.
"Ayolah..., kemari bantu aku suami ku", ucap sakura dengan suaranya yang begitu manja mengulurkan tangannya kearah daichi.
"Aishah..., Apa yang harus aku lakukan saat melihat mu begitu menggemaskan ?" tanya daichi sambil berjalan mendekat kearah sakura dan meraih tangan sakura.
"Bantu aku memilih pakaian yang ingin kamu bawah dan aku hanya tinggal menyusunnya saja", ucap sakura yang terus menatap daichi dengan sorot mata yang sama agar daichi luluh terhadapnya.
"Baiklah....Baiklah..., aku akan melakukannya", ucap daichi yang mulai melepas jas dan dasi yang dikenakannya serta menarik lengan kemeja nya sampai ke siku.
"Terima kasih suamiku", ucap sakura yang merasa tersentuh saat daichi bersedia membantunya yang baru pulang dari kantor.
"Hentikan itu, jangan memperlihatkan wajah yang begitu menggemaskan", ucap daichi sambil tersenyum melihat sakura.
Sakura hanya tertawa mendengarkan perkataan daichi dan tetap terus tersenyum begitu bahagia melihat suaminya. Daichi mulai memilih pakaian yang akan dikenakannya saat berada disana, dia memilih 2 stelan jas yang akan dibawahnya dan beberapa kaos , kemeja dan celana santai saat dia berjalan - jalan dengan sakura. Keduanya begitu kompak dan saling bekerja sama melakukannya, sehingga membuat sakura yang tadinya begitu pening kini merasa terbantu oleh kehadiran daichi. Keduanya terkadang saling bertatapan satu sama lain selain memberikan semangat untuk mereka masing - masing.
__ADS_1
"Begitu beruntungnya aku", batin sakura yang menatap daichi yang sibuk memilih pakaiannya
Bersambung........