
Langkah kakinya begitu panjang berjalan keluar dari restoran tersebut menuju mobil yang terparkir, dadanya terasa sakit seakan ada bedah tajam yang menusuknya. Begitu sakit, namun tak meninggalkan jejak luka itulah yang dirasakannya saat ini.
Pikirannya kalut hingga membuat terlihat kacau, saat tangan hendak membuka pintu mobil ada sesuatu yang menyentuh lengan kanannya membuatnya dengan refleks membalik badannya.
"Tu-an yun", ucapnya dengan mata yang berkaca - kaca.
"Berikan kunci mobilnya, biar saya yang mengemudi", ucap sekertaris yun.
Seakan terhipnotis dengan segala ucapan yang keluar dari mulutnya, tanpa berbicara apapun dia langsung memberikan kunci mobil itu kepada sekertaris yun.
"Masuklah", ucap sekertaris yun.
Bertukar posisi dari sebelumnya, kimi hanya diam duduk di bangku penumpang. Tidak ada senyum ceria yang diperlihatkan seperti biasanya, tatapan matanya kosong melihat kedepan, bibirnya mengerang dengan tangan yang gemetar.
Merasa tak tahan melihat yang terjadi dengan kimi ,tanpa keraguan dia menyentuh kedua tangan kimi yang terus gemetar mencoba menenangkannya.
"Tuan yun", ucap kimi saat menyadari tangannya telah disentuh olehnya.
Sekertaris yun hanya tersenyum menatap wajah merah kimi.
"Semua akan baik-baik saja", ucap nya.
"Terima kasih", ucap kimi.
Menunggu sesaat hingga menunggu kimi benar - benar baik.
"Apa sudah merasa baikan?"tanya sekertaris yun.
"Hmmm", jawab kimi.
"Apa kita sudah bisa berangkat sekarang?"tanya sekertaris yun.
"Tentu saja", jawab kimi.
"Baiklah", ucap sekertaris yun.
Mesin mobil itu dinyalakan, menginjak pedal gas dan melajukan mobil meninggalkan parkiran restoran. Kimi hanya menyandarkan badannya di bangku jok kulit coklat sepanjang perjalanan sambil memandang keluar jendela tanpa sama sekali mengeluarkan suara.
Pikiran yang mengembara entah kemana membuatnya tak menyadari kemana mobil itu membawanya pergi hingga badannya tersentak saat mobil itu berhenti.
"Apa kita sudah sampai?"tanya kimi yang mengangkat badannya .
Matanya berputar memperhatikan sekitarnya, pepohonan hijau menghiasai penglihatannya saat ini.
"Taman?"tanya kimi yang mengarahkan wajahnya kepada sekertaris yun.
"Saya dengar berjalan - jalan di taman dapat membuat pikiran menjadi rileks", ucap sekertaris yun.
"Terima kasih tuan yun, maaf karena telah menyusahkan anda", ucap kimi.
"Sama sekali tidak, lebih baik kita turun sekarang", ucapnya.
__ADS_1
Kedua pintu mobil itu terbuka, secara bersamaan mereka keluar.
"Mari", ucap sekertaris yun yang mempersilahkan kimi untuk jalan duluan.
Mereka berjalan - jalan dengan santai menelusuri taman yang terletak di pinggiran kota yang berisik dengan suara anak - anak yang bermain memanfaatkan fasilitas yang disediakan untuk anak - anak.
"Duduklah", ucap sekertaris yun.
Dia mengarahkan pandangannya ke sebuah kursi taman berwarna putih yang hanya cukup untuk diduduki oleh dua orang. Kimi hanya diam mengikuti perintah yang diberikan sekertaris yun kepadanya dan duduk di bangku yang ada di dekatnya dengan diikuti oleh sekertaris yun.
Duduk sambil melihat anak - anak yang bermain dan tertawa begitu lepas membuat perasaan kimi terasa tenang. Hembusan angin yang kencang membuat pepohonan berhembus di sekitaran taman, terasa begitu sejuk saat angin berhembus kearahnya. Wajah yang tertunduk perlahan terangkat keatas menikmati sejuknya angin yang menebus kulit.
Sekertaris yun yang duduk disampingnya terus mengamati kimi dan sesekali melemparkan senyuman saat melihat kimi yang begitu menikmati udara di sore hari.
"Bukankah yang ku katakan benar? Situasi di taman akan membawa energi yang positif", ucap sekertaris yun.
Matanya menelusuri lebih dalam melihat sekertaris yun yang duduk di sampingnya. Pria yang duduk disampingnya saat itu terlihat jauh berbeda dari biasanya, dia terus merenung untuk sebentar sebelum dia memulai pembicaraan dengannya.
"Tuan yun", ucapnya.
"Ia",jawab sekertaris yun.
"Saya sangat bingung harus memulainya darimana karena rasa malu yang saya rasakan. Anda harus melihat hal yang tidak seharusnya anda lihat ataupun anda dengar", ucap kimi.
"Tidak masalah untuk saya", katanya dengan jujur.
Dia butuh beberapa saat untuk dapat memproses perkataan sekertaris yun di otaknya.
"Tentu , tidak ada yang ingin mengalami kejadian seperti yang anda rasakan, melihat sang kekasih bersama wanita lain", gumam sekertaris yun.
"Um. Dari mana anda tau bahwa itu adalah kekasih saya? Ah, maksud saya mantan kekasih saya", ucap kimi yang mengkoreksi perkataannya.
Dia tersenyum simpul saat melihat tingkah kimi yang salah saat berbicara mengenai pasangannya .
"Tanpa anda katakan, itu terlihat jelas di kedua mata anda. Mata tidak akan pernah bisa berbohong", jawab sekertaris yun yang menatap kimi begitu dalam.
Sulit untuk dijelaskan dengan kata - kata, namun ada perasaan yang aneh tengah dirasakan kimi saat mata keduanya saling bertemu dan bertatapan.Perasaannya terhanyut saat memandangi wajah sekertaris yun, namun dengan cepat dia menyadarkan pikirannya yang begitu konyol untuknya.
"Sebenarnya aku merasa malu dengan nona sakura", ucap kimi yang memandangi langit.
"Kenapa?"tanya sekertaris yun.
"Aku selalu membanggakan pasangan ku dengan nona sakura, aku selalu mengatakan kepadanya bahwa memiliki kekasih yang begitu pengertian dan sama sekali tidak mempermasalahkan pekerjaan saya yang selalu sibuk", ucap kimi menatap sekertaris yun.
"Lalu apa dia memutuskan untuk mengakhirinya dengan anda?" tanya sekertaris yun.
"Tidak..",jawabnya sambil menggelengkan kepalanya.
"Lalu?"tanya sekertaris yun yang semakin penasaran.
"Tepat dihari keberangkatan anda dan tuan daichi saya menemani nona sakura sampai di apartemennya, namun nona sakura meminta saya untuk pulang menikmati waktu libur saya", ucap kimi yang mengangkat wajahnya keatas, menahan air matanya tak jatuh.
__ADS_1
"Nona kimi",ucap sekertaris yun.
"Saya baik - baik saja tuan yun", jawab kimi.
"Tidak perlu melanjutkannya, jika anda tidak mampu menceritakannya", ucap sekertaris yun.
Butuh sesaat untuk menenangkan dirinya, menarik nafas yang terasa sesak di dadanya.
"Saat itu hal yang terlintas dalam pikiran saya adalah menemuinya untuk memberikannya kejutan karena saya tidak jadi menemani nona sakura,namun justru sayalah yang mendapatkan kejutan saat melihat seorang wanita keluar dari dalam kamarnya", ucap kimi yang mulai menetaskan air matanya.
Air mata kini memenuhi matanya, hatinya terasa sakit saat mengingat kejadian saat itu. Dia merasa putus asa untuk hidupnya saat ini, kekasih yang menemani hidupnya bertahun- tahun mengkhianatinya. Memendam perasaan yang dirasakannya sendiri membuatnya begitu tersiksa saat harus berpura - pura semua baik - baik saja.
"Hentikan! Jangan menangis lagi. Air mata ini tidak pantas kamu berikan untuk pria yang telah menyia-nyiakan wanita seperti anda", ucap sekertaris yun yang menghapus setiap tetes air mata yang jatuh membasahi pipi kimi.
Mengutarakan semuanya terhadap sekertaris yun membuatnya merasa lebih lega dari sebelumnya, pria yang asing untuknya kini menjadi tempatnya berbagi dalam menjalani kehidupan yang tengah dialamainya.
•••••••••
Apartemen 🌆
"Ah! Rasanya sudah lama sekali meninggalkan apartemen ini", ucap daichi.
"Aish.Kamu baru 5 hari pergi", ucap sakura.
"Benar.., baru 5 hari tapi terasa bertahun - tahun. Bahkan terasa semakin lama saat berjauhan dengan mu", ucapnya yang melingkarkan satu tangannya di pinggang sakura dan menariknya jatuh kedalam pelukannya.
"Apa yang ingin kamu lakukan daichi?"tanya sakura yang terlihat waspada dengan suaminya sendiri.
Bibirnya mendekat ke telinga sakura sambil berbisik kepadanya.
"Sesuatu yang dari tadi ingin aku lakukan, namun aku harus menahannya",jawab daichi dengan matanya yang menatap liar memandang sakura.
"A-pa?"tanyanya ragu.
Daichi hanya tersenyum saat melihat sakura yang terlihat gugup seperti saat malam pertama mereka.
"Ini!"ucapnya
Satu kecupan singkat di bibir sakura, terasah seperti sebuah sambaran listrik dengan kekuatan kecil menyetrum bibirnya. Daichi menarik wajahnya untuk mengamati ekspresi wajah sakura saat ini. Matanya tercengang tanpa berkedip, dia terlihat syok dengan aksi yang dilakukan daichi kepadanya.
Dia menjulurkan lidahnya, membasahi setiap ujung bibirnya menghapus sisa- sisa lipstik yang menempel di bibirnya.
"Hmm, rasanya tetap sama", ucap daichi.
Merasa tidak puas dengan kecupan kilat yang dilakukannya,dia kembali menarik sakura. Lebih agresif dari sebelumnya, bibirnya kembali mendarat di bibir sakura dengan hembusan nafasnya yang hangat . Menekan ujung bibir sakura hingga terasa sakit dirasakannya, namun tanpa henti daichi terus melumet bibir tipis sakura yang begitu dirindukannya. Tangannya bergerak menjelajahi tubuh indah sakura, sebuah sentuhan dan kehangatan yang telah dirindukannya saat berjauhan dengan laki - laki yang dicintainya.
"Aku mencintaimu sayang", ucapnya dengan nafas yang tak beraturan.
"Aku juga mencintaimu ", jawab sakura yang menarik kembali wajah daichi mendekat ke wajah nya sembari menciumnya.
Kebahagian terus menyelimuti keduanya,jarak yang terjadi diantara keduanya menumbuhkan rasa cinta dan rindu yang mendalam.
__ADS_1
Bersambung ....