Pernikahan Yang Dijodohkan

Pernikahan Yang Dijodohkan
Episode 34 Cemburu


__ADS_3

Jam menunjukan pukul 11:20, sakura mulai bersiap-siap untuk pergi ke hotel tempat yang telah mereka janjikan. Dia memutuskan pergi lebih awal karena dia takut tercebak kemacetan dijalan.


Dia meraih tasnya dan ponselnya di atas meja dan berjalan meninggalkan ruangnya.


"Nona sakura, anda akan pergi sekarang?"tanya kimi


"Ia Kimi, aku takut terlambat", jawab sakura.


"Apa anda akan kembali lagi kekantor?" tanya Kimi


"Tentu saja Kimi, setelah semua urusan selesai aku akan kembali lagi kekantor. Baiklah aku berangkat duluh", ucap sakura


"Hati-hati nona sakura", ucap Kimi.


Perasaan Kimi tidak enak saat melihat sakura pergi, dia merasa sesuatu akan terjadi kepada sakura.


•••••


Beberapa menit kemudian sakura tiba di hotel tersebut, dia memeriksa ponselnya dan ternyata ada sebuah pesan yang masuk.


"Saya sudah tiba dan masuk duluan ke restoran, begitulah bunyi pesan yang dikirim Rei kepadanya.


"Astaga,ternyata ada yang lebih cepat dari ku",ucap sakura sambil tersenyum saat membaca pesan tersebut.


Dia mengeluarkan sebuah kaca kecil yang berada didalam tasnya, dia melihat wajahnya di kaca. Wajahnya tampak terlihat begitu pucat, dia mengambil sebuah lipstick warnah pink di dalam tasnya dan mengoleskannya di bibirnya yang tipis agar tampak lebih cerah. Ketika semua dirasanya sudah sesuai, dia memasukan kembali kaca dan lipstiknya kedalam tas dan keluar dari mobil.


Siang ini cuaca begitu sangat cerah, panas matahari begitu sangat terik menusuk kulit mulus sakura. Dia pun berjalan begitu cepat dari parkiran untuk masuk kedalam restoran tersebut,kebetulan dia memarkirkan mobilnya di parkiran khusus VIP di depan hotel tersebut.


Sakura tiba di depan pintu masuk restoran tersebut dan masuk kedalam. Saat berada didalam restoran dia mencari-cari dimana Rei, dia terus memeperhatikan sekeliling resteron itu.


"Nona sakura!!!!


Mendengar namanya di panggil membuat sakura mengarahkan pandanganya kearah sumber suara itu berasal, dia melihat seorang pria yang sedang duduk di pojok kanan dari sisi restoran itu dan melambaikan tangannya kepada sakura sambil tersenyum.


Sakura tersenyum dan berjalan menghampiri pria itu yang tak lain adalah Rei Arata yang dari tadi sudah menunggu kehadiran sakura.


"Maaf telah membuat anda menunggu sendirian", ucap sakura.


"Akh, tidak masalah nona sakura", ucap Rei yang bangkit dari kursinya dan menarik sebuah kursi untuk sakura.


"Silakan nona sakura", ucapnya


Sakura merasa tersentuh dengan tata Krama yang dilakukan Rei kepadanya, dia pun berjalan menujuh kursi yang telah disediakan oleh Rei untuknya.


"Terima kasih", ucap sakura dengan lembut dan duduk


"Sama-sama nona sakura", jawab Rei sambil kembali ke kursinya.

__ADS_1


"Saya tadi sudah berangkat lebih awal, ternyata anda sudah tiba dari saya", ucap sakura yang mencoba memulai pembicaraan dengan rei.


"Kebetulan saya tadi ada urusan disekitaran hotel ini dan setelah urusan saya selesai, saya memutuskan untuk langsung ke tempat pertemuan ini dari pada saya harus bolak-balik nantinya ", jawab Rei.


"Akh, begitu", ucap sakura sambil mengangguk-anggukan kepalanya.


"Oh, Anda ingin pesan apa?" Pasti anda belum makan siang?" Sebentar saya akan panggilkan pelayannya", ucapnya.


"Pelayan!!!! panggilnya sambil mengangkat satu tangannya.


Seorang pelayan pun datang ke meja mereka dengan membawa buku menu restoran tersebut.


"Silakan nona",ucap pelayan tersebut.


Sakura melihat-lihat daftar menu yang disediakan restoran tersebut, tetapi sakura tidak selera untuk makan makanan yang berat.


"Secangkir coklat hangat saja", ucap sakura sambil memberikan buku menu itu kepada pelayan tersebut.


"Kamu tidak makan siang?"tanya Rei.


"Saya belum selera makan", ucap sakura


"Baiklah nona , coklat hangat satu?" silakan menunggu", ucap pelayan itu dan pergi meninggalkan meja mereka.


°


°


°


Daichi turun dari mobilnya dengan begitu gagah,tetapi tetap dengan ekspresi wajahnya yang tampak dingin dan seperti biasanya kehadirannya selalu didampingi oleh sekertaris Yun.


Mereka masuk kedalam hotel tersebut, seperti biasanya saat daichi lewat mata semua kaum hawa tentu tertujuh kepadanya. Parasnya yang tampan dengan tatapannya yang begitu tajam selalu membuat hati para wanita deg..deg-an setiap melihat kedua matanya


Pandangan daichi hanya fokus kedepan tanpa mempedulikan orang-orang disekitarnya, mereka berjalan menujuh ruang privat yang yang telah di reservasi oleh keluarganya.


Namun langkah kaki daichi terhenti tepat di depan restoran dimana sakura berada. Dia melihat sosok yang tidak asing untuknya dan tepat saja dengan dugaannya itu adalah Sakura Agata. Sekertaris Yun tampak bingung kenapa daichi tiba-tiba saja berhenti didepan restoran tersebut. Dia melihat wajah daichi begitu serius, dia pun mengikuti kemana arah pandangan daichi tertujuh.


"Hmm, Nona sa-kura", ucap sekertaris Yun.


Tetapi pemandangan yang terjadi begitu mencekam bagi sekertaris Yun, aura disekitarnya begitu sangat panas dan dia tau bahwa itu berasal dari daichi. Wajah daichi tampak begitu sangat kesal ketika dia melihat sakura bersama seorang pria dan berduaan. Mereka hanya mengamati sakura dengan Rei dari kejauhan.


•••


Disisi lain sakura dan rei saling berbincang sambil menunggu utusan perusahaan yenzo yang belum datang dan baru mengabari akan sedikit telat tiba.


"Nona sakura, apa anda sakit?"tanya Rei

__ADS_1


"Ahhh, sakit?" Tidak saya baik-baik saja", jawab sakura


"Benarkah?" tanya Rei kembali sambil menatap wajah sakura.


"Tentu saja, apa ada yang salah?" tanya sakura


"Wajah anda kelihatan sangat pucat", ucap Rei.


"HAHAHAHA,benarkan", ucap sakura sambil memegangi wajahnya.


"Padahal aku sudah memakai lipstik ,ternyata masih kelihatan", batin sakura.


Melihat sakura tampak begitu bahagia dan tertawa lepas dengan pria yang ada dihadapannya membuat daichi begitu cemburu, dia mengepalkan kedua tangannya .


"Bagaimana dia bisa tersenyum sebahagia itu dengan pria lain?" ucap daichi dengan wajah nya yang begitu kesal.


"Tu-an mungkin i-tu adalah rekan bisnis nona sakura, dan bi-sa saja mereka sedang membahasa pekerjaan mereka", ucap sekertaris Yun dengan begitu berhati-hati sambil berusaha menenangkan hati daichi yang terbakar api cemburuh.


"Bagaimana kamu tau bahwa itu adalah rekan bisnisnya sekertaris Yun? "Apa sakura mengatakan kepadamu ?" ucap daichi sambil menatap sekertaris Yun yang berada di sampingnya.


"A-pa??" ucap sekertaris Yun yang tampak kaget dengan pertanyan daichi kepadanya sambil melihat daichi.


Sorot mata daichi begitu tajam memandang kearahnya membuat sekertaris Yun tidak berani menatap matanya dan langsung menundukkan kepalanya.


"Jika itu adalah urusan bisnis, setidaknya dia harus membawa sekertaris pribadinya untuk menemaninya, apalagi dia akan bertemu dengan seorang pria",ucap daichi yang memandang kearah sakura.


Apa yang dikatakan daichi menurut sekertaris Yun ada benarnya, tetapi tidak baik berargument sendiri tanpa mengetahui yang sebenarnya.


"Lihatlah, dia tampak bahagia berbicara dengan pria itu, berbanding terbalik saat dia berbicara dengan ku yang tak lain adalah calon suaminya", ucap daichi yang tertawa sinis.


Perkataan daichi membuat hati sekertaris Yun tersentu, entah mengapa dia merasakan perasaan daichi yang sedih saat ini meskipun dia mencoba menutupinya. Setiap sakura dan daichi bertemu tanpa disengaja, sakura selalu menunjukan ekspresi wajah yang tidak bahagia bahkan senyumnya selama ini, sekertaris Yun menyadari bahwa itu hanyalah senyuman palsu yang ditunjukan sakura di depan orang-orang.


"Tuan daichi, semua orang sudah menunggu kehadiran anda saat ini", ucap sekertaris Yun.


"Ini tidak bisa dibiarkan", ucap daichi yang melonggarkan ikatan dasinya.


"Tu-an da-ichi apa yang ingin anda lakukan?" A-pa Anda ingin memukul pria itu?" sekertaris Yun mulai panik melihat daichi.


"Memukul?" Apa yang kau katakan sekertaris yun? Aku hanya ingin menyapa calon istriku yang ada disana?", ucap daichi dengan senyum liciknya.


"Tu-an sebaiknya anda jangan melakukan hal itu. Anda mungkin akan menggangu mereka", ucap sekertaris Yun.


"Bukankah hal yang wajar, jika calon suami bertemu dengan calon istrinya saling menyapa sekertaris Yun? tanya daichi dengan matanya yang melotot kearah sekertaris Yun.


Sekertaris Yun hanya terdiam dan tidak berani berkata apapun kepada daichi yang sedang terbakar api cemburu melihat Sakura Agata bersama pria lain.


"Aku tidak akan rela jika pria lain menikmati senyum Mu, senyum itu hanya untuk ku dan selamanya hanya untuk seorang Daichi Tama."

__ADS_1


GUYSSS, jangan lupa untuk like , coment and vote Akau bakalan berusaha menulis dengan certa yang semakin menarik. Terima Kasih🥰


Bersambung.....


__ADS_2