Pernikahan Yang Dijodohkan

Pernikahan Yang Dijodohkan
Episode 140 Bersama


__ADS_3

Keesokan paginya, cahaya matahari yang silau masuk menembus sudut jendela ruang rawat sakura dan membangunkan tidurnya. Hal pertama yang disadarinya saat kedua matanya terbuka adalah dia tidak sendirian di atas ranjang tidurnya itu, satu tangan melingkar di tubuhnya. Perlahan dia menggerakkan dan memutar tubuhnya kearah belakang. Wajahnya tepat berhadapan dengan dada daichi, wangi tubuh daichi membuatnya selalu merasa nyaman di dekat nya.


"Kamu sudah bangun?"tanya daichi, suara lembutnya membuai sakura.


"Apa aku membangunkan mu ?"tanya sakura


"Tidak sayang", jawab daichi.


"Selamat pagi", ucap sakura


"Selamat pagi sayang", balas daichi, dengan senyum indahnya, lalu mencium kening sakura cukup lama.


Terdengar suara berisik dari luar, disusul suara ketukan pintu yang terdengar beberapa kali, daichi langsung dengan cepat bangun dari tempat tidur sakura.


"Masuklah", teriak daichi.


Mata mereka tertuju kearah pintu untuk melihat siapa sosok yang datang sepagi itu, sakura terlihat kaget saat melihat kehadiran kimi yang datang bersama dengan sekertaris yun bersama.


"Hmm, kimi?"ucapnya yang menatap curiga keduanya.


"Selamat pagi nona sakura", sapa kimi.


Tatapan sakura tak lepas pada keduanya,dia bisa melihat perbedaan pada sikap yang terjadi antara kimi dan sekertaris yun, walaupun mereka mencoba menyembunyikannya.


"Apa kalian datang bersama?"tanya sakura yang mencoba menyelidiki keduanya.


"Benar nona", jawab sekertaris yun.


Pandangan sakura kini berpaling dan hanya fokus melihat kimi, jawaban yang diberikan sekertaris yun semakin membuatnya penasaran.


"Bagaimana kalian bisa datang bersama? Bukankah arah rumah kalian berlawanan?"tanya sakura kembali.


Kimi hanya diam, wajahnya mulai panik saat menyadari sakura terus mencecar dengan pertanyaan.


"Saya menjemput nona kimi, kebetulan semalam saya mengantar nona kimi pulang karena sudah malam dan meninggalkan mobilnya di parkiran rumah sakit",jelas sekertaris yun , dia cukup tenang setiap menjawab pertanyaan yang diberikan sakura.


"Ahh", gerutu sakura.


"Apa kamu sudah membawa pakaian ku?"tanya daichi.


"Sudah tuan. Ini dia", jawab sekertaris yun sembari memberikan paper bag berwarnah coklat kepada daichi.


"Aku kekamar mandi dulu", ucap daichi yang pergi meninggalkan mereka.


Saat daichi tak ada, sakura kembali menatap sekertaris yun dan kimi secara bergantian.Dia benar-benar penasaran terhadap keduanya, apalagi saat melihat sikap diam yang diperlihatkan kimi saat ini dan membuatnya terlihat aneh.


"Sekertaris yun, bolehkah saya bertanya?"tanya sakura.


"Tentu saja nona", jawab sekertaris yun.


"Apa anda memiliki seorang kekasih?"tanya sakura tanpa ragu.


Spontan saja kimi yang dari tadi menundukkan kepalanya langsung mengangkat kepalanya tegak dengan mata yang melihat kearah sakura.


Sakura tertawa. "Maaf jika anda tidak nyaman dengan pertanyaan saya".


"Sama sekali tidak nona. Saya belum memiliki kekasih"jawab sekertaris yun.


Sakura mengerutkan kening kepada sekertaris yun. "Bagaimana bisa orang seperti anda belum memiliki kekasih?"


"Saya belum menemukan wanita yang tepat, nona sakura", jawabnya tertawa.

__ADS_1


"Lalu bagaimana wanita yang ada cari , tuan yun?"tanya sakura kembali.


"Sayang", ucap daichi.


Kehadiran daichi membuat sekertaris yun tak sempat menjawab pertanyaan sakura.


"Kami sudah siap?"tanya sakura.


"Sudah. Kenapa kamu dari tadi terus bertanya kepada sekertaris yun?"tanya daichi.


"Kamu mendengarnya?"tanya sakura.


"Tentu saja, aku mendengarnya dari toilet", sahut daichi.


"Aku hanya pemasaran saja, sayang", jawab sakura.


"Dia tidak akan sempat mencari wanita karena terlalu sibuk dengan kerjaannya ", ucap daichi.


Daichi kemudian melirik jam tangannya, lalu berjalan mendekat kearah sakura.


"Sayang, aku pergi kekantor dulu.Aku akan segera kembali", ucapnya.


"Aku ingin pulang", pinta sakura.


Daichi menghembuskan napasnya. "Tapi kamu masih sakit, sayang", ucap daichi.


"Aku sudah baik-baik saja. Aku bosan disini", ucapnya.


"Ada kimi yang akan menemani mu, sayang", ucap daichi.


"Aku tidak suka dengan situasi dirumah sakit, aku mau pulang", ucapnya yang terus memohon kepada daichi. Sakura menunggu, wajahnya sarat dengan harapan memandangi daichi.


"Baiklah", jawab daichi yang menyerah terhadap sakura.


"Hmmm", jawab daichi.


Dia langsung memeluk daichi, reaksi yang sangat spontan karena perasaannya yang senang ."Terima kasih".


Daichi menempelkan kedua tangannya di wajah sakura,ditatapnya kedua mata sakura begitu dalam dan berbicara dengan sanga lembut.


"Tunggulah sampai aku kembali, lalu kita akan pulang bersama, oke?"ucapnya.


"Oke", jawab sakura.


"Baiklah.Aku pergi dulu", ucap daichi mengecup kening sakura.


Sakura hanya tersenyum, tidak ada lagi kata yang mampu keluar dari mulutnya selain mengucapkan hati-hati untuk suaminya itu.


"Nona kimi, aku titip sakura", pinta daichi sebelum pergi meninggalkan ruangan itu.


"Baik tuan", jawab kimi.


"Segera hubungi saya atau sekertaris yun jika terjadi sesuatu", ucapnya.


"Saya mengerti Tuan", jawab kimi.


Keduanya akhirnya benar-benar pergi meninggalkan mereka, sakura kembali melirik kimi, menunggu dirinya melihat kearahnya.


"Nona sakura, kenapa anda melihat saya seperti itu", ucapnya was-was.


"Boleh kutanyakan sesuatu?"tanya sakura.

__ADS_1


"Tentu saja nona", jawabnya.


Berbeda saat bertanya dengan sekertaris yun, kali ini sakura sedikit ragu-ragu saat mengajukan pertanyaan yang mungkin bisa membuat perasaan kimi tersinggung.


"Kimi, apa kamu memiliki perasaan dengan sekertaris yun?"tanyanya.


Kimi tersentak, dia hanya diam membeku seperti sebuah patung tanpa bergerak. Sakura menyadari perubahan wajah yang diperlihatkan kimi saat dia mengajukan pertanyan untuknya.


"Kimi kita telah lama bersama. Aku bisa melihat tatapan yang kamu perlihatkan saat memandang sekertaris yun. Aku berharap bahwa itu tidak benar kimi, jangan menyukainya. Itu akan membuat hubungan mu hancur saat sorang wanita yang telah memiliki kekasih mendambakan orang lain", ucap sakura.


Kimi berjalan mendekat kearah sakura, dia tersenyum memandang sakura. Diraihnya tangan sakura, dia merasa bersyukur memiliki sakura yang sangat peduli terhadap dirinya.


"Aku hanya tidak ingin kamu terluka nantinya kimi", ucap sakura.


Dia memejamkan matanya,perlahan membuka matanya kembali dan melihat wajah sakura.


"Saya tidak bersamanya lagi, nona sakura", ucapnya .


"Maksudnya? Kamu sudah putus?"tanya sakura yang bingung.


"Benar", kata kimi lirih, wajahnya kini berubah sedih.


"Tapi kenapa?"desak sakura yang membutuhkan alasan.Dia masih bingung dengan apa yang didengarnya saat ini, dia sangat tahu berapa kimi sangat mencintai kekasihnya itu, bahkan dia selalu membanggakannya kepada sakura setiap saat.


"Dia mengkhianati saya",ucapnya.


"Mengkhianati mu?" sakura kembali mengulangi kata itu dengan kaget.


"Tolong jelaskan apa yang terjadi sebenarnya kimi? dan sejak kapan kalian tidak bersama lagi?"tanya kimi.


Kimi menarik napasnya dalama- dalam sebelum menjawab pertanyaan sakura, menjawab pertanyaan sakura sama saja membuatnya harus membuka kembali kenangan pahit yang dialaminya dulu dan setiap mengingatnya hatinya masih terasa sesak karena tidak mudah menghapus setiap kenangan yang dimilikinya dengan pria yang telah bertahun-tahun bersama.


"Sejujurnya, sudah lama saya ingin menceritakan ini kepada anda nona, tapi saya belum menemukan waktu yang tepat. Tepat dihari keberangkatan tuan daichi saat anda menyuruh saya untuk pulang, saya berniat memberikan kejutan untuknya, tapi aku melihatnya dengan wanita lain di rumahnya", jelas kimi, air mata yang telah lama kering untuk pria tersebut, kembali menetes membasahi pipinya.


Sakura menggeleng lambat, wajahnya masih terlihat syok. "Ba-gaimana dia bisa melakukan itu kepadamu?"tanyanya. Hatinya begitu hancur saat melihat kimi menangis, dia sangat menyayangi kimi, lebih dari apapun.


"Maafkan aku kimi, aku sama sekali tidak menyadari saat tersulit yang kamu lalui sendiri", ucapnya. Dia merasa bahwa dirinya adalah orang yang sangat egois, dia hanya diam menyalahkan dirinya.


"Tidak nona, jangan katakan itu.Anda adalah wanita yang sangat peduli dengan saya benar - benar bersyukur bisa berada disisi anda selama ini", ucapnya.


Dia menatap mata kimi sambil menghapus air mata di pipinya, dirinya diselimuti kemarahan dan rasa benci yang sangat dalam terhadap pria yang berani melakukan hal yang memalukan seperti itu kepada kimi.


"Kimi, jangan menangis lagi. Pria itu tidak pantas untuk mendapat air mata ini", ucapnya.


"Anda benar nona", jawabnya dengan tawa


"Kemarilah, biarkan aku memelukmu", ucap sakura, yang membentangkan kedua tangannya.


Kimi tertawa dan langsung memeluk sakura.


"Mulai sekarang hanya akan ada kebahagian di hidupmu", gumam sakura.


"Selama anda membiarkan saya untuk berada disisi anda, saya akan selalu bahagia nona. Hanya anda yang saya miliki di dunia ini", ucapnya.


Hati sakura tersentuh mendengarnya, dia tak kuasa menahan air matanya untuk tidak jatuh. Wajahnya berubah dari putih ke merah padam karena perasaan marahnya saat tak dapat melindungi orang yang selama ini menjaga dirinya bahkan rela mengabdikan hidupnya untuknya.


"Tetaplah disisi ku, bahkan sampai kita menua bersama", ucap sakura.


"Aku akan melakukannya nona", jawab kimi yang semakin erat memeluk sakura, meski dia tahu wanita yang sedang dipeluknya itu adalah bossnya sendiri.


Ada perasaan lega yang dirasakan sakura, setidaknya dia tidak perlu mencemaskan hubungan kimi lagi, saat dia melihat kimi dan sekertaris yun bersama. Bahkan saat ini menjodohkannya dengan sekertaris yun adalah tujuan utama nya dan semua akan berjalan lancar saat daichi bersamanya.

__ADS_1


Bersambung......


__ADS_2