
"Dia belum keluar juga?"tanya ayana yang memandang kekamar sera.
"Belum, dia masih mengurung dirinya sejak kita pulang", kata yumi yang sedang menyiapkan makan malam.
Dia terus mengunci dirinya di dalam kamarnya, begitu sulit untuknya melupakan perkataan daichi kepadanya tadi. Pria yang selama ini begitu dicintainya, kini telah berubah dan melupakan semua kenangan yang mereka pernah miliki.
Jgeeer....Jgeeer....Jgeeer....
Suara petir terdengar begitu kuat memecahkan keheningan langit dimalam hari. Hembusan angin begitu kencang terasa masuk melalui pintu jendela yang terbuka, rintikan hujan mulai turun perlahan dan semakin lama hujan semakin deras membasahi kota itu di malam hari.
Sera berjalan kearah jendela kamarnya dan menutupnya, dia melangkahkan kakinya tanpa sadar dengan pikirannya berkelana kemana-kemana hingga dia berhenti dan duduk di meja riasnya. Matanya sekilas melihat sebuah botol berwarnah putih, diambilnya botol itu dan digenggamnya begitu kuat.
Dari luar kamar masih terdengar suara ayana dan yumi terus menggedor pintu kamarnya, mereka begitu cemas dengan Sera yang mengunci dirinya dikamar nya. Mereka tidak ingin kejadian waktu itu terulang lagi, sera yang mencoba mengakhiri dirinya dengan meminum obat tidur.
"Sera... Sera.., buka pintunya". Aku mohon jangan melakukan hal - hal yang konyol", ucap ayana dengan isak tangisnya. Meski sera selalu memperlakukan dirinya dengan seenaknya, sama sekali tidak mengubah besarnya rasa kasih sayang yang dimilikinya untuk sera yang telah bertahun-tahun bersama.
"Nona sera,kita akan melalui semua kesulitan ini bersama.Masih ada kami yang selalu menyayangi anda, bukalah pintunya", ucap yumi.
Ingin sekali rasanya dia mengakhiri hidupnya saat ini, tidak ada lagi yang dimilikinya sekarang. Semua orang- orang yang disayanginya telah pergi meninggalkannya, kedua orang tuanya bahkan daichi tidak ada lagi di sisi nya.
"Untuk apa lagi aku hidup", ucapnya, yang menatap botol putih yang digenggamnya.
Seperti mengetahui apa yang ada didalam pikiran sera, ayana terus menyuarakan rasa kekhawatirannya dan seberapa pedulinya mereka kepada sera.
"Sera, masih ada aku dan yumi yang sangat menyayangimu. Kamu tidak pernah sendirian sera, kami akan ada bersama mu", ucap ayana.
Semua yang dikatakan ayana membuatnya tersentak, dia berusaha membuang pikiran jahat yang merasuki dirinya saat ini. Di lemparkannya botol putih itu sejauh mungkin dari dirinya, dan menangisi dirinya sendiri yang begitu bodoh ingin mengakhiri hidupnya, sedangkan masih ada beberapa orang yang menyayangi nya.
Dia tahu bahwa tidak mudah menjalani hidupnya sekarang, semua yang dibangunnya talah hancur begitu saja. Keegoisannya membuat orang-orang disekitarnya ikut tersiksa akibat kebodohannya dan kali ini untuk menebus semua kesalahan yang dilakukannya, apa pun akan dilakukannya untuk membuat keadaan kembali seperti semula.
Obsesinya selama ini menjadi alat kehancuran dirinya sendiri. Terlalu sulit untuknya, tapi dia akan mencoba melupakan daichi dan memulai kehidupannya yang baru bersama orang- orang yang tersisa di sisi nya sekarang.
Dipandanginya wajahnya di cermin, wajah yang terlihat begitu menyedihkan. Mata sayu dan bengkak akibat air mata yang tak kunjung berhenti membasahi pipinya. "Kamu sangat menyedihkan sera",ucapnya , nada suara begitu pilu terhadap dirinya sendiri.
Sebuah gunting terletak di atas mejanya, dipandanginya lagi dirinya dengan rambut panjang yang dimilikinya dan tanpa ragu dia memotong rambut panjang yang terurai indah itu hingga rambut panjang itu tinggal sebahunya.
"Mulai lah dengan hidup yang baru mu, sera", ucapnya kepada dirinya.
TOK...TOK...TOK...
"Sera, buka pintunya", teriak ayana dan yumi.
Sera meletakan kembali gunting itu di meja dan beranjak dari bangkunya untuk membukakan pintu kamarnya.
"Sera", tukas ayana,matanya tercengang melihat wanita yang berada di depannya saat ini.
"Anda memotong rambut anda?"tanya yumi.
Sera hanya diam,ditatapnya dua orang yang masih terlihat syok dengan perubahannya.
"Aku ingin makan", ucap Sera yang pergi melewati keduanya.
"Ugh", ucap ayana yang terlihat bingung, melihat sera melewati mereka begitu saja.
Yumi tertawa. "Baik nona, saya sudah memasak makanan kesukaan anda", teriaknya, ditariknya tangan ayana yang masih berdiri kaku memandangi sera dari kejauhan.
Ayana dan yumi terus memperhatikan sera, sikapnya terlihat lebih tenang dan sedikit mengeluarkan suaranya.
"Makanlah", ucap yumi, suaranya sedikit pelan saat berbicara kepada ayana.
Ayana hanya mengangguk dan mulai menyantap makana malamnya.
"Maafkan aku".
Sontak saja keduanya langsung melihat kearah sera, entah apa yang sedang terjadi dengan sera hingga membuatnya meminta maaf kepada mereka. Di dunia ini ada dua kata yang terdengar mudah untuk diucapkan, tapi sulit dalam melakukannya yaitu Maaf dan Terima kasih. Dua kata itulah yang sama sekali jarang bahkan tidak pernah dikatakan sera kepada mereka dan kali ini justru terdengar begitu tulus ditelinga mereka berdua.
"Sera, apa yang sebenarnya terjadi denganmu? Kenapa kamu meminta maaf kepada aku dan yumi?"tanya ayana,
"Keegoisan ku dan keras kepala ku membuat kalian harus terlibat dalam permasalahan ku dengan daichi", ucapnya, nadanya sendu dengan sorot mata yang memancarkan kesedihannya.
"Tidak sera, jangan berkata seperti itu", sergah ayana.
"Seandainya dari dulu aku mendengarkan semua ucapan mu ayana untuk menjauh dari daichi, pasti tidak akan terjadi seperti sekarang. Keegoisanku justru menghancurkan semuanya", ucapnya.
"Kita akan melewatkan semuanya bersama-sama lagi sera, bukankah begitu yumi?"tanya ayana yang menoleh kearah yumi yang duduk di sampingnya.
Yumi hanya tersenyum dan menganggukkan kepalanya. " Tentu saja ayana, kita bisa memulai dari nol lagi seperti dulu saat kita diluar negeri dan aku rasa meninggalkan negara ini adalah pilihan yang terbaik", ucap yumi dengan polosnya.
Sera terdiam sesaat, dia hanya menundukkan kepalanya seperti sedang memikirkan sesuatu. Sementara ayana, bola matanya hampir keluar saat memelototi yumi yang sama sekali tidak sadar bahwa ucapannya tadi bisa membuat sera sedih.
"Ada apa?"tanya yumi yang masih bingung.
"Kenapa kamu harus mengatakan hal seperti itu", ucap ayana.
"Tidak ayana, apa yang dikatakan yumi benar. Meninggalkan negara ini dan memulai semua dari awal sepertinya ide yang baik. Mungkin dengan begitu, aku akan lebih mudah melupakan daichi", ucapnya, dia menatap ayana dan yumi secara bergantian dengan senyum.
"Apa kamu yakin sera? Kembali ke negara ini dan berkarir disini, bukankah itu tujuan awal mu?"tanya ayana.
__ADS_1
"Benar. Tapi itu dulu karena daichi,tapi sekarang tidak ada lagi alasan ku untuk berada di sini saat laki-laki yang aku cintai tidak menginginkan ku lagi",ucapnya, pancaran matanya menerawang dan terlihat kosong.
Mata sera terpejam sesaat. Ayana melihat sesuatu yang berkilau menetes di pipinya, setetes air mata jatuh dan dengan cepat sera mengusapnya. Baik ayana atau pun yumi yang melihatnya hanya diam, mereka tahu bagaimana perasaan sera yang masih bergejolak dengan dirinya sendiri.
"Sudah sera jangan menangis lagi. Kalau begitu aku akan segera mengurus keberangkatan kita secepatnya", tukas ayana, dia mencoba mengalihkan pembicaraan agar Sera melupakan perasaanya sesaat kepada daichi.
"Tapi, ada satu hal yang ingin aku lakukan sebelum kita pergi meninggalkan negara ini ", ucap sera memandang ayana.
"Melakukan sesuatu? ulangnya dengan sikap bingung.
"Aku ingin bertemu dengan sakura", ucapnya.
"Apa ???? Bertemu dengan nona sakura?"tanya ayana.
"Hmmm", jawabnya sambil menganggukkan kepalanya.
"Tapi untuk apa sera? Jika daichi tahu, semua akan semakin kacau", ketus ayana.
"Aku tidak akan melakukan apa pun Ayana, percayalah padaku. Aku hanya ingin berbicara dengannya. Aku mohon tolonglah aku", pintanya yang memandangi ayana penuh harapan.
"Tapi bagaimana aku bisa melakukannya?"tanya ayana yang bingung dengan permintaan sera.
"Bukankah sekertaris nona sera adalah temanmu ayana, kamu bisa mencoba meminta dengannya", sergah yumi.
"Maksudmu kimi?"tanya ayana.
"Benar", balasnya.
"Aku tidak yakin untuk itu, tapi aku akan mencobanya", ucap ayana.
"Terima kasih ayana", ujarnya terharu. "Sungguh, terima kasih.
"Aku akan mencobanya untukmu",janji ayana.
Sebuah janji yang sulit untuk dilakukan baginya, tapi dia akan selalu melakukan apapun yang diinginkan sera. Kebahagian sera yang terpenting untuknya, setidaknya semua akan berlalu sebentar lagi setelah mereka benar- benar akan pergi meninggalkan negara ini selamanya dan memulai kehidupan baru mereka.
••••••••
Pagi ini matahari tersembunyi di balik awan mendung, begitu gelap dan nyaris seperti terlihat di malam hari. Tetesan air hujan mulai turun dengan tiupan angin yang dingin. Keadaan terlihat gelap saat sakura melihat keluar dari jendela kamarnya, hujan tak kunjung berhenti dari malam hari.
Gerakan tangan yang melingkari pinggangnya membuatnya tersentak dan melihat daichi yang kini berada di belakangnya.
"Apa yang sedang kamu lakukan sayang", bisiknya di telinga sakura.
Sakura mendesah. " Hujan tidak berhenti dari semalam dan membuat orang- orang akan sulit melakukan aktivitasnya".
Daichi hanya tersenyum. "Kalau begitu, aku berangkat dulu kekantor".
"Tentu saja aku mengingatnya. Aku akan segera pulang saat semua urusan dikantor telah selesai", ucap daichi.
"Baiklah", jawab sakura.
"Aku berangkat ya", ucapnya sambil mencium kening istrinya itu.
"Kalau begitu aku akan mengantarmu kebawah",ucap sakura.
"Tidak usah sayang, tetaplah disini", sergahnya.
"Sampai jumpa nanti. Hati- hati ", ucap sakura.
Daichi hanya tersenyum menatap sakura, lalu pergi meninggalkan sakura diruang tersebut. Sakura kembali memandang keluar jendela, melihat derasnya hujan yang turun pagi ini. "Hujannya semakin deras saja", ucapnya.
"Sakura", panggil bibi mori yang langsung masuk kedalam kamar sakura saat melihat pintu kamar terbuka lebar.
"Iya bi.Ada apa?"tanyanya.
"Ada nona kimi diluar, dia mencari kamu,"ucapnya.
Dia keheranan. Kimi datang?"tanyanya lagi.
" Benar, dia sedang menunggu mu. Cepat sayang temui dia", ucap bibi mori.
"Baik bi", ucap sakura.
•
•
"Kimi", sapa dirinya.
"Nona sakura", balas kimi.
"Ada apa? Apa ada pekerjaan yang mendesak?"tanya sakura
"Ini bukan mengenai pekerjaan nona", jawabnya.
"Duduklah", ucap sakura.
__ADS_1
"Begini nona, apa anda masih mengingat ayana? Sekertaris sera?"tanya kimi yang langsung ke pokok pembahasan.
"Tentu saja. Ada apa dengannya?"tanya sakura.
"Semalam dia menelepon saya dan meminta untuk bertemu dengan anda hari ini karena sera memintanya dan dia juga memastikan kepada saya bahwa sera tidak akan melakukan apapun kepada anda nona", jelasnya.
Apa yang dikatakan kimi membuatnya termenung sesaat, pikirannya berkecamuk dan tiba -tiba saja perkataan sera itu muncul kembali.
Bagaimana nona? Apa anda bersedia? Dia menunggu jawabannya hari ini",ucap kimi.
Sakura kembali memfokuskan pikirannya lagi, dia berusaha untuk tidak terlalu banyak berpikir hal - hal negatif kepada sera. Baginya apapun yang akan dikatakannya nanti mengenai daichi dan dirinya di masa lalu ataupun saat ini, sama sekali tidak akan mempengaruhinya karena dia percaya kepada suaminya, percaya penuh kepada daichi.
Ditatapnya kimi yang menunggu jawaban darinya."Aku ingin menemuinya kimi, aku juga penasaran apalagi yang ingin dikatakannya kepada ku,tapi aku harus meminta izin dulu kepada daichi".
"Anda benar nona, kalau begitu anda mungkin bisa menghubungi tuan daichi sekarang", ucapnya.
"Aku akan menghubunginya", ucap sakura.
••••••••••
Kantor Daichi Tama
"Pekerjaan macam apa yang kalian lakukan ini semua!!!!"teriaknya
Semua orang yang ada diruangan meeting tersebut hanya mampu diam dan tertunduk saat menerima amukan daichi. Tak ada seorangpun yang berani menatap kedua matanya yang penuh dengan kemarahan, begitu pula sekertaris yun.
"Apa kalian pikir presentasi seperti ini sudah layak, untuk kita tunjukkan kepada investor kita!!!!!"ucapnya, dia mencampakkan dokumen yang dipegangnya, aksinya itu membuat semuanya terlihat syok.
"Maafkan kami tuan, kami akan segera memperbaikinya", ucap seorang pria yang menjadi kepala divisi perencanaan.
"Lakukan!! Aku tidak menggaji kalian untuk ini!! Apa kalian semua paham!!! Matanya tajam memandangi semua yang ada di ruang rapat, rahangnya menegang. Dia sama sekali tidak mengharapkan emosinya saat ini dapat dikontrolnya.
Dreg....Dreg....Dreg....
Ponselnya terus bergetar, diliriknya layar ponsel itu dan tanpa berpikir panjang dia langsung mengangkatnya saat nama sakura muncul, meskipun saat ini dia sedang meeting.
"Hallo", ucapnya .
Sekertaris yun hanya tersenyum simpul,sepertinya dia tahu siapa sosok yang menghubungi boss nya itu, hanya dengan melihat ekspresinya yang cepat berubah dan langsung menjawabnya.
"Apa!!!!
Tubuh daichi langsung membeku, matanya membelalalak lebar, dia tertegun lama sekali hingga membuat sekertaris yun mulai penasaran dengan apa yang dikatakan sakura saat melihat daichi terlihat kaget.
"Tunggulah. Aku akan mengantarmu", ucapnya dan langsung mengakhirinya.
Daichi terlihat gelisah, dimasukannya ponselnya kedalam jasnya. Semua orang yang berada diruangan itu terus memperhatikan tingkah paniknya.
"Kita akhiri meeting hari ini. Sekertaris yun", ucapnya dengan memandangnya saja.
"Baik tuan", jawab sekertaris yun yang bangkit berdiri dan mengikuti langkah daichi dari belakang yang berjalan menuju ruangannya.
"Daichi!!"
Dia mendongak dan melihat Haga yang tersenyum padanya dari belakang dan berjalan menghampirinya.
"Haga", ucapnya kaget.
"Kebetulan sekali bertemu disini, aku baru ingin menemui mu diruangan mu", ucapnya.
Kehadiran Haga dirasanya sungguh bukan saat yang tepat baginya sekarang.
"Apa yang membuat mu tiba-tiba kesini?"tanya daichi.
"Aku hanya ingin berpamitan denganmu", ucapnya.
"Pamit?"ulang daichi.
"Benar", gumamnya.
Karen ini adalah terakhir kalinya bertemu dengan haga, dia tidak mungkin pergi meninggalkannya begitu saja. Dia mulai bingung dengan pilihannya saat ini, menemui haga atau menemani sakura yang ingin bertemu dengan sera. Keduanya sangat penting, tapi dia harus menentukannya. Dilihatnya sekertaris yun, yang mendadak muncul dipikirannya adalah menyuruh sekertaris yun yang menggantikan dirinya untuk menemani sakura.
"Sekertaris yun, pergilah ke apartemen sekarang untuk mengantar sakura. Temani dia karena dia hari ini ingin bertemu dengan seseorang", perintahnya.
"Yeah," gumam sekertaris yun, ekspresinya terlihat bingung.
"Pergilah sekarang sekertaris yun!" perintahnya kembali.
Meski dirinya sendiri bingung dengan tugas yang diberikan daichi, tapi dengan cepat dia menyanggupinya. "Baik tuan, kalau begitu saya pergi sekarang", ucapnya.
Daichi hanya diam dan memperhatikan kepergian sekertaris yun, dan kembali menoleh kearah haga yang berdiri di depannya.
"Kita bicara diruangan ku saja", ucap daichi.
"Oke", jawab haga
Keduanya berjalan menuju ruangan daichi , meski dalam hati daichi saat ini dia merasa begitu tidak tenang saat tahu sakura yang ingin menemui sera.
__ADS_1
"Apa lagi yang ingin kamu lakukan sera. Apa ancaman ku tidak cukup untuk mu!!!" batinnya.
Bersambung...