
Sejenak sakura melupakan kemarahannya terhadap daichi dan menikmati waktu yang dimilikinya. Hampir semua jenis wahan permainan di taman bermain itu mereka mainkan dengan kebahagiaan.
"Apa kamu merasa lelah?" tanya daichi.
"Tidak", ucap sakura.
Siang itu matahari bersinar begitu terik hingga membuat kulit sakura terasa kebakar dengan keringat yang menetes bercucuran di dahinya, panas yang dirasakannya terkalahkan oleh kebahagian yang dirasakannya saat ini.
Hubungan yang sempat renggang kini mulai terjalin lagi saat mereka bersama dalam mencoba wahana bermain hingga menciptakan suasana yang hangat untuk keduanya.
"Ayok kita kesana", ucap daichi yang menarik tangan sakura.
"Claw machine? Tanya sakura yang tampak tak percaya.
"Tentu saja", ucap daichi.
"Apa kami bisa memainkannya?"Tanya sakura.
"Lihatlah, aku akan mendapatkan satu boneka untuk mu", ucap daichi.
Daichi melepas kancing jasnya seperti membuat sebuah ancang-ancang sebelum bermain, merenggangkan otot-otot jari - jari tangannya yang membuat sakura tertawa melihatnya.
"Daichi kamu hanya bermain claw machine bukan ingin berperang", ucap sakura sambil tertawa.
"Pemanasana itu di perlukan sakura", jawab daichi
Dia pun mulai menggerakan machine tersebut untuk mendapatkan boneka yang akan diberikannya kepada sakura.
"Ayok daichi, sedikit lagi", ucap sakura yang memberikan daichi semangat di sampingnya.
Sedikit lagi mendapatkannya, namun boneka itu terlepas dari jepitannya dan membuatnya gagal hingga raut wajah daichi sangat kesal. Mereka saling tertawa sekaligus berjuang bersama untuk mendapatkan boneka tersebut, meskipun sejujurnya daichi dapat membelikannya.
Dia kembali mencobanya, namun kali ini dia begitu serius dengan tatapan mata yang terlihat fokus terhadapnya, melihat hal itu sakura hanya diam tanpa mengeluarkan suaranya agar konsentrasi daichi tidak terganggu dan akhirnya..
"BERHASIL!!!!" Teriak daichi
"Ahhh, kamu hebat daichi", ucap sakura.
Dia pun mengambil boneka yang keluar dari mesin itu dan langsung memberikannya kepada sakura.
"Ini untukmu sakura", ucapnya.
"Terima kasih daichi", ucap sakura sambil mengambil boneka yang diberikan daichi kepadanya.
Melihat senyum yang terpancar di wajah sakura membuat daichi begitu bahagia, meski hingga saat ini dia tidak tau apa yang terjadi dengan sakura semalam.
Dreg...Dreg...Dreg..
Ponsel daichi terus saja berbunyi dari mulai dia bermain, membuat dia yang dari tadi mengabaikan panggilan itu kini mulai penasaran.
"Sebentar, aku mengangkat telpon duluh", ucap daichi.
"Baiklah", jawab sakura
Dia pun pergi beberapa langkah menjauh dari sakura, dia mengambil ponsel di saku jas nya untuk melihat siapa yang dari tadi terus menghubunginya.
"Dia, kenapa dia masih saja menghubungiku", batin daichi.
Merejct panggilan itu dan mematikan ponselnya itulah yang dilakukan daichi dan kembali menghampiri sakura.
"Siapa yang menelepon?" tanya sakura.
"Seseorang yang tidak penting", jawab daichi sambil tersenyum.
"Maksudnya?" tanya sakura
"Sudahlah tidak perlu dibahas, lebih baik sekarang kita makan", ucap daichi sambil menarik tangan sakura.
Rumah Sakit Wongdo 🏥
"Kenapa dia tidak menjawab telepon ku?? Bahkan sekarang dia mematikan ponselnya", ucap Sera yang terlihat kesal.
"Sudahlah Sera hentikan, dia mungkin sedang meeting sampai dia tidak bisa menjawab telepon mu", ucap Ayana.
"Tapi kenapa dia sampai sekarang belum datang menjenguk ku?" tanya Sera.
TOK....TOK....TOK...
"Maaf aku lama jalanan sangat macet", ucap yumi.
"Apa kamu sudah membelikannya?" tanya Ayana .
"Sudah Ayana, aku akan memindahkannya duluh", ucap Kimi.
__ADS_1
Sera terus mencoba menghubungi daichi, dia sama sekali tidak putus asa.
"Ini makanannya nona Sera", ucap yumi.
"Aku tidak ingin makan!!!" jawab Sera.
"Berikan pada ku yumi", ucap Ayana.
"Ayok Sera, kamu harus makan sekarang", ucap nya sambil menyodorkan makanan.
"AKU BILANG AKU TIDAK MAU MAKAN!!!!!!" teriak Sera sambil menghempaskan piring yang ada ditangan Ayana hingga jatuh ke lantai.
Ayana tampak kaget melihat tingkah sera yang semakin kasar dan tidak menghargainya, dia sama sekali tidak habis pikir dengan sikap Sera saat ini. Dengan wajah yang kesal Ayana pergi meninggalkan ruangan Sera dengan membanting pintu ruangan kamar itu.
Braakk!!!!!
Suara bantingan pintu itu terdengar begitu kuat hingga membuat yumi kaget dan diam seperti seorang patung.
"Apa yang kamu lihat, cepat bersihkan itu semua!!! Perintah Sera.
"Baik nona Sera", jawab yumi yang langsung mengumpulkan serpihan kaca yang berserakan di lantai.
Dengan wajah yang memerah menahan kan emosinya dia melangkah keluar rumah sakit itu, dia terlihat begitu kesal melihat tingkah Sera yang semakin hari semakin sulit di pahaminya.
Dreg ....Dreg...Dreg..
"Hallo", ucap Ayana.
Raut wajah yang dari tadi terlihat sangat ketat dalam hitungan detik berubah menjadi terlihat ceria.
"Sekarang?? Tentu saja aku bisa", ucap Ayana .
"Aku sedang dirumah sakit wongdo. Bagaimana kalua kita bertemu di kafe di seberang rumah sakit wongdo", ucap Ayana.
"Baiklah, aku akan menunggumu disana", ucap Ayana dan menutup sambungan telepon itu.
Dia pun pergi meninggalkan rumah sakit wongdo menujuh kafe di seberang rumah sakit itu untuk bertemu dengan seseorang, hampir sekitar 15 menit dia menunggu kedatangan Kimi di dalam cafe tersebut.
"Ayana", ucap Kimi
Melihat kehadiran Kimi, Ayana langsung bangkit dari bangkunya, dia begitu senang akhirnya bisa bertemu dengan Kimi kembali dan langsung memeluknya.
"Aku sangat merindukan kamu kimi", ucap Ayana.
"Apa kamu sudah menungguku lama?" tanya Kimi sambil duduk.
"Ahhh, tidak", jawab Ayana.
Disela pembicaraan mereka seorang pelayan wanita datang memberikan daftar menu.
"Pesanlah Kimi",. ucap Ayana.
"Kamu tidak pesan?",tanya Kimi
"Aku tadi sudah memesan duluan", jawab Ayana.
"Oh, baiklah saya pesan orange juice ", ucap Kimi.
Selesai mencatat pesanan Kimi, pelayan itu pun pergi meninggalkan mereka.
"Oh iya, Kenapa kamu tadi dirumah sakit Ayana? Apa kamu sakit atau ada yang sakit?"Tanya Kimi.
"Bukan...bukan aku tidak sakit, tetapi Sera yang sedang sakit", ucap Ayana.
"Sera???"Tanya Kimi
"Ia Sera", jawab Ayana.
"Astaga, kebetulan sekali disaat aku ingin mencari tau mengenai sera, Ayana menyinggung mengenai Sera", batin kimi.
"Apa yang terjadi dengannya ayana?" tanya Kimi yang mulai mencari tau mengenai Sera.
Mata Ayana berputar melihat situasi di sekitarnya, sebelum dia menjawab pertanyan Kimi dengan nada suara yang pelan dia memberitahukan Kimi.
"Dia mencoba mengakhiri hidupnya", ucap Ayana
"APA!!!! dengan wajah yang kaget dia berteriak sangat kuat hingga membuat pengunjung cafe ini melihat kearah mereka berdua.
"Sssttttt, Jangan berisik Kimi", ucap Ayana.
Pembicaraan mereka terpotong saat seorang pelayan wanita mengantar pesanan kimi.
"Terima kasih", ucap Kimi.
__ADS_1
Pelayan itu hanya tersenyum dan pergi meninggalkan keduanya.
"Lalu, kenapa dia melakukan hal konyol seperti itu Ayana?" tanya Kimi yang semakin penasaran.
"Berjanjilah kepadaku bahwa kamu tidak akan memberi tau orang lain", ucap Ayana.
"Ayolah Ayana, aku adalah seorang karyawan yang bekerja di perusahan baju bukan perusahan media", ucap Kimi.
"Hmm, Dia melakukannya karena seorang pria", jelas Ayana.
"Pria?" ucap kimi.
"Apa kamu ingat dengan pacar Sera yang pernah aku ceritakan duluh", ucap Ayana.
Kimi mulai mencoba mengingat - ingat sebuah kejadian yang sudah lama sekali terjadi.
"Ahh, Iya aku ingat. Dulu kamu sering diantar Sera dan pacarnya yang memiliki mobil bagus, bukan?"tanya Kimi.
"Benar sekali, dialah pria yang membuat Sera begitu nekat mengakhiri hidupnya", ucap Ayana.
"Tapi bukankah mereka sudah lama putus, kalau tidak salah kamu duluh perna cerita", ucap Kimi.
"Ia Kimi mereka memang sudah putus,namun Sera masih mencintainya", ucap Ayana.
"Apa yang membuat mereka putus waktu itu?" tanya Kimi.
"Status sosial yang beda", jawab Ayana.
"Maksudnya?" tanya Kimi yang tampak bingung.
"Saat itu Sera berpacaran dengan pria yang berasal dari orang kaya Kimi dan sangat terpandang di kota ini ", jelas Ayana.
"Wah, ternyata Masi ada selain keluarga Tama dan Agata", batin Kimi.
"Ayolah Ayana, apa hubungannya dengan itu semua", ucap Kimi
"Tentu saja itu ada, pria itu berasal dari keluarga yang berada sedangkan Sera hanya anak dari keluarga karyawan biasa sehingga itu yang membuat Sera minder pada waktu itu", ucap Ayana.
"Dan lebih memilih mengakhiri hubungannya?"tanya Kimi
"Ia dia ingin menjadi orang yang sukses demi pria yang dicintainya, tapi saat dia kembali pria itu sudah bertunangan dan sekarang sudah menikah dengan keluarga yang sederajat dengan keluarga mereka.", ucap ayana.
"Kalau boleh tau, dari keluarga mana pria itu berasal karena aku hanya tau 2 nama keluarga yang sangat berpengaruh di kota ini", ucap Kimi.
"Dia berasal dari keluarga TAMA",ucap Ayana.
"Apa??? Tama??"tanya Kimi dengan mata yang melotot kepada Ayana.
"Benar di berasal dari keluarga TAMA", ucap ayana
"Si-apa nama pria i-tu??" tanya Kimi yang mulai tampak deg-degan.
"DAICHI TAMA", ucap Ayana.
Daichi Tama...Daichi Tama itu lah yang terus terdengar di telinga Kimi tanpa berhenti, dia tampak kaget mendengar nama yang disebutkan Ayana hingga dia merasa badannya begitu lemas dengan telapak tangannya yang berkeringat. Bagaiman bisa pria yang dicintai Sera adalah suami dari boss nya yang tak lain adalah Sakura Agata, dunia terasa begitu sempit hingga keduanya bisa mencintai pria yang sama dan kini Kimi mulai memahami tujuan sakura.
"Kenapa Kimi, kamu terlihat kaget sepertinya", tanya ayana.
"Tidak aku hanya tidak habis pikir mengenai kisah cinta Sera", ucap Kimi yang tertawa memaksakan dirinya.
"Iya, aku selalu mengingatkannya bahwa daichi kini telah menikah dan memintanya untuk tidak mengganggunya lagi", ucap Ayana.
"Apa dia mengikuti saran mu?" tanya Kimi.
"Sama sekali tidak, bahkan di memanfaatkan keadaanya sekarang untuk mendapatkan simpati daichi",ucap Ayana.
"Apa dia mendapatkan simpati tuan daichi, ah maksudku daichi?" tanya Kimi
"Tidak, bahkan daichi sama sekali tidak memperdulikannya lagi karena dia sangat mencintai istrinya dan tidak ingin menyakiti istrinya", ucap Ayana.
"Bagaimana kamu tau dia sangat mencintai istrinya Ayana, ayolah", jawab Kimi sambil tertawa.
"Aku sudah melihatnya sendiri Kimi dan itu sangat jelas terlihat", ucap Ayana.
"Benarkah?" tanya kimi.
"Sera tidak memiliki kesempatan lagi untuk masuk di hati daichi Tama", ucap Ayana.
Merasa lebih lega itulah yang dirasakan Kimi saat ini, setidaknya dia tau bahwa daichi sama sekali sudah tidak memiliki perasaan dengan Sera, bagaimana pun dia tidak akan sanggup jika melihat sakura disakiti karena sakura begitu berarti bagi Kimi.
Pembaca setia ku, terima kasih atas masukan yang kalian berikan kepada saya. Semua masukan yang kalian berikan akan menjadi motivasi buat saya dalam menulis novel saya. Jangan lupa untuk selalu like,coment apa saja yang ingin kalian tulis dan yang paling penting vote untuk saya.🥰🌸
Bersambung....
__ADS_1