Pernikahan Yang Dijodohkan

Pernikahan Yang Dijodohkan
Episode 139 Saling percaya


__ADS_3

Sakura hanya duduk termenung di atas ranjang rumah sakit, kedua matanya menatap keluar jendela melihat derasnya hujan yang turun malam ini dengan gemuruh petir yang terdengar kuat, seluruh tubuhnya bergetar saat rasa takut yang dirasakannya.


"Aku sangat takut", ucapnya.


"Sakura?"


Suara lembut daichi terdengar dari arah sampingnya. Dia yang dari tadi melihat keluar jendela, langsung mengalihkan penglihatannya menatap daichi yang berjalan menghampirinya dengan pakaian yang basah.


"Daichi", ucapnya.


Tanpa banyak kata, dia langsung memeluk sakura dengan begitu erat. Kedua lengannya melingkari tubuh sakura mendekapnya di dadanya dan mencium kepala sakura. Pelukan itu membuat sakura merasa nyaman, saat perasaan yang dirasakannya dari tadi begitu gelisah menanti kehadiran daichi. Dia melepaskan pelukannya, menatap sakura untuk sesaat lalu menarik wajah sakura mendekat ke wajahnya, bibirnya mencium sakura begitu lembut.


"Apa kamu sedang menungguku?"tanyanya, wajah mereka begitu dekat dan saling menatap.


"Hmm, aku mencari suamiku saat mata ku terbuka, tapi aku sama sekali tidak menemukannya", ucapnya.


Daichi hanya tertawa melihat raut wajah sakura yang frustasi saat mengatakannya.


"Maafkan aku sayang, ada beberapa urusan yang harus aku selesaikan tadi", jelas daichi.


"Tidak apa-apa", ucap sakura dengan suara lembutnya.


Jari-jarinya menyusup kedalam rambut sakura, tangannya menarik kembali wajah sakura mendekat kepadanya. Hembusan napasnya yang hangat begitu terasa oleh sakura, lalu bibirnya kembali menempel dibibir sakura. Dia merengkuh wajah sakura dengan kedua tangannya, bibirnya begitu agresif melumet bibir sakura hingga membuat desahan napasnya kasar saat tak mampu mengimbangi besarnya nafsu yang dimiliki daichi saat ini.


Dengan cepat sakura melepaskan dirinya dari daichi.


"Aku kesulitan bernapas", ucap sakura yang mencoba mengatur pernapasannya.


"Maafkan aku sayang", ucap daichi yang terlihat bersalah.


"Tidak perlu minta maaf ", tukas sakura.


"Seharusnya aku tidak melakukan hal konyol seperti ini, saat kamu sedang sakit", ucapnya.


Dia langsung bangkit berdiri dari ranjang tidur sakura, memberi jarak beberapa meter untuk keduanya.


"Hey, berhenti menyalahkan diri sendiri. Tidak apa-apa, aku baik-baik saja. Kita berdua sama-sama terbawa suasana", ucap sakura.


Daichi hanya mendesah."Tapi tidak malam ini, kamu sedang sakit".


"Aku baik-baik saja,"tukasnya.


Daichi hanya tersenyum, dia bergerak dan berjalan mendekat kembali kearah sakura. Ditatapnya kedua mata sakura begitu dalam, dia begitu merasa bersalah setiap dia melihat kedua mata sakura yang mengguratkan kesedihan, namun dia mencoba menutupinya.


"Maafkan aku", ucap daichi,kedua matanya mengguratkan kesedihan saat menatap sakura.


"Maaf untuk apa?"tanya sakura.


"Seharusnya aku melindungi mu", jawab daichi.


"Kamu selalu melindungi ku", tukasnya.


Sakura kembali memeluk daichi yang berdiri disampingnya, daichi hanya tersenyum sembari membiarkan sakura yang terus memeluknya begitu erat.


"Jangan pernah meninggalkanku", kata sakura.


Daichi hanya menghela napasnya dalam-dalam. "Aku tidak akan pernah meninggalkanmu", lengannya merangkulnya lebih erat.


"Sakura", ucapnya.


"Hmmm", jawab sakura.


"Apa tidak ada yang ingin kamu tanyakan saat ini?"tanyanya.


Dia langsung melepaskan rangkulannya terhadap daichi, ditatapnya daichi yang terlihat begitu serius.


"Soal apa?"tanyanya, sembari mengamati perubahan wajah daichi yang terlihat tegang.


"Mmm, apa saja yang ingin kamu ketahui. Siapa tahu ada yang ingin kamu tanyakan", ucapnya.


"Ketahui?"suara sakura terdengar bingung.


"Memangnya tidak ada sesuatu yang menggangu pikiranmu dan ingin kamu ketahui kebenarannya?"tanyanya, nada suaranya mengisyaratkan bahwa ada yang ingin disampaikan kepada sakura.


Untuk sesaat sakura hanya menatap daichi, dia mulai memahami setiap perkataan yang dilontarkan daichi. Perasaanya menjadi sesak saat dia mengingat kembali perkataan yang keluar dari mulut sera, kalimat itu terus terngiang-ngiang ditelinga.


Banyak hal yang ingin ditanyakan nya, tapi hati terasa belum siap untuk mendengar dan menerima pengakuan yang akan diberikan daichi untuknya.

__ADS_1


"Apa jika aku bertanya, kamu akan menjawabnya?"tanya sakura, nada suaranya terdengar berat, tanpa menatap wajah daichi saat dia berbicara.


Dia memandang kearah sakura, menelusuri garis-garis wajahnya yang berubah dengan kesedihan dan memahami perubahan suasana yang dirasakan hatinya saat ini.


"Tentu saja, aku akan berusaha menjawab semuanya",jawabnya.


"Aku akan percaya kepadamu", balas sakura.


"Jadi apa yang ingin kamu tanyakan?"tanya daichi yang langsung pada pokok pembahasan mereka.


Sakura diam sesaat. Pertanyaan daichi membawa ingatannya kembali kepada apa yang dikatakan sera, saat dia Inging berbicara rasanya kerongkongannya mendadak tercekat hingga dia merasa kesulitan untuk berbicara, sementara daichi terus memperhatikan sikap diamnya serta sorot mata yang tiba-tiba menegang.


"Tidak ada pertanyaan yang ingin aku tanyakan, jika kamu mengatakan itu tidak benar. Aku akan mempercayai mu karena aku hanya akan memercayai setiap ucapan yang keluar dari mulut suamiku saja", ucapnya, wajahnya terlihat sendu saat melihat daichi yang terus memandangi dirinya.


"Tidak, itu tidak benar", jawabnya dengan suara yang lantang, tatapannya tajam melihat kedua mata sakura. Cara bicaranya begitu sungguh-sungguh.


"Aku akan percaya padamu", ucap sakura.


"Itulah yang sangat aku butuhkan, mendapatkan kepercayaan dari pasangan. Aku akan berusaha untuk selalu berkata yang jujur kepadamu, meskipun suatu saat itu mungkin akan menyakitkan untuk mu", ucap daichi.


"Aku mengerti", ucap sakura.


Keduanya saling tersenyum untuk sesaat, sampai akhirnya sakura menggeser badannya dan menyisihkan sedikit tempat di atas ranjangnya.


"Kemarilah",pintanya, dia menepuk-nepuk ranjang tidurnya.


"Tidak sayang, pakaian yang aku kenakan lembab karena hujan yang deras", daichi mencoba melakukan penolakan terhadap sakura.


"Aku mohon....", ucap sakura, dia memperlihatkan wajah yang sedih hingga membuat daichi tak kuasa melihatnya.


"Baiklah sayang", ucapnya.


Wajah sakura langsung berubah saat daichi telah berada disampingnya, dipeluknya erat-arat dengan lembut pria yang sangat dicintainya itu. Semua yang diucapkan sera kepadanya, sama sekali tidak berarti apapun untuknya dan membuat ras cinta yang semakin dalam dimilikinya untuk daichi.


"Sangat nyaman", ucapnya.


"Kamu akan basah", ucap daichi.


"Tidak apa-apa",jawabnya, dia menghembuskan napasnya dan tubuhnya begitu rileks saat dia menempelkan tubuhnya di dada daichi yang begitu kekar.


Sakura merengkuh wajahnya, dia berusaha mengangkat tubuhnya agar dapat mencium suaminya itu. Daichi hanya tersenyum melihat istrinya yang lebih bertenaga dan agresif saat sedang sakit, lengannya memeluk tubuh sakura lebih erat.


"Jangan terus memancingku sayang, atau aku akan lepas kendali disini", bisiknya ditelinga sakura, hembusan napas nya membuat seluruh tubuhnya menggelitik.


"Kalau begitu kamu harus bisa mengendalikan dirimu", bisik sakura tepat ditelinga daichi.


"Aku sudah menahannya dari tadi", balasnya berbisik di telinga sakura.


Sakura hanya tertawa melihat daichi yang sedang mencoba menahan dirinya.


"Tidurlah", ucap daichi.


"Baiklah, aku akan tidur. Berjanjilah, jangan tinggalkan aku", pinta sakura.


"Aku akan menemanimu istriku, jangan khawatirkan soal itu", jawab daichi.


"Selamat malam suamiku", ucap sakura.


"Selamat malam istriku",ucap daichi, dengan lembut di mendaratkan kecupan manis di kening sakura, perlahan kedua mata itu tertutup dan tertidur lelap dalam dekapan daichi.


Kebahagian terbesar untuknya saat ini adalah melihat sakura bahagia, dia tidak akan membuat wajah itu terus memancarkan kesedihan.Apapun akan dilakukannya untuk membuat sakura bahagia dan yang paling penting untuknya ,dia tidak akan pernah membiarkan orang lain masuk kedalam kehidupan rumah tangga mereka dan membuat masalah yang dapat merusak hubungan mereka. Melihat sakura membaringkan kepalanya di dadanya dan memejamkan matanya dengan lelap membuatnya merasa senang sekali.


"Aku mencintaimu, sakura", ucapnya yang memeluk sakura dengan erat.


Dari luar pintu terlihat mata sekertaris yun tercengang melihat pemandangan yang ada di dalam ruangan tersebut, tubuhnya kaku diam tak bergerak. Kimi yang berdiri didekatnya terlihat bingung saat sekertaris yun hanya diam sedangkan satu tangannya telah bersiap untuk membuka pintu kamar tersebut,tapi tak kunjung dilakukannya.


"Tuan yun?"


"Tuan yun?"


Sekertaris yun hanya diam tanpa menyahutnya sama sekali, walaupun dia sudah memanggil namanya beberapa kali.


"Tuan yun",panggilnya, kali ini satu tangannya menepuk pundak sekertaris yun.


"Iya, nona kimi", jawabnya, setelah dia tersadar dalam lamunannya.


" Ada apa? Apa yang terjadi didalam?"tanya kimi yang penasaran dan mencoba ingin melihat kedalam, tapi dengan cepat sekertaris yun menghalanginya dan menghadang kimi dengan tubuh tegapnya.

__ADS_1


"Jangan nona kimi", ucapnya.


"Kenapa anda melarang saya untuk masuk, tuan yun?"tanyanya.


Sekertaris yun terlihat bingung, tidak ada jawaban yang diberikannya kepada kimi. Wajahnya justru terlihat semakin bingung,sehingga kimi langsung dengan mudah menebak sesuatu sedang terjadi didalam sana dan sekertaris yun mencoba menghalangi dirinya.


"Nona kimi, sudah malam.Bagaimana jika saya mengantar anda ", ucapnya, nada suaranya gugup saat mengutarakan niat baiknya


"Apa itu tidak merepotkan anda?"tanya kimi.


"Sama sekali tidak, saya senang bisa mengantar an-da", ucapnya nada suaranya terkesan malu.


"Kalau begitu kita pamitan dulu dengan tuan daichi dan nona sakura", ucap kimi.


"Ah.., itu tidak perlu nona kimi. Saya sudah mengirim pesan kepada tuan daichi, anda tidak perlu cemas", jawabnya.


"Benarkah?"tanya kimi, ditatapnya sesaat sekertaris yun yang terlihat aneh malam ini.


"Hmmm", jawabnya.


"Sudah malam, lebih baik kita pulang sekarang", kata sekertaris yun, nadanya terdengar seakan sedang membujuk kimi dan begitu lembut.


"Baiklah kalau begitu", ucap kimi.


Kedua nya melangkah pergi menjauh dari ruang rawat sakura, setidaknya sekertaris yun dapat bernapas lega bisa membawa kimi menjauh dari tempat itu karen dia tidak ingin kehadiran meraka menggangu momen yang sedang berlangsung didalam ruangan itu.


"Silakan masuk, nona kimi", ucap sekertaris yun yang membukakan pintu mobil untuknya.


"Astaga, terima kasih tuan yun", ucap kimi yang tersipu malu dengan perlakuan yang diberikan kepadanya.


Sekertaris yun hanya tersenyum sembari menutup kembali pintu mobil dan berlari masuk kedalam mobil.


"Nona kimi, sebentar ya", ucapnya yang mengeluarkan ponsel miliknya.


"Baiklah", jawab kimi yang memandang keluar jendela..


Dia ambilnya ponselnya untuk mengirimkan pesan singkat kepada daichi, sesekali dia melirik kimi yang berada disampingnya sambil mengetik pesannya untuk daichi.


°°°°°


💬 Tuan, saya izin keluar sebentar untuk mengantar nona kimi pulang, saya akan segera kembali setelah selesai mengantarnya.


Tak butuh waktu beberapa lama untuk dia menunggu balasan pesan dari daichi.


💬 Pulanglah setelah selesai mengantarnya, tidak perlu kembali lagi kerumah sakit. Tolong besok pagi datang ke apartemen, minta bibi mori untuk menyiapkan pakaian kerjaku dan bawa kerumah sakit.


💬 Baik tuan, besok pagi saya akan membawa pakaian anda.


💬 Satu lagi, jangan lupa dengan tugas yang aku perintahkan untukmu. Besok pagi, aku harus sudah mendapatkan informasinya.


"Aku hampir lupa", batin sekertaris yun.


💬 Baik tuan, saya akan menjalankan perintah yang anda berikan.


💬Hmm


Setelah selesai, sekertaris yun kembali memasukan ponselnya kedalam saku jasnya. Kemudian dia melihat kimi yang dari tadi sibuk memandang keluar.


"Kita berangkat", ucapnya.


Ditatapnya sekertaris yun dengan senyum lebar tersungging diwajahnya, mata indah sekertaris yun membuatnya begitu terpesona dan tanpa disadarinya jantung kembali berdetak cepat.


"Nona kimi?"suaranya lembut memanggil kimi yang melamun, disentuhnya pundak kimi untuk menyadarkan nya dengan wajah yang condong mendekat kearahnya.


Kimi tersentak kaget saat melihat begitu dekat wajah sekertaris yun yang hanya menyisahkan jarak beberapa meter dengan wajahnya.


"Apa anda baik-baik saja?"tanya sekertaris yun.


"Yah, tentu saja ", jawab kimi.


"Kita berangkat sekarang?"tanya sekertaris yun.


"Hmm", jawabnya yang merasa begitu malu saat ini.


Dia hanya menatap keluar jendela sepanjang perjalanan menuju kerumahnya, menghindari kontak langsung dengan sekertaris yun adalah pilihan yang terbaik agar dia tidak bertingkah semakin aneh di depan sekertaris yun yang bisa membuat sekertaris yun berpikiran aneh nantinya.


BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2