Pernikahan Yang Dijodohkan

Pernikahan Yang Dijodohkan
Episode 118 Bingung


__ADS_3

Tangan itu semakin liar menjajaki tubuh sakura, begitu bergairah saat nafsunya selama ini tak bisa dilampiaskannya saat jarak yang menjadi penghalang. Dengan lihai tangannya membuka kancing kemeja yang dipakai sakura, namun tangannya langsung dihalangi sakura yang menyadari dua kancing bajunya sudah terlepas.


"Apa yang ingin kamu lakukan?"tanya sakura yang menarik wajahnya dari daichi.


"Aku sudah tidak tahan lagi sayang", ucap daichi dengan suaranya yang serak dan pelan.


"Tidak. Jangan sekarang', ucap sakura yang mencoba mengancing kembali bajunya.


Hasrat yang semakin besar membuatnya tak mampu mengendalikan dirinya, dengan kedua tangannya dia membuka dengan paksa pakaian yang dikenakan sakura. Begitu kasar hingga membuat beberapa kancing baju yang menempel itu terlepas dan berjatuhan dilantai.


"Maafkan aku sayang, aku sudah tidak tahan lagi", ucapnya yang mencium dada sakura begitu agresif dan menggigitnya hingga menciptakan bercak merah di dada sakura.


"Ah! Sakit..",ucap sakura yang mengerang kesakitan.


"Maafkan aku", ucap daichi yang kembali mencium bibir sakura begitu kasar.


Hasratnya yang tinggi membuat Adrenalin Nya memompa begitu cepat, tanpa memperdulikan sakura yang terus mengerang kesakitan saat mulutnya terus menciptakan bercak - bercak merah yang baru di sekujur tubuhnya. Tingkahnya sama seperti predator yang siap menyantap mangsanya dan tidak akan melepaskannya saat telah mendapatkannya.


Matanya membelalak menatap mata indah sakura, hanya ada perasaan senang yang meluap- meluap yang dirasakannya.


"Apa kamu menyukainya?"tanyanya lembut kepada sakura.


Sakura hanya memberikan senyum yang memesona, balasan untuk pertanyaan yang diberikan daichi untuknya.


Saat dia kembali ingin mencium bibir sakura yang terlihat berantakan dengan lipstiknya. Ponsel didalam saku celana daichi bunyi dan membuat pikirannya teralihkan, namun dengan satu tangannya yang masih melingkar di pinggang sakura. Dia mengeluarkan ponselnya untuk melihat siapa orang yang berani mengganggu saat- saat yang begitu penting.


"Shinichi..", ucapnya.


Mendapatkan sedikit celah, sakura langsung melepaskan dirinya dalam dekapan daichi. Sakura hanya tersenyum saat daichi menatapnya dan pergi meninggalkannya menujuh kekamar. Daichi hanya bisa pasrah saat sakura meninggalkannya,lolos dari dirinya sekarang tidak menjamin sakura akan dapat meloloskan diri nanti.


Untuk kedua kalinya ponselnya kembali berbunyi ketika panggilan pertama dilewatkannya.


"Shinichi!"


Dia pun berjalan menuju keruang kerjanya sambil menjawab telepon dari Shinichi yang terlihat begitu penting kerena dia terus menghubunginya.


"Sakit sekali", desah sakura yang melihat dadanya di cermin.


Sakura terus mengerang kesakitan di sekujur tubuhnya, dia melepaskan satu persatu pakaiannya untuk merendam dirinya di bathtub yang telah terisi air hangat dengan menuangkan sabun yang menciptakan busa yang banyak dengan mencampurkannya aroma wangian yang dapat membuat pikirannya menjadi rileks.


Lama sekali ia merendam dirinya di dalam air, hingga akhirnya dia memutuskan menyelesaikan nya saat melihat kegelapan sudah terlihat jelas dari luar jendela.


"Sebentar lagi waktunya makan malam, aku harus masak", ucapnya sambil mengenakan pakaiannya.


Ketika dia keluar dari kamar, matanya berputar melihat suasana yang terlihat sunyi dan tidak menemukan keberadaan daichi.


"Dia mana dia?"ucapnya yang berjalan menelusuri setiap ruangan dan sama sekali tidak menemukannya.


"Disini juga tidak ada. Apa mungkin dia ada diruang kerja?"batinnya sambil berjalan kearah ruang kerja daichi.


Tepat di depan pintu ruang kerja langkahnya terhenti dan saat tangannya ingin membuka pintu tersebut, terdengar suara daichi dari dalam ruangan sedang berbicara dengan seseorang dan mengurungkan niatnya yang tidak ingin mengganggu daichi.


"Lebih baik aku tidak menggangunya", ucapnya yang meninggalkan tempat itu menujuh ke dapur.


Dia mulai menyiapkan bahan - bahan yang akan dimasaknya untuk makan malam. Beberapa hari sejak daichi tidak ada, bahan - bahan makanan tersimpan baik tanpa ada tersentuh oleh sakura yang jarang bahkan tidak pernah memasak makan untuknya saat sendiri.


Mengambil beberapa jenis sayuran yang ada di kulkas dan mencucinya.Tiba - tiba sontak saja sakura diam membeku saat pipi daichi menempel di relung leher sakura dan mencium leher sakura dengan lembut. Sakura hanya diam tak bergerak meski dia mencoba untuk itu, sentuhannya membuat bulu kuduk sakura merinding. Darahnya mengalir deras dengan detak jantung berdetak semakin cepat


"Aroma mu sangat wangi sayang", bisik daichi di telinga sakura yang membuatnya merasa menggelitik.


Tidak tahan dengan sikap daichi yang terus mengganggunya, dia memutar badannya menghadap daichi.


"Ada apa sayang?"tanyanya dengan senyum yang sangat memprovokasinya.


"Bisakah jangan menggangguku saat ini?"tanya sakura dengan nada suara melas menatap daichi.


Dia hanya tersenyum mendengar nada suara sakura.


"Sebentar lagi jam makan malam daichi, aku harus memasak untuk makan malam kita. Bisakah kamu menggangguku nanti saja?"tanya daichi.


"Apa ini seperti sebuah negosiasi yang kamu tawarkan kepada suami mu?"tanya daichi dengan senyum yang mengembang di bibirnya.


"Bisa dikatakan seperti itu", jawab sakura.

__ADS_1


Dia mengulurkan tangannya ke rambut sakura sambil mengelusnya dengan lembut.


"Baiklah sayang, aku akan menunggunya", ucap daichi.


"Lebih baik kamu mandi sekarang, sebelum kita makan malam", ucap sakura yang memberikan saran kepada daichi.


"Kedengarannya ide yang bagus. Baiklah, aku mandi dulu", ucap daichi yang pergi meninggalkan sakura.


Perasaan begitu lega saat daichi telah pergi, setidaknya dia dapat melakukan pekerjaannya tanpa mendapatkan gangguan dari suaminya itu dan melanjutkan masakan yang ingin dimasaknya.


Sekitar setengah jam, semua masakan telah tersaji di meja makan dengan perlengkapan makan yang telah tersusun rapi.


"Apa sudah siap?"tanya daichi yang baru keluar dari kamar.


"Hmm.Duduklah", ucap sakura.


"Kelihatannya sangat lezat. Sudah lama sekali tidak memakan masakan istriku ", ucapnya.


"Kalau begitu makanlah yang banyak suamiku", ucap sakura.


"Tentu saja sayang ", jawab daichi yang mulai menyantap makanan yang dimasak sakura.


Tanpa henti sakura terus memandangi wajah daichi yang begitu lahap menyantap makanan yang dimasaknya.


"Kenapa terus melihat ku seperti itu?"tanya daichi dengan mulutnya yang penuh dengan makanan.


"Apa seenak itu? Kamu terlihat sangat lahap?"tanya sakura sambil menyanggah dagu nya.


"Tentu saja, ini semua sangat enak. Makanlah, jangan menatapku sebelum makannya dingin", ucap daichi.


"Hmm. Baiklah", jawab sakura yang ikut makan bersama daichi.


Kursi yang kosong itu kini telah kembali di duduki tuannya, meja makan yang beberapa hari ditinggalkan tak dihuni kini kembali berfungsi. Semua keadaan yang sempat berubah telah kembali seperti biasanya yang membuat sakura begitu bahagia.


°°°°°°°°


"Terima kasih tuan yun, seharusnya sayalah yang mengantar anda tetapi justru sebaliknya",ucap kimi.


"Tidak masalah nona kimi, saya bisa naik taxi nanti", ucap sekertaris yun.


Keduanya saling diam untuk sesaat.


"Masuklah nona kimi",perintah sekertaris yun.


"Hmm. Baiklah tuan yun. Hati - hati dan sekali lagi terima kasih", ucap kimi yang melangkah berjalan untuk masuk kedalam rumahnya.


"Nona kimi," panggil sekertaris yun.


"Ia..", jawab kimi yang reflek memutar badannya.


"Selamat beristirahat", ucapnya sambil tersenyum.


"Hmm. Saya masuk dulu", ucap kimi.


Dia membuka pintu rumahnya dan menutupnya kembali, menyandarkan badannya dibalik pintu. Matanya terpejam dengan nafasnya yang tak beraturan, dia terus memegangi dadanya merasakan jantungnya yang berdetak tidak biasanya saat bersama sekertaris yun.


"Perasaan apa ini?"ucapnya sambil memukul dadanya dengan tangan terkepal.


Dari balik tirai jendelanya dia mengintip keluar, memastikan keberadaan sekertaris yun.


"Dia masih ada", ucap kimi dengan satu tangannya yang menutupi mulutnya yang terbuka lebar.


Sekertaris yun hanya berdiri pada posisi awalnya, matanya fokus melihat kearah rumah kimi, namum saat dia menerima telepon di beranjak pergi dari tempat itu.


Sulit untuk digambarkan bagaimana perasan yang tengah dirasakan kimi. Baru mengalami kegagalan membuatnya sulit membedakan apakah itu rasa suka atau hanya pelampiasan dirinya saat mengalami masa - masa tersulit saat ini dan sekertaris yun hadir untuknya dengan kenyamanan yang diberikannya, tetapi secara keseluruhan dia merasa lebih nyaman dari yang disangkanya saat mengenal lebih dekat dan lebih dalam mengenai sosok sekertaris yun.


"Aku akan segera menemukan jawabannya", batin kimi.


•••••••


Selama beberapa menit mereka selesai makan. Sakura membersikan meja dan mencuci piring kotor sedangkan daichi pergi ke ruang tv. Setelah selesai menyelesaikan semuanya, dia menghampiri daichi dengan membawa buah apel yang telah dipotongnya.


"Ini",ucap sakura yang meletakan piring buah di atas meja tepat di depan daichi.

__ADS_1


"Terima kasih sayang", ucapnya yang fokus menonton siaran berita di malam hari.


Sakura mencoba menyimak berita yang disiarkan dan sesekali dia menguap saat rasa kantuknya mulai menyerang dirinya. Lembur beberapa hari karen sibuk menyiapkan bahan presentasinya, sepertinya malam inilah semua nya terbalaskan saat tak ada lagi yang menghalanginya untuk tidur.


"Daichi", ucap sakura.


"Ia sayang", jawab daichi tanpa memandangnya.


"Aku kekamar duluan ya, aku sangat mengantuk", ucap sakura yang kembali menguap.


"Baiklah sayang. Aku akan segera menyusul nanti", jawab daichi yang begitu serius menonton TV.


Dia beranjak pergi meninggalkan rungan TV menujuh kekamarnya dan saat didalam kamar matanya tertujuh kepada tempat tidur yang terlihat begitu empuk dari biasanya akibat rasa kantuk yang dirasakannya saat ini.


"Baiklah, sebaiknya aku mencuci muka ku dulu sebelum tidur ", ucapnya.


Didalam kamar mandi dia membasuh wajahnya, menggosok giginya yang menjadi rutinitasnya sebelum tidur serta mengganti pakaiannya dan tak lupa memakai cream untuk wajahnya yang sensitif.


Setelah menyelesaikan segala rutinitasnya tersebut, akhirnya dia menjatuhkan tubuhnya di atas kasur empuk yang terasa begitu nyaman. Seakan terhipnotis dengan ranjang tidur tersebut, perlahan kedua matanya mulai tertarik hingga akhirnya dia tidur terlelap.


Wajahnya terlihat gelisah dengan keringat yang bercucuran membasahi seluruh wajahnya. Terjebak dalam mimpi buruk, terlihat sebuah cahaya yang menyilaukan kedua matanya dan dengan pandangan samar - samar di seberang jalan terlihat daichi yang sedang berdiri. Dia mencoba memanggil daichi, namum dia pergi menjauh dari sakura.


Melihat daichi yang terus berjalan menjauhinya, dia berjalan mengejar daichi yang melangkah semakin cepat meninggalkannya, hingga cahaya terang tersebut berubah menjadi kegelapan yang begitu menyeramkan dengan sekuat tenaga di terus berteriak memanggil nama daichi, namun di tidak pernah kembali.


"Daichi!!!!!!!! teriak sakura.


Begitu ketakutannya hingga membangunkan tidurnya ditengah malam.


Mendengar teriak sakura dari dalam kamar, daichi langsung berlari kekamar untuk melihat keadaan sakura.


"Ada apa sayang?"tanya daichi yang menghampiri sakura


"Daichi", ucap sakura yang membentangkan kedua tangannya dengan isak tangis diwajahnya.


"Apa yang terjadi sayang?"tanya daichi sambil memeluk sakur dan menenangkannya.


"Se-buah mimpi dan itu mimpi yang sangat buruk", ucap sakura dengan panik.


"Mimpi apa?"tanya daichi yang masih memeluk sakura.


Sakura melepaskan dirinya dalam pelukan daichi agar bisa melihat wajahnya.


"Ka- mu pergi mening-galkan ku", ucap sakura dengan suara yang sendu.


Mimpi yang membuat perasaan sakura menjadi begitu cemas saat melihat daichi, namun dia sama sekali tak bisa menjangkaunya hingga bayangannya menghilang dalam kegelapan.


"Ussss! Itu hanyalah mimpi sayang", ucap daichi.


"Aku sangat takut jika mimpi itu terjadi. Ka-mu a-kan pergi meninggalkan ku sendirian", ucap sakura yang mulai meneteskan air matanya.


Dia kembali menarik sakura dalam pelukannya.


"Dengar, aku tidak akan pernah meninggalkanmu apapun yang terjadi. Kita akan bersama selamanya bahkan jika suatu saat kamu yang meninggalkan ku, aku akan tetap bersama mu karena hatiku hanya untuk mu", ucap daichi.


Dia mencoba meyakinkan sakura bahwa apa yang ada didalam mimpinya tidak akan pernah terjadi dan akan selamanya menjadi mimpi dan berusaha agar sakura melupakan mimpinya.


"Berjanjilah kepadaku bahwa kamu tidak akan pernah meninggalkan ku", pinta sakura.


"Aku berjanji tidak akan pernah meninggalkanmu apapun yang terjadi,kecuali..", ucap daichi yang menggantung kalimatnya.


"Kecuali apa?"tanya sakura yang mengangkat wajahnya menatap daichi.


"Kecuali kamu tidak bahagia bersama ku dan kamu yang meminta ku untuk meninggalkanmu", ucap daichi.


"Aissss! Itu tidak akan pernah terjadi", ucap sakura.


"Kalau begitu kita akan selamanya bersama karena aku juga tidak akan pernah meninggalkan mu", ucap daichi.


"Hmm", ucap sakura yang memeluk menyandarkan kepalanya di dada daichi.


"Tidurlah, aku disini menjaga mu", ucap daichi sambil menepuk- nepuk punggung sakura.


Berada didalam dekapan daichi memberikan rasa nyaman untuknya, dia mulai memejamkan kedua matanya mencoba tidur lagi. Berharap tidak akan pernah mendapatkan mimpi buruk seperti itu lagi hingga membangunkannya di tengah malam.

__ADS_1


Bersambung......


Author cuma berharap kalian mau memberikan VOTE kalian untuk author, jangan pelit - pelit dong. Heheheheh


__ADS_2