
"Aku ingin mencoba memaafkan mu, meski hati ini masih terasa sakit. Memaafkan mu bukan berarti melupakan semua yang telah terjadi, aku hanya ingin mencoba berdamai dengan hati dan perasaanku",
Sakura Agata
°
°
"Kakak, aku harus kembali sekarang", ucap sakura.
"Baikalah kalau begitu kakak akan mengantarmu kebawah", ucap rici yang bangkit dari kursinya.
"Usssssttt, kakak tidak perlu mengantarku ", ucap sakura sambil mengangkat tangan kanannya dan mengarahkannya kepada rici sebagai bentuk penolakan.
"Apa kamu yakin?" tanya rici
"Tentu saja kak, aku tidak akan tersesat dirumah sakit ini. Lebih baik kakak melanjutkan pekerjaan kakak karena aku sudah menggangu waktu kakak dari tadi", ucap sakura sambil tersenyum kepada rici.
"Baiklah kalau kamu menolak untuk kakak antar", jawab rici yang begitu pasrah.
"Kalau begitu aku pulang duluh ya kak", ucap sakura sambil mencium pipi kakaknya.
"Hati-hati dijalan", ucap rici.
"Oke kak", jawab sakura dengan tersenyum kepada rici.
Sakura meraih tasnya yang ada di meja, dia mulai beranjak pergi meninggalkan ruangan tersebut, tetapi tiba-tiba rici kembali memanggil namanya.
"Sakura", ucap rici.
Mendengar namanya di panggil, tentu saja membuat sakura berhenti dan mengarahkan pandangnya kepada rici.
"Ia kakak", Sahut sakura dengan suaranya yang begitu lembut.
"Jika kamu memiliki waktu kosong , datanglah kerumah. Shinzi dan kakak mu Sena pasti sangat senang dengan kehadiranmu", ucap rici.
Sakura yang mendengar permintaan kakaknya hanya tersenyum.
"Baiklah kakak,ucap sakura sambil tersenyum.
Dia pun kembali melangkahkan kedua kakinya dan berjalan keluar meninggalkan ruangan rici. Sakura tiba dilantai satu rumah sakit itu, dia berjalan menujuh keluar. Namun situasi begitu sangat ramai, mobil ambulance terus berdatangan dengan membawa pasien yang terluka begitu parah dengan darah yang bercucuran di wajahnya. Melihat hal itu membuat sakura merasa begitu lemas, dia tidak tahan melihat darah.
Mereka mendorong pasien tersebut keruang UGD dirumah sakit, sakura merasa begitu penasaran apa yang telah terjadi dengan pasien tersebut. Apakah terjadi tabrakan beruntun atau kecelakaan saat bekerja. Dia berjalan secara perlahan kearah ruang UGD yang tampak begitu sangat ramai. Dia melihat dari luar pintu yang sedikit terbuka, banyak orang yang tergeletak ditempat tidur dengan darah yang terus keluar.
Dia terus memperhatikan disekeliling ruangan UGD yang tampak begitu sibuk, terlihat sosok yang tidak asing bagi sakura dan sepertinya dia mengenalnya.
"Re-i ", ucapnya dengan suara yang begitu pelan dan terus memandang kearah pria tersebut.
Pria yang tadi bertemu dengan sakura tampak begitu berbeda dengan yang dilihatnya sekarang, wajahnya begitu sangat serius saat menangani pasiennya. Dia memiliki dua sisi yang berbeda saat mengenakan seragam dokternya dan saat melepas seragam dokternya.
__ADS_1
"Permisi", ucap seseorang perawat yang ingin masuk kedalam, tetapi terhalang oleh sakura yang berdiri di depan pintu.
"Yah, ucap sakura. Dia menoleh ke arah belakangnya dan langsung dengan refleks mundur dari tempatnya ketika melihat perawat tersebut membawa peralatan medis.
"Maaf", ucap sakura sambil menundukkan kepalanya.
"Apa keluarga anda ada didalam?" tanya perawat tersebut.
Tampaknya perawat tersebut baru bekerja dirumah sakit wongdo karena dia tidak mengenali Sakura Agata. Bisa dibilang wajah sakura begitu familiar di kalangan dokter atau perawat yang sudah lama bekerja dirumah sakit tersebut. Dia sering berkunjung, bahkan selalu aktif dalam kegiatan yang dilakukan rumah sakit Wongdo. Apa lagi dia adalah adik dari direktur rumah sakit itu.
"Akhhh, tidak kebetulan saya tadi hanya lewat dan penasaran apa yang terjadi dengan mereka,"ucap sakura.
"Oh, mereka mengalami kecelakaan beruntun di jalan Gosan dan keadaan mereka begitu sangat parah", ucap perawatan tersebut.
"Astaga, Ucap sakura sambil melihat kedalam ruangan UGD tersebut.
"Baiklah nona, saya permisi dulu. Dokter Rei sudah menunggu alat ini dari tadi", ucapnya.
"Yaaah, silakan", ucap sakura sambil memberinya jalan untuk perawat tersebut.
Sakura pun meninggalkan tempat tersebut dan berjalan menujuh parkiran mobilnya. Hujan yang tadinya begitu deras kini tinggal tersisa rintik-rintikan hujan yang membasahi kepala sakura.Dia pun pergi meninggalkan rumah sakit tersebut dan berjalan menujuh arah pulang kerumah kediaman Agata.
•••••••
Kediaman Agata 🏡
Sakura tiba dirumahnya dan berjalan masuk kedalam rumah, kehadiran sakura disambut salah satu pelayan wanita yang bekerja di kediaman Agata.
"Selamat malam,ucap sakura sambil tersenyum.
Terdengar suara yang begitu berisik dari arah ruang keluarga.
"Apakah ada tamu yang datang?"tanya sakura sambil melepaskan mantel yang dikenakannya.
"Tidak nona sakura", ucap pelayan tersebut.
"Benarkah? Terdengar begitu berisik", ucap sakura sambil memberikan mantelnya kepada pelayan wanita tersebut.
"Nona Yuka datang berkunjung nona dan sekarang ada di dalam", ucap pelayan itu sambil mengambil mantel yang diberikan sakura kepadanya.
"Ada kak Yuka, baiklah Terima kasih ucap sakura kepada pelayan tersebut.
Sakura berjalan menujuh ruang tamu untuk menyapa anggota keluarganya,
"Selamat malam semuanya", ucap sakura.
Yuka dan saru langsung mengalihkan pandangannya kepada sakura yang baru saja datang.
"Sakura, kamu sudah pulang sayang", ucap saru.
__ADS_1
"Kemarilah sakura,"ucap Yuka yang tampak bahagia sekali.
"Ada apa ini?" Apa yang sedang kalian lihat?" tanya sakura yang begitu penasaran.
"Lihat ini, apa kamu menyukainya? tanya Yuka yang menunjukan kepada sakura.
"Apa ini kak?" Sakura Masih belum mengetahui apa yang ditunjukkan Yuka kepadanya.
"Ini adalah undangan pernikahanmu sayang? Apa kamu menyukainya?" tanya Yuka kepada sakura yang tiba-tiba terdiam tanpa menunjukan ekspresi bahagia atau pun antusiasnya.
"Undangan?" ucap sakura dengan nada yang datar sambil menatap undangan yang ada ditangannya.
"Ia sayang, satu bulan lagi hari pernikahan mu. Ibu meminta kakakmu untuk membantu ibu dalam memilih desain undangan pernikahan kamu karena ibu sangat bingung untuk memilih sendiri", ucap saru.
"Yah karena ibu tau kamu begitu sibuk dan tidak ingin menggangu pekerjaanmu. Jadi ibu meminta bantuan Kakak Yuka dan kakak memilih desain undangan berwarnah putih ini. "Bagaimana menurutmu?? ", tanya Yuka.
"Hmmm, terserah kalian saja kak", ucap sakura sambil meletakan undangan yang ada padanya di atas meja.
Melihat tanggapan sakura yang begitu dingin mengenai persiapan pernikahannya membuat saru berusaha untuk memberikan pengertian kepada putrinya. Saru tentu paham apa yang membuat sakura seakan tidak peduli sama sekali dengan persiapan pernikahannya dan menyerahkan sepenuhnya kepada dia dan kedua kakak iparnya.
"Putri ku", ucap saru yang bangkit dari tempat duduknya dan membelai rambut sakura begitu lembut.
"Dengar sayang, ini adalah pernikahan mu yang hanya akan terjadi sekali di dalam hidup mu sayang. "Apa kamu tidak ingin mewujudkan mimpi-mimpi yang kamu inginkan selama ini mengenai pernikahan di pernikahan mu yang akan berlangsung bulan depan?" tanya saru sambil menatap wajah sakura.
Sakura hanya diam saat mendengar pertanyaan yang diberikan ibunya kepadanya. Tentu saja dia ingin menikah sesuai dengan impiannya, menikah dengan mengenakan gaun putih yang panjang, pesta pernikahan yang diselenggarakan diruang terbuka dengan tamu undangan hanya orang-orang terdekatnya dan tentu saja menikah dengan pria yang dicintainya dan mencintainya, tetapi dia harus mengubur dalam- dalam semua impiannya.
Dia harus menikah dengan pria pilihan kakeknya, mengikuti semua aturan yang diberikan keluarganya untuknya. Dimana tempat pernikahan diselenggarakan, siapa tamu yang harus diundang semua harus berdasarkan perintah dari kakeknya karena pernikahannya adalah sebuah bisnis bagi perusahan Agata dan Tama.
Biasanya dalam membangun sebuah hubungan pondasi awal yang harus dimiliki pasangan adalah perasaan cinta satu sama lain, tetapi hal itu tidak berlaku bagi keluarga Agata dan Tama bagi mereka pondasi yang paling penting adalah dari keluarga mana dia berasal dan apa marga yang di sandanganya. Itu adalah prinsip dasar kedua keluarga tersebut dalam membangun sebuah hubungan.
"Ibu, sejak kakek menjodohkan diriku. Semua impian yang kumiliki sudah ku kubur dalam-dalam", suara sakura begitu lantang kepada ibunya dengan sorot matanya yang menatap ibunya.
"Sa-kura", saru tampak sedih mendengar ucapan putrinya tersebut.
"Sudahlah Bu, aku baik-baik saja sekarang. Lakukanlah apa yang menurut kalian baik, aku pasti menyukai Setiap pilihan kalian karena aku tau kalian pasti akan melakukan yang terbaik untuk ku", ucap sakura sambil tersenyum kepada saru.
Dia tidak ingin menunjukan kesedihannya didepan ibunya, sakura tidak ingin membuat ibunya kepikiran dengan dirinya dan berpura-pura seakan dia sudah menerima pernikahannya dengan ikhlas.
"Aku ingin mandi dulu, rasanya badanku begitu sangat gerah ", ucap sakura.
"Yah sakura mandilah dulu, sebentar lagi kita akan makan malam bersama", ucap Yuka.
" Ia sebantar lagi kakek, ayah, dan kakakmu pulang",ucap saru .
"Baiklah, aku kekamar dulu", ucap sakura sambil berjalan meninggalkan Yuka dan ibunya.
Sakura baru menyadari bahwa pernikahannya tinggal sebantar lagi, dia yang selama ini dikenal dengan nama Sakura Agata akan berubah menjadi Sakura Tama. Dia akan menyandang nama Tama di belakang namanya dan menjadi seorang Nyonya Daichi Tama.
Pembaca setia ku, terima kasih atas masukan yang kalian berikan kepada saya. Semua masukan yang kalian berikan akan menjadi motivasi buat saya dalam menulis novel saya. Jangan lupa untuk selalu like,coment apa saja yang ingin kalian tulis dan yang paling penting vote untuk saya.🥰🌸
__ADS_1
Bersambung...