
Bim!, Bim! .....( Bunyi klakson)
"Itu pak Hans ", ucap daichi yang bangkit dari bangkunya
Sakura hanya diam, dia masih mencoba menenangkan pikirannya tentang apa yang baru saja terjadi. Dia melirik daichi yang begitu santai seakan tidak terjadi apa-apa diantara mereka, sakura sama sekali tidak habis pikir melihat sifat daichi yang begitu santai.
Seorang pria turun dari dalam mobil dengan mengenakan sebuah payung dan satu payung di tangan, dia berjalan menujuh tempat dimana daichi dan sakura menunggu.
"Maafkan saya membuat anda menunggu lama", ucap pak hans.
"Sudahlah, tidak masalah ", ucap daichi.
"Ini tuan payungnya", ucap pak Hans sambil memberikan sebuah payung kepada daichi.
Dia mengarahkan pandangannya kepada sakura yang masih pada posisinya tanpa bergerak sedikit pun.
"Ayok sakura", ucap daichi sambil mengulurkan tangannya.
Sakura yang dari tadi masih termenung, mengangkat kepalanya dan melihat daichi yang berada tepat di hadapannya sedang menantikan uluran tangan sakura kepadanya.
Dengan perlahan dia mengulurkan tangannya dan menempelkannya di telapak tangan daichi sambil bangkit dari bangku.
"Sebentar aku akan membuka payungnya", ucap daichi.
Daichi membuka payung itu, pandangannya kembali tertujuh kepada sakura yang dari tadi hanya memperhatikan daichi. Dia menarik sakura dalam rangkulan tangannya dengan semburat senyuman yang terpancar dari wajahnya saat melihat sakura.
"Ayok kita pergi", ucap daichi.
Mereka berjalan bersama dalam rintikan air hujan yang jatuh membasahi kota itu menujuh ke mobil yang tepat terparkir di depan mereka dengan diikuti pak Hans dari belakang.
Daichi membukakan pintu mobil untuk sakura,
"Masuklah", ucap daichi.
Sakura pun masuk kedalam mobil dengan diikuti oleh daichi beserta pak Hans yang sudah siap di bangku pengemudi.
"Apa kita sudah bisa berangkat tuan?" tanya pak Hans
"Hmmm", jawab daichi.
Mereka pun meninggalkan tempat itu menujuh kediaman keluarga Tama, menerobos rintikan hujan yang semakin lama semakin deras dengan diiringi suara gemuruh petir.
"Pak Hans,hati-hati", ucap sakura
"Ia nona", jawab pak Hans.
Hujan yang begitu deras membuat sebagian jalanan tergenang banjir yang mengakibatkan terjadi kemacetan panjang.
"Macet sekali! ucap sakura yang melirik dari kaca.
"Apa tidak ada jalan lain pak Hans?" tanya daichi.
"Ada tuan, tapi menurut saya itu sama saja dengan jalan ini. Pasti disana juga macet," ucap pak Hans.
"Kita akan lama sampai kerumah", ucap sakura.
"Bersabarlah", ucap daichi sambil memegang tangan sakura.
Hampir sekitar satu jam mereka menempuh perjalanan melewati jalanan macet dan akhirnya mereka tiba di rumah, mereka berdua turun dari dalam mobil.
"Terima kasih pak Hans", ucap sakura
"Sama-sama nona sakura", ucap pak Hans
"Pak Hans kamu sudah bisa pulang, beristirahatlah",ucap daichi.
"Baik tuan daichi", jawab pak Hans.
Mereka pun berjalan masuk kedalam rumah, saat mereka tiba Imoto menyambut kedatangan mereka dari wajah nya terlihat dia begitu cemas.
__ADS_1
"Akhirnya kalian pulang juga", ucap Imoto.
"Selamat malam bu",. ucap sakura
"Selamat malam sayang", jawab Imoto.
"Dimana ayah?" tanya daichi.
" Dia ada di ruang kerjanya", ucap Imoto.
"Pakaian mu basah sakura", ucap Imoto
"Ia ibu, hujannya tadi begitu deras", jawab sakura
"Yasudah, kamu harus menggantinya dan mandi. Nanti kamu bisa masuk angin dan sakit sayang", ucap Imoto.
"Baik Bu, kalau begitu aku ke kamar duluh", ucap sakura sambil melirik daichi.
"Pergilah, aku ingin bertemu dengan ayah sebentar", ucap daichi.
"Hmmmmm", jawab sakura.
Sakura pun pergi meninggalkan ibu mertua dan suaminya menujuh ke kamarnya. Dia meletakan tas dia atas kasur dan berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya.
Setelah selesai, dia meraih sebuah handuk berwarnah putih yang tergantung dan membalut tubuhnya dengan handuk tersebut.
"Astaga"! Aku lupa membawa pakaianku", ucap sakura.
Dia berjalan ke arah pintu, menempelkan telinganya di pintu untuk memastikan bahwa daichi tidak ada diluar.Saat dia merasa situasi aman, dia membuka pintu kamar tersebut sambil mengintip dan dengan terburu-buru berjalan kearah sebuah lemari untuk mengambil bajunya.
Tiba-tiba saja terdengar seseorang membuka pintu, sakura begitu panik hingga membuat pakaiannya jatuh ke lantai. Sakura membungkukan badannya untuk mengambil pakaian yang jatuh ke lantai.Pintu itu terbuka dan seseorang berjalan masuk kedalam, kedua mata daichi tercengang saat melihat sakura hanya mengenakan handuk dengan rambut panjangnya yang terlihat acak-acakan dan tampak masih basah. Daichi mencoba menahan dirinya, tatapannya masih tertujuh kepada sakura yang terlihat begitu menggodanya dengan hanya di balut sehelai handuk.
Sakura mengambil baju yang jatuh kelantai dan langsung berdiri, dia hanya diam dan menundukkan kepalanya. Perasaannya begitu malu, dia mencoba merapikan handuk yang menempel di tubuhnya dan menggenggam handuk itu dengan begitu erat supaya tidak terlepas dari tubuhnya.
"A-ku hanya ingin mengambil pakaian ku", ucap daichi yang berjalan kearah sakura.
Sakura hanya menganggukkan kepalanya tanpa menatap wajah daichi. Dia berjalan melewatinya menujuh kearah lemari untuk mengambil piyama tidurnya, sesekali daichi melirik sakura yang membelangkanginya, dia begitu tercengang melihat begitu indahnya tubuh sakura yang begitu putih dengan lekukkan tubuhnya terlihat seksi.
" Aku akan mandi di kamar tamu", ucap daichi dengan pandangan matanya yang terlihat liar melihat tubuh sakura.
"Hmmm", jawab sakura yang hanya menundukkan kepalanya.
Daichi pun melangkah berjalan kearah pintu untuk meninggalkan kamar tersebut, dia membuka pintu kamar itu dan menutupnya kembali dengan sedikit keras.
Brakk!!!!!!
Melihat daichi yang telah pergi, sakura menarik napasnya dengan begitu lega.
"Bodoh!,,,,,. Bodoh! ", ucap sakura sambil memukul-mukul kepalanya dengan pelan.
Sakura merasa dirinya telah melakukan hal yang memalukan, dia mengambil pakaiannya dan berlari kedalam kamar mandi untuk mengganti pakain nya sebelum daichi kembali.
Daichi berjalan menujuh ke kamar tamu untuk mandi disana, dia membuka pakaiannya dan berjalan ke dalam kamar mandi. Dia membasahi seluruh tubuhnya dan rambutnya dengan air yang berasal dari shower, dia mencoba menghilangkan pikiran-pikiran kotornya yang terlintas saat melihat sakura. Dia menutup kedua matanya sambil menikmati setiap tetasan air yang membasahi dirinya, namun saat kedua matanya tertutup bayangan sakura terus muncul di ingatannya.
"Kenapa kamu terus muncul dipikiran ku sakura", ucap daichi.
Dia mematikan keran shower itu dan mengambil sebuah handuk yang tergantung, selepas mengeringkan badannya dia mengenakan piyama yang diambilnya tadi. Dia kembali berjalan menujuh kekamarnya untuk beristirahat, saat tiba di depan kamar kali ini dia mencoba mengetuk pintu kamar itu agar kejadian yang terjadi tadi tidak terulang.
Tok......Tok,....Tokk...
"Apa aku bisa masuk?" tanya daichi dengan suaranya yang sedikit serak.
Sakura mengarahkan pandangannya kearah pintu kamarnya saat mendengar suara seseorang yang terdengar dari luar.
"Masuklah! ( Teriak sakura dari dalam kamar)
Pintu itu terbuka daichi masuk dan menutup kembali pintu kamar itu dengan perlahan. Dia melihat sakura yang sedang menyisir rambutnya dan berjalan menghampiri sakura. Dia memegang pundak sakura dan mencium rambut sakura.
"Wangi sekali", ucap daichi dengan wajahnya yang masi menempel di atas kepala sakura.
__ADS_1
"Apa yang sedang kamu lakukan?" tanya sakura yang melihat daichi dari cermin.
"Ssssttt,,, Biarkan aku menikmati aroma rambutmu yang wangi", ucap daichi.
Sakura membiarkan daichi mencium rambutnya sambil mengenakan cream wajahnya di malam hari. Sampai ponsel daichi berbunyi dan membuatnya beranjak meninggalkan sakura. Dia berjalan kearah balkon kamar untuk menjawab panggilan telepon yang dari tadi terus berbunyi.
"Hallo", ucap daichi.
"Selamat malam tuan daichi", ucap sekertaris Yun.
"Ada apa sekertaris Yun?" tanya daichi yang sesekali melirik sakura yang masih duduk di meja riasnya.
"Saya baru saja dihubungi oleh sekertaris tuan Geral bahwa dia ingin bertemu dengan anda besok dikantor tuan", ucap sekertaris Yun.
"APA"! ( Teriak daichi)
"Apa kamu tidak memberitahukannya bahwa aku masih cuti?" tanya daichi .
"Saya sudah memberitahukannya tuan, tetapi tuan Geral tetap ingin bertemu dengan anda selagi dia masih di negara ini", ucap sekertaris Yun.
Daichi tampak kebingungan saat ini, dia melirik sakura. Dia bingung bagaimana mengatakannya kepada sakura bahwa besok dia harus bekerja, dia takut sakura akan marah karena dia harus meninggalkan sakura sendirian.
"Hallo,, Tuan daichi. " Apa anda Masih disana?" tanya sekertaris Yun.
"Hmm, aku masih disini.Baiklah katakan padanya aku akan menunggunya dikantor besok", ucap daichi.
"Baik tuan daichi", ucap sekertaris Yun.
Daichi menutup teleponnya, sakura yang melihat daichi sudah selesai mengangkat telpon berjalan menghampiri daichi yang masih berada di balkon kamar.
"Siapa yang menelepon?" tanya sakura.
"Sekertaris Yun", ucap daichi.
"Apa ada masalah? tanya sakura.
"Hmmm, sedikit", ucap daichi sambil mengelus-elus rambut sakura.
"Apa aku boleh tau masalahnya?" tanya sakura yang menatap wajah daichi.
"Seorang client meminta untuk bertemu selagi dia ada disini besok", ucap daichi sambil memperhatikan raut wajah sakura.
"Lalu apa masalahnya?" tanya sakura.
"Jika aku pergi kekantor besok, kamu akan sendirian disini", ucap daichi.
Sakura hanya tersenyum mendengar perkataan daichi, dia meraih tangan daichi yang dari tadi mengelus-elus rambutnya.
"Pergilah, aku sama sekali tidak masalah jika kamu tinggal", ucap sakura.
"Apa kamu yakin?" tanya daichi.
"Tentu saja, ada ibu yang akan menemani ku disini", ucap sakura.
Daichi menarik tangan sakura dan mendekapnya di dalam pelukannya. Dia merangkulkan kedua tangannya memeluk tubuh sakura dengan begitu erat, sangkin eratnya membuat sakura kesulitan dalam bernapas.
"Jika kamu memelukku seperti ini, aku tidak bisa bernapas daichi", ucap sakura.
"Maafkan aku", ucap daichi yang melonggarkan pelukannya.
Dia menatap wajah sakura dan tersenyum kepada sakura,
"Terima kasih sudah menjadi istriku sakura", ucapnya dan kembali memeluk sakura.
"Terima kasih sudah menjadi suami ku daichi", jawab sakura.
Mendengar jawaban sakura membuat daichi tertawa, keduanya saling bertatapan dan tertawa bersama-sama sambil menikmati pemandangan malam hari di balkon kamar mereka dengan angin yang bertiup kencang.
Pembaca setia ku, terima kasih atas masukan yang kalian berikan kepada saya. Semua masukan yang kalian berikan akan menjadi motivasi buat saya dalam menulis novel saya. Jangan lupa untuk selalu like,coment apa saja yang ingin kalian tulis dan yang paling penting vote untuk saya.🥰🌸
__ADS_1
Bersambung..