Pernikahan Yang Dijodohkan

Pernikahan Yang Dijodohkan
Episode 123


__ADS_3

Hari menjelang malam, kesibukan telah terlihat di apartemen sakura dan lebih tepatnya di dapur untuk menyiapkan hidangan makan malam. Sakura begitu sigap di dapur, tangannya begitu lihai menggunakan pisau dapur dan berbanding terbalik dengan kimi yang terlihat kebingungan saat harus mengupas bawang.


"Kimi, ap yang sedang kamu lakukan?"tanya sakura yang menghampirinya.


"Saya sedang mencoba mengupas bawang ini", ucap kimi.


"Bukan seperti itu cara mengupas bawangnya kimi. Berikan bawangnya, aku akan menunjukkan bagaimana cara mengupas bawang yang benar", ucap sakura.


Dia mulai memberikn contoh kepada kimi, membelah bagian tengah kulit bawang tersebut hingga dengan mudah kulit bawah tersebut dilepas.


"Ah, jadi harus dibelah sedikit ya nona?"tanya kimi.


"Benar kimi, dengan begitu akan jauh lebih mudah mengupas kulitnya", jelas sakura.


"Anda sangat hebat nona, tidak hanya jago dalam mendesain baju anda bahkan begitu jago dalam urusan dapur", ucap kimi.


"Dengar kimi, kita adalah seorang wanita. Sehebat apapun pekerjaan dan karir yang kamu miliki, tapi jangan sampai melupakan tugas dan tanggung jawab sebagai seorang istri yaitu mengurus suami dan keluarga", ucap sakura.


"Saya harap kelak jika saya menikah, saya bisa seperti anda nona", ucap kimi.


"Kamu pasti bisa jika kamu benar- benar ingin melakukannya kimi", jawab sakura yang memegang pundak kimi.


"Terima kasih nona sakura", ucap kimi.


"Yasudah, lebih baik kita lanjutkan pekerjaan kita sebelum mereka datang", ucap sakura.


"Iya nona", jawab kimi.


Sembari menunggu masakannya, dia menyusun beberapa belanjaan yang belum sempat di susunnya semalam karena kelelahan, kemudian melumuri garam , lada dan perasan jeruk lemon pada ikan hang hendak di gorengnya.


"Nona ingin anda apakan kepiting ini?"tanya kimi.


"Ah, aku ingin membuat sup kepiting kimi, tapi setelah aku selesai menggoreng ikan dulu", jawab sakura.


"Apa yang harus saya lakukan lagi nona?"tanya kimi


"Bisakah kamu mengiris jagung itu? Aku akan mencampurkannya nanti kedalam sup kepiting nya", ucap sakura.


"Tentu saja nona, aku akan melakukannya", ucap kimi yang mengambil jagung yang berada tak jauh dari dirinya dan mengiris sesuai permintaan sakura.


Mata sakura melihat sekilas kearah jendela yang terlihat gelap, dia melihat jam yang menunjukkan pukul 7 malam.


"Astaga sebentar lagi daichi akan pulang", ucapnya yang mulai panik saat makanan belum siap semua.


Wajahnya terlihat bingung memikirkan sesuatu yang terlupakan olehnya, kepanikan yang dirasakannya membuat konsentrasinya sedikit buyar. Kimi yayang berada di depannya melihat sakura yang terlihat kebingungan dengan apa yang dibutuhkannya.


"Nona sakura, apa yang sedang anda cari?"tanya kimi.


"Entahlah kimi, aku tiba- tina saja lupa", jawab sakura.


"Tenang nona, anda jangan panik. Coba tarik napas agar anda tenang", ucap kimi.


"Kamu benar kimi", ucap sakura yang mencoba menenangkan dirinya.


"Bagaimana nona, apa anda sudah ingat?"tanya kimi.


"Iya kimi, aku ternyata ingin mengambil telur", jawab sakura.


Kimi hanya tertawa saat melihat tingkah sakura, dia berjalan kearah kulkas untuk mengambil telur yang dibutuhkannya.


"Tenanglah nona, semua akan selesai", ucap kimi.


"Iya kimi, aku terlalu mudah panik", jawab sakura.


Satu persatu menu makanan selesai dimasak, sakura dibantu oleh kimi mulai menata makanan yang telah selesai di atas meja makan, sambil menata peralatan makan yang akan mereka gunakan.


"Akhirnya siap juga nona", ucap kimi yang terlihat lega.


"Iya kimi, tinggal menunggu sup kepitingnya saja", ucap sakura.


"Nona, biar saya saja yang melihatnya. Lebih baik anda sekarang bersiap-siap sebelum tuan daichi pulang", ucap kimi.


"Apa tidak apa-apa kimi?"tanya sakura yang merasa tidak enak menyerahkan tanggung jawabnya kepada kimi.


"Tentu saja nona, serahkan semua pada saya", ucap kimi yang penuh dengan keyakinan meskipun dia sama sekali tidak bisa memasak.


"Kimi, kamu hanya perlu mengaduknya saja karena semua bahan dan bumbunya sudah aku masukan semua. Sekitar 15 menit lagi kamu bisa mematikan apinya", jelas sakura.


"Baik nona, saya mengerti", jawab kimi.


"Kalau begitu saya tinggal dulu ya", ucap sakura yang pergi kekamarnya.


Kimi kembali ke dapur, melakukan semua yang dikatakan sakura mengaduk sup tanpa menambah apapun lagi kedalam supnya.


"Hmm. Wangi sekali, aku jadi tidak sabar mencicipinya", ucap kimi yang mencium aroma dari sup kepiting tersebut.


Ting..Tong...Ting..Tong...


"Sepertinya tuan daichi sudah pulang", ucap kimi.

__ADS_1


Dia mematikan api kompor tersebut sesuai arahan sakura yang menyuruhnya mematikan apinya setelah 15 menit, lalu dia bergegas untuk membukakan pintu untuk daichi dan saat pintu itu terbuka dia terlihat kaku saat matanya bertemu dengan mata sekertaris yun tanpa disengaja.


"Kimi", ucap daichi yang terlihat kaget bahwa yang membukakan pintu bukanlah sakura.


"Selamat malam tuan daichi. Silakan masuk", ucap kimi.


"Dimana sakura?"tanya daichi yang mencari - cari keberadaan istrinya tersebut.


"Nona sakura ada dikamar tuan sedang bersiap-siap", jawab kimi.


"Baiklah kalau begitu saya tinggal dulu", ucap daichi yang pergi kekamarnya.


"Baik tuan", jawab sekertaris yun


Selama beberapa menit mereka hanya diam tanpa beranjak dari tempat mereka berdiri saat ini. Situasi begitu canggung terjadi antara kimi dan sekertaris yun, ingin rasanya kimi memulai pembicaraan kepada sekertaris yun, tapi entah mengapa rasanya dirinya tak memiliki keberanian untuk menatap matanya.


Bagaimana kabar anda non kimi?"tanya sekertaris yun yang memulai pembicaraan setelah mengulur waktu dari tadi.


"Sa-ngat baik tuan yun", jawab kimi yang terlihat begitu gugup.


"Baguslah kalau begitu", ucap sekertaris yun.


"Bagaimana de-ngan an-da tuan yun?"tanya kimi dengan ragu-ragu.


"Saya sangat baik nona kimi", jawab sekertaris yun.


Keduanya kembali di dalam keheningan.


"Maaf tun yun, saya harus ke dapur dulu. Ada masakan yang harus saya hidangkan", ucap kimi.


"Silakan nona kimi", ucap sekertaris yun.


••••••


Didalam kamar, dia menemukan wanita yang dari tadi dicarinya. Dia melihat sakura yang mengenakan gaun putih sedang duduk di meja riasnya menata rambutnya dan mengenakan makeup. Begitu sibuk dengan dirinya hingga dia tidak menyadari kehadiran daichi di dalam kamar tersebut.


"Sayang", sapa daichi yang berjalan menghampiri sakura.


"Daichi, kamu sudah pulang",ucap sakura yang langsung berdiri menyambut suaminya.


Keduanya saling menatap melemparkan senyuman, perhatian daichi nyaris teralihkan menatap wajah cantik yang dimiliki sakura. Seperti seorang malaikat itulah yang ada dalam pikiran daichi saat melihat wajah indah sakura yang mampu membuat dirinya begitu terpesona.


"Kenapa wajahmu begitu cantik?"tanyanya dengan tangan yang mengelus lembut wajah sakura.


Sakura hanya senyum saat mendengarkan pertanyan yang diberikan daichi.


keduanya saling tersenyum dan memandang satu sama lain, daichi meraih tangan sakura dan mendaratkan kecupan singkat ditangannya.


"Terima kasih telah menjadi istriku",ucap daichi, suaranya terdengar begitu tulus saat mengucapkan kalimat tersebut.


"Dan terima kasih juga telah menjadi suamiku", balas sakura yang tersenyum menatap mata indah daichi


Keduanya hanyut dalam keromantisan sesaat, sampai akhirnya sakura tersadar bahwa ada tamu undangan mereka yang telah menunggu kehadiran mereka diluar.


"Sayang, apa sekertaris yun sudah datang?"tanya sakura.


"Sudah sayang, kami tadi datang sama", jawab daichi


"Baiklah, lebih baik kamu mandi sekarang. Aku juga sudah menyiapkan pakaianmu. Aku akan keluar duluan untuk menemani mereka", ucap sakura.


"Baiklah", jawab daichi.


Ketika dia keluar dari kamar, dia melihat sekertaris yun yang diam berdiri seperti orang yang terlihat bingung.


"Sekertaris yun", sapa sakura.


Dia langsung memutar badannya menatap sakura yang datang dari arah belakangnya.


"Nona sakura, selamat malam", sapa sekertaris yun.


"Apa yang sedang anda lakukan, kenapa tidak duduk?"tanya sakura.


"Ah,Iya nona", jawab sekertaris yun yang duduk di salah satu sofa yang ada diruang TV.


"Kalau begitu saya tinggal dulu ke ruang makan", ucap sakura yang berjalan meninggalkan sekertaris yun.


Diruang makan terlihat kimi yang sama halnya seperti sekertaris yun yang berdiri diam mematung dengan tatapan kosong, sakura merasakan sesuatu yang aneh terhadap situasi yang dilihatnya saat ini.


"Apa yang terjadi sebenarnya dengan mereka berdua?"batin sakura.


"Kimi", ucapnya.


"Nona sakura", ucapnya yang terlihat kaget dengan kehadiran sakura.


"Kenapa kamu melamun kimi?"tanya sakura.


"Tidak ada apa- apa nona", jawab kimi yang tertawa.


"Hmm. Apa semua sudah siap?"tanya sakura.

__ADS_1


"Sudah nona, sup kepiting nya juga sudah masak", jawab kimi.


"Terima kasih kimi, berarti kita tinggal menunggu daichi saja", ucapnya .


"Ia nona", jawab kimi.


Sakura mengamati kimi,ekspresinya malam ini sungguh terlihat aneh. Guratan kecemasan terlihat jelas diwajahnya seperti ada sesuatu yang mengganggu pikirannya, saat sakura ingin mencoba menanyakan kepada kimi tiba - tiba daichi bersama sekertaris yun datang dan mengurungkan niatnya tersebut.


"Apa kita sudah bisa memulai makan malamnya?"tanya daichi.


"Tentu saja", jawab sakura.


"Kalau begitu tunggu sebentar", ucap daichi yang pergi meninggalkan mereka di meja makan.


"Mau kemana dia?"tanya sakura yang melihat sekertaris yun.


"Saya juga tidak tau nona", balas sekertaris yun.


Semuanya hanya diam tanpa memandang satu sama lain, menunggu sosok daichi yang tak kunjung datang.


"Maaf membuat kalian menunggu", suara sangat lembut terdengar.


Sakura tampak terkejut saat melihat daichi membawa sebuah kue dengan sebuket bunga mawar putih dan berjalan menghampirinya.


"Apa ini?"tanyanya lembut menatap dan mendapati sorot mata keduanya bertemu.


"Ini adalah hari ulang tahun pernikahan kita, harus ada kue dalam perayaan tersebut, bukan?"ucapnya yang meletakan kue tersebut di atas meja sembari menyalakan lilin.


Sakura hanya diam tanpa ada sepatah katapun perkataan yang mampu keluar dari mulutnya, dia hanya mampu merasakan jantungnya berdebar.


"Selamat hari ulang tahun pernikahan ke 2 tahun kita sayang", ucapnya sembari memberikan sebuket bunga mawar putih yang besar kepada sakura.


Matanya mengerjap, terperanjat dengan tangan yang terasa kaku saat ingin mengangkatnya, dia memandang sekelilingnya menatap kimi dan sekertaris yun yang tersenyum menatap mereka, lalu dia kembali mengalihkan pandangannya kepada daichi yang ada dihadapannya dengan sebuket bunga di tangannya, begitu bahagia hingga tak sadar dia menjatuhkan air matanya dan membuat suasana terasa begitu haru.


"Terima kasih sayang",ucap sakura yang menerima bunga tersebut diiringi isak tangis kebahagian.


Tidak kuasa melihat wanita yang dicintainya menangis, dia menarik sakura dalam pelukannya. sakura menyandarkan wajahnya di dada daichi meluapkan perasaan bahagianya malam ini. Sekertaris yun dan kimi hanya memperhatikan adegan romantis yang sedang terjadi dan sesekali keduanya saling melirik satu sama lain dan saling melemparkan senyuman.


"Sudah jangan menangis lagi sayang ",ucap daichi yang mencoba menenangkan sakura dengan lembut jari - jari tangan itu mengelus rambut panjang sakura.


"Hmm", jawab sakura yang melepaskan dirinya dari pelukan daichi.


"Kenapa anda menangis saat hari bahagia seperti ini nona?"tanya kimi.


"Maafkan aku, aku menangis karena merasa bahagia", jawab sakura yang menghapus air matanya.


Semua hanya tertawa melihat sakura.


"Apa sudah tenang?"tanya daichi.


"Hmmm", jawab sakura.


"Lilinnya hampir habis,ayok kita tiup bersama", perintah daichi.


Secara bersama - sama keduanya meniup lilin yang ada di atas kue tersebut.


Clap....Clap...Clap


"Selamat nona dan tuan daichi", ucap kimi dan sekertaris yun.


"Terima kasih", ucap keduanya.


Perlahan-lahan dia menundukkan wajahnya ke wajah sakura, sakura hanya diam tanpa bergerak saat bibir daichi menyentuh bibirnya begitu lembut. Keduanya berciuman begitu merah tanpa sama sekali menghiraukan keberadaan kimi dan sekertaris yun yang ada diantar mereka, sekertaris yun hanya tersenyum melihatnya baginya itu adalah hal yang wajar dilakukan pasangan suami istri begitu pula dengan kimi.


"Maaf", ucap daichi yang mengakhiri ciumannya dan menatap sekertaris yun dan kimi secara bergantian.


Keduanya hanya tersenyum tanpa ada menunjukkan wajah yang risih dengan apa yang mereka saksikan.


"Silakan duduk",ucap sakura dengan senyum canggung.


"Wah semuanya terlihat lezat", ucap daichi yang melihat semua makanan yang ada di meja makan.


"Nona sakura yang memasak semuanya", ucap kimi.


"Anda sangat luar biasa nona",balas sekertaris yun.


"Terima kasih sekertaris yun. Yasudah ayok dimakan", ucap sakura.


Acara jamuan makan malam itu berlangsung begitu hangat, hanya ada 4 orang yang ada di meja makan, tapi suara keramaian terdengar begitu jelas diiringi dengan suara tawa yang terjadi selama makan malam itu berlangsung.


Sakura merasa begitu bersyukur dengan kebahagian yang dimilikinya saat ini, memiliki suami yang mencintainya, keluarga, dan dikelilingi orang- orang yang begitu menyayanginya. Dia tidak bisa mengingat kapan terakhir kali dia merasakan kebahagian saat ini, dia hanya berharap selamanya hanya akan ada kebahagian seperti ini seterusnya di dalam hidupnya.


Dia terus memandangi wajah suaminya yang terlihat tampan dan begitu sempurna, berharap selamanya keduanya akan selalu bersama menjalani kehidupan pernikahan yang akan lebih banyak dengan rintangan kedepannya, daichi yang menyadari dirinya sedang diperhatikan wanita yang ada didepannya itu hanya tersenyum hingga sudut - sudut matanya mengerut.


"I love you", ucapnya tanpa suara yang terdengar, tapi sakura mampu mengartikannya.


"I love you too", balas sakura sambil tersenyum.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2