
Matahari siang ini memancarkan sinarnya begitu bercahaya menerangi hari weekend, sakura terlihat sibuk memasukan boneka- boneka kedalam kotak kardus dan beberapa makanan ringan yang sangat digemari anak - anak. Siang ini dia memutuskan memanfaatkan waktu liburnya mengunjungi anak - anak yang berada dirumah singgah yang banyak menampung anak - anak yang kurang beruntung dan aksi sosialnya itu sudah dilakukannya sejak dia masih SMA.
"Apa masih ada lagi?"tanya daichi yang mengangkat barang - barang yang akan dibawah sakura kedalam mobil.
"Tidak sayang, sepertinya sudah semuanya", jawab sakura.
Daichi memasukan semua kotak - kotak tersebut kedalam bagasi mobil sakura untuk pertama kalinya sejak dia menikah dengan daichi, dia menyetir sendiri mobilnya karena daichi yang tidak bis menemaninya hari ini.
"Jam berapa kamu akan bertemu dengan Shinichi?"tanya sakura.
"Setelah kamu pergi aku akan segera menemuinya",jawab daichi.
"Apa terjadi sesuatu dengannya?"tanya sakura.
"Entahlah, aku juga tidak tau sayang", jawab daichi.
"Semoga tidak ada masalah. Kalau begitu aku berangkat duluan", ucap sakura.
"Baiklah sayang. Hati-hati dan kabari aku jika kmu sudah sampai disana", ucap daichi.
Dia berjalan mendekat kearah daichi, memeluk suaminya sebelum dia pergi. Tingkahnya itu mampu membuat daichi tersenyum dan memeluk sakura dengan erat.
"Aku mencintaimu", ucap daichi.
"Aku juga", balas sakura yang masih berada dalam dekapan suaminya.
Beberapa menit hingga akhirnya sakura melepaskan dirinya dari dekapan daichi, berjalan masuk kedalam mobilnya dibantu dengan daichi yang membukakan dan menutup pintu mobil itu kembali. Mesin mobil telah dihidupkannya bersiap untuk menginjak pedal gas, dia menekan tombol power window untuk melihat wajah suaminya sebelum mereka benar - benar berpisah dalam beberapa jam .
"Aku berangkat", ucapnya dari dalam mobil.
"Hati - hati sayang", ucap daichi.
Mobil itu perlahan mulai melaju meninggalkan parkiran apartemen dimana mereka tinggal, menyusuri jalanan raya yang padat dengan kendaraan saat hari weekend, dimana orang - orang memanfaatkan waktu libur yang mereka miliki untuk menghabiskan waktu bersama keluarga mereka jalan- jalan atau dengan teman ataupun sahabat.
Dia begitu menikmati perjalananan meski hanya seorang diri, membutuhkan waktu sekitar satu jam untuk bisa sampai kerumah singgah tersebut, dimana para pengurus rumah singgah itu lebih memilih untuk membangun yayasan tersebut di tempat yang masih tidak padat penduduk dan jauh dari polis udara karena banyaknya anak - anak yang mereka tampung.
Mendengarkan musik di MP3 adalah salah satu caranya menghilangkan kebosanannya selama dijalanan, sesekali dia ikut bersenandung menikmati musik kesukaannya hingga suasana terasa hidup di dalam mobil meski hanya seorang diri.
Pemandangan dengan pepohonan mulai terlihat di sepanjang jalan dan itu menandakan bahwa sebentar lagi dia akan sampai di tempat yang ditujunya. Mobil yang dikemudikannya berhenti di sebuah halaman yang cukup luas, keberadaannya sepertinya telah dinantikan dimana dua orang wanita langsung menyambut kehadirannya saat sakura turun dari mobil.
"Selamat datang nona sakura", sapa keduanya secara bersamaan.
"Apa kabar, sudah lama sekali tidak bertemu", jawab sakura yang tersenyum.
"Benar anda sudah lama sekali tidak datang kesini nona", ucap salah wanita tersebut.
"Maafkan saya, baru sempat berkunjung", balas sakura yang terlihat menyesal.
"Sakura", panggil seorang wanita paruh bayah dengan rambutnya yang pendek berjalan menghampirinya.
Sakura tampak tak percaya saat melihat sosok tang berjalan menghampirinya itu.
"Bibi Elsa", ucap sakura yang berlari dan memeluknya.
"Bagaimana kabarmu?"tanya wanita paruh baya tersebut.
"Sangat baik bibi", jawab sakura yang terlihat sangat bahagia.
Bibi elsa adalah pemilik sekaligus pengurus dari rumah singgah tersebut, dia mengabdikan dirinya untuk mengurus anak- anak yang kurang beruntung dari anak - anak lain yang hidup bahagia dengan keluarga yang mereka miliki. Dia terus menggenggam tangan yang terlihat mulai keriput, mata sayu yang penuh dengan pengorbanan dalam hidupnya selama ini.
"Aku sangat merindukan mu bi", jawab sakura yang begitu erat memegang tangannya.
Perjalanan yang melelahkan tadi terbalaskan saat dirinya telah tiba di tempat dimana dia bertemu dengan orang - orang yang disayanginya. Perasaan senang, ketika akhirnya hampir dua tahun tepatnya sejak dia menikah tak bertemu dengan bibi elsa dan kini telah terbayarkan.
"Ayok kita masuk kedalam, banyak anak - anak yang sudah menunggu mu", katanya.
"Sebantar bi, aku membawa beberapa boneka dan makanan untuk anak - anak biar aku menurunkannya dulu", ucap sakura.
"Biarkan mereka saja yang menurunkannya", ucap bibi elsa yang melirik kedua wanita yang ada di depannya.
"Tapi bi", ucap sakura yang merasa sungkan kepada kedua wanita tersebut.
"Tidak apa- apa nona sakura, biar kami gang membawanya nanti masuk kedalam", jawab salah seorang wanita itu.
"Ayok kita masuk", ucap bibi elsa yang berjalan duluan.
"Terima kasih banyak", ucap sakura yang tersenyum dan pergi mengejar bibi elsa hang telah meninggalkannya.
Wanita itu membawa sakura berjalan ke sebuah taman yang ada dibelakang, udara terasa sejuk tentu saja dengan pemandangan yang indah, pepohonan yang tumbuh disekitaran taman dan bunga-bunga yang membuat taman itu semakin indah dan cantik.
Wajah sakura langsung tersenyum saat kehadirannya disambut dengan gembira oleh anak - anak disana, mereka langsung menghampiri sakura dan meninggalkan permainan yang sedang mereka mainkan.
"Hey sayang", ucap sakura yang terlihat bahagia saat dirinya kini telah dikerumuni.
"Lihat kakak sakura membawa apa?"ucap dua orang wanita yang membawa kotak berisi mainan dan makanan.
"Tolong dibagi", ucap sakura yang tersenyum
"Baik nona sakura", ucap wanita itu.
Senyum diwajahnya tak henti - henti terlihat, sulit untuk dijelaskan untuknya betapa bahagianya dirinya saat melihat tawa anak - anak yang mendapatkan hadiah sederhana yang dibawahnya.
__ADS_1
"Sudah lama sekali,bukan?"tanya bibi elsa.
"Iya bibi, sudah lama sekali aku tidak melihat senyum mereka", ucap sakura.
Keduanya memandang kearah anak- anak yang berbaris untuk mendapatkan hadiah mereka.
"Maaf bu, ada yang datang mencari anda", ucap seorang wanita yang menjadi petugas di rumah singgah tersebut.
"Sepertinya dia sudah datang. Sakura, bibi tinggal dulu ada salah seorang relawan seperti kamu juga datang", ucap bibi elsa.
"Ah, benarkah. Baiklah bi, pergilah. Aku akan melihat anak-anak disini", ucap sakura.
"Sebentar ya sayang, bibi tinggal dulu", ucap bibi elsa.
Dia pergi meninggalkan sakura sendirian, sakura mulai berbaur menyatu dengan anak- anak yang sedang bermain di taman. Tidak sampai beberapa menit wanita itu kembali, tapi tidak sendirian karena dia ditemani seorang pria yang berjalan beriringan dengannya.
"Sakura", panggilnya.
Sakura langsung membalikan badannya merespon saat namanya dipanggil, matanya tercengang terkejut saat melihat pria yang berdiri disamping bibi elsa.
"Tuan haga", ucapnya, tidak diragukan lagi bahwa dia sama sekali tidak salah dalam mengenali orang yang berdiri didepannya saat ini.
"Kalian masih saling mengenal ternyata", ucap bibi elsa.
"Saling mengenal?" Apa maksudnya?" batin sakura.
"Yasudah, kalau begitu bibi tinggal dulu. Kalian bisa saling mengobrol berdua karena ada sesuatu yang harus bibi kerjakan", ucapnya.
Haga melempar senyum kepada sakura,tentu saj senyuman itu dibalas oleh sakura yang masih terlihat bingung.
"Sakura", sapa haga yang mulai mencairkan suasana.
"Tuan haga", jawab sakura
"Tidak disangka kita bertemu disini", gumam haga yang sejujurnya dia juga tidak menyangka bahwa akan bertemu dengan sakura secara kebetulan.
"Benar, saya juga tidak menyangka",jawabnya dengan hati -hati.
"Aku sudah lama menjadi relawan dirumah singgah ini, tapi sejak aku memutuskan tinggal diluar negeri, ini untuk pertama kalinya aku kembali berkunjung kesini", jelas haga.
"Benarkah? Kebetulan saya juga sudah lama menjadi relawan disini, tapi kenapa kita tidak pernah bertemu", ucap sakura.
"Kita sering bertemu, tapi kamu tidak menyadarinya sakura", ucap haga.
"Benarkah?" Maafkan aku", balas sakura yang merasa tidak enak dengan sikap yang ditunjukannya dulu.
Keduanya berjalan bersama menyusuri taman yang terlihat indah, hingga akhirnya mereka berhenti dan duduk di salah satu kursi yang berada di taman itu untuk melanjutkan obrolan yang terasa menarik.
"Tana Agata?" Tentu saja aku mengenalnya, dia adalah kakak kandungku", jawab sakura
"Sungguh?" Astaga!! Dunia benar - benar begitu sempit ternyata", balas haga dengan tawanya.
"Apa kamu mengenal kak tana?"tanya sakura.
"Tentu, dia salah satu rekan bisnis sekaligus teman yang cukup dekat", ucapnya.
"Benarkah?"balas sakura dengan senyumnya.
"Ah. Aku mulai paham sekarang, berarti adik wanita yang ingin di jodohkan dulu dengan aku adalah kamu?"tanya haga.
Sakura tampak kaget mendengar perkataan haga, matanya melirik haga sekilas.
"Maafkan aku", ucap haga yang tidak ingin sakura akan menjadi salah paham dengannya.
"Tidak apa-apa. Dulu kak tana sering menceritakan tentang temannya dan itu akan selalu dilakukannya saat kami bertemu", ucap sakura.
"Astaga. Tana juga dulu sering bercerita mengenai adik perempuannya yang sedang berkuliah di luar negeri dan mengambil jurusan desaign. Dia selalu membanggakan adiknya setiap saat, bahkan saat dia mengetahui bahwa aku sedang ada perjalanan bisnis di negara dimana kamu sedang kuliah, di selalu memintaku untuk bertemu denganmu", ucap haga yang tertawa.
"Oh, yang benar saja. Maksud anda pria yang waktu itu yang disuruh kak tana untuk aku jumpai adalah anda?"keluh sakura.
"Lho, Kamu datang waktu itu?"tanya haga.
"Aku datang, tapi anda yang tidak datang", tukas sakura dengan nada kecewa.
Haga terdiam, senyum diwajahnya terhapus seketika saat penyesalan datang menyelimuti hatinya. Sikap diamnya saat ini membuat sakura terlihat bingung, tapi dapat dirasakan olehnya ada sesuatu yang sedang menggangu pikiran haga yang terlihat kaku. Ada keinginan didalam sir sakura untuk menanyakan apa yang sedang dipikirkannya, tapi tidak ada alasan untuk dia harus bertanya kepada haga.
Mata dengan pandangan kosong itu, kini kembali fokus melihat wajah sakura.
"Aku minta maaf tidak datang saat itu", ucapnya.
"Tidak apa-apa. Itu juga sudah lama berlalu", balas sakura yang terlihat tenang.
"Kamu benar itu sudah lama berlalu", nada suaranya terdengar rendah dan menyedihkan.
Ketenangan sikap sakura terlihat menakjubkan untuk haga, tidak ada kemarahan yang ditunjukan sakura kepadanya. Kali ini dia benar - benar yakin bahwa takdir sedang mempermainkan hidupnya, jika saja waktu itu dia bersedia untuk dijodohkan dan dipertemukan oleh sakura, mungkin saat ini dialah yang berada di posisi daichi , tapi seakan memang tidak ditakdirkan untuk bersama selalu ada sesuatu hal yang manjadi penghalang untuknya.
Sejenak suasana sunyi kembali terjadi, sampai akhirnya sakura melirik jam tangan yang dikenakannya.
"Sepertinya aku harus pulang, sudah hampir sore. Daichi pasti sudah menunggu ku", ucap sakura.
"Apa kamu menyetir sendiri?"tanya haga.
__ADS_1
"Iya, aku menyetir sendiri", balas sakura sambil bangkit untuk berdiri.
"Ah. Baiklah kalau begitu, tapi bisakah aku meminta no mu?"tanya haga.
"Nomor ponsel?"tanya sakura yang terlihat ragu.
"Benar, sebentar lagi ulang tahun bibi elsa. Aku ingin mengajakmu memberinya kejutan, bagaimana?"tanya haga.
"Itu ide bagus", jawab sakura.
Sakura adalah wanita yang cukup tertutup dan begitu selektif dengan orang - orang sekitarnya, dia jarang memberikan no ponselnya kepada orang lain, tapi entah mengapa kali ini dia berbeda dengan haga. Tidak ada rasa curiga saat dia memberikan nomor ponselnya kepada haga, tentu itu sangat wajar karena haga baginya bukanlah orang asing selain dia adalah salah satu relawan sama seperti dirinya, haga juga adalah sahabat dari suaminya.
"Aku sudah menyimpannya", ucap daichi.
"Baiklah", balas sakura.
Haga mengucapkan hati - hati dijalan dengan suara pelan sambil melirik sakura yang melangkah pergi meninggalkannya,perasaanya lega saat melihat sakura baik - baik saja setidaknya untuk saat ini, meski dia sendiri tidak tau kapan sera akan mengusik kehidupan sakura.
Sebelum meninggalkan tempat itu, tak lupa sakura berpamitan kepada bibi elsa yang berada di dalam ruangannya sebelum dia benar - benar pergi. Sakura ngebut terlalu kencang melintasi jalan yang mulai terlihat gelap sepertinya hujan akan turun sebentar lagi. Jalanan yang di lalui sakura begitu sunyi dengan jalanan yang berkelok- kelok, awan mendung yang gelap membuat pandangan sakura terganggu dan dengan hati - hati dia mengemudikan laju mobilnya, sekitar 20 menit akhirnya sakura memasuki jalan raya yang padat dengan kendaraan.
Setelah menempuh perjalanan yang cukup melelahkan akhirnya sakura sampai. Dia bergegas turun dan berjalan masuk menuju ke apartemennya, saat tiba di pintu depan kesunyian begitu terasa dan benar saja saat pintu terbuka kegelapan menyambut sakura tanpa ada cahaya lampu yang menyalah.
"Sepertinya daichi tidak ada dirumah",batinnya.
Dia berjalan masuk sambil menyalakan lampu - lampu di setiap ruangan yang ada karena dia sama sekali tidak menyukai kegelapan, lalu bergegas masuk ke dalam kamarnya untuk mandi, setelah selesai dengan segala rutinitas nya dikamar mandi mencuci muka, menggosok giginya dan mengganti bajunya dengan piyama tidur, kemudian dia keluar dari kamar mandi dan begitu terkejutnya dirinya saat melihat daichi duduk di ujung tempat tidur.
"Hai," sapa daichi.
"Sejak kapan kamu disini? "Apa kamu baru pulang?"tanya sakura.
"Aku dari tadi dirumah, di ruang kerja ku",balas daichi.
Dia berjalan menghampiri daichi dan naik ketempat tidur, lalu duduk di pangkuan suaminya itu.
"Aku sangat lelah", ucapnya yang menyadarkan kepalanya di dada daichi.
"Apa jalanan tadi sangat macet?"tanya daichi .
"Hmmm. Cuaca juga tadi tidak baik saat aku pulang", jawab sakura.
Daichi hanya tertawa.
"Tahu begitu, aku tadi menemani mu kesana sayang", ucapnya.
"Bukankah kamu tadi harus menemui Shinichi",ucap sakura.
"Ah. Kamu benar sayang. Lebih baik kamu istrhat sekarang sudah malam",ucap daichi yang menurunkan sakura dari pangkuannya.
"Hmm", jawab sakura.
Keduanya berbaring dengan posisi kepala di atas bantal, kemudian saling menyelimuti. Daichi berbaring disebelah sakura dan meletakan lengannya di atas tubuh sakura.
Sakura menyandarkan kepalanya di bahu daichi yang terasa begitu hangat dan membuatnya merasa nyaman.
"Sayang", ucap daichi.
"Hmmm", jawab sakura dengan mata terpejam.
"Bagaimana kalau kita memiliki seorang anak", ucap daichi ragu - ragu.
Spontan saja sakura langsung membuka matanya, dia merasa sekujur tubuhnya bergedik saat mendengarkan ucapan yang baru saja keluar dari mulut daichi.
"Apa aku tidak salah dengar?"tanya sakura yang melepaskan dirinya dari daichi, dia bangun dan kali ini menatap daichi begitu serius.
"Kamu ingat kan, dulu aku mengatakan ingin menunda memiliki anak agar kata bisa saling mengenal satu sama lain dan aku rasa dua tahun sepertinya sudah cukup untuk kita saling mengenal, meskipun belum cukup mengenal sepenuhnya.
"Ya", jawab sakura yang sependapat dengan daichi.
"Jadi aku berpikir sudah saatnya kita memiliki anak", ucap daichi.
Sakura mendengarkannya, tanpa mampu berkata apa- apa, matanya terbelalak lebar. Dia tahu bahwa daichi sedang menunggu reaksinya, tapi entah mengapa rasanya begitu sulit untuk membuka kedua mulutnya dan tanpa disangka- sangka air matanya menggenang dan jatuh menetes di pipinya.
"Kenapa kamu menangis sayang?"tanya daichi.
"Aku menangis karena begitu bahagia", jawab sakura.
Penantiannya selama ini akhirnya dapat terwujud, sudah lama dia menginginkan memiliki seorang anak, tapi menunda memiliki anak dengan alasan yang diberikan daichi cukup masuk akal untuknya saat itu dan membuatnya menyetujui untuk menunda.
"Apa kamu setuju sayang?"tanyanya.
"Tentu saja", jawabnya dengan begitu cepat.
"Baiklah, aku akan menyuruh sekertaris yun untuk secepatnya mengatur jadwal pertemuan kita dengan dokter kandungan terbaik di kota ini", ucapnya.
Sakura memeluk daichi begitu erat, dia merasa begitu bahagia malam ini.
"Terima kasih sayang", bisiknya.
"Terima kasih kembali", balas daichi.
Bersambung....
__ADS_1