
Ketika dia tiba kembali dirumah orang tuanya, orang yang pertama kali dicari dan ingin ditemuinya adalah istrinya.
"Selamat datang tuan daichi", sapa kepala pelayan ling
"Dimana sakura?"tanya dia.
"Nona sakura ada bersama Nyonya diruang keluarga tuan", jawabnya.
Daichi langsung bergegas menuju ruang keluarga saat tahu sakura ada disana, entahlah rasanya dia begitu rindu melihat istrinya itu meskipun baru beberapa jam saja dia meninggalkannya. Langkahnya terhenti saat dia melihat sakura yang tersenyum bahagia mengobrol dengan ibunya, hidupnya terasa sempurna saat melihat ibu dan istrinya begitu akrab dan saling menyayangi satu sama lain.
"Bagaimana mungkin aku akan membiarkanmu terluka sayang, aku akan selalu melindungi mu", ucapnya.
Entah itu benar atau tidak mengenai sera yang ingin mencoba menyakiti sakura, dia juga belum mengetahui kebenaran yang sebenarnya dan hanya mengetahuinya dari haga,tapi satu hal yang akan terjadi, kalau benar apa yang dikatakan haga mengenai sera dengan tangannya sendiri dia akan menghancurkan kehidupan sera sampai dia benar-benar menyesal telah bermain-main dengan Daichi Tama.
"Sayang".
Daichi tersenyum dan berjalan mendekat kepada sakura dan ibunya.
"Kamu sudah pulang?" Cepat sekali", ucap sakura.
"Urusannya hanya sebentar saja", jawab daichi yang duduk di sofa putih.
Imoto memperhatikan daichi yang terlihat lelah.
"Putraku, kelihatannya kamu butuh istirahat. Wajah kamu terlihat lelah", ucap imoto.
Sakura langsung memandangi wajah daichi, sepertinya apa yang dikatakan ibu mertuanya itu benar bahwa daichi terlihat kelelahan. Dia yang baru saja sampai dirumah orang tuanya, harus kembali lagi pergi untuk bertemu dengan haga dan menyetir mobilnya sendiri tanpa supir pribadinya.
"Mungkin aku lelah menyetir dari tadi bu", ucap daichi.
"Kenapa tidak menyuruh pak Hans saja", ucap imoto.
"Ini adalah hari weekend bu, biarkan dia menikmati waktu liburnya bersama keluarganya", jawab daichi, tentu saja imoto sependapat dengan putranya itu.
"Yasudah lebih baik sekarang kamu istirahat putraku, sakura temani suami mu sayang", ucap imoto.
"Tidak usah, biarkan sakura disini", ucap daichi.
"Sakura, temani suamimu", desak imoto.
"Baik ibu", jawab sakura yang langsung bangkit berdiri.
"Aku istirahat dulu kalau begitu bu", ucap daichi.
"Baik putraku", ucap imoto.
Keduanya bersama berjalan menuju kekamar, kamar yang dulu mereka tempati selama satu bulan dan kondisinya sama sekali tidak berubah sejak mereka tinggali. Suasananya masih senyaman saat sakura pertama kali masuk kedalam kamar itu, bahkan barang-barang sakura masih tersusun rapi di meja rias dan didalam lemari.
"Rindu sekali rasanya", ucap sakura yang memeriksa isi lemari pakaiannya.
__ADS_1
Daichi langsung menjatuhkan tubuhnya di atas kasur empuk, dia terlihat benar -benar lelah dan membutuhkan istirahat. Bukan hanya badannya saja yang lelah akibat menyetir mobil sendirian,tapi pikirannya juga begitu kacau dengan masalah yang terus datang.
Sakura yang dari tadi sibuk memeriksa barang-barangnya di dalam lemari, belum menyadari kondisi daichi yang terlihat begitu banyak beban pikiran.Pandangannya baru teralihkan keada daichi yang sibuk memukul-mukul keningnya karena kepala yang terasa sakit.
"Sayang, ada apa?"tanya sakura yang menghampiri daichi di ranjang.
"Kepala ku sedikit sakit", jawab daichi.
"Aku akan mengambil obat sakit kepala untuk mu kalau begitu, tunggu sebentar", ucap sakura yang bangkit untuk pergi, namun ditahan oleh daichi.
"Jangan pergi", ucap daichi dengan satu tangan yang menahan lengan sakura.
"Aku hanya ingin mengambil obat untuk mu", ucap sakura.
"Aku tidak membutuhkannya saat kamu ada di dekatku, sakura. Jangan pergi", ucap daichi.
Kalimat yang terdengar menyentuh hati untuk siapa saja yang mendengarnya termasuk sakura,dia seakan terhipnotis hingga sulit mengeluarkan kata-kata, tapi di satu sisi ucapan itu terdengar seperti daichi takut kehilangan dirinya. Dua persepsi yang berbeda dirasakannya saat ini, tatapan mata daichi terlihat begitu jelas dia takut kehilangan sakura.
"Kamu sakit dan membutuhkan obat", ucap sakura.
"Istirahat sebentar saja, akan langsung baikan", ucap daichi.
"Aiss.., mana mungkin bisa seperti itu", ucap sakura yang tersenyum.
Dia menarik tangan sakura untuk kembali duduk, dia meletakan kepalanya di pangkuan sakura dengan mata yang tertutup.
"Ini jauh lebih nyaman dari sebuah bantal", ucap daichi.
"Kamu memang istri yang luar biasa sayang", ucapnya.
"Itu sebabnya kamu mau menikah denganku",bisik sakura.
"Kamu benar", jawab daichi.
"Tapi, apa ada masalah?"tanya sakura.
"Masalah apa?"tanya daichi.
"Entahlah, tidak pernah sebelumnya kamu seperti ini dan itu terlihat sangat aneh. Apa terjadi sesuatu?"tanya sakura.
Tangan hangat daichi memegang tangan kanan sakura yang dari tadi memijat kepalanya.
"Tidak terjadi apa-apa sayang", jawab daichi.
"Jadi kamu baik-baik saja?" sakura kembali mematikan kepada daichi.
"Tentu saja", jawabnya tanpa menatap sakura, dan mata tetap tertutup. Setidaknya dia berusaha agar sakura tidak mengetahui semua yang tengah terjadi, mengenai haga yang ternyata telah lama memiliki perasaan dengannya atau sera yang berniat ingin mengganggu rumah tangga mereka.
"Aku berharap kamu bisa berbagi beban yang kamu miliki dengan ku, mungkin aku bisa mengurangi bebannya walau hanya sedikit", ucap daichi.
__ADS_1
Pelan-pelan ia mengangkat kepalanya dari pangkuan sakura, kedua matanya menatap sakura. Keduanya saling bertatapan, namun tatapan daichi kali ini berbeda tanpa sebuah ekspresi di wajahnya membuat sakura terlihat bingung.
"Aku sangat mencintaimu sakura", sebuah kalimat yang hanya terdengar untuk dirinya saja didalam hati.
Waktu berlalu semakin cepat, namun perasaannya terus bertambah untuk sakura. Rasa cintanya yang besar membuat rasa ketakutan di dalam dirinya juga semakin besar, takut kehilangan sakura, takut jika dia tidak ada lagi disisinya suatu hari nanti.
"Apa yang sebenarnya sedang kamu pikirkan?"tanya sakura.
"Aku takut kehilanganmu", daichi mulai mengakui apa yang mengganggu pikirannya.
Begitu mendengar nada kesedihan dalam suara daichi, sakura langsung menatap daichi begitu dalam. " Kenapa kamu berpikiran seperti itu?"tanya sakura.
Daichi mengangkat bahunya."Entahlah hanya pemikiran yang konyol saja", jawab daichi, dia mencoba tersenyum kepada sakura, tapi senyum itu justru terlihat menyedikan dan terasa dipaksakan olehnya.
"Hentikan! Aku tidak suka mendengarnya." gumam sakura.
"Apa yang mengganggu, sayang?"tanya daichi.
"Entahlah, itu membuatku menjadi takut", ucap sakura dengan wajahnya yang frustasi.
Dia turun dari tempat tidur, berdiri di hadapan sakura yang masih duduk di sudut tempat tidur, dia berlutut dihadapan sakura ,matanya menatap sakura dan diraihnya kedua tangan sakura dan memegangnya dengan sangat erat.
"Sakura,berjanjilah kepadaku bahwa kamu akan memberikan kepercayaan kepadaku. Apapun yang terjadi kamu hanya akan mempercayai kata-kataku saja, sebaliknya pun sama dimana aku hanya akan mempercayai kata-kata istriku saja", ucapnya, kata-kata itu terdengar membingungkan untuk sakura, terasah begitu aneh saat tiba-tiba saja daichi mengatakannya. Memicu sedikit rasa penasarannya, tapi dia mengurungkan niatnya untuk bertanya kepada daichi.
"Aku hanya akan mempercayaimu, suamiku", jawabnya dengan nada lantang.
Dari sudut matanya, terlihat perlahan wajah daichi terangkat dengan sudut -sudut bibirnya tertarik dan membetuk senyum yang cukup indah.
"Berjanjilah untuk tidak meninggalkanku ", pintanya.
"Itu tidak akan pernah terjadi", jawab sakura.
"Aku ingin menggenggam tangan lembut ini, aku ingin melihat mu saat aku menutup dan membuka mataku setiap aku bangun sakura dan aku hanya ingin mendengar suaramu setiap hari", ucapan itu membuat sakura tak kuasa menahan air matanya untuk tidak jatuh.
Kali ini sakura menatap daichi, matanya telah digenangi air mata haru, bibirnya bergetar saat ingin mengucapkan kata kepada daichi, tapi sulit rasanya saat dada sesak menahan tangis.
"Jangan menangis", daichi meletakan kedua tangannya di pipi sakura sambil mengusap air matanya.
Sakura kembali menatap daichi, berusaha menangkan dirinya sebelum berbicara.
"Ingatanku masih sangat jelas saat aku menolak kehadiranmu dihidupku. Aku begitu sangat membenci dirimu bahkan pernikahan antara kita berdua adalah sebuah kesialan untuk ku, tapi pemikiran itu perlahan berubah saat aku menyadari bahwa aku telah jatuh cinta kepadamu. Aku seperti orang gila saat berada jauh dari mu, bahkan sekarang rasanya aku tidak bisa hidup tanpa mu daichi", ucap sakura, suaranya bergetar saat mengeluarkan setiap lata dari mulutnya.
"Sakura?" ucapnya, diraihnya tangan sakura, jari-jarinya yang hangat menggenggam tangannya. Lalu menariknya kedalam pelukannya,mata sakura terpejam sementara menikmati aroma tubuh daichi yang mampu menangkan perasaanya. Didorongnya sakura dari tubuhnya agar bisa melihat sakura dengan jelas, ditatapnya mata sayu sakura yang terlihat sedih.
"Aku sangat mencintaimu dan akan selalu menjagamu",ucapnya, lalu kembali menarik sakura dalam dekapannya.
Sakura hanya tersenyum dibalik wajahnya yang berada dalam pelukan daichi, tidak ada keraguan dalam dirinya saat mendengar ucapan daichi.
"Aku juga mencintaimu", balas sakura yang memeluk daichi sangat erat.
__ADS_1
BERSAMBUNG...