Pernikahan Yang Dijodohkan

Pernikahan Yang Dijodohkan
Episode 130 Tidak Tenang


__ADS_3

KANTOR SAKURA AGATA🏢


"Nona", ucap kimi yang dari tadi memperhatikan sakura yang serius bekerja.


"Ada apa kimi?"tanyanya,tapi mata yang fokus melihat layar leptop didepannya.


"Anda mau makan siang apa? biar saya pesankan", ucap kimi.


"Makan siang?"tanyanya sembari melihat jam tangannya. "Astaga, sudah jam satu dan tidak terasa", ucap sakura.


"Itu karena and terlalu sibuk bekerja", ucap kimi.


"Sepertinya begitu kimi. Pesankan saja makanan seperti kamu", ucapnya.


"Baiklah nona sakura, saya akan memesankan makan siangnya", ucapnya.


Sakura kembali melanjutkan pekerjaannya, sementara kimi sibuk dengan ponselnya untuk memesan makan siang dirinya dan sakura. Pekerjaan yang menumpuk saat ini mengharuskan mereka untuk menikmati makan siang dikantor tidak seperti biasanya dimana mereka selalu pergi keluar untuk makan siang.


Dreg...Dreg...Dreg....


Ponsel sakura yang berada di atas meja kerjanya terus bergetar, tapi terlalu fokus pada pekerjaannya membuatnya tidak menyadari ponselnya yang bergetar.


"Nona, sepertinya ada yang menelepon anda", ucap kimi


"Ah. Benarkah?"tanya sakura yang sama sekali tidak menyadarinya sembari mengambil ponselnya. Satu alisnya terangkat saat melihat layar ponselnya.


"Siapa yang menelepon nona?"tanya kimi saat melihat ekspresi sakura yang aneh.


"Nomor yang tidak dikenal", ucapnya.


"Angkat saja nona, mungkin itu penting", ucap kimi.


"Hmmm", jawab sakura.


"Hallo", ucapnya


Ekspresi wajah sakura tampak berubah seketika mengangkat panggilan telepon itu, entah apa yang dikatakan hingga membuat sakura menjadi begitu panik.


"Dimana?" Bagaimana dengan kondisinya sekarang?"tanya sakura dengan wajah yang terlihat cemas


"Baiklah, aku akan segera kesana", ucap sakura yang langsung mematikan telpon.


"Nona ada apa?"tanya kimi yang ikut panik melihat sakura.


"Aku harus pergi sekarang kimi",jawab sakura sambil meraih tas dan memasukan barang-barangnya.


"Tapi kemana nona, kenapa anda begitu panik?" tanya kimi


Sakura berhenti sesaat untuk menatap kimi, dia menarik napasnya agar lebih tenang sebelum menjawab pertanyaan kimi.


"Pengurus rumah singgah yang sering aku kunjungi, jatuh dari kamar mandi kimi dan sekarang dia tidak sadarkan diri", jelas sakura.


"Astaga", jawab kimi yang terlihat terkejut mendengarnya. "Jadi anda ingin kesana sekarang?"tanyanya.


"Benar kimi, semua orang pasti disana sangat panik. Apalagi tidak ada pria yang tinggal disana", ucap sakura.


"Kalau begitu saya akan mengantar anda kesana nona", ucap kimi.


"Tidak kimi, biar aku pergi sendiri saja", ucapnya.


"Apa anda yakin nona?"tanya kimi.


"Hmm".Lebih baik kamu disini saja, tapi aku pakai mobil mu ya?"tanya sakura.


"Tentu saja nona, pakai saja. Sebentar saya ambil dulu kuncinya", ucap kimi yang pergi menujuh ruangannya.


Beberapa menit kemudian, kimi kembali dengan membawa kunci mobi ditangannya.


"Ini nona kunci mobilnya", ucapnya sembari memberikannya kepada sakura.


"Terima kasih kimi,kalau begitu aku pergi dulu", ucap sakura .


"Hati-hat nona", teriak kimi yang melepas kepergian sakura.


Sakura masuk kedalam mobil sedan kimi yang berada di parkiran, menghidupkan mesin dan melajukan mobil itu keluar dari parkiran menebus jalanan yang penuh dengan kendaraan lalu-lalang. Selama diperjalanan, perasaan sakura tidak tenang seperti ada sesuatu hal yang telah dilupakannya dan itu sangatlah penting menurutnya. Dia terus mencoba mengingat-ingat sesuatu yang dilupakannya itu hingga akhirnya kini dia menyadarinya.

__ADS_1


"Astaga!" Aku lupa meminta izin kepada daichi", ucapnya.


Tangannya mulai merogoh-rogoh isi didalam tasnya dengan satu tangan yang memegang setir mobil.


"Dimana ponselku", ucapnya dengan mata yang fokus melihat ke jalan.


"Akh, ketemu", ucapnya.


Di langsung mengambil ponselnya untuk menghubungi daichi, tapi wajahnya terlihat bingung saat layar ponsel itu tidak menyala sama sekali.


"Astaga, ponselku mati dan aku tidak membawa charger", ucapnya dengan nada kesel sembari melemparkan ponselnya ke jok disampingnya.


"Baiklah aku akan menghubungi daichi nanti saja", ucapnya.


Dia mencoba meyakinkan dirinya bahwa semuanya akan baik - baik saja, daichi akan mengerti situasi yang terjadi sehingga dia tidak akan marah kepadanya. Berpikiran seperti itu setidaknya bisa melupakan kekhawatirannya selama perjalanan menuju rumah singgah tersebut.


•••••••


KANTOR SAKURA🏢


Dia turun dari mobilnya dan langsung berjalan masuk menaiki lift menuju ruangan sakura, saat pintu lift itu terbuka secara kebetulan tanpa disengaja daichi bertemu dengan kimi yang sedang menunggu lift. Kimi yang melihat kehadiran daichi begitu kaget dan langsung menyapa suami atasannya itu.


"Tuan daichi", ucapnya, tidak pernah terbayangkan oleh dirinya bisa bertemu daichi, hal itu tentu sangat wajar karena daichi bisa dibilang jarang kekantor sakura dan jika dia datang menjemput sakura hanya sampai didepan loby saja dan tidak pernah masuk kedalam.


"Nona kimi", ucap daichi.


Kimi hanya terdiam seperti sebuah patung yang terpukau dengan ketampanan yang dimiliki daichi, tidak bisa dipungkirinya bahwa daichi benar- benar begitu sempurna dan sangat pantas bersandi dengan sakura. Betapa beruntungnya atasannya itu memiliki suami seorang daichi tama yang membuat setiap wanita yang melihatnya akan terpanah dengan wajah sempurnanya.


"Apa yang membuat anda kemari tuan?"tanya kimi yang mulai tersadar dari pikirannya.


"Apa sakura ada?"tanyanya.


"Nona sakura?"tanya kimi kembali yang terlihat panik.


Daichi mengamati wajah kimi dengan kecurigaan, sementara kimi sedang memutar kepalanya untuk memberikan jawaban kepada daichi yang sedang menunggunya.


"Ada apa nona kimi?"tanya daichi kembali.


Dia mendesah. "Begini tuan,nona sakura tidak ada di kantor dan sedang pergi", jawab kimi.


"Pergi? tapi kemana?"tanya daichi yang kini wajahnya terlihat serius menatap kimi.


"Rumah singgah? "Apa kamu yakin?"tanyanya.


"Ia tuan, benar rumah singgah ", jawab kimi dengan lebih keyakinan, setidaknya itulah yang dikatakan sakura kepadanya.


"Oke, kalau begitu nona kimi. Saya permisi", ucap daichi yang langsung pergi meninggalkannya.


"Baik tuan", ucap kimi yang melihat daichi terlihat aneh hari ini.


°.


°


°


Beberapa jam kemudian, mobil yang dikendarainya tiba di depan halaman rumah singgah itu. Seorang wanita langsung menyambut kedatangan sakura saat melihat mobil sakura tiba.


"Nona sakura", ucapnya dengan wajah yang terlihat sedih dengan mata sembab.


"Bagaimana keadaan bibi?"tanya sakura yang turun dari mobil.


"Dokter sudah memeriksanya nona", ucapnya.


"Bagaimana bibi bisa jatuh dikamar mandi? " Apa lantai dikamar mandi licin?"tanya sakura sembari keduanya berjalan masuk kedalam.


"Tidak nona, dokter mengatakan tensinya rendah dan menyebabkan dia jatuh pingsan", jelasnya.


Saat tiba dikamar, kedua matanya bertemu dengan mata yang tak asing untuknya.


"Sakura", ucapnya tercengang.


"Haga", ucap sakura yang tersenyum melihat haga, matanya kembali tertuju melihat seorang wanita tua yang tertidur di tempat tidur kayu dengan wajahnya terlihat tenang.


"Bagaimana keadaannya?"tanya sakura yang duduk disamping ranjang tempat tidur.

__ADS_1


"Dokter mengatakan dia baik-baik saja dan sudah diberikan obat", jelas haga.


Sakura menolehkan pandangannya melihat haga yang berdiri di sampingnya.


"Syukurlah", ucap sakura yang kini merasa sedikit lebih tenang.


"Hmmmm", gumam haga.


"Sepertinya dia sudah sadar", ucap seorang wanita.


Keduanya langsung melihat dan memperhatikan mata yang perlahan mulai terbuka, keduanya memberikan sebuah senyum indah saat kedua mata itu benar -benar terbuka.


"Ka-lian, a-pa yang kalian ber-dua lakukan di-sini?"tanyanya dengan suara yang pelan dan terbata-bata.


"Kami langsung kesini saat mendengar bibi sakit", ucap sakura.


"Seharusnya ka-lian ti-dak perlu datang", ucapnya.


"Kenapa tidak boleh?"tanya sakura dengan nada suara yang bingung.


"Sudahlah lebih baik sekarang bibi istirahat", ucap haga.


"Ia bi, sakura akan memaksakan sup untuk bibi, bagaimana?"tanya sakura.


"Hmm, terima kasih anakku", ucapnya dengan wajah yang masih begitu pucat.


Sakura bangkit dari ranjang, sembari melihat haga.


"Aku ke dapur dulu untuk membuat makanan untuk bibi, tolong jaga dia", pinta sakura.


Haga mengangguk. "Baiklah", jawabnya.


Dia pergi menuju kearah dapur ditemani seorang wanita yang akan membantunya untuk membuat masakan.


"Maaf, apa disini ada charger ponsel seperti ini?"tanya sakura, perasaanya tidak tenang selama dia belum memberitahu daichi.


"Ada sebentar nona, saya akan mengambilkannya", ucapnya.


"Terima kasih", ucap sakura.


Sembari menunggu charger yang diambil, sakura melihat- melihat poto-poto yang terpajang dirumah itu. Wajahnya terlihat tenang saat melihat poto- poto anak- anak yang tertawa lepas dalam setiap jepretan hasil kamera.


"Nona sakura, ini dia", ucapnya.


Sakura langsung mencharger ponselnya dan menghidupkannya, saat ponsel telah hidup keberuntungan seolah begitu jauh dari dirinya.


"Tidak ada sinyal?"tanya sakura yang melirik wanita tersebut.


"Ia nona, sinyal disini sedikit susah", jawabnya.


Sakura mendesah. Dia berdiri diam, mengamati ponselnya sembari menunggu sinyal muncul.


"Oh, please, please muncullah sinyal", pintanya dengan mata yang menatap ke langit-langit.


"Apa yang sedang kamu lakukan sakura?"tanya haga yang datang tiba-tiba dari arah belakang nya.


"Ahh". Aku ingin menelepon, tapi tidak ada sinyal dan sekarang sedang menunggu ada sinyal", ucapnya dengan raut wajah yang terlihat polos.


Haga yang mendengarnya tertawa. "Jadi kamu sedang menunggu datangnya sinyal?"tanyanya.


"Hmmm", jawab sakura.


"Kamu tidak perlu menunggu sakura karena disini memang tidak ada sinyal", ucapnya.


"Sungguh?"tanya sakura yang terlihat kaget.


"Benar", jawab haga santai.


"Mungkin kamu bisa menelepon nanti saat keluar dari sini", ucapnya.


Mendengarkan ucapan haga, membuatnya semakin putus asa sepertinya niatnya untuk menghubungi daichi harus tertunda dulu sampai dia keluar dari tempat ini.


"Nona, apa anda jadi memasak supnya?"tanya wanita tersebut.


"Tentu saja", jawab sakura.

__ADS_1


Keduanya menuruni anak tangga menujuh kelantai bawah, entah apa yang akan terjadi hingga membuat perasaan semakin tidak tenang. Apa lagi saat dia melihat keluar jendela, matahari mulai tenggelam dan perlahan langit yang gelap mulai muncul. Dia berjalan kearah jendela, didorongnya daun jendela yang terbuka dan menutupnya pelan, tapi untuk sesaat dia kembali memandang keluar, hingga hatinya kembali tak tenang. Di tariknya napasnya dalam - dalam dan menghembuskan secara perlahan sebelum jendela itu akhirnya benar - benar tertutup.


Bersambung....


__ADS_2