Pernikahan Yang Dijodohkan

Pernikahan Yang Dijodohkan
Episode 132 Peringatan


__ADS_3

Terdengar jelas suara TV yang menyala diruang keluarga, saat sakura keluar dari kamarnya. Terlihat bibi mori yang begitu santai menonton siaran tv kesukaannya tanpa menyadari kehadiran sakura dibelakangnya.


"Bibi",panggil sakura


"Sakura, kamu sudah bangun. Selamat siang", ucapnya, kata siang tepat diucapkannya saat sakura baru bangun di jam 10.


"Selamat siang bi, kenapa tidak ada yang membangunkan ku?"tanya sakura.


"Daichi yang melarang bibi, katanya kamu terlihat sangat lelah hingga membuatnya tidak tega untuk membangunkan mu saat sarapan tadi", jelasnya.


"Daichi? dimana dia sekarang bi?"tanya sakura sembari memutar kedua matanya mencari-cari keberadaan daichi.


"Sepertinya dia ada diruang kerjanya selepas selesai sarapan tadi dan belum keluar ruangan sampai sekarang",ucap bibi mori.


"Baiklah, kalau begitu aku menemuinya dulu", ucap sakura.


"Bibi akan menyiapkan sarapan untuk mu kalau begitu, kamu pasti sudah lapar",ucapnya.


"Bibi, cukup membuatkan sereal saja",ucap sakura


"Hanya itu? Apa kamu yakin?"tanya mori.


"Iya bi. Aku ingin diet karena timbangan badanku naik", jawab sakura, mengedipkan sebelah matanya.


"Baiklah sayang, bibi akan membuatkannya", ucapnya.


"Terima kasih bibi", balasnya dengan senyum.


Dia berjalan menuju ruang kerja daichi, dia perlu memastikan apa yang sedang dilakukan daichi saat hari libur seperti ini. Didekatkan telinganya menempel ke pintu untuk memastikan keberadaan daichi apakah ada didalam atau tidak.


"Apa dia tidak ada didalam", ucapnya sembari membuka pintu ruangan itu secara perlahan, tanpa mengetuknya terlebih dahulu.


Meja kerja itu terlihat rapi, ruangan itu terlihat sepi tanpa ada tanda-tanda keberadaan daichi disana.


"Apa dia ada diluar", ucapnya, dia melangkah berjalan menuju kearah balkon. Tepat sekali seperti dugaannya, dilihatnya daichi yang sedang berdiri memandang kebawah.


"Sayang", sapa nya .


Daichi langsung menghadap sakura, wajahnya tersenyum sempurna ketika melihat sakura.


"Kamu sudah bangun?"tanyanya.


"Hmmm,"jawab sakura sambil berjalan mendekat kearah daichi.


"Apa tidurmu nyenyak?"tanya daichi.


"Sangat nyenyak hingga aku bangun siang", jawab sakura.


Daichi hanya tertawa sambil mengelus rambut sakura yang indah.


"Apa yang sedang kamu lakukan disini?"tanya sakura.


"Tidak ada sayang, hanya menikmati pemandangan saja", jawab daichi.


"Hmmmm," gumam sakura.


"Bagaimana kalau weekend ini kita pergi berkunjung kerumah orang tuaku dan kita menginap satu malam disana?"tanya daichi.


"Sungguh?" tanyanya, dia terlihat begitu bahagia karena sudah lama rasanya tidak bertemu dengan ibu mertuanya.


"Tentu saja, apa kamu mau?"tanya daichi.


"Mau", jawab sakura begitu cepat.


"Jadi,apa kamu sudah sarapan?"tanya daichi.


"Belum, aku sarapan dulu. Setelah itu aku akan bersiap-siap"jelas sakura.


"Baiklah sayang, aku akan menyusul mu nanti", ucap daichi.


Sakura pergi meninggalkan ruang kerja daichi, menujuh keruang makan. Diruang makan terlihat bibi mori sedang menyiapkan sarapan untuk sakura sesuai dengan permintaanya semangkok sereal ditambah susu coklat hangat.


"Wah, sudah siap ya?"tanya sakura.


"Sudah, sarapanlah ", perintah bibi mori.


"Baiklah bi", ucap sakura sambil duduk.


Hal yang pertama kali dilakukannya adalah meminum susu coklat hangat yang dari tadi menggoda dahaganya, lalu diraihnya sendok untuk menyantap sereal.


"Apa yang kamu makan, sepertinya terlihat enak?"tanya daichi .


"Apanya yang enak, dia hanya memakan sereal dengan susu", gumam bibi mori.


"Sereal?"tanya daichi yang mendekat kearah sakura untuk melihat mangkuk yang ada didepannya.


Daichi menarik bangku dan duduk di depan sakura,wajahnya terlihat kesal.


"Ada apa ini sakura? Kenapa kamu hanya memakan sereal,"tanya daichi.


"Memangnya apa yang salah dengan memakannya daichi? Aku sedang berusaha menurunkan berat badanku saja", jelasnya.


"Menurunkan berat badan? Bagaimana kamu bisa melakukannya, sementara kita sedang mengikuti program kehamilan untuk mu", ucap daichi".


Sendok yang dipegangnya terjatuh, dia hanya terdiam.


"Bagaiman aku bisa melupakannya", batin sakura.


Didorongnya mangkuk yang ada didepannya menjauh, dia memutuskan untuk tidak melanjutkan memakan sereal yang telah dibuat bibi mori. Kali ini dia menyerah dengan program diet yang baru ingin dimulainya demi program kehamilannya, menjaga asupan gizi yang baik adalah salah satu dari bagian yang harus dilakukannya.


"Bibi, apakah ada makanan lain yang masih ada?"tanya sakura.


"Ada sayang, bibi tadi membuat steak dengan salad sayur. Apa kamu mau bibi menghidangkannya untukmu?"tanyanya.


"Ia bi, tolong", jawab sakura.


Tak butuh beberapa lama, steak telah terhidang didepannya. Dia mengambil pisau steak untuk memotong daging steak yang terlihat lezat,daichi terus memperhatikan sakura yang sedang menikmati makanannya.

__ADS_1


"Ini sangat enak bi", ucap sakura yang selesai menyantap semua makanan yang dihidangkan untuknya, tanpa menyisakan sedikit pun.


"Bibi senang kamu menyukainya", ucapnya.


"Kalau begitu aku akan bersiap-siap dulu", ucap sakura.


"Apa kalian berdua ingin pergi?"tanyanya


"Benar bi. Kami berencana untuk menginap dirumah utama", jawab daichi.


"Oh, begitu ", jawab mori.


"Bibi tidak masalahkan,jika kamu pergi?"tanya sakura.


"Tentu saja tidak sakura", jawabnya.


"Syukurlah, kalau begitu aku bersiap-siap dulu", jawab sakura yang meninggalkan ruang makan.


Tidak ada yang perlu disiapkan sakura saat ingin menginap dirumah mertuanya karena masih banyak baju-bajunya yang tertinggal disana, begitu juga daichi. Ketika keduanya telah siapa,mereka pun pergi menuju kerumah orang tua daichi,selama diperjalanan rasanya sakura tidak sabar untuk bertemu dengan ibu mertuanya itu, ibu mertua yang sangat menyayanginya seperti anaknya sendiri.


"Daichi", ucap sakura.


"Ada apa?"tanya daichi.


"Bisakah kita berhenti di toko bunga disimpang jalan itu, aku ingin membelikan bunga mawar putih untuk ibu. Dia pasti senang", ucap sakura.


"Baiklah", jawab daichi.


Mereka singgah di toko bunga langganan imoto, setelah sakura mendapatkan apa yang ingin dibelinya. Mereka kembali melanjutkan perjalanan, daichi melajukan mobil dengan santai dan mengurai kecepatannya karena jarak tempuh yang sebentar lagi akan tiba dikediaman keluarga Tama.


"Sepertinya akan hujan", ucap daichi yang memandang keluar jendela.


"Untung saja kita sudah mau sampai", jawab sakura.


Mobil mereka memasuki pekarangan yang begitu luas, setidaknya pekarangan itu mampu menampung sekitar 10 mobil yang terparkir disana. Sakura langsung turun dari mobil, wajahnya terlihat girang saat berjalan menuju pintu masuk dengan diikuti daichi yang berada dibelakangnya sambil membawa bunga yang mereka beli tadi.


Dipandanginya rumah besar itu yang hampir sekitar satu bulan ditinggalinya. Sudah lama sekali dia dan daichi tidak datang kesini karena kesibukan mereka masing-masing. Belum sempat sakura menekan bel, seorang pelayan menyambut kedatangan mereka.


"Nona sakura, selamat datang", ucapnya dengan wajah bahagia.


Sakura hanya membalas sapaannya dengan sebuah senyum.


"Apa ayah dan ibu ada?"tanya sakura.


"Tentu nona, mereka ada di teras samping", jawabnya.


Sakura langsung melangkah cepat menuju teras disamping rumah, dia merasa tidak sabar untuk bertemu dengan ayah dan ibu mertuanya itu.


"Ibu", ucap sakura.


"Sakura!" Balas imoto, dia terlihat tak percaya melihat kehadiran sakura.


"Apa kabar ibu?"ucap sakura yang memeluknya langsung.


"Sangat baik putriku", jawabnya.


"Ayah, apa kabar?"tanya sakura


"Hai bu, ayah", sapa daichi yang kaku kepada kedua orang tuanya, sikap yang sama sekali tidak berubah.


"Ibu, kami membelikan ibu mawar putih di toko bunga langganan ibu", ucap sakura.


"Benarkah?"tanya imoto.


"Sayang, kenapa diam saja. Berikan kepada ibu", perintah sakura, yang menatap daichi.


"Hmmm, ini bu", ucap daichi sembari memberikan bunga tersebut.


"Terima kasih anakku", ucap imoto yang terlihat bahagia.


"Berterima kasihlah kepada sakura karena dia yang membelikannya", ucap daichi.


"Tentu, terima kasih sakura," ucap imoto.


Sakura hanya tertawa,menahan rasa kesalnya saat ini kepada daichi yang masih saja terlihat dingin dan datar kepada kedua orang tuanya.


"Duduklah", ucap ayah mertuanya.


Terlalu gembira membuat imoto lupa menyuruh sakura dan daichi untuk duduk. Jarang bertemu membuat begitu banyak topik obrolan yang terjadi antara menantu dan ibu mertua, sedangkan daichi hanya membuka mulutnya saat ayahnya bertanya kepada dirinya.


Tapi kemudian, saat daichi sedang mengobrol dengan ayahnya membahas pekerjaan, ponsel di saku celananya berbunyi dan membuat obrolan yang terjadi menggantung. Dikeluarkan ponselnya dari saku celananya, matanya melotot saat membaca nama yang tertera di layar ponselnya.


"HAGA!"


"Siapa yang menelepon daichi?"tanya ayahnya.


"Teman, sebentar ayah. Aku mengangkat telpon dulu", ucap daichi hang pergi menjauh.


Sakura yang dari tadi asik mengobrol dengan imoto, menatap daichi yang pergi.


"Mau kemana dia?"batin sakura yang penasaran.


"Sayang..., sayang," panggil imoto,


"Iya ibu", jawabnya.


"Ada apa sayang?"tanya imoto yang menatap sakura.


"Tidak ad apa-apa", jawabnya dengan tersenyum, keduanya kembali melanjutkan obrolan mereka, meski perasaan sakura masih memikirkan daichi.


Daichi memperhatikan sekeliling, matanya berputar untuk meyakinkan bahwa tidak ada orang disana dan saat semuanya di rasanya cukup aman barulah dia menjawab telepon haga.


"Hallo", jawabnya dengan suara yang dingin.


Tidak terdengar suara sama sekali, haga tidak mengatakan apapun saat daichi menjawab teleponnya.


"Hallo", ucap daichi untuk kedua kalinya.

__ADS_1


"Daichi, apa kamu ada waktu hari ini?" kali ini terdengar suara haga yang sedikit berat.


"Ada apa?"tanya daichi dengan nada suara yang datar.


"Begini, ada yang ingin aku bicarakan denganmu dan ini sangat penting", ucap haga.


Daichi terdiam sesaat, semetara haga menunggu jawaban daichi apakah dia bersedia atau tidak bertemu dengannya.


"Baiklah, kirim alamatnya. Aku akan datang kesana," jawab daichi dan langsung mematikan telponnya.Wajahnya menegang saat mengakhiri sambungan telpon dengan haga, pikirannya diselimuti rasa penasaran tentang apa yang sebenarnya ingin dibicarakan haga kepadanya.


"Sedang berbicara dengan siapa?"tanya sakura, suaranya lembut terdengar tepat ditelinga daichi dari arah belakang.


Daichi langsung memutar badannya, ekspresinya wajahnya sangat kaget saat melihat kehadiran sakura yang tiba- tiba muncul.


"Sayang, sejak kapan kamu ad disini?"tanya daichi.


"Baru saja", balas sakura, tatapannya masih tertuju kepada daichi yang menunggu jawaban dari pertanyaannya.


"Jadi kamu tadi sedang berbicara dengan siapa, sampai harus menjauh seperti ini", ucap sakura.


Otak daichi mulai berputar untuk mencari jawaban yang dapat dipercayai sakura karena tidak mudah untuk berbohong kepada sakura, setidaknya itu yang dirasakannya selama ini sejak mereka menikah dan hidup bersama.


"Ah itu, sekertaris yun yang menelepon. Dia mengatakan ada perkejaan mendadak sayang, sepertinya aku harus pergi sebentar",ucapnya.


Dalam hitungan beberapa detik ekspresi wajah yang ceria itu berubah menjadi kesedian saat mendengar daichi akan pergi.


"Tapi bukankah hari ini adalah hari libur , kita juga sudah janji akan menginap disini", ucap sakura.


Daichi meletakan kedua tangannya dipundak sakura dan ditatapnya wajah sakura yang terlihat murung.


"Sayang, kita akan tetap menginap disini. Aku hanya pergi satu atau dua jam saja dan setelah urusan ku sudah selesai, aku akan segera kembali",jelas daichi.


"Baiklah kalau begitu sayang", jawab sakura.


"Terima kasih sayang", ucapnya sembari mencium kening sakura.


"Hmmm", gumam sakura.


"Kalau begitu aku pergi dulu, tolong sampaikan kepada ayah dan Ibu aku pergi sebentar", ucapnya.


"Baiklah", sahut sakura.


Daichi pun pergi meninggalkan sakura, bayangannya menghilang dibalik pintu yang kembali tertutup. Sementara sakura kembali menuju ke teras samping untuk menemui kedua mertuanya.


"Sakura, dimana daichi?"tanya imoto


"Daichi baru saja pergi keluar sebentar bu, ada pekerjaan yang mendadak tiba-tiba dikantor, sekertaris yun yang menghubunginya", jelas sakura


"Aisss!" Dasar anak itu, selalu saja lebih mementingkan pekerjaannya dari pada berkumpul dengan keluarganya saat hari libur seperti ini", ucap imoto yang terlihat sangat kesal.


"Tidak apa- apa menantu, kemarilah". Daichi pasti akan segera kembali", ucap ayah mertuanya itu, setidaknya dia lebih mengerti dengan keadaan yang terjadi dibandingkan ibu mertuanya itu.


"Iya ayah", jawab sakura yang kembali duduk di dekat imoto.


Daichi berlari menuju ke mobilnya begitu terburu-buru, dihidupkannya mesin mobilnya dan dipacunya mobilnya menyusuri jalan raya dengan kecepatan tinggi. Awan terlihat semakin gelap, rintikan hujan mulai turun dan membasahi jalanan yang dilewatinya.


Hanya sekitar 20 menit akhirnya mobil yang dikemudikannya tiba di parkiran dari sebuah cafe,tempat dimana dia dan haga janjian. Dia mematikan mesin mobilnya dan langsung keluar dari dalam mobil dan berjalan masuk kedalam restoran.


Semua pelayanan restoran tersebut langsung menyambut kedatangannya saat pintu yang ditarik terbuka dan suara lonceng terdengar.


"Selamat datang...".


Daichi hanya tersenyum, matanya memperhatikan sekeliling meja di restoran tersebut, hingga sosok yang dicarinya terlihat.


"Apa sudah reservasi sebelumnya tuan?"tanya seorang pelayan pria.


"Hmm, disana", ucap daichi yang menunjuk kearah meja haga.


"Oh, silakan tuan", ucap pelayan tersebut.


"Ehmm",ucap daichi.


Haga langsung menatap daichi, dan langsung berdiri menyambutnya.


"Kamu sudah datang, duduklah", ucap haga.


"Langsung saja haga, apa yang sebenarnya ingin kamu bicarakan", ucap daichi.


Haga tersenyum. "Apa kamu tidak ingin memesan minuman dulu, daichi?"tanya haga.


"Tidak, aku hanya ingin semua cepat selesai karena istriku sedang menungguku",ucap daichi yang menatap haga dalam beberapa detik.


"Baiklah, aku ingin mengatakan kepadamu bahwa wanita yang selama ini aku ceritakan kepadamu adalah Sakura Agata. Istrimu adalah wanita yang selama ini aku cintai dan aku tunggu", ucapnya yang langsung berbicara kepada pokok pembahasan.


Tidak ada perasaan kaget yang dirasakan daichi saat mendengar pengakuan yang diberikan haga, setidaknya dia sudah menyadari itu sebelumnya. Daichi menatap garang wajah haga dengan tangan yang mengepal dibawah, kali ini dia tidak mampu menyembunyikan kemarahannya kepada haga.


"Lalu apa sebenarnya yang ingin kamu katakan haga?"tanya daichi .


Disaat daichi terlihat tegang, berbeda dengan haga yang justru lebih tenang. Wajahnya terlihat rileks saat menatap mata daichi yang ingin menerkam dirinya.


Haga tersenyum. "Dengar daichi, aku memang masih mencintai sakura bahkan sampai saat ini, tapi aku tidak akan pernah merusak rumah tanggamu karena aku tahu bahwa sakura telah bahagia hidup bersama mu", jelas haga.


"Apa aku harus mempercayaimu?"suara daichi bernada mengejek.


"Aku tidak memaksamu untuk percaya kepadaku, tapi aku hanya ingin kamu tahu yang sebenarnya karena aku bukanlah pria yang suka mengambil milik orang lain dan setidaknya kamu tahu soal diriku daichi", jawabnya yang terlihat santai sambil meminum kopi yang telah dipesannya.


"Daichi tersenyum dengan begitu arogan saat melihat haga, baginya tidak ada lagi persahabatan antara dia dan haga sekarang. Setelah dirasanya cukup berbicara dengan haga, lalu dia berdiri dari bangkunya untuk bersiap pergi meninggalkan haga, tapi menyadari daichi yang ingin pergi. Dia langsung menahan daichi dengan kalimat yang memancing ketertarikan dari seorang daichi tama hingga mengurungkan niatnya untuk pergi.


"Dengar daichi, bukan aku yang harus kamu waspadai", ucapnya yang terlihat begitu tenang.


"Apa maksudmu?" matanya daichi tajam melihat haga.


"Berhati-hatilah kepada sera, dia bukan wanita sembarangan. Dia sangat licik daichi, jangan sampai dia melukai sakura", ucap haga dengan suara yang lantang, dan ekspresi wajahnya berubah serius saat menyebut nama sakura.


"Aku tidak akan membiarkan siapapun menyakiti wanita yang sangat kucintai dan jika ada yang berani bermain-main dengan itu. Aku sendiri yang akan menghancurkannya dengan kedua tanganku", ucap daichi, lalu pergi meninggalkan haga.


Dia masuk kedalam mobilnya dan meninggalkan parkiran restoran tersebut menujuh kerumah orang tuanya, dimana sakura telah menunggu kepulangannya. Selama diperjalanan,dia terus saja memikirkan apa yang dikatakan haga tadi kepadanya, tentang sera yang dianggapnya adalah wanita yang berbahaya untuk sakura.

__ADS_1


"Tidak ada yang bisa menyakiti sakura, termaksud kamu sera!!!"ucapnya, alisnya bertautan marah dan matanya menyalah merah yang siap memercikan api kepada siapapun yang berani menggangu hubungannya yang dimilikinya dengan sakura.


BERSAMBUNG.....


__ADS_2