
Krikkkkngg.....krikkkkkng....
Bunyi alarm itu membangunkan tidur sakura, dia membuka matanya dengan setengah sadar dan mengambil jam yang terletak di meja untuk mematikannya agar daichi tidak terbangun dari tidurnya.
Pagi ini dia bangun lebih awal dari biasanya karena dia ingin menyiapkan segala keperluan daichi ketika berangkat kekantor. Dia bangkit dari ranjang tidurnya meninggalkan daichi yang masih terlelap dalam tidurnya menujuh ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya.
Ketika dia keluar dari kamar mandi, dia berjalan kearah tempat tidur dan melihat daichi yang masih sangat terlelap. Dia hanya tersenyum sambil menyelimuti daichi dan meninggalkan daichi sendirian di kamar.
Sakura turun kebawah menujuh ke dapur untuk membuatkan sarapan, dari kejauhan sakura sudah mendengarkan suara yang bising dari arah dapur dimana para pelayan sudah sibuk untuk menyiapkan sarapan pagi untuk mereka.
"Selamat pagi", ucap sakura.
Tentu saja semua orang yang ada di dapur sangat terkejut melihat kehadiran sakura sepagi ini sudah datang ke dapur.
"Se-lamat pagi nona", ucap para pelayan
"Apa kalian sedang memasak sarapan?" tanya sakura
"Ia nona, kami baru menyiapkan bahan-bahannya", ucap seorang pelayan.
"Nona sakura!! "Apa yang anda lakukan disini? Tanya kepala pelayan Ling yang datang dari arah belakang sakura.
"Aku ingin membantu untuk menyiapkan sarapan", jawab sakura yang tersenyum menatap kepala pelayan Ling.
"Itu tidak perlu nona, menyiapkan sarapan adalah tugas kami sebagai pelayan", ucap kepala pelayang ling.
"Biarkan aku membantu kalian, kumohon kepala pelayan Ling", ucap sakura dengan melihat kepala pelayan Ling.
"Nyonya akan memarahi saya, jika mengetahui anda sepagi ini ada di dapur nona sakura", ucap kepala pelayan Ling.
"Ibu tidak akan marah, percayalah kepadaku",. ucap sakura.
Melihat sakura yang terus memohon dan menunjukan wajah yang begitu menyedihkan membuat kepala pelayan Ling mengizinkan sakura berada di dapur membatu para pelayan memasak makan untuk keluarga Tama.
Sakura begitu dekat dengan para pelayan tersebut, sifatnya yang tidak membedakan status atau pun memberikan jarak kepada para pelayan membuat mereka merasa nyaman saat berada di dapur.
"Hmmm, baunya begitu harum", ucap sakura.
"Terima kasih nona sakura", ucap pelayan tersebut.
"Baiklah aku akan menatap piring dan gelas di meja", ucap sakura yang pergi menujuh meja makan.
Dengan dibantu seorang pelayan, sakura mulai menata peralatan makan di atas meja dan tak lupa meletakan bunga ditengah- tengah meja makan untuk menambah keindahan.
"Sempurnah", ucap sakura yang tersenyum bersama pelayan yang membantunya.
Dia melihat jam menunjukan pukul 7:00 pagi, saatnya dia membangunkan daichi untuk mandi dan bersiapa-siap ke kantor.
"Tolong Bereskan, saya ingin keatas", ucap sakura kepada pelayan wanita itu.
"Baik nona sakura", jawab pelayan itu.
Sakura pergi meninggalkan pelayan itu menujuh ke kamarnya yang berada di lantai dua untuk membangunkan daichi. Dengan perlahan dia membuka pintu kamarnya sambil melihat daichi yang masi tidur terlelap hingga kedua matanya terbuka saat sakura menarik gorden jendela kamarnya yang membuat cahaya matahari masuk kedalam ruangan kamar itu.
Silau matahari itu tepat tepancar ke arah wajah daichi yang membuatnya merasa tidak nyaman dengan silau matahari, dia mengangkat satu tangannya untuk menghalangi sinar matahari itu. Dengan perlahan dia membuka kedua matanya dan melihat sakura yang berdiri di dekatnya.
"Selamat pagi", suara sakura begitu lembut menyapanya.
Hanya sebuah senyuman yang ditunjukkannya kepada sakura sembari dia menyadarkan dirinya sepenuhnya.
"Selamat pagi sakura", ucap daichi yang perlahan menyandarkan tubuhnya sambil duduk di tempat tidur.
"Apa tidur mu nyenyak?" tanya sakura.
"Hmmm", ucap daichi sambil memperhatikan sakura yang duduk di dekatnya.
Menyadari daichi terus memperhatikannya membuat sakura sedikit tidak nyaman.
"Apa ada yang salah denganku?" tanya sakura
"Apa kamu sudah bangun dari tadi?" tanya daichi yang melihat sakura sudah berganti pakaiannya.
"Hmmm, aku sudah bangun dari jam 6 tadi", jawab sakura.
"Jam 6?" tanya daichi yang terlihat kaget mendengarnya.
"Ia jam 6", jawab sakura.
__ADS_1
"Kenapa kamu bangun begitu cepat?" tanya daichi.
"Karena ini hari pertamamu kembali bekerja dan aku ingin menyiapkan semua nya dari sarapan pagi sampai pakaian mu", ucap sakura.
Daichi merasa begitu tersentuh mendengar alasan sakura bangun sepagi itu demi dirinya, dia meraih tangan sakura dan menggenggamnya.
"Sakura, kamu tidak perlu melakukan hal itu. Ada banyak pelayan yang akan melakukannya dan aku bisa mengurus diriku sendiri karena itu adalah kebiasaan yang sudah aku lakukan, berjanjilah kepadaku untuk tidak menyusahkan dirimu seperti ini lagi", ucap daichi.
"Daichi, aku sama sekali tidak merasa keberatan melakukan hal itu semua. " Akulah yang menginginkannya dan aku senang melakukannya karena itu adalah tugas seorang istri untuk mengurus suaminya", ucap sakura.
"Terima kasih sakura", ucap daichi yang tidak bisa menjawab perkataan sakura kepadanya.
Dia merasa begitu beruntung menikahi sakura yang begitu peduli dengannya dan mau melakukan pekerjaan yang seharusnya dia bisa menyerahkannya kepada para pelayan.
"Yasudah, kamu harus mandi sekarang", ucap sakura.
"Hmm, aku mandi duluh", ucap daichi yang bangkit dari tempat tidurnya dan berjalan menujuh kamar mandi.
Ketika daichi mandi, sakura mulai merapikan tempat tidur yang begitu berantakan. Merapikan bantal-bantal yang berserakan dan melipat selimut. Selepas selesai merapikannya, sakura mulai menyiapkan pakaian daichi untuk pergi kekantor. Dia terlihat bingung memilih pakaian apa yang akan dikenakan daichi hari ini, hingga akhirnya dia menemukan satu stel pakaian yang dirasanya cocok untuk daichi dan meletakannya di tempat tidur.
Sakura berjalan kearah kamar mandi sambil mengetuk pintu kamar mandi itu.
Tok....Tok..Tokk...
"Daichi", panggil sakura.
"Ia!!! ( Teriak daichi dari dalam kamar mandi)
"Aku sudah menyiapkan pakaianmu dan meletakkannya di atas tempat tidur. Aku ingin kebawah sebentar untuk menyiapkan sarapan", ucap sakura.
"Baiklah", jawab daichi.
Sakura pun pergi meninggalkan daichi untuk menyiapkan sarapan pagi untuk seluruh anggota keluarga.
"Apa semuanya sudah selesai?" tanya sakura
"Sudah nona", jawab pelayan wanita itu.
Sakura kembali mengecek semua yang ada di meja makan dengan begitu teliti karena dia tidak ingin ada yang kurang.
Sakura begitu kaget dengan kehadiran ayah mertua dan ibu mertuanya.
"Selamat pagi ayah, ibu", ucap sakura.
"Wah, apa kamu yang menyiapkannya sayang?" tanya Imoto sambil melihat ke arah meja makan.
"Tidak ibu, aku hanya membatu mereka saja", ucap sakura.
"Kamu sangat luar biasa sakura", ucap Imoto yang tersenyum kepada sakura.
"Ahh, ayok ayah ibu silakan duduk", ucap sakura.
"Baiklah", ucap Imoto.
Keduanya duduk di bangku mereka masing-masing, namun Imoto sama sekali belum ada melihat kehadiran daichi di ruang makan.
"Dimana daichi?" tanya Imoto
"Dia masih dikamar ibu sedang bersiap-siap", ucap sakura.
"Bersiap-siap kemana?" Tanya Imoto.
"Ahh, Hari ini dia akan pergi kekantor", jawab sakura
"Kekantor? Seketika Imoto melihat sakura.
"Ia ibu", jawab sakura.
"Bukankah dia cuti?" tanya Imoto.
"Ada client yang meminta bertemu dengannya hari ini", ucap sakura.
"Dasar daichi, dia selalu saja mengurusi pekerjaannya Bakan kalian saja belum sempat berbulan madu", ucap Imoto yang terlihat kesal.
"Ayah, ibu sebentar sakura akan memanggil daichi duluh dikamar", ucap sakura.
"Pergilah sakura", ucap ayah mertuanya.
__ADS_1
Sakura pun pergi meninggalkan kedua mertuanya di ruang makan menujuh kekamarnya. Ketika dia membuka pintu kamar, dia melihat daichi yang sedang memasangkan dasinya.
"Apa kamu belum siap", ucap sakura yang berjalan menghampiri daichi.
"Sedikit lagi", jawab daichi yang masih sibuk dengan dasi di tangannya.
"Sini, biar aku bantu memasangkannya", jawab sakura yang kini tepat berada di hadapan daichi.
Perlahan sakura mulai memasangkan dasinya, daichi terus menatap sakura dengan sorot matanya yang tajam tentu saja tatapan daichi membuat sakura sedikit gugup.
"Jangan menatapku seperti itu", ucap sakura yang hanya fokus melihat dasi yang sedang di pasangnya tanpa sedikitpun melirik kearah daichi.
"Kamu sangat cantik sakura", bisik daichi di telinga sakura.
Suara daichi yang serak dengan diiringi suara hembusan nafasnya membuat sakura merasa menggelitik hingga seluruh tubuhnya.
"Jangan menggodaku seperti itu", ucap sakura yang merasa malu.
"Kita sudah menikah, kenapa kamu masih saja malu dengan ku?" tanya daichi.
Daichi menundukan kepalanya agar sejajar dengan sakura, dengan perlahan dia mendekatkan wajahnya kearah sakura. Namun saat wajahnya hampir mendekat,sakura langsung mengangkat wajahnya menatap daichi.
"Sudah selesai", ucapnya dengan tersenyum kepada daichi.
"Ahhh, Terima kasih", ucap daichi yang menggigit bibir bawahnya.
"Baiklah, ayok kita turun kebawah ayah dan ibu sudah menunggu kita untuk sarapan bersama", ucap sakura.
"Yah, ayok", ucap daichi yang berjalan bersama sakura menujuh ruang makan.
••••
"Selamat pagi ayah, ibu", sapa daichi sambil duduk.
"Selamat pagi daichi ", sapa kedua orang tuanya.
"Kenapa kamu masuk kerja sekarang?" tanya Imoto
"Ada pekerjaan yang mendesak Bu", ucap daichi
"Apa sekertaris Yun tidak bisa menanganinya?" tanya Imoto
"Tidak bisa", jawab daichi.
"Kamu selalu saja mementingkan pekerjaanmu, sampai kamu tidak ada waktu pergi berbulan madu", ucap Imoto .
"Ayolah ibu, kami akan berbulan madu jika sudah ada waktu yang kosong", ucap daichi.
Saat Imoto ingin berbicara lagi kepada daichi, ayah daichi langsung menghalanginya yang dari tadi mendengarkan dan memperhatikan mereka berdua.
"Sudahlah istriku, biarkan mereka mengurus rumah tangga mereka sendiri", ucap Arashi .
Imoto hanya diam mendengar ucapan suaminya, namun tetap menatap putranya yang tepat duduk di depannya dengan wajah yang kesal.
"Lebih baik sekarang kita menikmati sarapan pagi yang telah disediakan menantu ku", ucap Arasih.
Sakura dibantu para pelayan mulai menyajikan makan untuk mereka yang sibuk mengobrol.
"Terima kasih sakura", ucap ayah mertuanya.
"Kamu istri dan menantu idaman sayang", ucap Imoto
Sakura hanya tersenyum saat mendapatkan pujian dari ibu dan ayah mertuanya, baginya itu bukanlah sesuatu yang spesial karena sebagai seorang istri dan menantu melakukan itu semua sudah menjadi tanggung jawab dirinya untuk mengurus suami dan mertuanya.
"Makanlah", ucap sakura kepada daichi.
"Terima kasih sakura", ucap daichi
Dipagi hari yang cerah ini, mereka menikmati sarapan pagi dengan penuh kehangatan sebuah keluarga meskipun ada perdebatan yang terjadi, namun itu tidak menghalangi kebahagian yang terjadi saat ini. Hanya ada senyuman yang terpancar di setiap wajah mereka dan membuat sakura merasa begitu bahagia dengan keluarga baru yang dimilikinya, dimana dia dicintai oleh suami dan mertuanya tentu saja itu adalah impian seorang wanita yang sudah menikah dan dia berharap bahwa kebahagian yang dirasakannya saat ini selamanya, tanpa ada yang merusak apa yang dimilikinya saat ini.
"Aku menikmati 3 hari menjalani kehidupan berumah tangga dengan mu daichi dan aku merasa beruntung memiliki suami seperti dirimu yang sangat menjaga dan melindungi ku. Teruslah menjadi pelindung untuk diriku selamanya karena saat ini aku merasa begitu menggantungkan diriku denganmu dan tetaplah menjaga hatimu untuk ku".
Sakura Tama
Pembaca setia ku, terima kasih atas masukan yang kalian berikan kepada saya. Semua masukan yang kalian berikan akan menjadi motivasi buat saya dalam menulis novel saya. Jangan lupa untuk selalu like,coment apa saja yang ingin kalian tulis dan yang paling penting vote untuk saya.🥰🌸
Bersambung..
__ADS_1