Pernikahan Yang Dijodohkan

Pernikahan Yang Dijodohkan
Episode 119 Bertemu


__ADS_3

Pagi menjelang sakura membuka kedua matanya, ada sesuatu yang berbeda. Dia menemukan dirinya yang berada dalam pelukan daichi sepanjang malam.


"Sudah jam berapa ini?"batinnya yang meraih ponsel yang terletak di atas meja.


Begitu kaget saat melihat jam menunjukkan pukul 06:20.


"Astaga aku kesiangan",ucapnya yang melompat dari tempat tidur.


Terlalu panik membuatnya membangunkan daichi.


"Ada apa sayang?"tanya daichi yang masih setengah sadar.


"Aku kesiangan bangun sudah hampir setengah tujuh pagi", ucap sakura.


"Hmmm.", ucap daichi yang kembali tertidur.


"Tapi aneh sekali, tidak ada cahaya matahari ", batin sakura.


Dia berjalan kearah jendela kamarnya untuk melihat keluar, menarik gorden putih yang panjang dan hanya ada kabut yang menyelubungi jendelanya tak terlihat sinar matahari.Tersisa rintikan hujan yang membasahi jalanan dan pepohonan yang basah akibat turunnya hujan yang dia sendri tidak tau kapan hujan itu turun karena terlalu nyenyak tidur.


Dia keluar kamar untuk menyiapkan sarapan pagi, kesiangan membuatnya sama sekali tidak ada ide untuk menu sarapan saat jarum jam terasa berputar begitu cepat. Mengambil 4 buah roti dan memanggangnya dan menyiapkan susu hangat ditengah cuaca hujan saat ini.


"Baiklah, aku harus bersiap- siap dulu dan membangunkan daichi", ucapnya yang pergi meninggalkan ruang makan.


Saat di kamar, terlihat daichi yang masih tertidur begitu pulas hingga membuat sakura tidak tega membangunkannya.


"Lebih baik aku mandi dulu, setelah itu baru membangunkannya",ucapnya yang berjalan menuju kamar mandi.


Beberapa menit, dia keluar dengan mengenakan pakaian yang rapi dengan rambut yabg terlihat masih sedikit basa. Dia melangkah kearah tempat tidur untuk membangunkan daichi yang sampai saat ini belum bangun.


"Sayang..., Sayang...", ucapnya dengan lembut.


Menunggu beberapa menit hingga daichi memberikan respon dengan tubuh yang bergerak. Membuka matanya dengan samar- samar melihat sakura yang duduk ditepi ranjang.


"Selamat pagi sayang", sapa daichi dengan mata yang terbuka.


"Selamat pagi", jawab sakura dengan senyum lebar.


"Jam berapa sekarang?"tanya daichi.


"Hampir setengah delapan", jawab sakura.


"Benarkah?"tanya daichi sambil mengucek kedua matanya.


"Hmm. Bangunlah dan mandi. Setelah itu kita sarapan bersama", ucap sakura.


Perlahan dia bangun sambil merenggangkan otot - otot yang terasa kaku.


"Ini handuknya", ucap sakura yang memberikan sebuah handuk berwarnah putih.


"Terima kasih sayang", ucap daichi.


"Sama - sama suamiku", balas sakura.


Sembari menunggu daichi yang mandi, dia merias wajah dan menata rambutnya. Wajahnya yang putih mulus membuatnya sama sekali tidak menggunakan makeup yang berlebihan.Dia hanya menggunakan sebuah cream yang akan melindungi wajahnya dari teriknya matahari, menggunakan lipstik berwarnah coklat muda, parfum dan membiarkan rambutnya yang indah terurai. Selesai dengan dirinya, dia mulai merapikan dan membersihkan tempat tidur yang masih berantakan.


"Akhirnya rapi juga", ucapnya yang terlihat puas menatap ranjang tidur keduanya.


Menyadari sesuatu yang hampir terlupakan olehnya, berjalan ke sebuah lemari yang cukup besar. Memilih kemeja dan jas yang akan dikenakan daichi hari ini.


"Ini saja", ucapnya yang mengeluarkan sebuah kemeja, jas dan sebuah dasi. Lalu meletakkannya di atas tempat tidur.


Hujan kembali menderu begitu deras dan angin yang menyapu pepohonan yang menggugurkan dedaunan.


"Hujan lagi ",batin sakura dengan pandangan melihat keluar jendela.


Dreg...Dreg...Dreg...


Dia mengambil ponsel yang terletak di atas meja rias untuk mengangkatnya.


"Kimi", ucapnya sambil menjawab.


"Hallo kimi", ucapnya.


"Hallo nona, Selamat pagi", sapa kimi yang suaranya terdengar begitu kecil saat tertutupi derasnya hujan.


"Selamat pagi kimi. Ada apa kimi?"tanya sakura.


"Nona, seperti saya tidak bisa menjemput anda karena mobil saya mogok dijalan", ucap kimi.


"Astaga! Lalu bagaimana dengan kamu kimi?"tanya sakura dengan nada suara cemas.


"Saya baik - baik saja nona, mobil sudah di bawah ke bengkel dan sekarang saya sudah naik taxi menujuh kekantor", jelas kimi.


"Ahhh., Syukurlah kalau begitu kimi", ucap sakura.


"Apa anda tidak apa- apa?"tanya kimi yang merasa tidak enak dengan sakura.


"Tentu saja, tidak perlu cemas",ucap sakura


"Baik nona, sampai jumpa dikantor", ucap kimi.


"Sampai jumpa kimi", balas sakura.


Keduanya mengakhiri panggilan telepon tersebut.


"Siapa yang menelepon?"tanya daichi yang baru keluar dari kamar mandi.


"Astaga!!! kamu mengagetkan ku", ucap sakura sambil memutar badannya.


"Kamu kaget", ucap daichi yang tertawa.


"Tentu saja!! Kimi Yang menelepon dia mengatakan tidak bisa menjemput ku karena mobilnya mogok", jelas sakura.


"Yasudah, aku akan mengantarmu", ucap daichi.


"Hmmm", jawab sakura.


Daichi yang masih mengenakan handuk putih yang menutupi tubuhnya sepinggang dengan dada telanjang yang memperlihatkan otot- ototnya yang kekar membuat sakura tak kuasa melihat pemandangan di depannya.

__ADS_1


"Apa ini baju ku?"tanya daichi


"Iya, aku telah menyiapkannya", ucap sakura.


Daichi mengambil kemeja yang terletak di tempat tidur untuk mengenakannya.


"Apa kamu ingin menggantinya disini?"tanya sakura yang memutar badannya membelakangi daichi.


"Tentu saja", jawab daichi.


"Apa tidak sebaiknya kamu mengganti pakaianmu di dalam kamar mandi?"tanya sakura.


Memahami maksud perkataan sakura membuatnya tersenyum,sedangkan sakura menahan rasa malu - malunya saat ini. Pipinya memerah seperti tersengat cahaya matahari yang begitu panas saat diluar rumah, hujan yang deras membuat udara begitu dingin tanpa perlu menyalakan AC, namun hal itu tidak dirasakan sakura saat wajahnya terus mengeluarkan keringat.


"Apa kamu malu?" tanya daichi degan suara yang menggoda .


"Tidak!!!" jawabnya cepat.


"Lalu kenapa kamu tidak melihat kearah ku?"tanya daichi.


"I-tu karena aku sedang melihat hujan", jawab sakura


"Aiihhh!!! Ini membuatku gila! Kenapa kamu harus malu saat kamu sudah melihat seluruh tubuhku sayang?"tanya daichi.


"Aku tidak malu", sahut sakura yang membalikkan badannya.


Kedua matanya tercengang,daichi yang tadi berdiri sedikit jauh darinya kini telah berpindah di depannya. Dadanya yang terbuka dengan otot - otot terlihat jelas di depannya dengan tetesan air yang masih tertinggal membasahinya. Aroma tubuhnya yang wangi dapat tercium dengan jelas oleh indra penciumannya, aroma yang selalu diingatnya dan menjadi ciri khas dari tubuh seorang Daichi Tama.


"Ada apa nyonya Tama?"tanya daichi.


"Sejak kapan kamu ber-pindah?"tanyanya yang terlihat tak fokus.


"Sejak tadi", jawabnya yang menatap sakura. Tatapan yang jahat, seperti seorang predator yang menunggu kapan mangsanya harus diterkam.


" Daichi, berhenti menggangguku",ucap sakura.


"Siapa yang sedang mengganggumu sayang?"tanya daichi yang tertawa.


"Cepatlah ganti pakaianmu. Sebelum kita berdua benar - benar terlambat", ucap sakura.


"Baiklah.... Baiklah", jawabnya yang menurut dan pergi ke kamar mandi.


Berpacu dengan waktu yang semakin cepat, keduanya menikmati sarapan roti dan segelas susu selama beberapa menit dalam diam. Sakura membersihkan meja makan dan meletakan piring dan gelas yang kotor di wastafel tanpa mencucinya karena waktu yang sudah tak sempat.Dari ambang pintu terdengar suara daichi yang meneriaki namanya beberapa kali yang tak sabar menunggunya untuk segera berangkat.


"Aku sudah siap", ucap sakura.


"Ayok", ucap daichi yang berjalan.


Keduanya berjalan turun kebawah menujuh mobil mereka. Tidak seperti biasanya, hari ini daichi menyetir sendri tanpa kehadiran pak hans yang sudah tiga hari tidak masuk karena sakit.


Dia membukakan pintu untuk sakura, senyumnya ramah menatap sakura. Keduanya masuk kedalam mobil, daichi memacu kencang mobilnya keluar parkiran memasuki jalanan. Hujan yang deras membasahi jalanan di kota itu, jalanan menjadi licin membuat daichi mengurangi kecepatan laju mobilnya.


Dia menatap lurus kedepan, menyipitkan mata menebus derasnya hujan yang menghalangi penglihatannya. Hujan turun semakin deras diiring gemuruh petir dari langit yang tertutup awan gelap.


"Matahari tak terlihat", ucap sakura yang menatap keluar jendela.


"Sedikit", jawab sakura.


Dia menekan tombol kontrol, menyalakan pemanasan untuk menghangatkan mereka dari udara dingin dan menyalakan musik memecahkan keheningan.


"Ah ini musik kesukaanku", ucap sakura.


Dia mulai bersenandung mengikuti melodi musik yang diputar, melodi yang mampu menenangkan perasaan siapa saja yang mendengarnya. Daichi hanya tersenyum mendengar sakura bersenandung dengan tatapan fokus memandang kedepan.


Mobil terhenti, dia tersadar bahwa mereka sudah tiba di depan kantornya. Hujan yang deras membuat sakura nyaris tak bisa melihat pemandangan disekitarnya.


"Baiklah sayang, kita sudah sampai", ucap daichi sambil tersenyum.


"Iya", jawabnya tersenyum


"Apa pekerjaan mu hari ini banyak?"tanya daichi.


"Tidak, hanya ada beberapa pekerjaan yang harus aku selesaikan", jawab sakura.


"Baguslah kalau begitu", jawab daichi.


"Bagiamana dengan mu? Apa hari ini kamu akan pulang lama?"Tanya sakura.


"Sepertinya tidak. Hari ini hanya akan ada pertemuan dengan Shinichi", ucapnya.


"Shinichi? Sepertinya nama itu tidak asing ditelinga ku", ucap sakura yang mencoba mengingat - ingat.


"Tentu saja kamu tidak asing dengannya sayang", jawab daichi.


"Apa Shinichi yang kamu maksud putra sulung dari keluar Nobuya?"tanya sakura.


"Benar sayang. Dihari pernikahan kita dia juga datang",jelas daichi.


"Benarkah? Mungkin karena aku tidak terlalu mengenalnya",ucap sakura.


"Jika ada waktu, aku akan mengenalkannya denganmu sayang karena dia salah satu teman dekat yang aku miliki", ucap daichi.


"Baiklah, mungkin kita bisa mengundang makan malam bersama dan membawa istrinya", ucap sakura.


"Hahahah..., dia belum menikah sayang", ucap daichi.


"Sungguh? Kenapa?"tanya sakura.


"Entahlah, aku juga tidak mengerti dengan jalan pikirannya", jelas daichi.


Dia melirik jam di dasbor.


"Sayang, sepertinya aku harus pergi sekarang",ucap daichi.


"Ahhh, Maaf sayang", ucap sakura yang bersiap turun dari dalam mobil.


"Aku nanti akan menjemput mu. Hubungi aku jika kamu sudah selesai", ucapnya tersenyum kepada sakura.


Sakura hanya menganggukkan kepalanya.

__ADS_1


"Sampai jumpa lagi", ucap sakura yang memutar badannya dengan satu tangan yang memegang handle pintu.


Dengan cepat tangannya menyambar lengan sakura, mencengkeram kemeja sakura dengan satu tangan. Badan itu dengan refleks berputar saat merasakan sentuhan di lengannya, wajahnya terlihat bingung menatap daichi.


"Ada apa?"tanyanya.


"Apa kamu ingin keluar begitu saja?"suaranya terdengar berat.


"Apa ada yang salah?"keluhnya.


"Tentu saja", balas daichi balasnya dengan cepat.


"Apa?"tanya sakura.


Tangan yang masih menempel di lengannya.Dia menarik sakura mendekat kearahnya.


"Apa yang ingin kamu lakukan daichi?" sebuah pertanyaan yang terdengar kebingungan.


Dia hanya diam mengabaikannya , lalu menempelkan bibirnya di bibir sakura untuk persekian detik lalu melepaskannya.


"Aku sudah mendapatkannya", ucapnya yang terlihat kegirangan.


Sakura hanya diam tanpa menunjukan reaksi sedikitpun, dia masih mencoba menenangkan dirinya untuk menghadapi sifat daichi yang sering memberikannya kejutan- kejutan yang mendadak seperti saat ini.


"Turunlah sayang", ucapnya.


Sakura hanya diam tak menjawab, hanya mengangguk putus asa, tapi tidak dengan daichi yang tersenyum sangat lebar.


"Hati - hati", ucapnya yang turun dari mobil dan membanting pintu mobil.


Daichi hanya tersenyum dan melajukan mobilnya meninggalkan kantor sakura dan berlalu dari pandangannya.


Kantor Daichi Tama🏢


Dia duduk di ruangannya, berusaha berkonsentrasi terhadap pekerjaan yang menumpuk dihadapannya saat ini sembari menunggu kehadiran Shinichi yang belum juga datang dari waktu yang telah disepakati keduanya. Terlambat menjadi salah satu kebiasaan Shinichi sama halnya dengan dirinya. Meski tidak terlahir dari keluarga yang sama, tetapi sifat dan kepribadian keduanya begitu mirip hingga banyak yang menyangka bahwa meraka adalah kakak- adik.


Menunggu beberapa menit, akhirnya pria yang ditunggu menunjukan dirinya dihadapan daichi.


"Selamat siang tuan daichi tama", ucap Shinichi dengan santai nya tanpa merasa bersalah membuat seorang daichi menunggu.


Melihat wajah polos Shinichi membuat tidak bisa menahan diri memandang wajah polosnya.


"Brengsek!!! ucapnya.


Mendapat cacian dari seorang daichi membuatnya sama sekali tidak marah ataupun terlihat kesal, dia hanya tertawa begitu puas saat melihat wajah daichi memerah menahan emosinya.


"Ayolah. Hujan sangat deras", ucapnya.


"Apa sekarang kamu bersepeda kesini?"tanya daichi.


Shinichi terlihat bahagia, sudah lama dia tak pernah melihat sikap daichi yang tidak ramah dan sengau suaranya saat berbicara kepada seseorang, dia sama sekali terbiasa dengan kata- kata kasar yang keluar dari mulut daichi bahkan begitu biasa saat mendengarnya. Dia benar - benar mengenalnya dengan baik selama ini.


"Apa kamu tidak mempersilahkan temanmu ini duduk",tanyanya dengan mata yang menatap kearah bangku kosong yang ada didepannya.


"Tidak tau malu!!! ucapnya sambil tersenyum.


"Duduklah", ucapnya dengan mata yang tajam.


"Terima kasih sahabat ku", ucap Shinichi.


Bersitegang bagi keduanya adalah hal yang biasa mereka lakukan, banyak hal yang akan menjadi perdebatan yang akan terjadi. Perbedaan saat mengutarakan pendapat sering terjadi dalam menjalani pekerjaan, profesional ditunjukkan keduanya dalam menjalani dan membangun perusahaan mereka masing - masing. Bersaing menjadi yang terbaik bahkan sering mereka lakukan di dalam urusan bisnis, tetapi menjadi pesaing tidak membuat pudarnya persahabatan yang terjalin bertahun - tahun lamanya karena bagi mereka bisnis dan persahabatan adalah hal yang begitu berbeda dan tidak akan pernah bisa berada dalam satu garis lurus.


Membahas pekerjaan dan membahas masalah pribadi sering dilakukan keduanya di waktu yang bersamaan. Kesibukan dan kurang waktunya membuat mereka jarang bahkan sama sekali tidak bertemu.


•••••••••••


"Sera, ayok cepat", ucap ayana.


"Sudah ku bilang sebentar ayana",ucap sera.


"Semua orang sudah menunggu kita. Apa kamu mau dibilang model yang tidak profesional", ucap ayana.


"Kalau tidak pertemuan ini dilakukan di kantor daichi, aku tidak akan pernah datang dan menyusahkan ku seperti ini", ucap sera dengan keangkuhan yang dimilikinya.


"Kamu boleh mengeluh sera, tapi nanti saja", ujar ayana.


Bisa terlihat sera menatap marah kenapa ayana.


Mereka berjalan menuju keruang pertemuan yang berada di lantai 3 dari kantor daichi tama dengan menggunakan lift.


Tring


Pintu lift terbuka dengan beberapa orang yang ada didalamnya.


"Ayok sera", ucapnya yang menarik tangannya.


Beberapa detik sebelum pintu lift tertutup, mata sera terbuka begitu lebar saat melihat sosok pria yang tidak asing terlihat sekilas olehnya.


"Dia", ucapnya


Pintu lift tertutup.


"Ada apa?"tanya ayana.


"Aku melihat seseorang tadi", jawab sera dengan mata yang terarah kedepan.


"Siapa?"tanya ayana.


"Entahlah, aku juga tidak mengingatnya, tetapi aku seperti pernah bertemu dengannya", ucap sera yang mencoba mengingat pria yang dilihatnya tadi.


"Oh, mungkin dia penggemarmu", ucap ayana.


"Aku tidak yakin soal itu", ucap sera.


Dia mencoba mengingat sosok pria yang menggangu pikirannya saat ini.


"Aku harus mengingatnya",ucapnya.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2