Pernikahan Yang Dijodohkan

Pernikahan Yang Dijodohkan
Episode 134Menyembunyikan


__ADS_3

Pagi ini dia bangun, tapi wajahnya terlihat pucat tidak seperti biasanya. Dia mencoba bangkit dari tempat tidur tanpa tenaga dan merasa badannya begitu lemas, selintas dia melirik daichi yang masih tidur begitu lelap.


"Astaga, kenapa kepalaku sakit sekali", ucapnya sambil berjalan ke kamar mandi.


Beberapa menit kemudian saat dia keluar dari kamar mandi, daichi sudah bangun dan duduk di kursi sambil memainkan ponselnya.


"Selamat pagi", sapa sakura lemah


Mata daichi langsung tertuju kepada sakura. Dia begitu fokus melihat sakura yang terlihat lemah pagi ini.


"Ada apa sayang?"tanya daichi yang menghampiri sakura.


Sakura merasa bingung dengan pertanyaan daichi yang tiba -tiba bertanya ada apa dengannya.


"Maksudnya?"tanya sakura.


"Kamu terlihat pucat, apa kamu sakit?"tanya daichi, matanya tak pernah beralih dari sakura.


"Ahh, aku baik-baik saja. Hanya sedikit pusing saja, sepertinya sakit kepalamu kemarin berpindah kepadaku", jawabnya dengan tawa.


"Apa kamu yakin tidak apa-apa?"tanya daichi.


"Hmmm", jawab sakura.


"Baiklah, aku akan bersiap-siap dulu", ucap baik.


"Oke", jawab sakura.


Dia mulai merias wajahnya, setelah itu menyiapkan pakaian kerja yang akan dikenakan daichi hari ini. Sejak kehadiran bibi mori, sakura lebih terlihat santai. Setidaknya dia bisa bangun lebih lama,cukup mengurus daichi tanpa harus repot-repot memikirkan menu makanan ataupun memasak makanan untuk mereka berdua karena sekarang bibi mori lah yang mengurus itu semua.


Setelah selesai menyiapkan keperluan daichi, dia keluar dari kamarnya untuk membantu bibi mori yang menyiapkan sarapan pagi untuk mereka.


"Bibi, selamat pagi", sapa sakura.


"Selamat pagi sakura", jawabnya yang tersenyum melihat sakura telah bersiap-siap untuk berangkat bekerja.


Di hadapannya, di meja, semua makanan telah di letak dengan sangat sempurna dan tentu saja terlihat begitu lezat. Sakura terlihat takjub, memandangi meja makan yang penuh dengan beberapa jenis menu masakan.


"Luar biasa", ucapnya.


Baginya bibi mori begitu luar biasa, usianya saat ini tidak membatasi tenaganya dalam bekerja, bahkan tangannya terlihat lincah dan cepat saat mengerjakan sesuatu dan salah satunya adalah memasak.


"Bibi membuat beberapa menu makanan, agar kamu bisa memilih makana apa yang ingin kamu makan hari ini", jelasnya.


"Bibi, kamu tidak perlu melakukan itu karena pasti sangat merepotkan. Apapun yang bibi masak, aku pasti akan memakannya", ucap sakura.


"Sama sekali tidak , justru bibi sangat senang melakukannya untuk mu dan daichi", jawabnya.


Keduanya telah siap untuk sarapan dan tinggal menunggu kehadiran daichi saja.


"Selamat pagi", sapa daichi.


Keduanya secara bersama-sama menoleh memandang daichi.


"Ada apa ini? Kenapa memandangiku seperti itu?"protes daichi.


"Tidak ada, ayok kita sarapan", ucap bibi mori.


"Baiklah", jawab daichi.


Saat daichi dan bibi mori menikmati makanan yang masuk kedalam mulutnya, tidak dengan sakura yang merasa semua makana yang di kunyah sama sekali tidak dapat dinikmatinya saat semua makanan itu terasa hambar dan cenderung pahit.


"Bagaimana sakura, apa kamu menyukainya?"tanya bibi mori.


Pertanyaan yang sedikit rumit untuk dijawabnya saat makana yang dimakannya terasa hambar, tapi dia tidak ingin membuat bibi mori kecewa dan melihat daichi yang makan begitu lahap tentu bisa dipastikan bahwa makanan itu sangat lezat.


"Tentu saja bi, ini sangat enak", jawab sakura dengan senyum,sementara daichi terus memperhatikan sakura yang terlihat kurang sehat.


"Tidak usah bekerja hari ini", ucap daichi.


Sakura dengan spontan langsung menatap wajah daichi, sakura menggelengkan kepalanya tak berdaya. Mata daichi memandangnya dengan dingin, setidaknya dia melakukan hal ini untuk sakura sendiri.


"Kamu kurang sehat sakura,lebih baik kamu istirahat", ucapnya.


"Aku baik -baik saja,lagian aku tidak bisa istirahat hari ini karena hari ini aku akan menjadi juri tamu di acara fashion yang digelar nanti siang", ucap sakura.


"Aku akan menyuruh sekertaris yun untuk membatalkannya", jawab daichi yang tampak begitu santai saat berbicara .


"Sayang, aku mohon. Mereka sudah lama mengundangku dan aku tidak enak jika tiba- tiba membatalkannya secara sepihak",ucap sakura dengan memperlihatkan sorot mata kesedihan kepada daichi, setidaknya dia tahu bahwa suaminya itu tidak akan tega melihatnya merasa sedih.


"Baiklah...Baiklah",jawab.


"Terima kasih, sayang",ucapnya dengan kegirangan saat mendapatkan izin.


"Tapi berjanjilah satu hal,jika kamu merasa tidak kuat atau sakit segera pulang", pinta daichi.


"Aku berjanji akan pulang saat aku tidak kuat", ucapnya.


"Bagus", jawab daichi.


Setelah selesai sarapan,keduanya bersama-sama turun kebawah menuju parkiran. Hari ini mereka berangkat kerja masing-masing, daichi dengan supir pribadinya sedangkan sakura dengan kimi yang selalu setia menjemputnya.


"Aku berangkat dulu, jangan lupa minum obat dan vitamin", ucapnya sambil menempelkan bibirnya sekilas ke dahi sakura.


"Hmmm, hati-hati", ucap sakura.


Daichi hanya tersenyum dan masuk kedalam mobilnya. Mobil itu mulai melaju meninggalkan parkiran, semetara sakura masih berdiri memandangi kepergian daichi.

__ADS_1


"Dia sudah pergi nona", bisik kimi dari arah belakang.


"Astaga, kamu mengagetkanku saja ", ucap sakura.


"Ayok kita pergi, jadwal hari ini benar-benar padat", ucap kimi.


"Ayok", jawab sakura.


Selama diperjalanan, sakura hanya diam duduk dibantu penumpang dengan mata yang melihat keluar jendela menikmati sebuah pemandangan orang-orang yang berlalu lalang di jalanan atau kendaraan lain disekitaran mereka. Dia mulai tersadar saat jalan yang mereka lewati justru berlawan dengan arah kantor mereka.


"Kenapa tida belok ke kanan kimi, bukankah kantor lebih dekat jika kita lewat dari sana",ucap sakura.


"Ahh, kita tidak kekantor hari ini nona",jawab kimi.


"Kenapa?"tanya sakura.


"Panita penyelenggara kegiatan fashion itu tadi menghubungi saya dan meminta anda datang lebih awal untuk bisa memberikan mereka masukan",jelas kimi.


"Ahhh, baiklah", jawab sakura yang kembali menyandarkan badannya dan kembali menatap keluar jendela.


Suara mesin mobil itu berhenti tempat di parkiran, Keduanya keluar bersama -sama menuju tempat berlangsungnya acara tersebut. Seorang wanita telah menunggu kehadiran mereka, wajahnya merona saat melihat sosok yang dinantinya telah datang. Dia melambaikan tangannya kearah sakura dan kimi yang berjalan mendekat kearahnya, semakin dekat dengan sakura membuatnya semakin gugup dan panik. Tidak pernah terbayangkan olehnya bahwa dia bisa bertemu langsung dengan Sakura Agata seorang desainer terkenal dan memiliki perusahan yang cukup besar ditambah lagi dia adalah istri dari Daichi Tama pengusaha di kota ini.


"Selamat datang nona, terima kasih karena mau menjadi juri di acara yang kami selenggarakan", katanya sambil membungkukkan badan kepada sakura.


"Saya juga senang akhirnya bisa memenuhi undangan yang kalian berikan", jawab sakura.


Kecemasannya sedikit berkurang dan bisa bernapas lebih lega saat pikirannya mengenai sakura ternyata tidak sesuai. Justru dia terlihat begitu ramah dan membuatnya merasa nyaman berbicara dengan sakura.


"Mari nona, saya akan mengantar anda. Semua juri lain sudah berkumpul, hanya tinggal menunggu kehadiran anda saja", jawabnya.


Mereka mengikuti wanita itu menujuh sebuah ruangan, sambil berjalan kimi memperhatikan setiap lorong yang mereka lewati hingga mereka masuk kedalam suatu rungan yang telah rame dengan orang-orang.


"Permisi, juri tamu kita sudah datang", ucap wanita itu.


Orang-orang yang dari tadi sibuk dengan urusan mereka, langsung mengalihkan pandangan mereka menatap kearah sakura, tidak hanya panitia yang antusias dengan keikut sertaan sakura , melainkan juri-juri lain juga begitu antusias untuk bekerja sama dengannya meski hanya sehari saja. Bagi mereka suatu kehormatan bisa bertemu bahkan bekerja sama dengan sakura agata.


"Ki-mi",ucapnya yang terlihat kaget melihatnya berdiri di samping sakura.


"Aya-na", balas kimi yang juga terlihat tak percaya bertemu dengan ayana ditempat itu.


Ayana terus menatap kerah kimi, sorot matanya terlihat masih syok dengan pertemuan mereka yang tanpa disengaja seperti sekarang.


"Jika ayana ada disini,berarti dia juga ada disini?"ucap kimi.


"Ada apa ini?"tanyanya, yang berjalan memasuki ruangan tersebut, sera belum menyadari dan melihat sakura yang ada didepannya.


"Sakura!"ucapnya , sakura dengan santai menatap wajahnya.


"Apa kabar sera", sapa sakura dengan senyum diwajahnya, selama beberapa detik keduanya bertatapan satu sama lain, tanpa mempedulikan kehadiran orang lain diantara mereka.


"Sepertinya kalian saling mengenal?"tanya seorang wanita yang juga menjadi juri disana.


"Apa yang anda lakukan disini, nona sakura?"tanya sera dengan senyum kepalsuan yang diperlihatkannya.


"Maaf nona sera, nona sakura menjadi juri tamu dalam acara ini. Kami sangat beruntung karena nona sakura akhirnya menerima tawaran kami", ucap seorang panitia penyelenggara acara tersebut.


"Ah...,begitu", jawab sera.


"Tapi, sebenarnya tadi saya hampir gagal menjadi juri tamu", ucap sakura.


"Kenapa nona?"tanyanya.


"Itu karena suami saya melarang sayang karena kebetulan saya sedang kurang enak badan tadi pagi. Dia tidak ingin melihat istrinya kelelahan", jelas sakura sambil melirik sera.


"Tuan daichi sangat perhatian sekali, anda sangat beruntung memiliki seorang suami seperti dia, nona sakura", ucap wanita tersebut.


"Benar sekali, aku sangat beruntung memiliki suami seperti dirinya dan tentu saja akan terus menjaganya tanpa pernah meninggalkannya", ucap sakura.


Kedua tangan sera mengepal, wajahnya memerah, dia sadar bahwa ucapan sakura tersebut menyindir dirinya yang telah meninggalkan daichi dulu. Sakura berhasil memprovokasi dirinya saat ini,ayana langsung cepat menyadari kemarahan sera.


"Sera, ada yang ingin aku bicarakan. Ayok, keluar sebentar", ucapnya yang menarik pergi sera.


Mengajak sera meninggalkan ruangan itu adalah pilihan tepat yang dilakukan ayana, kalau tidak melihat kemarahan sera saat ini entah apa yang bakalan dilakukannya kepada sakura jika dia masih berada diruangan yang sama dengannya.


"Lepaskan aku ayana", ucapnya yang menghempaskan tangannya.


"Tolong sera, jaga sikapmu. Jangan pernah mendekati sakura, apa kamu paham?"tanya ayana.


"Kau tidak perlu mengajariku ayana, urus saja pekerjaan mu dan jangan ikut campur", jawab sera dengan sinis kepada ayana.


"Aku tidak ikut campur dengan urusanmu, aku hanya ingin mengingatkan mu untuk bekerja dengan profesional", ucap ayana, dia mulai sedikit kesal kepada sera yang semakin keterlaluan berbicara dengan dirinya, bahkan bersikap semakin tidak sopan.


Sera hanya diam, lalu pergi meninggalkan ayana. Dia sama sekali tidak mempedulikan ucapan managernya tersebut dan berlalu begitu saja.





Kantor Daichi Tama 🏢


"Terima kasih tuan", ucap sekertaris yun sambil dan mengambil dokumen yang telah ditanda tangani oleh daichi.


"Sekertaris yun, apa kamu tahu perusahan VTEX?"tanya daichi.


"VTEX, tentu saja tuan. Itu adalah usaha yang bergerak di bidang fashion dan mereka sedang merintis perusahaan mereka, tapi kenapa anda menanyakan soal itu tuan?"tanya sekertaris yun.

__ADS_1


"Apa tempatnya jauh dari sini?"tanya kembali.


"Gedungnya tidak terlalu jauh dari kantor kita", jawab sekertaris yun.


"Sakura menjadi juri disana, aku sedikit khawatir karena tadi dia kurang enak badan", jelas daichi.


"Kalau begitu sebaiknya kita pergi kesana, anda bisa mengecek kondisi nona sakura ", ucap sekertaris yun, bahkan dia justru lebih semangat dari daichi.


"Kenapa kamu yang justru terlihat ingin pergi kesana, sekertaris yun", ucap daichi.


"Bersemangat? Oh. Apa terlihat seperti itu? Maksud saya, agar anda tidak cemas lagi tuan", jawabnya, dia mencoba tertawa menyembunyikan sikap gugupnya kepada daichi.


"Aku tidak akan kesana, sakura pasti tidak akan menyukainya. Dia bukanlah wanita seperti itu, setidaknya itulah yang aku nilai dari dirinya", ucap daichi.


Keduanya diam, sekertaris yun mulai memaksa otaknya bekerja untuk mendapatkan sebuah ide untuk mengatasi perasaan dilema atasannya itu. Bagaimanapun, dia tentu tahu bahwa daichi sangat mengkhawatirkan sakura dan sebagai seorang sekertaris pribadinya sudah menjadi tanggung jawabnya untuk membantu daichi.


"Bagaimana kalau saya menghubungi nona kimi untuk menanyakan nona sakura?"tanyanya.


"Menelepon kimi?" ucapnya


"Benar tuan, nona kimi adalah orang yang setia menemani nona sakura, jadi kita bisa bertanya kepada dia", ucap sekertaris yun


"Kedengarannya ide yang bagus", ucap daichi.


Sekertaris yun langsung mengeluarkan ponsel di dalam saku jas nya, dicarinya nomor kontak kimi dan tanpa bertanya lagi kepada daichi dia langsung menghubunginya. Perasaannya sedikit aneh saat menunggu kimi menjawabnya, jantungnya seolah berpacu lebih cepat dari yang normal, dia sedikit merasa gugup menelepon kimi meski itu bukalah telepon pribadinya untuk Kimi.


"Dia tidak mengangkatnya", ucapnya kepada daichi.


"Telepon lagi", perintah daichi.


"Baik tuan", jawabnya.


Perasaanya mendadak gelisah saat kimi tak juga mengangkat telponnya dan sesekali melirik daichi yang juga menantikan kimi menjawab telponnya.


"Hallo".


Wajah sekertaris yun seketika saja berubah ceria saat terdengar suara wanita yang menyahut dari sambungan telepon.


"Nona Kimi?" jawab sekertaris yun.


"Hai, tuan yun",Sapa kimi.


"Apa kabar nona kimi?"tanyanya.


"Sangat baik, bagaimana dengan anda?"tanya kimi kembali.


"Ah, saya juga sangat baik", balasnya sambil tertawa.


Tawa itu menghilang saat dilihatnya daichi yang dari tadi memperhatikannya dengan keningnya yang mengkerut saat dirinya mengobrol dengan kimi.


"Apa yang kamu lakukan? Aku tidak meminta mu menghubungi dia untuk menanyakan kabarnya", ucapnya, dia berbicara dengan suara yang kecil hingga kimi tak mampu mendengarnya.


Sekertaris yun langsung menganggukkan kepalanya dan kembali fokus ke tujuan awalnya yang sesungguhnya, meski dari lubuk hatinya yang teramat dalam masih banyak yang ingin dibicarakannya kepada kimi secara pribadi.


"Maaf nona kimi, apa nona sakura bersama anda?"tanya sekertaris yun.


"Iya tun yun, nona sakura sedang berfoto- foto dengan peserta", jawab kimi.


"Apa acaranya sudah selesai?"tanya sekertaris yun.


"Sudah, baru saja dan saat ini mereka sedang berfoto", jawab kimi.


"Apa nona sakura baik-baik saja?"tanya kimi.


"Dia baik -baik saja, hanya tadi dia mengatakan kepalanya sedikit pusing",ucap kimi.


"Ah, syukurlah", balas sekertaris yun.


"Tuan yun", ucap kimi.


"Ia nona kimi",sahutnya.


"Disini ada sera, dia juga menjadi juri bersama nona sakura", ucapnya.


Kedua matanya menegang, dia langsung menatap daichi yang dari tadi mendengarkannya berbicara kepada kimi. Wajahnya seketika menegang, pikirannya langsung mengembara ke segala pemikiran negatif saat mendengar nama sera.


"Lalu, bagaimana?"tanyanya.


"Sejauh ini, aku masih bisa mengatasinya dan terus memperhatikan gerak-geriknya", jawab kimi.


"Haruskah kami kesana?"tanya sekertaris yun.


"Tidak usah, jika nanti dia macam-macam aku akan segera menghubungi anda ", ucap kimi.


"Baiklah kalau begitu, sampai nanti", ucapnya.


"Sampai nanti", balas kimi.


Saat panggilan telepon itu selesai, daichi langsung mencecarnya pertanyaan.


"Bagaimana? Apa dia baik - baik saja? Apa ada masalah disana?"tanya daichi.


"Tenang tuan, nona kimi mengatakan bahwa nona sakura baik-baik saja", jawabnya.


"Syukurlah ,aku merasa lebih tenang sekarang", ucapnya.


Sekertaris yun hanya tersenyum, dia mencoba menyembunyikan kenyataan bahwa sera ada ditempat yang sama dengan sakura sekarang. Dia tidak ingin membuat daichi menjadi gelisah, setidaknya dia tahu bahwa kimi ada menemani sakura dan menjaganya.

__ADS_1


BERSAMBUNG....


__ADS_2