Pernikahan Yang Dijodohkan

Pernikahan Yang Dijodohkan
Episode 51 Bersalah


__ADS_3

Siang hari ini matahari begitu sangat terik dan panas, silau matahari itu menembus masuk kedalam kamar mereka. Kamar tersebut begitu sunyi tanpa tuannya, keduanya sedang sibuk dengan urusan mereka masing-masing. Sakura yang sibuk dengan Imoto sedangkan daichi meskipun dia mengambil cuti, namun dia tetap saja sibuk mengurusi pekerjaan kantornya.


Hari ini sakura membatu ibu mertuanya merangkai bunga, ibu mertuanya itu begitu mirip dengan ibu nya yang senang merangkai bunga dan meletakan di setiap sudut dalam rumah yang menciptakan aroma wangi di dalam rumah.


"Menantuku, apa kamu bosan beberapa hari hanya dirumah saja?" tanya Imoto.


"Tidak ibu, kenapa ibu mengatakan seperti itu? "Aku sangat senang bisa menemani ibu dan menghabiskan waktu bersama ibu", ucap sakura.


"Entah kapan kalian pergi berbulan madu", ucap Imoto sambil menarik napasnya.


"Apa yang sedang kalian bicara?" ucap daichi yang tiba-tiba saja muncul.


"Hanya obrolan santai antara mertua dan menantu saja", ucap Imoto.


Daichi berdiri tepat di belakang sakura sambil memperhatikan sakura yang sedang asik merangkai bunga-bunga.


"Kamu belum bersiap-siap?tanya daichi.


"Apa kita akan pergi sekarang?" tanya sakura yang mengarahkan pandangannya ke belakang untuk melihat daichi.


"Hmmm, tentu saja jika kamu sudah selesai dengan semuanya", ucap daichi.


"Apa kalian berdua ingin pergi?"tanya Imoto yang dari tadi mendengarkan pembicaraan keduanya.


"Ia ibu, kami berdua akan pergi untuk berkencan", ucap daichi sambil memegang pundak sakura.


"Benarkah?" itu sangat bagus sekali. Meskipun bulan madu kalian ditunda setidaknya kalian harus membutuhkan waktu berdua bersama", ucap Imoto.


Sakura hanya tersenyum dan tetap melanjutkan kegiatannya merangkai bunga-bunga tersebut .


"Sudah...sudah sakura, kamu lebih baik sekarang bersiap-siap," ucap Imoto sambil mengambil gunting dan bunga yang ada di tangan sakura.


"Ta-pi ibu, ini belum selesai", ucap sakura


"Tidak apa-apa sayang letakan itu semua, ibu akan menyelesaikannya nanti. Lebih baik sekarang kamu bersiap-siap ", ucap Imoto.


"Pergilah bersiap-siap sakura", ucap daichi.


"Baiklah,kalau begitu aku permisi ke kamar Bu",. ucap sakura yang bangkit dari kursinya.


"Ia sayang", ucap Imoto.


Sakura pergi beranjak dari tempatnya menuju kekamarnya untuk bersiap-siapa, begitu pun daichi yang tak lama sakura naik keatas pergi kekamar tamu untuk mandi.


Di dalam kamar sakura tampak bingung memilih pakaian yang akan dikenakannya, bercak yang ditinggalkan daichi di tubuh dan tangannya masih terlihat begitu jelas.


"Aku harus memakai baju lengan panjang",ucap sakura pada dirinya.


Dia membongkar isi kopernya, berharap ada pakaian yang dapat menutupi bekas yang ada ditubuhnya itu. Sejak hari kedatangannya sampai saat ini, dia sama sekali tidak mengeluarkan pakaiannya dari dalam koper karena dia berpikir mereka hanya akan tinggal sebentar dirumah mertuanya.


"Ini dia, ada!!!!


Sebuah kemeja putih lengan panjang di dapatnya dari dalam koper, kemudian dia mencari pakaian yang dapat di padu padankannya dengan kemeja putih tersebut.


"Sepertinya ini cocok", ucapnya sambil mengambil pakaiannya dan mengganti nya di kamar mandi.


Di dalam kamar mandi, dia mendengar suara pintu kamar yang terbuka dan terdengar suara langkah kaki berjalan.


"Itu pasti daichi", batinnya.


Diurungkannya niatnya untuk keluar dari kamar mandi, sekitar lima menit dia berdiam diri di dalam kamar mandi sambil mendengarkan suara dari dalam kamar. Namun dia sama sekali tidak dapat mendengar suara apa pun, dengan perlahan dia keluar dari kamar mandi dan melihat di sekitarnya.

__ADS_1


Dia tidak menemukan siapa pun di dalam kamar tersebut, sakura terlihat bingung mencari keberadaan daichi sampai pandangannya tertujuh kearah balkon kamarnya yang terbuka dengan perlahan dia berjalan kearah balkon dan menemukan daichi yang sedang berdiri memandang ke bawah.


"Apa yang sedang kamu lakukan disini?" tanya sakura.


Daichi langsung memalingkan wajahnya dan melihat kearah belakangnya.


"Menunggumu", ucap daichi .


Kedua matanya terus melihat kearah daichi yang terlihat tampak berbeda dari biasa, dia mengenakan pakaian yang begitu santai dengan kemeja panjang yang digulung dan kaos berwarnah putih di dalamnya, baru kali ini sakura melihat daichi mengenakan pakaian yang berbeda selain jas.



"Apa kamu sudah siap?" tanya daichi sambil berjalan kerah sakura.


Sakura hanya mengangguk-nganggukkan kepalanya dengan terus melihat daichi yang berjalan kerahnya, dia kembali terlihat panik dengan jantungnya yang kembali berdetak begitu cepat. Dia mencoba untuk mengingatkan dirinya untuk bernapas dengan perlahan dia menarik napasnya.


Tepat di hadapannya, daichi tersenyum melihat istrinya yang terlihat begitu panik, dengan tangannya dia mengelus rambut panjang sakura dengan begitu lembut, jari-jarinya bergerak naik turun menyentuh pipi sakura yang tampak mulai memerah.


"Kamu terlihat begitu cantik sakura", ucap daichi dengan suaranya yang serak.


"Sampai kapan kamu akan selalu memujiku daichi?" tanya sakura.


"Sampai nafasku berhenti dan sampai saat itu tiba aku kan selalu memuji kecantikan mu", jawab daichi.


Sakura hanya tersenyum mendengar pujian yang diberikan suaminya untuknya.


Daichi memegang dengan kuat lengan sakura dan menariknya kedalam pelukannya, genggaman yang kuat membuat sakura merasa kesakitan.


"Auww!!!


Daichi langsung melepaskan pelukannya, dia menundukkan kepalanya untuk melihat sakura yang seakan menahan rasa sakit.


"Ada apa?" tanya daichi yang terlihat cemas.


Namun dia dapat melihat ekspresi wajah sakura yang begitu dengan jelas menahan rasa sakit, dia menarik tangan sakura dan mengulurkannya. Dia menarik keatas lengan baju sakura, matanya menegang saat melihat sekujur tangan sakura yang terdapat banyak bercak-bercak merah.


"Ma-af kan aku", ucap nya dengan suara yang begitu menyesal.


Sakura langsung menarik tangannya dari pegangan daichi dan merapikan kembali lengan bajunya.


"Aku baik-baik saja", jawab sakura.


"Aku telah menyakitimu, aku sangat menyesal karena tidak dapat menahan diriku semalam sakura. Aku begitu bersemangat sampai melukai mu seperti ini", ucap daichi.


Dia terlihat begitu menyesal dan seakan menyalahkan dirinya sendiri terhadap apa yang terjadi dengan sakura saat ini. Matanya terlihat memancarkan kesedihan saat menatap sakura.


"Kamu tidak menyakiti ku daichi", ucap sakura


"Hentikan itu sakura, jangan mencoba membohongi perasaan mu sendiri. Wajah mu begitu jelas menunjukkan jika kamu tidak baik-baik saja" ucap daichi yang berjalan mundur dari sakura.


Malam yang panjang itu membuat kedua tidak dapat menahan diri satu sama lain, daichi yang perasaan begitu bergairah membuat sakura sulit mengikut hasrat daichi yang terlalu tinggi tadi malam. Sentuhan yang diberikannya sulit untuk ditolak oleh sakura, ciumannya, gigitannya selaras dengan kenikmatan yang dirasakan sakura hingga dia tak merasakan rasa sakit itu, kehangatan tubuh daichi menutupi segalanya.


"Daichi!!! teriak sakura yang terlihat mulai kesal dengan pikiran daichi yang terus menyalahkan dirinya.


Sakura berjalan menghampiri daichi, dia menyentuh lengan daichi yang begitu kekar, melingkarkan jari-jarinya di pergelangan tangan daichi sambil menyandarkan kepalanya.


"Terima kasih untuk malam luar bisa, itu adalah hal yang terindah yang pernah ku alami dalam hidupku dan itu semua terjadi karena dirimu", ucap sakura dengan suaranya yang lembut.


Matanya melebar saat mendengar ucapan sakura, dia menggerakan lengannya membuat sakura mengangkat kepalanya dan mengarahkan pandangannya terhadap daichi yang dari tadi memperhatikannya.


"Aku akan berusaha lebih hati-hati lagi lain kali sakura", ucap daichi dengan wajahnya yang tampak terlihat sedih.

__ADS_1


"Aku percaya dengan mu", ucap sakura sambil menyandarkan kembali kepalanya di lengan daichi.


"Apa kita pergi sekarang?" daichi.


"Hmmmm", jawab sakura.


Daichi meraih tangan sakura dan melingkarkan jari-jarinya dengan jari-jari tangan sakura, hanya ada senyuman yang diberikan sakura kepada daichi dan melangkah berjalan menujuh kebawah.


"Apa kalian akan pergi sekarang? tanya Imoto saat melihat keduanya.


"Ia ibu, kami akan pergi sekarang", ucap daichi.


"Baiklah,hati-hati ", ucap Imoto.


"Kami pergi ibu", ucap sakura.


"Ia sayang", ucap Imoto.


ketika mereka telah tiba diluar, sakura memperhatikan sekelilingnya dengan tatapan yang terlihat bingung.


"Dimana mobilnya?" tanya sakura.


"Hari ini kita tidak akan pergi dengan mobil", jawab daichi.


"Apa! lalu dengan apa?" tanya sakura.


"Dengan itu", ucap daichi sambil menunjuk kearah yang dimaksudnya.


"Motor!!!! sakura terlihat begitu kaget saat pandanganya tertujuh ke sebuah motor yang besar berwarnah hitam.


"Iya, ayok ", ucap daichi yang menarik tangan sakura menujuh motor itu di parkir.


"Apa kamu yakin kita akan naik motor?" tanya sakura.


"Tentu saja, jalanan pasti macet jika kita naik mobil", ucap daichi.


Terdapat dua helm di atas motor itu, dia mengambil satu helm dan memasangkannya di kepala sakura. Dia hanya diam mematung dan terlihat pasrah saat daichi memasangkan helm untuknya,selepas itu dia pun mengenakan helm di kelasnya dan naik ke atas motor sambil menghidupkan mesin motor.


"Naiklah", ucapnya kepada sakura.


Ucapan daichi seolah terabaikan oleh sakura yang dari tadi melamun dengan pikirannya.


"Haruskan aku mengganti pakaianku?" batin sakura yang merasa bahwa akan sulit baginya mengenakan sebuah dress jika harus naik motor.


"Heii, nyonya Tama, Apa kamu akan terus berdiri saja disana?ucap daichi.


Sama sekali tidak ada respon yang diberikan sakura, hingga membuat daichi menghidupkan klakson motornya yang terdengar begitu kerasa. Bunyi itu menusuk masuk ke telinga sakura dan membuat semua yang dipikirkannya menghilang. Dia melihat kearah daichi yang sudah duduk di atas motornya dan sedang menunggunya untuk naik.


"Ayok naik! ucap daichi


"Ahh, iya", ucap sakura sambil naik ke atas motor tersebut.


"Apa kamu sudah siap?" tanya daichi.


"Sudah", jawab sakura dari belakang


Dia meraih kedua tangan sakura dan melingkarkannya di pinggangnya sambil berkata,


"Pegangan yang kuat dan jangan dilepaskan!


Sakura hanya tersenyum dan menyandarkan kepalanya di punggung daichi. Merasakan sesuatu yang menempel di punggungnya membuat daichi tersenyum menarik bibir atasnya ke setiap sudut dan mengemudikan motornya perlahan meninggalkan kediaman Tama.

__ADS_1


Pembaca setia ku, terima kasih atas masukan yang kalian berikan kepada saya. Semua masukan yang kalian berikan akan menjadi motivasi buat saya dalam menulis novel saya. Jangan lupa untuk selalu like,coment apa saja yang ingin kalian tulis dan yang paling penting vote untuk saya.🥰🌸


Bersambung..


__ADS_2