
Terdiam dalam keheningan sesaat itulah yang terjadi kepada daichi, perkataan sakura seakan sebuah cambuk untuknya. Begitu sulit untuknya mengatakan apa yang sebenarnya terjadi, saat dia ingin mengatakannya entah mengapa bibirnya terasa begitu rapat tertutup.
Ada perasaan bersalah yang tengah dirasakan sakura saat dia melihat daichi saat ini.
"Apa aku terlalu berlebihan?" batinnya dengan sorot mata mengarah kepada daichi yang masih berdiri di balkon kamar.
Satu tarikan napas yang panjang menyadarkan daichi dari segala pemikirannya yang berputar-putar di atas kepalanya, berjalan masuk kedalam kamar dengan tatapan yang menatap sakura yang sudah berbaring di atas ranjang.
"Apa benar tidak ingin makan malam?" tanya daichi.
"Hmmm", jawab sakura.
"Baiklah, aku akan membawanya lagi kalau begitu", ucap daichi.
Dia membawa kembali talam yang berisikan makanan itu keluar saat sakura sama sekali tidak ingin memakan makanan yang telah dibawahnya. Terdengar pintu kamar itu terbuka dan tertutup kembali, mata yang awalnya tertutup kembali terbuka saat mengetahui daichi telah keluar.
Dadanya terasa begitu sesak saat harus bersikap kasar terhadap daichi, dia merasa menyesal telah bersikap dingin terhadapnya. Tidak mampu mengungkapkan apa yang tengah dirasakan dan hanya memendam perasaannya sendiri membuat salah dalam cara penyampaiannya
••••
"Tolong bawa ini", ucap daichi kepada seorang pelayan yang ada diruang makan.
"Baik tuan", ucapnya.
Dia berjalan kearah teras samping rumahnya, mencoba menenangkan pikirannya sambil menikmati angin malam.
"Daichi,
"Ayah", ucap daichi.
"Apa yang sedang kamu lakukan?" Tanya Arashi.
"Tidak ada ayah hanya sedang mencari angin", ucap daichi.
"Apa kamu ada masalah di kantor?
"Tidak ada ayah, semua urusan kantor berjalan sangat lancar", ucap daichi.
"Bagaimana hubungan mu dengan sakura? Apa berjalan lancar juga?" tanya Arashi.
"Hahahah, kenapa ayah tiba-tiba bertanya seperti itu?" tanya daichi.
"Dengar daichi ayah berharap kamu bisa menjaga sakura dengan baik", ucap Arashi.
"Aku mengerti itu ayah ", ucap daichi.
"Ayah masuk duluh kalau begitu", ucap Arashi.
"Iya ayah, selamat beristirahat ", ucap daichi.
Tidak lama setelah Arashi pergi, dia pun beranjak dari tempat itu menujuh kekamarnya untuk beristrahat. Ketika dia masuk, kamar itu begitu gelap dengan lampu yang telah dimatikan.
"Apa kamu sudah tidur?" berjalan menujuh ranjang.
Tidak ada jawaban atas pertanyaan itu dan hanya tersisa keheningan malam. Raga sakura begitu dekat dengannya, tapi entah mengapa dia merasa seperti ada tembok yang membatasi keduanya saat ini.
"Selamat malam sakura", ucapnya.
Mata yang terpejam itu terbuka saat mendengar suara yang menusuk telinga, dia hanya berpura-pura tidur dalam kegelapan. Sekuat apapun dia mencoba menutup kedua matanya untuk menghindari dari daichi, tetapi dia tidak mampu menutup hatinya untuk pria yang sangat dicintainya.
•••••
Cahaya matahari yang terik membangunkan daichi dari tidurnya, tangannya bergerak-gerak mencari sosok wanita di sampingnya. Dia membuka kedua matanya dan melihat ranjang itu telah kosong, tidak ada sosok sakura di sampingnya saat dia membuka kedua matanya.
Dia bangkit dari tempat tidur dan melangkah berjalan kekamar mandi untuk bersiap - siapa berangkat kekantor.
"Tolong letakan itu disana", ucap sakura.
"Baik nona sakura", ucap pelayan itu.
Pagi ini dia mencoba menata hatinya dan berhenti larut dalam rasa kecewanya, dia mencoba melakukan kembali rutinitasnya menyiapkan sarapan untuk keluarganya.
"Selamat pagi menantuku", ucap Arasih.
"Ehh, Selamat pagi ayah, ibu", ucap sakura.
"Bagaiman keadaanmu pagi ini sayang?" Tanya Imoto
"Aku baik-baik saja ibu", jawab sakura.
"Syukurlah sayang, semalam ibu sangat mengkhawatirkan kamu", ucap Imoto.
"Yasudah ayok ibu, ayah kita sarapan", ucap sakura.
__ADS_1
"Tapi dimana daichi? Apa dia belum turun? " tanya Arashi
Sakura hanya diam saat mendengarkan pertanyannya Arashi.
"Aku disini ayah", ucap daichi.
"Yasudah ayok kita sarapan kalau begitu", ucap Imoto.
Daichi terus menatap sakura yang berada disampingnya, ini pertama kalinya sakura tidak membangunkannya ataupun menyiapkan pakaian yang akan dikenakannya ke kantor.
"Oh iya ayah, ibu, ada sesuatu yang ingin aku katakan", ucap sakura.
"Apa itu sayang?" tanya Imoto
"Aku dan daichi sudah membahasnya dan sepakat untuk segera pindah ke rumah kami", ucap sakura.
Sontak saja suasana berubah menjadi hening untuk sesaat, daichi yang mendengar pernyataan sakura begitu kaget saat dia mengatakan bahwa mereka berdua sudah sepakat, sedangkan dia sama sekali tidak merasa mereka pernah membahas soal itu.
"Kenapa mendadak seperti ini?" tanya Imoto dengar raut wajah yang kecewa.
"Ibu jangan sedih", ucap sakura.
"Tentu saja ibu sedih , apa kamu tidak nyaman tinggal disini sayang?" tanya imoto.
"Tentu saja tidak ibu, sakura sangat senang bisa tinggal disini bersama ibu, tapi kami hanya ingin mencoba mandiri Bu", ucap sakura
"Sudahlah istriku, jangan menghalangi mereka. Biarkan mereka membangun rumah tangga mereka sendiri", ucap Arashi.
Daichi hanya menyimak situasi yang terjadi, wajahnya terlihat memerah menahan rasa kesalnya saat ini terhadap sakura.
"Aku sudah selesai", ucap daichi.
"Tapi kamu belum mengabiskan makananmu daichi", ucap Imoto.
"Aku sudah tidak selera makan ibu", ucapnya sambil bangkit dari bangkunya.
Dengan membawa kemarahannya dia pergi meninggalkan meja makan menujuh kekamarnya. Sakura yang melihat sikap daichi menyadari bahwa saat ini dia sedang marah.
"Ibu,ayah, sakura menemui daichi duluh", ucap sakura.
"Baiklah sayang", ucap Imoto.
Dengan perlahan sakura membuka pintu kamarnya, disana dia melihat daichi sedang berdiri di dekat jendela dengan tatapan yang tertujuh kearah luar.
"Kamu belum berangkat?" tanya sakura yang berjalan menghampiri daichi.
"Soal apa?" wajahnya sakura terlihat begitu polos.
"Sejak kapan kita membahas itu berdua? Tanya daichi.
"Apa kamu marah? Maafkan aku daichi ", ucap sakura.
"Aku hanya sedikit kecewa saja saat kamu mendadak mengatakan hal itu tanpa sepengetahuanku", ucap daichi.
"Aku hanya ingin kita memulai membangun rumah tangga kita dari awal", ucap sakura.
"Aku setujuh dengan pendapatmu sakura, tapi bisakah kamu memberitahukan ku terlebih dahulu", ucap daichi.
"Aku tau aku salah, maafkan aku", jawab sakura.
" Yasudah lupakan itu, Dengar sakura aku akan selalu mendukungmu. Jangan perna lupakan itu ", ucap daichi.
"Terima kasih daichi", ucap sakura.
"Hmm, Yasudah kalau begitu aku berangkat kekantor duluh", ucap daichi.
"Iya, hati-hati. Maaf aku tidak bisa mengantarmu kebawah ada sesuatu yang ingin aku kerjakan", ucap sakura.
"Baiklah, itu tidak masalah", ucap daichi.
Tak lupa dia mengecup kening sakura sebelum pergi meninggalkan sakura.
"Aku akan segera pulang saat pekerjaanku telah selesai", ucap daichi.
Sakura hanya tersenyum saat mendengarkan janji yang diberikan daichi kepadanya. Selepas kepergian daichi, sakura langsung buruh-buruh mengganti pakaiannya untuk bersiap-siap pergi menemui Kimi dikantornya.
"Ibu, Ibu", panggil sakura.
"Ia sayang, ibu disini", ucap Imoto.
Sakura pun berjalan menujuh ke teras samping rumah untuk meminta izin kepada ibu mertuanya.
"Kamu cantik sekali sayang", ucap Imoto saat melihat penampilan sakura.
__ADS_1
"Terima kasih ibu ", ucap sakura.
"Apa kamu ingin pergi sayang?" tanya Imoto.
"Ia ibu, sakura ingin pergi kekantor sakura sebentar ada urusan yang harus sakura kerjakan", ucap sakura.
"Yasudah sayang, hati- hati dan ingat sayang jangan lama sekali pulangnya ", ucap Imoto.
"Iya ibu, sakura hanya pergi sebentar saja", jawab sakura.
"Baiklah sayang", ucap Imoto.
Selepas berpamintan dengan Imoto, sakura pun pergi meninggalkan kediaman Tama menujuh kantor nya dengan diantar pak Yuko.
Meskipun suasana hatinya masih belum sepenuhnya pulih untuk daichi, tetapi dia masih mengingat bahwa meminta izin kepada suaminya adalah suatu keharusan. Dia pun mengambil ponselnya dan menghubungi daichi, tak perlu menunggu terlalu lama panggilan itu langsung di angkat oleh daichi.
"Hallo Daichi", ucap nya dengan suaranya yang lembut.
"Ada apa sakura?" tanya daichi.
"Apa aku menggangu mu?" tanya sakura.
"Tentu saja tidak sayang, aku sedang meeting berdua dengan sekertaris Yun. " Ada apa??? " Tanya daichi.
"Ahhh soal itu, aku hanya ingin bilang kalau aku sedang diluar saat ini. Maafkan aku lupa meminta izin kepadamu ", ucap sakura.
"Keluar?? Kemana??" suara daichi kini terlihat mulai berbeda.
"Aku hanya ingin pergi kekantor untuk bertemu dengan Kimi ada sesuatu yang ingin kami bahas", ucap sakura.
"Siapa yang mengantar?" tanya daichi.
"Pak Yuko yang mengantarku dan kami sedang menujuh kekantor ku", ucap sakura.
"Baiklah, hubungi aku jika sudah selesai", ucap daichi.
"Maksudnya?" tanya sakura yang tidak mengerti maksud perkataan daichi.
"Aku akan menjemput mu, jika urusanmu sudah selesai", ucap daichi.
"Astaga, itu tidak perlu daichi", ucap sakura.
"Sakura, aku tidak mau kejadian semalam terulang lagi, saat kamu pulang dalam keadaan basah- basah", ucap daichi.
"Tidak akan ,aku akan pulang saat urusan ku sudah selesai dan kali ini aku akan meminta pak Yuko menungguku", ucap sakura.
"Aku sudah tidak percaya dengan pak Yuko, aku akan tetap menjemputmu. Kabari aku jika sudah selesai", ucap daichi.
Baru saja sakura ingin berbicara, daichi langsung memutus sambungan telepon itu. Dia sama sekali tidak menerima penolakan yang dilakukan sakura dan tetap dengan keinginannya untuk menjemput sakura.
"Dia mematikannya", ucap sakura sambil menggelengkan kepalanya.
Pak Yuko yang dari tadi mendengarkan pembicaraan sakura dengan daichi melalui sambungan telepon hanya tertawa, sakura yang melihat ekspresi pak Yuko di cermin begitu bingung.
"Kenapa bapak tertawa?" tanya sakura
"Ahh, tidak nona saya hanya teringat kejadian semalam", ucap pak Yuko.
"Semalam? Apa yang terjadi semalam pak Yuko?" tanya sakura yang terlihat penasaran.
"Tuan daichi semalam marah besar kepada saya nona dan itu sangat menyeramkan ", ucap pak Yuko.
"Marah? Tapa kenapa dia memarahi pak Yuko?
"Itu karena saya meninggalkan anda dan tidak menunggu anda nona", jawab pak Yuko.
"Sung-guh?? "Tanya sakura.
"Benar nona, bahkan tatapan mata tuan daichi masih terbayang diingatan saya ", ucap pak Yuko.
"Maafkan saya pak Yuko karena saya anda dimarahin", ucap sakura dengan raut wajahnya sangat menyesal.
"Sudah tidak apa- apa nona, tapi jangan ulangi lagi. Semalam Nyonya dan tuan mudah daichi sangat cemas, terutama tuan mudah yang terlihat sangat khawatir ", ucap pak Yuko.
Untuk pertama kalinya sejak kejadian yang terjadi semalam sakura mampu tersenyum, sebuah senyum yang tulus bukan sebuah senyum palsu. Dia merasa bersyukur karena mendapatkan rasa cinta yang luar biasa dari keluarga barunya dan itu adalah sebuah bentuk kebahagian yang sangat sempurna di hidupnya hingga dia tidak akan pernah membiarkan seseorang merusak kebahagiaan yang dimiliknya.
PENGUMUMAN:
Hai semuanya, disini saya ingin memberitahukan buat kalian pembaca setia novel PERNIKAHAN YANG DIJODOHKAN mulai sekarang Pernikahan yang dijodohkan akan UP hanya 2 kali dalam seminggu ya yaitu setiap Sabtu dan Minggu di Jam 7 malam, hal ini dikarenakan kesibukan saya dalam bekerja hingga membuat saya kesulitan dalam menulis lanjutan novel saya.
Mohon maaf jika kalian merasa kecewa dan Terima kasih buat kalian yang selalu mendukung saya. Aku sayang kalian semua 🤗💞
__ADS_1
Pembaca setia ku, terima kasih atas masukan yang kalian berikan kepada saya. Semua masukan yang kalian berikan akan menjadi motivasi buat saya dalam menulis novel saya. Jangan lupa untuk selalu like,coment apa saja yang ingin kalian tulis dan yang paling penting vote untuk saya.🥰🌸
Bersambung....