
Mereka menikmati saat- saat kebersamaan mereka berdua, berkencan setelah menikah itulah yang sedang mereka lakukan untuk saling membangun perasaan satu sama lain yang tidak pernah mereka lakukan saat mereka resmi dijodohkan oleh kedua keluarga mereka sendiri.
Berjalan-jalan bersama, menghabiskan waktu bersama menyusuri setiap tempat yang mereka kunjungi. Hingga mereka berhenti di sebuah taman bermain yang di sediakan untuk para pengunjung yang membawa anak-anak mereka. Sakura tampak begitu bahagia melihat keceriaan yang terpancar di wajah anak-anak itu.
"Apa kamu sangat menyukai anak-anak?" tanya daichi
"Hmmm, aku sangat menyukai anak kecil. Bahkan duluh aku sempat terpikir ingin bekerja di taman kanak-kanak", ucap sakura.
"Sungguh?" suara daichi tampak tak percaya mendengarnya.
"Hmm, tentu saja kenginanku saat itu di tentang oleh keluarga", ucap sakura.
"Mulai sekarang, apa pun yang ingin kamu lakukan aku akan mendukungmu sakura", ucap daichi yang tersenyum kepada sakura .
"Karena itulah aku ingin menikah denganmu", ucap sakura yang melirik daichi dan mengedipkan satu matanya.
"Aisss, Dasar", ucap daichi yang tertawa melihat sakura.
Perhatian mereka teralihkan saat seorang anak laki-laki menangis jatuh tepat dihadapan mereka saat sedang naik sepeda. Daichi langsung berlari kearah anak tersebut untuk melihat kondisi anak itu dengan diikuti sakura di belakang daichi.
"Apa kamu baik- baik saja", ucap daichi.
Anak kecil itu terus menangis dan terus memegang lututnya yang terus mengeluarkan darah, sakura yang melihat darah di lutut anak kecil itu langsung mengambil sebuah tisu basah di dalam tasnya dan membersihkan lukanya.
" Heii, jangan menangis. Seorang anak laki- laki harus kuat", ucap sakura yang mengelus rambut anak tersebut sambil tersenyum.
"Hei nak, dimana orang tua mu?" tanya daichi.
"Disana", ucap anak itu sambil menunjuk ke suatu arah.
"Baiklah, kami akan mengantarkan mu kepada orang tua mu, sekarang berhenti menangis ", ucap sakura yang menghapus air mata anak itu.
Sakura memegang tangan anak itu untuk membantunya berdiri, namun anak itu merasa sakit dikakinya dan membuatnya tidak mampu berdiri. Melihat hal itu membuat sakura menatap kearah daichi dengan wajah yang terlihat melas dan kasihan.
"Kumohon", ucap sakura kepada daichi yang berdiri di sampingnya.
Daichi yang tak sanggup melihat tatapan sakura terhadapnya, membungkukkan badannya tepat di hadapan anak kecil itu.
"Naiklah nak", ucap daichi.
Sakura menganggukan kepalanya kepada anak laki- laki yang melihat kearah sakura.
"Naiklah sayang, paman itu akan menggendong mu", ucap sakura.
Dengan perlahan sakura membantu anak itu bangkit dan naik ke punggung daichi,
"Kamu sangat berat", ucap daichi yang perlahan berdiri.
Sakura hanya tertawa mendengar celotehan daichi mengenai anak laki-laki itu.
"Bagaimana dengan sepedanya?" tanya daichi.
"Aku akan mendorongnya", ucap sakura.
Mereka berjalan bersama- sama mengantarkan anak itu kepada orang tuanya, sakura terus tersenyum melihat pemandangan di depannya sambil mendorong sepeda. Sosok pria yang sangat dingin dan arogan , pria yang selama ini ditolaknya untuk masuk ke dalam hidupnya bahkan sama sekali tidak di cintai nya kini telah menjadi suaminya seakan semuanya masih tidak masuk akal di dalam pikiran sakura.
Pria yang selama ini sangat dibencinya, kini sakura merasa tidak mampu hidup tanpanya saat ini. Dia selalu ingin berada di dekat daichi dan selalu ingin menghabiskan waktu yang panjang bersamanya.Hidupnya saat ini terasa begitu bergantung kepada Daichi Tama, pria yang memberikan kehidupan baru di hidupnya dan dia merasa begitu beruntung dengan apa yang dimilikinya.
Satu hal yang dia mengerti tidak selamanya sebuah pernikahan yang dijodohkan itu akan berakhir tidak bahagia karena dia percaya dengan berjalannya waktu dan kebersamaan yang terjalin cinta akan muncul dengan seiring berjalannya waktu.
"Paman, itu ibu ku", ucap anak kecil itu.
"Benarkah?" tanya daichi.
"Ibu...! ibu....! ibu.... ! ( teriak anak kecil itu)
__ADS_1
"Apa yang terjadi", ucap wanita itu yang berjalan menghampiri daichi dan sakura.
"Saat sedang bermain sepeda tadi, dia jatuh", ucap sakura.
"Terima kasih sudah menolongnya", ucap wanita itu.
Daichi menurunkan anak itu dengan perlahan,
"Terima kasih paman", ucap ank kecil itu.
"Lain kali kamu harus berhati-hati saat bermain", ucap daichi sambil mengelus kepala anak itu.
"Sekali lagi saya mengucapkan terima kasih kepada kalian berdua", ucap wanita itu.
"Baiklah kalau begitu kami pergi duluh, ini sepedanya", ucap sakura.
Hari semakin sore, awan terlihat mulai gelap dan sepertinya sebentar lagi akan turun hujan. Mereka berdua memutuskan untuk pulang mengingat mereka tidak membawa mobil.
"Sebantar lagi akan hujan", ucap daichi.
"Kamu salah, bahkan sudah mulai hujan ", ucap sakura yang melihat keatas.
Langit terlihat begitu gelap, hingga setetes air jatuh tepat di pipi sakura dan dalam hitungan detik hujan rintik- rintik jatuh.
"Sudah hujan", ucap daichi.
Dia menarik sakura mencari tempat untuk berteduh , hujan mulai terasa begitu deras dan banyak orang yang berlarian mencari tempat untuk berteduh. Hingga mereka menemukan sebuah tempat dimana tidak ada sama sekali orang menunggu disana dan terdapat
sebuah kursi panjang .
"Apa kamu basah?" ucap daichi sambil memeriksa keadaaan sakura.
"Hmm, sedikit saja", ucap sakura.
Daichi berdiri melihat hujan yang turun begitu deras dengan diikuti suara petir yang bergemuru.
Sakura mulai tampak merasa kedinginan dengan pakaiannya yang basah hingga membuatnya bersin- bersin.
Hacih!......Hacih!.....
Dia menggosok kedua tangannya untuk mendapatkan kehangatan dan menempelkan kedua tangannya di pipinya.
Daichi yang melihatnya , melepaskan kemeja yang dikenakannya dan memakaikannya kepada sakura dari belakang.
"kenapa kamu melepaskannya?" tanya sakura.
"Pakaianlah agar kamu tidak merasa kedinginan ", ucap daichi.
"Ta-pi kamu juga pasti kedinginan", ucap sakura.
"Aku adalah seorang pria, jangan khawatirkan aku",ucap daichi.
"Bukankah pria juga manusia ", ucap sakura.
"Kemarilah", ucap daichi yang mengulurkan tangannya.
Melihat hal tersebut sakura hanya tertawa dan mendekat kerah daichi, dia mendekap sakura begitu erat di pelukan nya. Perasaan yang tadinya begitu dingin kini sakura merasakan kehangatan dalam pelukan daichi.
"Aku akan menghubungi pak hans untuk menjemput kita", ucap daichi sambil mengambil ponselnya di saku celananya.
Sakura yang berada di dekapan daichi, menggerakan badannya dan mengangkat kepalanya agar dapat melihat wajah daichi.
"Lalu, bagaimana dengan motornya?" tanya sakura.
"Aku akan menyuruh orang untuk membawanya nanti", ucap daichi sambil menghubungi pak Hans.
__ADS_1
°°°
"Hallo pak Hans", ucap daichi.
"Ia tuan daichi", ucap pak Hans
"Bisakah pak Hans menjemput kami sekarang?" tanya daichi dengan nada suaranya yang sedikit meninggi karena suara hujan yang begitu deras.
"Baik tuan daichi, saya akan kesana sekarang", jawab pak Hans.
"Baiklah , aku akan mengirimkan alamatnya ", ucap daichi.
"Baik tuan", ucap pak Hans.
Sambungan telepon itu pun berakhir, daichi mengetik alamat di mana mereka saat ini berada dan mengirimkannya kepada pak Hans. Dia kembali memasukan ponselnya di saku celananya dan kembali mengeratkan pelukannya dengan satu tangannya kepada sakura.
"Apa merasa lebih baik?" tanya daichi.
"Hmmm, terasa lebih hangat", ucap sakura yang bersembunyi di balik bahu daichi.
"Teri-ma kasih", ucap sakura dengan suara yang begitu lembut.
Daichi menundukkan kepalanya dan melihat sakura dengan tatapan yang terlihat bingung.
"Terima Kasih? Untuk apa?" tanya daichi
"Terima kasih karena kamu selalu berusaha untuk menjaga dan melindungi ku", ucap sakura
"Apakah aku melakukan sesuatu yang luar biasa? tanya daichi .
Sakura yang dari tadi berlindung di bahu daichi, mengangkat kepalanya dan melepaskan rangkulan daichi terhadapnya, dia menatap daichi dan memberikan senyuman dengan bibirnya menarik setiap sudutnya dengan membentuk sebuah lengkungan.
"Kamu selalu melakukan hal yang luar biasa dihidupku", ucap sakura.
"Ahh, kalau begitu bukankah aku harus mendapatkan Hadian untuk sikap baik ku?" tanya daichi dengan satu alisnya yang terangkat
"Hadiah???" sakura tanpa bingung.
"Hmmm, sebuah hadiah", ucap daichi
"Baiklah, katakan hadiah apa pun yang kamu inginkan? Aku akan memberikannya", ucap sakura.
"Benarkah???" tanya daichi kembali kepada sakura
"Hmm, tentu saja", ucap sakura.
"Apa pun?"Daichi mencoba memastikan kembali kepada sakura dengan ucapa nya.
"Yahh, apapun", jawabnya
Daichi hanya tersenyum mendengarnya, dia mendorong dirinya lebih dekat dengan sakura, tentu saja membuat perasaan sakura begitu was-was dengan hal yang akan dilakukan daichi, dia merasa sepertinya telah salah berbicara kali ini tanpa memastikan kembali apa keinginan daichi.
Sakura melirik daichi yang tersenyum kepadanya, namun itu bukanlah sebuah senyuman biasa dan seakan memberikan sebuah arti di balik senyum yang terlihat menakutkan. Dilingkarannya tangannya tepat di pinggang sakura, dia menarik sakura di dalam pelukannya.
Wajah sakura terlihat pucat setiap melihat ekspresi daichi yang seakan ingin menyantapnya dengan lahap.
"A-pa yang ingin kamu lakukan daichi?" tanya sakura dengan suaranya yang terbatah-batah.
"Mencium mu", ucap daichi.
Kedua mata sakura tercengang ketika bibir daichi menyentuh bibir sakura, dia terus memainkan bibirnya menarik bibir bawah sakura dengan kuat seakan ingin melepaskan dan membuat sakura merasa kesakitan. Sakura mencoba melepaskan dirinya dari daichi, namun saat dia ingin mencoba menarik wajahnya daichi menahannya dengan tangan yang memegang kepala sakura di belakang dan mendorong sakura semakin dekat dengannya.
"Aku mencintaimu Sakura Tama", bisik daichi dengan suara yang serak dan nafas yang tidak beraturan dan kembali menarik sakura kedalam dekapannya dan mencium sakura.
Pembaca setia ku, terima kasih atas masukan yang kalian berikan kepada saya. Semua masukan yang kalian berikan akan menjadi motivasi buat saya dalam menulis novel saya. Jangan lupa untuk selalu like,coment apa saja yang ingin kalian tulis dan yang paling penting vote untuk saya.🥰🌸
__ADS_1
Bersambung..