
"Nona Sera".
Dua kata itu mampu membuat daichi tercengang,bahkan tidak mengeluarkan suara sedikitpun. Dia berusaha mencerna 2 kata yang keluar dari mulut kimi, memastikan kembali bahwa apa yang didengarnya itu benar,bahkan sekertaris yun yang berdiri di sebelah kimi sama halnya seperti daichi, dia pun merasa kaget.
"Apa maksudmu dengan menyebut sera, nona kimi?"tanya daichi,matanya menatap kimi dan terlihat serius.
"Di acara tadi, nona sera juga ada tuan. Dia juga sebagai tamu disana", ucap kimi.
"Lalu?"tanyanya.
"Begini tuan", jawabnya dengan nada suara yang was-was.
Kimi mulai menjelaskan semuanya, dia memberitahu daichi tentang semua hal yang dilihatnya dan didengarnya, bahkan tidak ada sedikitpun yang dilewatkan kimi dan suaranya mendadak menghilang saat apa yang didengarnya dan yang disampaikan sera kepada sakura itu tak sanggup keluar dari mulutnya.
"Apa yang ingin kamu sampaikan kimi, katakanlah", ucap daichi.
Ingin sekali rasanya dia mengutarakan semua yang dikatakan sera kepada sakura, tapi bagi kimi sulit untuk mengatakannya di depan daichi, tangannya meremas-remas gelisah, perasaannya begitu canggung jika mengatakan langsung kepada daichi.
"Nona kimi, katakan saja jangan ragu. Tuan daichi tidak akan marah", kata sekertaris yun yang seolah menyadari apa yang dirasakan kimi saat ini.
"Jangan khawatir kimi",ucap daichi yang terlihat tenang.
Kali ini dia mencoba mengatakannya kepada daichi.
"Begini tuan, saya mendengar nona sera bercerita tentang pertama kali dia bertemu dengan nona sakura saat acara kantor anda", jelasnya.
"Sepertinya acara yang dimaksud nona kimi adalah acara tahunan yang rutin kita selenggarakan karena hanya acara itu yang pertama sekali nona sakura hadiri, tuan daichi", ucap sekertaris yun.
"Hmmm, lalu", sahut daichi.
"Dan setelah itu nona sera mengatakan bahwa setelah acara itu selesai anda mengunjunginya karena ingin melepas kerinduan anda dengannya. Dia juga mengatakan bahwa an-da meng-habis-kan ma-lam panjang bersama- sama di apartemennya ", ucap kimi dengan suara terbata-bata.
"Apa!!! teriak daichi.
Kimi hanya mengangguk kepalanya sambil menatap daichi, sedang ekspresi wajah daichi tiba - tiba berubah sendu dan mengarahkan pandangannya ke ruang rawat sakura.
"Benarkah itu yang diceritakannya kepada nona sakura?"sekertaris yun mencoba memastikan kembali.
"Ya,"jawab kimi, suaranya terdengar yakin.
Sekertaris yun mendongak menatap daichi, dia menunggu apa yang akan diperintahkan kepadanya, sementara daichi terlihat menenangkan dirinya sendiri.
"Kimi, bisakah kamu membantu saya?"tanya daichi
Dia mengangguk, meski perasaannya begitu takut saat mendengar kemarahan dalam suaranya.
"Tolong jaga sakura sebentar, saya dan sekertaris yun harus pergi. Kami akan segera kembali saat urusan kami sudah selesai", ucapnya.
"Baiklah tuan, saya akan menjaga nona sakura disini", sergah kimi.
"Sekertaris yun, ayok kita pergi sekarang", ucap daichi yang berjalan duluan.
"Baik tuan", jawabnya, tidak ada pertanyaan kepada mereka harus pergi, tapi sekertaris yun memiliki tebakan sendiri kemana tujuan mereka melihat ekspresi kemarahan daichi.
Keduanya pergi meninggalkan kimi, langkah kakinya panjang berjalan sangat cepat dan membuat sekertaris yun kewalahan mengikuti daichi di belakang.
"Tuan daichi benar- benar marah", gumamnya.
"Daichi!!!!
Terdengar suara seorang wanita berteriak memanggil nama daichi, sontak saja langkahnya terhenti. Matanya tercengang saat melihat wanita yang ditatapnya itu sedang berjalan menghampirinya.
"Kak sena", ucapnya.
"Kamu mau kemana buruh-buruh sekali?"tanya sena.
"Kakak ingin melihat sakura?"tanyanya.
"Iya, bagaimana keadaanya saat ini?" tanya sena.
"Dia sudah lebih baikan kak dan sedang istirahat", jawab daichi.
"Ah, syukurlah. Lalu kamu mau kemana?"tanya sena sambil menatap daichi, menunggu jawaban.
__ADS_1
Daichi tersenyum, sembari mencari alasan yang tepat untuk diberikannya kepada kakak iparnya itu.
"Ada sesuatu yang harus aku kerjakan dulu. Aku titip sakura ya kak. Tolong jaga dia sampai aku kembali. Disana ada kimi, sekertaris pribadi sakura yang menjaganya",jelasnya.
"Apa tidak bisa ditunda?"tanya sena.
"Tidak bisa kak, ini sangat mendesak sekali", jawabnya.
"Baiklah kalau begitu, tapi cepatlah kembali. Sakura pasti akan mencari suaminya saat dia sadar", ucap sena.
"Aku akan segera kembali kak dan mengusahakannya sebelum sakura sadar", jawab daichi.
"Baiklah", sahut sena.
"Kalau begitu aku pergi dulu kak", ucap daichi.
"Hmmm,hati-hati", ucap sena.
Keduanya kembali berjalan meninggalkan rumah sakit menuju ke parkiran.
"Buka pintunya, sekertaris yun!" suara daichi terdengar berapi-api dari sebelumnya.
Tanpa banyak bicara, sekertaris yun membuka pintu mobil untuk daichi dan dengan cepat dia berlari masuk kedalam mobil. Menyalakan mesin mobil dan pergi meninggalkan parkiran rumah sakit menuju apartemen sera. Melihat ekspresi daichi yang masih menyala-nyala, membuatnya mengurungkan niat untuk banyak bertanya dan dengan inisiatif yang dimilikinya, dilanjukan mobil itu menuju tempat tinggal sera. Setidaknya, jika dia salah, daichi akan menegurnya dan sampai saat ini daichi hanya berdiam diri dan duduk tenang di bangku penumpang.
"Bukankah tadi daichi?"tanya tana.
"Ia itu daichi", ucap Yuka.
"Kemana dia ingin pergi?"tanya tana.
"Mungkin dia ada urusan sebentar, sudahlah ayok masuk", ucap rici yang selalu berpikiran positif terhadap segala hal.
Didalam ruang rawat, sena ditemani kimi terus memperhatikan sakura yang sampai sekarang masih tidur dan belum sadar.
"Dia belum ada bangun dari tadi?"tanya sena.
"Belum ada nona", jawab kimi.
"Adikku sayang", ucap sena sambil menggenggam erat tangan sakura.
"Bagaimana keadaanya,sayang?"tanya rici.
"Belum sadar", jawab sena.
"Tadi kami melihat daichi diparkiran. Apakah itu dia?"tanya tana.
"Benar", jawab sena.
"Kemana dia pergi? Bagaimana dia bisa meninggalkan istrinya disaat keadaanya seperti ini", ucap tana sambil tersenyum sinis.
"Aku tadi bertemu dengannya. Dia ada urusannya sebentar dan akan segera kembali saat semuanya sudah selesai", jelas sena.
"Apakah urusannya itu lebih penting dari istrinya?"tanya tana yang terlihat sangat kesal.
"Hentikan tana, sampai kapan kau terus memusuhi adik ipar mu?"tanya rici.
"Dari dulu aku sama sekali tidak menyukainya, bahkan membayangkan adikku menikah dengannya saja membuat hatiku terluka", ucapnya.
"Tapi sekarang dia sudah menjadi suami adik kita tana", ucap rici.
"Hentikan tana, jangan berkata seperti itu. Sakura akan sedih jika mendengar perkataan mu barusa", ucap sena.
"Benar suamiku, lihatlah sakura. Dia terlihat bahagia bersama daichi, jadi berhentilah berpikiran negatif dengannya", ucap Yuka.
"Kita lihat saja nanti, buktinya sakura bisa seperti ini. Dia pasti memperlakukan sakura tidak baik", ucap tana.
Kimi langsung melirik tana, ucapan yang dilontarkannya membuat kupingnya terasa panas saat mendengar semua yang dikatakannya.
"Mungkin saja sakura selama ini menyembunyikannya dari kita",ucap tana.
Kimi mengernyitkan keningnya, kali ini dia benar -benar tak sanggup menahan mulutnya untuk tidak bicara, setidaknya apa yang akan disampaikannya adalah hal yang sebenarnya dan sesuai dengan apa yang dilihatnya selama ini.
"Maaf tuan tana, sepertinya anda sudah salah paham. Selama saya bersama nona sakura, saya selalu melihat tuan daichi begitu menyayanginya, bahkan sebenarnya tuan daichi tadi sudah melarang nona sakura untuk pergi bekerja , tapi nona sakura yang bersikeras ingin bekerja. Maaf atas kelancangan saya", ucap kimi.
__ADS_1
"Kenapa kamu harus minta maaf kimi? Apa yang kamu lakukan sudah benar, supaya suamiku ini berhenti menjelekan daichi", ucap Yuka.
Tana hanya mampu berdiam diri, mulutnya tertutup rapat tanpa ada sepatah kata yang keluar lagi dari mulutnya.
"Da-ichi".
Semua orang yang ada diruang itu langsung membalikkan badan mereka, senyum kebahagian tergambar di wajah semuanya saat melihat sakura yang akhirnya sadar.
"Adikku..", ucap sena
"Bagaimana keadaanmu?"tanya rici.
"Aku baik-baik saja kak", jawab sakura dengan suara yang pelan dan terlihat masih tak bertenaga.
"Sakura, ini kak tana",ucap tana.
"Kak tana", ucapnya sambil tersenyum.
"Syukurlah akhirnya kamu sudah bangun, kami sangat khawatir", ucap sena.
Bola mata sakura berputar, mencari sosok yang ingin dilihatnya. Semua orang ada disana, tapi dia tidak menemukan daichi diantara mereka. Sena langsung menyadari siapa yang saat ini dicari oleh adiknya itu.
"Daichi tidak ada disini sayang, dia pergi keluar sebentar karena ada urusan. Dia akan segera kembali saat semua urusannya sudah selesai",jelas sena.
Ekspresinya langsung terlihat sedih, baginya tanpa daichi semua terasa berbeda dan sunyi. Dia hanya lesu dan sama sekali tak bertenaga, baginya daichi adalah penguat untuk hidupnya saat ini.
"Pria yang tak bertanggung jawab", ucap tana.
Sakura langsung menatap tana dengan pandangan kesal.
"Kenapa? Bukankah dia adalah pria ...." perkataannya tana terputus saat semua orang melihatnya.
"Kakak, kumohon. Jangan terus menjelekan suamiku", pinta sakura.
Pandangan semua orang langsung tertumpuk pada tana.
"Itu karena kakak sangat menyayangimu sakura. Kakak tidak ingin dia menyakitimu, kamu adalah adikku satu- satunya", ucap tana.
"Aku tahu kakak sangat menyayangiku, bahkan semua orang yang ada disini juga menyayangiku,tapi berhenti berkata hal yang buruk tentang daichi. Dia sangat mencintaiku kakak, dia memperlakukan ku begitu baik seperti kalian semua memperlakukanku. Aku sangat mencintainya kak, jadi tolong terimalah dia dan jangan membencinya", pinta sakura, dilayangkannya pandangan memohon kepada kakaknya itu.
"Baiklah...Baiklah...",ucap tana yang tak kuasa melihat sakura memohon kepadanya
"Sudahlah, jangan membahas itu lagi. Kamu harus cepat pulih agar bisa segera keluar dari rumah sakit", ucap sena.
"Ia kak", jawab sakura.
°°°°°°°°°°
Mobil mereka akhirnya berhenti diparkiran apartemen yang ditinggali sera, daichi masih berdiam diri dalam segala pikirannya.
"Kita sudah sampai tuan", ucap sekertaris yun.
Daichi hanya diam tanpa menyahut dirinya, dalam hatinya sekertaris yun berpikir apa mungkin dia salah membawa daichi hingga tidak ad reaksi yang diperlihatkannya.
"Sekertaris yun, tunggulah disini. Aku akan masuk kedalam", ucap daichi.
Sejenak sekertaris yun merasa ragu membiarkan daichi pergi sendirian menemui sera. Dia merasa tidak yakin daichi bisa mengontrol emosinya saat berjumpa dengan sera, saat melihat ekspresi kemarahan seorang daichi Tama saat ini.
"Tuan, biarkan saya menemani anda masuk kedalam", ucap sekertaris yun.
Kening daichi mengkerut, tatapan matanya terlihat tajam kearah sekertaris yun. Dia menatap sekertaris yun tanpa berbicara, namun sekertaris yun dapat memahami apa yang ingin dikatakan daichi lewat tatapannya.
"Sebaiknya saya memang harus menunggu disini saja", ucapnya sambil tersenyum, sebuah senyum yang terlihat memaksa.
Dia membuka pintu mobil itu dan turun dengan kemarahan yang sudah tak tertahankan oleh dirinya, sementara sekertaris yun yang melihat daichi hanya bisa berharap bahwa sera mampu lolos dari amukan daichi yang sedang membara dan siap membakarnya.
Langkah kakinya berhenti tepat di depan pintu apartemen milik sera sembari menekan tombol bel. Butuh beberapa menit dia menunggu sampai akhirnya seseorang membukakan pintu apartemen itu.
"Siapa?"tanya seorang wanita itu.
Daichi hanya diam tanpa bersuara, hingga pintu itu terbuka dan wanita itu benar - benar terlihat terkejut saat melihat tamu yang berkunjung adalah sosok yang sama sekali tidak diharapkannya.
"Da-ichi",ucapnya dengan suara terbata-bata.
__ADS_1
Bersambung.....