Pernikahan Yang Dijodohkan

Pernikahan Yang Dijodohkan
Episode 116 Bertemu


__ADS_3

Pengumuman!!!!


Terima kasih buat kalian semua yang selalu setia menunggu kelanjutan Pernikahan yang dijodohkan. Author sangat senang setiap membaca coment kalian semua yang selalu meminta untuk author terus melanjutkannya.


Malam ini Up Dua episode yaaaa 🥳🥳


Jangan lupa untuk kalian tinggalkan jejak kalian untuk Like, coment dan yang paling penting VOTE author dengan memberikan poin atau koin yang kalian miliki untuk Author karena ini membuat author semakin semangat saat kalian semua menghargai karya author.


Disini Author juga ingin memberikan informasi bahwa author telah membuat novel kedua author berjudul KISAHKU DAN DIA dan di novel ini akan ada kisah percintaan yang seru antara Shinichi dan Cheselin dan saling berhubungan dengan Daichi Tama Dan Sakura Agata loe.....


Jangan lupa untuk mampir juga di novel kedua Author yaaa...


Terima kasih..🥰😁🙏🏻


••••••••••••


Pandangan mata sekertaris yun masih terfokus melihat mobil yang melaju membawa daichi dan sakura pergi, saat dia membalikan badannya begitu terkejutnya dirinya saat menyadari kimi berdiri di belakangnya.


"Astaga!!!"ucap sekertaris yun dengan satu tangan yang menempel di dadanya.


"Maafkan saya tuan yun telah mengagetkan anda", ucap kimi sambil menundukkan kepalanya.


"Ah tidak...tidak... nona kimi", ucap sekertaris yun.


"Tuan yun. Apa anda ingin pulang sekarang?"tanya kimi.


"Ia nona kimi", jawab sekertaris yun.


"Bagaimana kalau saya mengantar anda tuan yun", ucap kimi.


"Tidak usah nona kimi, saya tidak ingin merepotkan anda", ucap sekertaris yun.


"Sama sekali tidak tuan yun, kebetulan saya juga ingin keluar", ucap kimi.


"Apa sama sekali tidak merepotkan anda?"tanya sekertaris yun.


"Tentu saja tidak tuan yun", jawab kimi.


"Baiklah kalau begitu. Terima kasih sebelumnya nona kimi", ucap sekertaris yun.


"Sama - sama tuan yun. Baiklah, mari tuan yun", ucap kimi.


Keduanya berjalan menuju parkiran di mana mobil kimi berada.


"Ini mobil saya tuan yun", ucap kimi.


Dia mengeluarkan kunci dari dalam tasnya dan membuka pintu mobilnya, kimi duduk di bangku pengemudi sedangkan sekertaris yun duduk dengan tenang di bangku penumpang di samping kimi sambil memasangkan seatbelt.


"Baiklah, apa kita sudah bisa berangkat?"tanya kimi.


"Tentu saja nona kimi", ucap sekertaris yun.


Mesin mobil dihidupkan, pandangan mata fokus kedepan sambil menginjak pedal gas dan melajukan mobil itu keluar parkiran menujuh ke jalan raya menembus kemacetan yang akan menyambut mereka.


•••••••


Ditempat lain, mobil yang membawa daichi dan sakura melaju begitu santai di jalanan. Selama diperjalanan sakura melirik ke kiri dan ke kanannya menikmati pemandangan dari luar jendela.


Mobil itu berhenti saat lampu lalu lintas di kota menjadi merah,daichi mengarahkan seluruh tubuhnya ke arah sakura.


"Kenapa kamu mengabaikan ku?"tanya daichi.


Sakura tersentak saat mendengar pertanyaan daichi dengan pandangan matanya terus menatap sakura hingga membuat sakura merasa malu.


"Kenapa menatap ku seperti itu?"tanya sakura.


"Karena kamu mengabaikan suami mu yang dari tadi ingin memandangi mu", ucap daichi.


"Aku sama sekali tidak mengabaikan mu. Jangan berpikir seperti itu", ucap sakura.


Lampu berubah menjadi hijau dan mobil itu kembali melaju.


Daichi meraih tangan sakura dan menciumnya dengan mata tertutup yang menghayati satu kecupan yang mendarat ditangan itu, sakura hanya tersenyum saat merasakan bibir daichi menyentuh tangannya.


"Aku sangat merindukanmu sayang",ucap daichi.


"Benarkah?"tanya sakura.


"Tentu saja. Kenapa kamu bertanya seperti itu?"tanya daichi.


"Jika kamu benar - benar merindukan ku. Kenapa kamu tidak langsung menghubungi aku?"tanya sakura.


"Ah.., soal itu. Aku belum mengganti kartu ponselku saat tiba disana dan baru menggantinya saat hari sudah malam dan aku tidak ingin menggangu mu saat lagi bekerja", ucap daichi.


Sakura hanya diam saat mendengarkan penjelasan yang diberikan daichi. Ekspresi wajah yang diperlihatkan sakura kepadanya sungguh membuat dirinya tak kuasa ingin memeluknya.

__ADS_1


"Hey.., kenapa memperlihatkan wajah cemberut kepada suami mu ini?"tanya daichi.


"Tidak", ucap sakura.


"Dengarkan aku sayang", ucap daichi sambil mengelus rambut indah sakura.


Kedua mata sakura menatap mata daichi yang dari tadi tak lepas memandangi sakura.


"Semua pikiran dan raga ku ini telah aku berikan dan ku serahkan hanya untuk mu saja sayang, meskipun aku tidak mengabari mu tapi percayalah bahwa hati dan pikiranku hanya untuk mu saja ", ucap daichi.


"Bagaimana jika ada wanita yang menggoda mu disana? Aku sangat takut jika kamu tergoda dengan wanita-wanita cantik saat disana", ucap sakura.


"Apa kamu sedang cemburu dengan suami mu ini?"tanya daichi yang mengkerutkan keningnya dengan matanya yang menyipit.


"Tidak!"jawab sakura sambil menggelengkan kepalanya.


"Apa kamu tidak percaya dengan suamimu?"tanya daichi dengan pertanyaannya yang bertubi-tubi dilontarkan untuk sakura.


"Tidak!! Aku tidak mengatakan seperti itu", ucap sakura.


"Hmmm.., aku sungguh sangat kecewa saat istriku tidak mempercayai ku", ucap daichi dengan wajahnya yang terlihat menyedihkan.


"Hentikan itu!! Aku sama sekali tidak ada berpikiran seperti itu kepada suamiku. Jangan salah paham", ucap sakura.


"Entahlah , aku merasa sedikit kecewa", ucap daichi yang menyandarkan badannya dan memalingkan wajahnya menatap kerah jendela.


"Apa dia benar-benar marah?"batin sakura yang terus mengamati daichi.


Suasana terasa berubah seketika dalam hitungan menit,keheningan terjadi dan membuat sakura sama sekali tidak menyukai situasi saat ini.Momen yang yang seharusnya berakhir bahagia justru berakhir dengan ke salah pahaman yang terjadi diantara keduanya.


"Sayang...", ucap sakura yang mencoba mencairkan suasana yang terasa mencekam.


Tidak ada jawaban, daichi hanya diam dengan kedua bibirnya yang tertutup begitu rapat dan pandangan matanya sama sekali tidak berpaling menatap sakura seakan menghindari kontak mata terhadap dirinya.


Diam yang dilakukan daichi saat ini membuat sakura merasa sedang diabaikan oleh daichi dan itu terasa begitu menyiksa. Perasaan yang tengah dirasakannya bercampur aduk merasa bingung dan takut semua menjadi satu.


"Sayang.., Apa kamu marah?"tanya sakura sambil melingkarkan kedua tangannya menyentuh lengannya yang begitu kekar dan berotot dengan sangat hati - hati karena takut akan menerima penolakan dari daichi.


Tidak tahan harus menahan sandiwaranya lebih lama, akhirnya dia memutuskan untuk mengakhirinya, namun saat dia memalingkan wajahnya menatap sakura matanya tercengang saat matanya bertemu mata sakura yang berkaca- kaca menahan air matanya.


"Hey!! Kenapa kamu terlihat sedih sayang?"tanya daichi yang menempelkan satu tangannya di wajah sakura dan mengelus pipinya dengan lembut.


"Perasaan ku sangat sedih saat suamiku mengabaikan diriku", ucap sakura.


"Ustttttt!!!" satu jarinya menempel di bibir sakura.


"Sungguh?"tanya sakura dengan wajahnya yang terangkat menatap daichi.


"Hmm.., tentu saja sayang", jawab daichi.


Kali ini dia meletakan kedua tangannya di wajah sakura.


"Dengar sayang, jangan pernah khawatir tentang wanita -wanita yang ada diluar sana", ucap daichi.


"Kenapa?"tanya sakura dengan wajah seriusnya.


"Kerena aku tidak akan pernah melihat kearah mereka. Jadi jangan memikirkan sesuatu yang akan menggangu dirimu", ucap daichi yang mencoba meyakinkan sakura yang tampak meragukan dirinya.


"Jika kamu tidak akan melihat kearah wanita -wanita itu. Lalu kemana matamu akan melihat?"tanya sakura.


"Kedua mata ini hanya akan fokus melihat kearah wanita yang ada di hadapanku saat ini", ucapnya dengan raut wajah yang serius, namun tergambar senyum menghiasi wajahnya.


"Ahhh...", ucap sakura yang menutup wajahnya dengan kedua tangannya.


Hatinya begitu tersentuh saat mendengarnya, wajahnya seketika memerah menahan rasa malunya.


"Kenapa kamu menutupi wajah mu?"tanya daichi yang menatap sakura begitu dalam.


"Aku merasa malu", ucap sakura dengan suara manjanya.


"Malu? Untuk apa?" Hentikan itu!!! Jangan menutupinya karena aku tidak bisa melihat wajah indah itu saat terhalang dengan kedua tanganmu sayang", ucap daichi sambil mencoba melepaskan tangan sakura yang menutupi wajahnya.


"Kamu selalu saja menggodaku dengan kalimat - kalimat yang kamu ucapkan", ucap sakura yang terlihat menggemaskan untuk daichi.


Dia hanya tersenyum saat melihat tingkah sakura yang kekanak- kanakan dengan kedua pipinya yang memerah dan terlihat salah tingkah ketika daichi terus memandangi dirinya tanpa matanya sedikitpun berkedip.


"Jangan menatapku seperti itu?"ucap sakura yang menggigit bibir bawahnya dengan kepala yang tertunduk saat tak sanggup menatap kedua mata daichi yang tajam melihatnya.


"Kenapa aku tidak boleh menatap wajah istriku sendiri?"tanya daichi.


"Karena aku merasa malu saat kamu menatapku", jawab sakura.


"Aishh!!!! Kamu membuatku tidak tahan lagi", ucap daichi.


Dia menarik lengan sakura dan mendorongnya dalam pelukannya.Begitu mendadak membuat sakura hanya terdiam saat tubuhnya jatuh dalam pelukan daichi.

__ADS_1


"Kamu selalu membuatku gila", ucap daichi.


Sakura hanya tertawa dalam pelukan daichi, menyadarkan kepalanya di atas dada yang kekar dengan aroma tubuh yang begitu wangi hingga membuat sakura ingin lama dalam dekapan itu.


Tuan Hans yang berada dalam mobil yang sama dengan keduanya hanya menahan senyuman saat mendengarkan obrolan yang terjadi antara keduanya, bahkan dia seolah menutup kedua matanya saat melihat adegan romantis yang terjadi saat ini didalam mobil, sepasang suami istri yang sedang dimabuk cinta meski pernikahan yang terjalin hampir menuju dua tahun.


•••••••••••••


"Nona kimi..', ucap sekertaris yun.


"Ia tuan yun. Ada apa?"tanya kimi yang mengemudi mobil.


"Bisakah kita singgah di restoran di simpang ujung jalan sebelah kiri nanti?"tanya sekertaris yun.


"Ahh.., tentu saja. Apa anda ingin membeli sesuatu?"tanya kimi.


"Ia.., saya sangat lapar karena belum makan siang ",ucap sekertaris yun.


"Benarkah?"Kalau begitu kita makan dulu saja tuan yun", ucap kimi yang kebetulan juga merasa lapar


"Terima kasih nona kimi", ucap sekertaris yun.


Tak selang beberapa lama , akhirnya keduanya tiba di restoran yang berada di ujung jalan yang dimaksud sekertaris yun. keduanya keluar dari dalam mobil berjalan kearah pintu masuk kedalam restoran yang terlihat ramai dengan pengunjung.


"Mari nona kimi", ucap sekertaris yun


"Ia tuan yun", ucap kimi.


Namun saat kaki baru melangkah beberapa langkah, ponsel disaku celana sekertaris yun berbunyi dan memberhentikan langkah kakinya diikuti dengan kimi.


"Nona kimi, sebentar saya menjawab telepon dulu. Anda bisa masuk duluan saya akan menyusul anda nanti", ucap sekertaris yun.


"Baiklah tuan yun, saya masuk duluan", ucap kimi yang berjalan meninggalkan sekertaris yun untuk masuk kedalam restoran.


Dia menarik pintu restoran tersebut dan melangkah masuk kedalam, ekspresi wajahnya seketika berubah saat berpapasan dengan seorang pria dan wanita yang tak asing bahkan begitu dikenalnya.


"Kimi..", ucap pria itu yang tampak terlihat terkejut melihat kimi.


"Wah...wah.., Lihat siapa yang berdiri dihadapan kita saat ini sayang", ucap wanita itu yang terlihat begitu senang.


Kimi hanya diam, raut wajahnya terlihat jelas bahwa dia sama sekali merasa tidak suka dan tidak nyaman bertemu dengan keduanya.


"Apa kamu ingin makan disini? Dengan siapa?"tanya wanita itu yang melihat sekelilingnya.


"Astaga!!! Jangan bilang kalau kamu makan sendirian kimi. Menyedihkan sekali",ucap wanita itu sambil tertawa.


"Dengar itu bukanlah urusanmu!"ucap kimi.


"Tentu saja itu bukan urusanku. Aku hanya kasihan melihat hidupmu yang begitu menyedihkan bahkan kekasih mu saja memilih diriku dari pada kamu", ucap wanita itu.


Kimi hanya tersenyum saat mendengar ucapan wanita itu.


"Dengar aku justru merasa begitu beruntung karena dijauhkan dari pria brengsek seperti dia, bahkan saat ini aku merasa kalian berdua sangat cocok dan pantas bersama. Dua orang manusia yang sama sekali tidak tau diri dan tidak memiliki rasa malu sedikit pun", ucap kimi.


"Apa kata mu!!!"teriak wanita itu.


Dari kejauhan sekertaris yun terlihat mengamati mereka yang terlihat begitu tegang.


"Kimi..", panggil sekertaris yun yang berjalan menghampirinya.


Kimi terus memandangi wajah sekertaris yun yang berdiri disampingnya dan membuatnya begitu terkejut saat sekertaris yun memanggil namanya dengan sebutan kimi tanpa ada kata nona di depan namanya seperti setiap kali sekertaris yun memanggil namanya.


"Apa kamu mendapatkan tempat untuk kita?"Tanya sekertaris yun.


Dia hanya diam dan terlihat bingung saat melihat sekertaris yun yang bersikap non formal saat berbicara dengannya.


Tapi siap mereka?"tanya sekertaris yun yang seakan tak menyadari kehadiran pria dan wanita dihadapan keduanya .


Kimi hanya mengangkat kedua bahunya sambil berkata....


"Aku juga tidak mengenal mereka", ucap kimi dengan tatapan mata yang tajam melihat kearah keduanya.


"Aishh!! Apa tidak mengenal kami?"tanya wanita itu.


"Bisakah kita mencari tempat yang lain karena tiba - tiba saja nafsu makan ku hilang saat melihat sampah di dekatku", ucap kimi sambil meninggalkan mereka berjalan keluar.


Hey!!!!!!!!"teriak wanita itu yang merasa tak terima dengan ucapan kimi.


Sekretaris yun hanya tersenyum menatap keduanya dan pergi mengikuti kimi yang duluan meninggalkan restoran itu.


"Berani sekali dia mengatakan kita berdua sampah sayang", ucap wanita itu yang penuh dengan emosi.


"Sudahlah hentikan itu", ucap pria itu yang dari tadi hanya diam membisu tanpa berkata apapun kepada kimi.


"Maafkan aku kimi", batinnya yang merasa bersalah terhadap kimi.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2