
Tok...Tok..Tok..
"Permisi tuan", ucap sekertaris yun.
"Masuklah", ucap daichi.
" Dia telah pergi tuan", ucap sekertaris yun.
"Bagusan sekertaris yun. Terima kasih", ucapnya tanpa memandang sekertaris yun dan sibuk dengan pekerjaannya.
Daichi terdiam sesaat, dia mengangkat kepala yang dari tadi tertunduk dengan mata yang bertumpuk pada dokumen di atas mejanya. Dia tersenyum kepada sekertaris yun, senyum yang begitu berbeda dari biasanya.
"Apa ada yang ingin kamu katakan?"tanyanya.
Sekertaris yun terlonjak kaget, dia sama sekali tidak menyangka bahwa daichi mengetahui gundah gulana perasaanya saat ini.
"Maaf tuan atas kelancangan saya. Apa anda yakin Ingin berinvestasi di perusahan itu. Saya rasa dia adalah pria yang sangat tamak, tuan", ucap sekertaris yun.
"Aku tahu, aku tahu", daichi buru -buru menyergah .
"Karena itu aku hanya akan berinvestasi secara pribadi", jelas daichi.
"Bagaimana jika dia meminta lebih, tuan?"tanya sekertaris yun.
"Itu tidak akan pernah di dapatnya", jawabnya dengan garang.
Tatapan mata daichi, mengurungkan niatnya untuk bertanya lagi. Dia yakin bahwa daichi telah memikirkan segalanya sebelum mengambil keputusan, sehingga tidak ada lagi alasannya untuk mengkhawatirkan sesuatu yang telah jauh dipikirkan daichi.
"Saya mengeri tuan", balas sekertaris yun.
Daichi melirik jam tangannya.
"Sekertaris yun", ucap daichi.
"Ia tuan", jawabnya.
"Sekarang aku punya tugas untukmu, lakukan sesuai dengan yang aku minta. Kamu mengerti?"tanyanya.
"Baik tuan, saya mengerti", jawab sekertaris yun, dia memandangi daichi, bersiap menjalankan tugas berikutnya.
"Permainan akan dimulai", ucap daichi, sudut bibirnya terangkat keatas dengan sorot mata sinis yang diperlihatkannya.
°°°°°°°°°°°°°
Dia melihat dirinya dalam pantulan cermin, memastikan dirinya telah sempurna dengan segala pakaian, tatanan rambut dan riasan di wajahnya.
"Kamu sempurna, sera", ucapnya pada dirinya sendiri.
Hari ini akan ada pemotretan untuk produk baru yang akan dipromosikannya sebagai brand ambasador, untuk itu dia ingin terlihat sempurna di hadapan orang-orang yang melihatnya nanti.
Saat dia keluar dari kamarnya, yumi masih terlihat merapikan barang-barang yang akan mereka bawa, sedangkan ayana hanya diam termenung. Sudah dua hari sejak ancaman yang diberikan daichi kepada mereka, tapi semua masih baik-baik saja dan berjalan seperti biasanya dan justru membuat dirinya semakin ketakutan karena dia tahu bahwa daichi tidak mungkin hanya menggertak mereka.
"Mudah-mudahan saja,dia benar-benar tidak merencanakan apapun", ucap ayana.
"Apa yang sedang kamu pikirkan?"tanya sera yang mendatanginya.
Ayana langsung kembalikan badannya dengan cepat saat menyadari kehadiran sera.
"Tidak ada sera", jawabnya.
"Apa kamu masih memikirkan ancaman daichi?"tanya sera.
Kening ayana mengkerut, sepertinya sera menyadari apa yang mengganggu pikirannya saat ini. "Aku hanya takut , jika dia benar-benar melakukannya. Ancaman daichi, benar-benar membuatku ketakutan".
"Itu tidak akan pernah terjadi, ayana", ucap sera.
"Tapi bagaimana jika dia melakukannya?"tanya ayana. Dia terlihat semakin kacau, pikirannya menguasai dirinya saat ini dan mengabaikan semua hal dan hanya terfokus pada ancaman yang diberikan daichi.
"Lihat aku ayana!!"ucapnya dengan mata membelalak. "Daichi tidak akan sanggup melakukannya kepadaku".
"Siapa yang tahu? Dia kini telah berubah sera, bahkan memandang matanya saja membuatku merinding ketakutan", balas ayana yang memandang sera.
"Kalau begitu, aku akan menemuinya", ucap sera dengan keyakinan dirinya, bahwa daichi akan luluh terhadapnya.
"Maaf, sudah waktunya kita pergi", ucap yumi.
__ADS_1
"Ayok kita berangkat", ucap sera yang berjalan duluan meninggalkan keduanya dan disusul ayana dan yumi yang membawa barang-barang sera.
Sepanjang perjalanan, sera mulai memikirkan perkataan ayana. Dia yang selalu terlihat tenang, tanpa memikirkan ancaman yang diberikan daichi untuknya, kini mulai memikirkannya. Tiba-tiba saja hatinya tidak tenang, firasatnya mengatakan akan terjadi sesuatu dengannya, namun dia belum tahu apa yang akan terjadi dengannya.
Sejujurnya perasaannya juga takut, bahkan beberapa hari ini dia sama sekali sulit untuk tidur karena perasaan cemas yang dirasakannya, tapi dia tidak pernah menunjukan kecemasannya dihadapan ayana atau yumi karena akan membuat keduanya akan khawatir.
Sesampainya di perusahan tempat pemotretan akan berlangsung, mereka melihat sosok yang tak asing, terutama untuk sera yang tidak akan pernah melupakannya.
"Bukankah itu....", ucap ayana dengan kalimat menggantung di ujung.
Sera hanya tersenyum sinis. "Benar. Apa yang dilakukannya disini", ucapnya sambil berjalan menghampirinya karena rasa penasarannya.
Sera melenggang masuk kedalam, terlihat santai dan tentu saja dengan wajah angkuhnya.
"Lihat, siapa yang ada di hadapanku saat ini",ucapnya dengan mata yang terus memperhatikan wanita tersebut.
"Ahhh, kebetulan sekali bertemu disini", jawabnya santai.
"Apa yang kalian lakukan disini?"tanya ayana.
"Memangnya apa lagi nona ayana. Tentu saja menyangkut pekerjaan", jawab manager wanita tersebut.
Ayana memutar bola mata, tapi sama sekali tidak menggubris perkataan wanita tersebut. Dia hanya tersenyum simpul, senyum yang terlihat mengejek mereka.
"Sudahlah ayana, jangan membuang waktu dengan mereka. Lebih baik kita pergi, sebentar lagi pemotretan ku akan segera dimulai untuk produk baru yang akan aku promosikan", ucap sera dengan sombongnya.
Erla mendesah. "Bagaimana kalau kita pergi bersama, nona sera", seru Erla, mendadak tersenyum bahagia memandang sera.
"Pergi bersama?"tanya sera, dia terbahak saat mendengar ucapan Erla.
Bukan hanya erla yang memandangi sera dengan sikap bingung, tapi melihat tawa sera yang begitu bahagia membuatnya merasa jengkel seakan direndahkan oleh nya.
"Kurasa aku perlu menjelaskan kepada mu, kenapa aku ada disini nona sera",ucapnya, ditatapnya sera dengan begitu tajam.
"Silakan" ucap sera dengan senyum,kemudian matanya tertuju kepada Erla.
"Dengar nona sera, aku datang kesini karena diminta untuk melakukan pemotretan untuk produk baru yang perusahaan ini akan keluarkan di musim depan", jelasnya.
Kata-kata Erla membuatnya terkejut. "Apa kamu bercanda!"ucapnya sambil menatap Erla .
"Tidak", jawabnya singkat. "Baiklah, sampai jumpa nanti, nona sera", ucapnya dan pergi meninggalkan sera yang masih terlihat bingung.
"Apa yang sebenarnya terjadi?"tanya ayana.
"Mungkinkah mereka ingin menggunakan dua model?"tanya yumi.
"Tapi kurasa itu tidak mungkin", ucap ayana.
Serahanya diam, dia penasaran sekaligus bingung, berusaha mencoba memahami situasi yang saat ini terjadi. Ayana menepuk pundaknya, menyadarkannya dari lamunan nya. Butuh waktu beberapa detik untuk dia menyadarkan dirinya , lalu memandang ayana yang memperhatikan dirinya.
"Oh," desahnya begitu tersadar.
"Apa yang sedang kamu pikirkan?"tanya ayana.
Sera tersenyum samar. "Tidak ada", sambil menyingkirkan tangan ayana yang masih menempel di pundaknya.
Wajah sera terlihat berbeda, terlihat jelas bahwa ada yang mengganggu pikirannya dan dia mencoba untuk menyembunyikannya.
"Ayok kita pergi. Kita akan mendapatkan jawabannya nanti", ucap yumi.
"Benar", ucap ayana.
Mereka berjalan menuju ruangan CEO dari perusahan tersebut. Tepat di depan pintu ruangan itu, ayana mengetuk pintu dan menunggu untuk dipersilahkan masuk.
"Masuklah!!
Keduanya saling memandang satu sama lain, hanya sera dan ayana yang masuk kedalam ruangan itu, sementara yumi menunggu di luar seperti biasa. Ketika tiba di dalam, keduanya terlihat kaget saat melihat keberadaan Erla dan managernya diruangan tersebut sambil melempar senyum kepada keduanya. Sebuah senyum menantang dan membuat sera begitu kesel.
"Selamat datang nona sera, nona ayana Silakan duduk", ucap pria tersebut.
"Terima kasih", ucapnya keduanya.
"Apa anda sudah mengenal nona Erla?"tanya pria tersebut kepada sera.
"Belum", jawabnya dengan angkuh menatap Erla.
__ADS_1
"HAhahaha, sepertinya nona sera memiliki ingatan yang sangat buruk sekali. Kita pernah bertemu nona, saat acara perusahaan Tama Group. Anda tidak mengingatnya? Bahkan anda sempat menjatuhkan parfum kesayangan saya di toilet dan anda lupa meminta maaf", ucap Erla yang tersenyum manis kepada sera.
Kedua tangan sera mengepal kuat, kali ini dia benar - benar begitu marah karena telah dipermalukan. Ayana yang melihat perubahan ekspresi wajah sera, langsung memegang tangan sera dan mencoba menenangkannya dari amarah yang terlihat memuncak.
"Ahhhh, saya minta maaf. Saya memang gampang lupa, terutama untuk hal-hal yang tidak penting bagi saya", balas sera.
Keduanya saling memandang lama sekali, ekspresi yang mereka perlihatkan benar-benar tidak bersahabat .
"Setidaknya sekarang anda berdua saling mengenal", ucap pria tersebut yang mencoba menjadi penengah bagi keduanya.
"Jadi, kapan pemotretan untuk produk baru akan dilakukan? Sera sudah tidak sabar", ucap ayana, dia mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Itu yang ingin saya sampaikan, nona ayana. Mohon maaf, untuk produk yang akan perusahaan kami luncurkan, kami akan mengganti modelnya",jelasnya.
"Meng-ganti model? Maksud anda, tidak menggunakan saya lagi?"tanya sera, dia terlihat bingung dan panik.
"Benar nona sera, saya minta maaf", ucapnya.
"Tapi kenap?"balas ayana , dia merasa tidak terima.
"Begini nona ayana, produk terbaru kami yang direncanakan launching musim depan , sepertinya mengalami penundaan. Sementara kontrak kerja antara perusahaan saya dan nona sera akan segera berakhir dua bulan lagi", jelasnya.
"Kita bisa memperpanjang kontrak kerja sama kita, tuan", balas ayana.
"Tapi mohon maaf nona ayana, kami telah memilih model yang baru untuk produk kami tersebut", jawabnya yang terlihat tenang dalam memberikan penjelasan kepada ayana yang terlihat emosi.
"Model baru? Siapa?"tanya sera.
"Kami telah memilih nona Erla untuk menjadi brand ambasador perusahaan kami", jelasnya.
"Sungguh???"tanya Erla yang terlihat terkejut saat mendengarnya.
"Ia nona erla. Itu alasan saya mengundang anda datang kesini", jawabnya.
"Terima kasih, telah memberikan kepercayaan kepada saya", ucap Erla yang tak henti tersenyum.
Erla merasa begitu bahagia, tapi tidak dengan sera yang tak henti memandanginya. Semakin dia melihat wajah Erla yang dipenuhi kebahagiaan, semakin membuat amarahnya semakin memuncak. Kebahagiaan yang dirasakannya, justru seperti mencabik- cabik hatinya.
"Nona sera, maaf telah mengganti kamu", ucapnya dengan nada yang terdengar menyesal, tapi justru seperti sedang menertawakannya.
Sera menatap erla, dia merasa jika wanita itu semakin lancang berbicara kepadanya.
"Itu tidak masalah", kata sera dengan tenang.
"Ahh, baguslah", jawab Erla.
"Kalai begitu, saya izin ke toilet dulu", ucap sera yang pergi meninggalkan ruangan itu.
Hal pertama yang dilakukan sera saat berada di toilet adalah memastikan bahwa tak ada orang satu pun didalam. Dia berteriak keras, meluapkan kemarahan yang ditahannya dari tadi. Emosinya sama sekali tidak dapat dikendalikan lagi saat mengetahui siapa yang akan menggantikannya, tentu saja tidak dapat diterima olehnya.
"Bagaimana bisa, dia menggantikan posisiku", ucapnya memandangi dirinya di pantulan cermin besar.
"Apa kamu marah?"tanyanya, yang tiba -tiba muncul, tanpa disadari sera.
Dia terlihat begitu bahagia, untuk pertama kalinya dia melihat sera yang terkenal angkuh, begitu tak berdaya di hadapannya saat ini.
Sera mengerutkan keningnya,dia semakin kesal melihat kehadiran Erla. Dia menoleh dan menatap Erla,yang mengamatinya dengan sikap tenang.
"Itu bukan urusanmu", ucapnya.
"Aku benar-benar minta maaf telah mengambil posisimu, sera", katanya lembut.
"Dengar, aku bukanlah orang yang percaya dengan kata-kata manis mu itu",balas sera.
"Sungguh? Baguslah,aku tidak perlu berpura-pura lagi", ucap Erla dengan tawa.
Sera maju selangkah, berjalan lebih dekat,sedangkan Erla membeku ditempat saat melihat sera dengan tatapan sinis nya dan ketegangan begitu terasa diantara keduanya.
"Nikmatilah kebahagiaan mu", bisik sera dengan senyum diwajahnya dan pergi meninggalkan Erla.
Dia mendesah, sudut bibirnya terangkat dengan tatapan mata yang kesal memandang sera yang pergi meninggalkan dia. Meski telah mengalahkan sera, tetap saja perasaan masih kesal karena harus terus -menerus melihat sifat sera yang tetap angkuh di hadapannya.
"Aku akan mengalahkan mu, bagaimanapun caranya", ucap dengan wajah kesalnya.
Bersambung....
__ADS_1