Pernikahan Yang Dijodohkan

Pernikahan Yang Dijodohkan
Episode 76 Mengetahui


__ADS_3

Daichi berdiri tegak di dekat jendela kamarnya, dia memandang keluar jendela dengan kedua tangannya dimasukan ke saku celananya. Dia sedang menikmati pemandangan diluar yang menjadi kebiasaanya setiap pagi.


Terdengar bunyi pintu yang terbuka, sakura masuk kedalam kamar dan melihat suaminya itu sedang berdiri memandangi ke arah luar jendela, dia pun berjalan menghampirinya.


"Apa kamu sudah siap?"Tanya sakura.


Daichi yang begitu sibuk dengan pemikirannya sendiri sampai - sampai tidak menyadari sakura masuk ke dalam kamar.


"Aku sedang menunggu mu untuk memasangkan dasi ", ucap daichi.


Sakura hanya tersenyum dan mengambil dasi dari dalam lemari lalu berjalan mendekat kearah daichi.


"Baiklah, aku akan memasangkan dasi anda Tuan daichi", ucap sakura.


Daichi menundukkan kepalanya dan memandang sakura yang sibuk memasangkan dasi untuknya, saat melihat wajah sakura terkadang terlintas perasaan bersalahnya kepada sakura yang telah berbohong kepadanya.


"Ada apa? "Kenapa menatapku seperti itu?" tanya sakura.


"Maafkan aku", ucap daichi.


Sontak saja kedua tangannya sakura berhenti bergerak dengan kedua tangan bergantung memegang nasi. Permohonan maaf yang dilontarkan daichi tiba-tiba sungguh membuat sakura terkejut, itu adalah kata yang dari awal ingin di dengarnya dari mulut daichi kepadanya.


"Maaf ? "Untuk apa?" tanya sakura dengan polos.


Daichi tampak terdiam untuk pertanyaan yang diberikan sakura, rasa begitu sulit untuknya mengutarakan perasaannya. Begitu banyak pertimbangan dibenak daichi, banyak pertanyaan - pertanyan yang tiba-tiba muncul dipikirannya.


"Apakah ini waktu yang tepat mengatakannya?


"Apakah dia akan memahami apa yang aku lakukan?


"Apakah dia marah?


"Apakah dia kecewa?


Pertanyan itu yang selalu muncul hingga membuat daichi mengurungkan niatnya untuk mengatakan yang sejujurnya kepada sakura.


"Maaf karena aku belum menjadi suami yang baik untuk mu", ucap daichi.


"Apa?" ucap sakura.


Ada rasa kekecewaan yang dirasakan sakura, saat apa yang diharapkan sakura tidak sesuai dengan yang ada dipikirannya.


"Kamu tau sakura, aku sangat mencintaimu. Aku tidak ingin melihat mu sedih, apapun akan aku lakukan untuk melihatmu selalu tersenyum. "Banyak hal yang ingin aku katakan, tapi aku merasa sulit untuk mengutarakannya. Satu hal yang harus kamu tau bahwa aku sangat mencintaimu dan hanya kamu yang selalu ada di hati dan pikiranku, aku berharap kamu percaya", ucap daichi.


Sejak dia menikah dengan sakura, semua yang ada dihidupnya seketika berubah. Dia yang duluh hanya


perlu memikirkan dirinya sendiri kini memiliki prioritas baru yaitu sakura. Baginya saat ini membahagiakan sakura adalah tujuan utamanya karena kebahagiaan yang dirasakan istrinya akan menjadi kebahagian untuknya.


Tersentuh, itulah yang dapat dirasakan sakura saat mendengar semua yang terucap dari mulut daichi. Namun satu hal yang begitu diharapkan sakura yaitu sebuah kejujuran dari daichi kepadanya karena hubungan yang dibumbui suatu kebohongan akan membuat hubungan menjadi tidak harmonis.


"Hmmm, Aku curiga kenapa tiba-tiba berbicara seperti itu. Apa kamu melakukan sesuatu yang aku tidak tau?" tanya sakura.


Dia terus mencoba memancing daichi, berharap daichi akan berkata jujur kepadanya dengan wajah polos yang dimiliki sakura.


"Tidak ada yang terjadi, aku hanya ingin kamu mengetahuinya", ucap daichi.


"Sampai kapan kamu terus begini", batin sakura.


Dia kembali membantu daichi memasangkan dasi, mengkalungkan dasi agar sama panjang, menyelipkan sisi dasi yang kecil dibawah sisi dasi yang lebar dan melilitkannya dua kali putaran, setiap langkahnya dia melakukannya dengan hati-hati dan tak lupa dia merapikan kerah kemeja yang dikenakan daichi.

__ADS_1


"Sudah siap", ucap sakura dengan senyum yang mengembang di bibir sakura.


"Terima kasih sakura, setiap hari hanya dirimu yang selalu terlihat di mataku", ucap daichi sambil mengecup kening sakura.


"Yasudah, ayok kita turun sekarang", ucap sakura.


"Ayok, mereka pasti sudah menunggu kita", ucap daichi yang merangkul bahu sakura dan melangkah keluar.


Momen sarapan pagi bersama keluarga di meja makan menjadi salah satu rutinitas yang tidak boleh dilewatkan di tengah kesibukan sebelum memulai aktivitas di pagi hari. Hal ini menjadi salah satu cara bagi keluarga Tama mempererat kebersamaan antar anggota keluarga, ini merupakan kesempatan bagi mereka untuk berkumpul sambil bertukar cerita.


"Selamat pagi Ayah, Ibu", ucap daichi.


"Selamat pagi putraku", jawab Imoto.


"Hari ini sakura yang memasak semuanya", ucap Imoto


"Benarkah itu menantuku?"Tanya Arashi.


"Iya ayah, semoga semuanya suka dengan masakan ku", ucap sakura.


Sebagai seorang menantu sakura ingin melakukan hal terbaik untuk suami dan mertuanya, salah satunya adalah memasak makanan yang enak untuk mereka. Selama dia tinggal diluar negeri selain kuliah mengambil jurusan fashion desain, dia juga mengambil cooking class di tengah waktu kosongnya, sejak saat itu dia bisa memasak.


"Hmmm, ini enak sekali sayang", ucap Imoto.


"Kamu luar biasa sakura", ucap daichi.


Sakura hanya tersenyum mendengar pujian yang di dapatnya dari keluarga barunya itu.


"Syukurlah kalau begitu", ucap sakura yang tersenyum.


Mereka kembali menyantap sarapan pagi mereka dengan kebahagian yang begitu jelas terpancar. Daichi melihat jam tangan yang dikenakannya dan langsung buruh-buruh menyantap makanannya.


"Kamu ingin berangkat sekarang?" Tanya sakura.


"Iya, Hari ini aku ada meeting jam 9", jawab daichi.


"Baiklah, aku akan mengantarmu kedepan", ucap sakura.


"Aku berangkat ke kantor duluh ayah, ibu", ucap daichi.


"Hati-hati sayang", ucap Imoto.


"Sakura mengantar daichi duluh", ucap sakura.


"Iya sayang", ucap Imoto.


Mereka berdua berjalan menujuh keluar dan seperti biasa kehadiran mereka sudah dinantikan oleh pak hans yang dari tadi sudah menunggu daichi keluar.


"Selamat pagi pak Hans", sapa sakura.


"Selamat pagi nona sakura", ucap pak Hans.


"Pak Hans sudah sarapan?" Tanya sakura.


"Sudah nona sakura", jawab pak Hans sambil tersenyum.


Pak Hans begitu senang begitu perhatiannya sakura kepada dirinya yang tak lebih dari seorang pekerja di keluarga Tama, sifatnya itu membuat orang lain begitu segan dan sangat menghormatinya.


"Aku berangkat duluh", ucap daichi.

__ADS_1


"Hmm, Hati-hati", ucap sakura.


"Aku mencintaimu", ucapnya sambil mencium kening istrinya itu.


Baru beberapa langkah dia berjalan, sakura teringat akan sesuatu yang hampir dilupakannya.


"Daichi!!


Seketika saja daichi langsung memalingkan wajahnya melihat kearah sakura yang berjala menghampirinya.


"Ada apa sakura?"Tanya daichi.


"Aku hampir saja lupa, aku Inging meminta izin", ucap sakura.


"Izin??"Tanya daichi.


"Hmm, aku ingin pergi ke kantor nanti, ada sesuatu yang penting yang harus dikerjakan", ucap sakura


"Ahh, Aku baru ingat. Telepon Kimi semalam,bukan?"Tanya daichi.


"Hmmm", jawab sakura.


"Jam berapa kamu akan pergi?" Tanya sakura.


"Pagi atau siang ini, aku akan menghubungi Kimi terlebih dahulu", ucap sakura.


"Baiklah kalau begitu, kabari aku saat ingin pergi dan ingat aktifkan telpon selalu", ucap daichi.


"Hmmm, Baiklah daichi", jawab sakura.


"Yasudah, aku berangkat", ucap daichi.


"Hati- hati", ucap sakura untuk kedua kalinya.


Berdiri diluar hingga mobil yang ditumpang daichi menghilang dari pandangan matanya dan kembali masuk kedalam rumah.


"Ah, Ayah juga mau berangkat", ucap sakura yang berpapasan bertemu di pintu.


"Ia menantuku", jawab Arashi


"Daichi sudah pergi sayang?"Tanya Imoto.


"Sudah ibu, baru saja", jawab sakura.


"Yasudah sekarang giliran ibu yang mengantar ayahmu", ucap Imoto sambil merangkul lengan Arashi.


Melihat tingkah manja ibu mertuanya itu membuat sakura tertawa, begitu bahagianya melihat kedua mertuanya masih terlihat romantis meskipun pernikahannya sudah lama. Dia pun berharap agar pernikahannya dengan daichi kelak akan awet dan harmonis sampai tua meskipun dalam perjalanan mengarungi rumah tangga akan muncul berbagai masalah yang harus dilalui keduanya dan salah satunya adalah menyelesaikan persoalannya dengan Sera yang mencoba mengusik kebahagiannya saat ini.


"Ayah berangkat duluh", ucap Arashi.


"Hati- Hati ayah", ucap sakura.


"Sebantar ya sayang", ucap imoto yang pergi meninggalkan sakura.


Dia pun melangkah masuk kedalam rumah menujuh kekamarnya sambil mencari ponselnya yang terletak di atas meja untuk menghubungi Kimi. Sejujurnya dari semalam dia begitu penasaran mengenai informasi yang berhasil di dapat Kimi mengenai Sera. Wanita yang dapat melakukan berbagai hal hanya untuk mendapatkan hati daichi dan membuat sakura begitu takjub melihat sera hingga membuatnya begitu ingin mengetahui mengenai sosok dirinya lebih banyak lagi.


Pembaca setia ku, terima kasih atas masukan yang kalian berikan kepada saya. Semua masukan yang kalian berikan akan menjadi motivasi buat saya dalam menulis novel saya. Jangan lupa untuk selalu like,coment apa saja yang ingin kalian tulis dan yang paling penting vote untuk saya.🥰🌸


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2