
"Bibi, lihat ini supnya sudah masak", ucap sakura.
"Wah, aromanya sangat wangi sekali", jawab haga.
"Dan aku lupa membawa sendok, aku ambil sebentar ya", jawab sakura.
"Baiklah", ucap haga.
Hanya tinggal mereka berdua didalam kamar, melihat bibi elsa ingin duduk, haga langsung membantunya yang masih terlihat tidak berdaya.
"Haga, anakku", ucapnya, suara lembut dan terdengar pelan.
"Ada apa bibi?"tanyanya.
"Bibi bisa melihatnya anakku", ucapnya.
"Maksudnya?"tanya haga yang terlihat bingung.
"Matamu yang sangat dalam setiap menatap sakura, bibi tahu bahwa dari dulu kamu menyukainya, bukan?"tanya bibi elsa.
Haga tertawa, berusaha menyembunyikan perasaanya saat ini dan ternyata perasaanya mampu dilihat oleh orang lain meski di selalu berusaha menutupinya.
"Dengar haga, hilangkan perasaan itu anakku. Jangan membuat perasaanmu terluka, kamu tentu tahu bahwa sakura telah menikah dan memiliki seorang suami", ucapnya.
"Bibi, jangan pikirkan itu. Aku sudah melupakannya, percayalah padaku", ucap haga.
"Putraku yang hebat", ucapnya, tangan yang keriput itu menempel di pipi haga dan dengan lembut mengusap-usap pipinya dengan wajah terharu.
"Ada apa ini?"tanya sakura, yang terkesima melihat adegan haru yang terjadi.
"Tidak ada apa-apa", ucap bibi elsa yang mengusap air matanya.
"Bibi menangis?"tanya sakura.
"Tidak sayang", jawabnya.
"Yasudah, kalau begitu bibi makan ya selagi supnya masih hangat", ucap sakura, dia duduk di dekatnya sambil menyulanginya makan.
Haga hanya tersenyum melihat begitu sempurnanya wanita yang sangat dicintainya itu, setidaknya melihat sifat yang ditunjukkan sakura membuatnya semakin yakin bahwa dia tidak salah mencintai seseorang bertahun-tahun sampai sekarang. Dia sudah menantinya cukup lama, hingga sekarang dia berdiri tepat didepannya, tapi perasaanya tidak dapat diutarakannya dan hanya mampu menyimpan perasaan yang dimilikinya selamanya di hatinya.
"Bisakah aku mencintaimu sakura?" "Salahkah aku jika terus menyimpan perasaan ini untukmu?"batinnya.
Setiap dia melihat sakura, sulit sekali untuknya menahan perasaan yang telah lama dimilikinya untuk sakura. Semua hal telah dilakukannya untuk melupakan sakura, bahkan mengingatkan dirinya bahwa wanita yang dicintainya itu adalah istri dari sahabatnya selalu terlintas dalam pikirannya setiap perasaan itu muncul, tapi entah mengapa begitu sulit rasanya melupakan sakura dalam hati dan pikirannya itu membuatnya begitu sakit dan tersiksa bahkan sulit untuk bernapas rasanya.
"Sudah habis", ucap sakura, dia langsung membereskan piring - piring yang kotor dan bergegas ke dapur.
Haga yang dari tadi berdiri, berjalan menghampiri bibi elsa yang mengulurkan tangannya kepadanya.
"Apa sudah kenyang", tanya haga yang meraih dan menggenggam tangan yang terlihat mulai keriput itu.
"Apa yang tengah kamu rasakan anakku?"tanyanya, suaranya parau nya menggambarkan kesedihan dihatinya saat melihat apa yang dialami haga, mencintai seseorang yang tak akan mungkin dimilikinya.
"Hahahahah. apa yang aku pikirkan bibi?"tanyanya dengan tawa diwajahnya, sebuah tawa yang terlihat memaksa bagi siapapun yang melihatnya.
"Meski kami tidak mengatakannya, dari matamu sudah terlihat jelas anakku", ucapnya.
"Aku baik-baik saja bi, semua akan baik-baik saja", jawab haga.
"Jangan sampai perasaan yang kamu miliki membuat sakura menjadi tidak nyaman dengan keberadaan mu nantinya,"ucap bibi elsa.
"Aku mengerti bibi dan aku tidak akan membuatnya tahu tentang perasaanku ini", jawab haga.
"Kemarilah anakku, peluklah bibi mu ini", ucapnya yang membentangkan tangannya kepada haga. Keduanya saling berpelukan, seolah mampu merasakan kesedihan hati haga membuat air matanya jatuh dan sangat erat memeluk haga.
"Apa aku mengganggu kalian?"tanya sakura.
Pelan - pelan dia berbalik menghadap kearah sakura. Ekspresinya terlihat datar saat kedua mata mereka saling bertemu, sakura terus menatap haga dan bibi elsa bergantian. Dia mulai penasaran apa yang sebenarnya dari tadi mereka bahas yang terlihat begitu serius setiap dia meninggalkan mereka berdua bahkan membuat bibi elsa terus menangis.
"Kami hanya membahas mengenai masakan mu yang sangat lezat", kata haga, sebuah senyum terukir di wajahnya.
"Mmm," gumam sakura.
"Sudahlah lebih baik sekarang kalian pulang, sudah malam", ucap bibi elsa.
"Apa bibi yakin kondisi bibi sudah enakan?"tanya sakura.
"Sudah, bibi sudah jauh lebih baik sekarang. Pulanglah, jangan membuat suami mu menunggu mu",ucapnya.
Dia mengangguk. "Baiklah kalau begitu bi", ucapnya.
"Jaga diri mu bi, jika terjadi sesuatu segera hubungi aku", ucap haga.
"Bibi baik -baik saja", ucap bibi elsa.
"Kami pulang dulu bi", ucap sakura, mendaratkan kecupan di kening wanita tersebut.
"Hati-hati sayang", ucapnya.
Keduanya saling berjalan menuju ke halaman depan dimana mobil mereka terparkir,keduanya saling diam dan pembicaraan mulai terjadi saat mereka hampir sampai di depan mobil mereka masing -masing.
"Jadi, kamu menyetir sendiri?"tanya haga.
"Benar", jawab sakura
"Apa kamu yakin?"tanyanya.
Sakura memberhentikan langkah kakinya, diputarnya badannya menghadap haga. Terlihat sangat jelas ekspresinya yang gelisah, sorot matanya terlihat begitu cemas menatap sakura.
"Aku baik-baik saja", jawab sakura.
"Bagaimana kalau aku mengantarmu saja?"tanyanya
"Itu tidak perlu", jawab sakura dengan cepat.
__ADS_1
Dia menyerah, tak mampu lagi meyakinkan sakura yang langsung melakukan penolakan kepadanya.
"Baiklah kalau begitu sakura, aku yakin kamu akan baik -baik saja", ucap haga.
"Tentu saja, aku sangat handal mengemudi mobil dan tidak akan terjadi apa-apa kepadaku karena aku jago bela diri", ucap sakura.
Haga tertawa, senyum mekar terlihat diwajahnya saat mendengar perkataan sakura.
"Aku sangat yakin soal itu sakura", ucap haga yang tak henti tertawa.
"Tidak...Tidak, aku hanya bercanda tadi",ucap sakura.
"SAKURA!"
Nada suara terdengar begitu tinggi , kedua tangannya mengepal begitu kuat saat melihat sakura yang terlihat dekat dengan haga. Sakura memutar badannya, ditatapnya daichi yang sedang berjalan mendekatinya dengan wajah yang tak percaya.
"Daichi", ucapnya.
Haga terlihat diam dan tidak bergerak sama sekali, untuk sesaat dia menyunggingkan senyum miring melihat daichi yang kini berdiri disamping sakura.
"Hai, daichi",sapa haga yang terlihat kaku.
"Hai haga, kebetulan sekali kita bertemu disini", ucap daichi, wajahnya terlihat tenang .
"Sayang, bagaimana kamu bisa disini?"tanya sakura yang terlihat bingung.
"Itu karena aku tidak bisa menghubungi istriku dari tadi", jawabnya dengan lembut.
"Maafkan aku sayang, ponsel ku tadi mati dan ternyata aku tidak menemukan sinyal disini", jelas sakura dengan wajah sedih.
"Tidak masalah sayang, setidaknya sekarang kita sudah kembali bersama karena aku tidak bisa jauh dari istriku",ucapnya, lengan daichi merangkul sakura begitu erat dan dengan sengaja melakukannya dihadapan haga.
Wajah haga mulai memanas, dia menyadari bahwa daichi sedang memprovokasinya saat ini dengan sengaja. Ditatapnya daichi dengan sorot mata kaku, terlihat sangat jelas amarahnya yang begitu besar sedang dirasakannya, sakura yang berada diantara keduanya menyadari bahwa ada sesuatu yang tidak beres.
"Kita pergi sekarang", ucapnya, mencoba mencairkan suasana.
"Oke,"sahut daichi, namun mata masih fokus menatap haga, sedetik kemudian dia kembali bersikap rileks dan kini pandangan matanya melihat kearah sakura.
"Bagaimana dengan mobil kimi?"tanya sakura.
"Tinggalkan saja, aku akan menyuruh orang untuk menjemputnya", jelas daichi.
"Baiklah, kalau begitu kami pergi dulu", ucap sakura kepada haga.
"Hati-hati", jawab haga yang tersenyum kepada sakura.
Saat keduanya hampir tiba didepan mobil miliki daichi, haga menahan lengan daichi secara tiba -tiba dan tentu saja hal itu mengagetkan daichi.
"Daichi", ucapnya.
Dia melirik tangan haga yang masih memegang lengannya.
"Ada apa?"tanya daichi dengan nada suara yang dingin dan wajah sinis nya.
Sejenak daichi terdiam,kemudian melirik sakura yang terlihat bingung.
"Masuklah dulu", ucapnya, dibukakannya pintu mobil untuk sakura dan menghidupkan mesin mobil sambil menyalakan penghangat.
"Tunggulah disini, jangan keluar sampai aku datang", perintahnya.
"Tapi..... Ada apa?"tanya sakura.
Dipandangnya sakura, wajahnya yang tegang kini berubah tenang. Dia mencoba menyembunyikan ekspresi wajahnya yang menahan emosi dan mencoba mengendalikan dirinya didepan sakura.
"Sayang, ada yang ingin aku bicarakan dengan haga. Tunggulah disini, aku akan segera kembali", jawabnya sambil tersenyum.
"Baiklah, aku akan menunggu di mobil," jawabnya.
"Terima kasih sayang," ucapnya mendaratkan kecupan singkat di kepala sakura sebelum dia meninggalkannya.
Wajahnya kembali mengeras saat dia menghampiri haga yang telah menunggunya. Mata mereka saling bertatapan dalam beberapa detik sebelum mereka saling membuang muka. Langkah kaki daichi berhenti beberapa meter dari haga membuat jarak diantara keduanya.
"Ada apa?"tanya daichi dengan suara yang dingin.
"Maaf,"sahut haga.
Dagu daichi mengeras, alisnya bertaut. Dia tidak menyahut sama sekali.
"Aku harap kamu tidak salah paham daichi, dan tolong jangan memarahi sakura", ucapnya.
Daichi hanya menatap haga garang, tangannya mengepal kuat gemetar saat melihat betapa pedulinya haga terhadap sakura. Dia berjalan lebih dekat pada haga hingga menyisakan jarang sedikit diantara keduanya.
"JANGAN TERLALU IKUT CAMPUR DALAM RUMAH TANGGAKU!" bisiknya tepat di telinga haga.
Dengan spontan haga menatap daichi, tatapan yang kini terlihat tak bersahabat, wajahnya seketika berubah menakutkan.Begitu pula daichi dipelototi nya haga dengan kebencian yang begitu terlihat jelas.
"Aku hanya ingin memberitahu mu agar tidak ada kesalahpahaman antara kalian", jelas haga.
Daichi tersenyum miring. "Kenapa aku harus salah paham dengan istriku?"tanya daichi.
Beberapa saat mereka saling bertatapan tanpa berbicara dalam keheningan.Semetara sakura yang menunggu di mobil terus memperhatikan gerak gerik keduanya yang terlihat aneh.
"Apa yang sebenarnya mereka bahas?" ucapnya yang terlihat penasaran.
Daichi kembali memulai pembicaraan dengan pandangan yang tajam melihat haga.
"Apa sudah tidak ada lagi ingin kamu bicarakan?"tanya daichi.
"Sepertinya sudah cukup", jawab haga.
Tanpa mengucapkan kata kepada haga, dia berbalik dan pergi meninggalkannya.
"Apa yang kalian bicarakan barusan?"tanya sakura.
__ADS_1
"Tidak ada, sesuatu yang tidak penting", jawab daichi dengan suara yang pelan dan mulai melajukan mobil dengan ekspresi wajah datar.
Sesekali sakura melirik kearah daichi, ekspresi wajah daichi dan sorot matanya yang tajam menyadari sakura bahwa saat ini perasaan daichi tidak baik dan memilih untuk diam.
"Sayang..."
Sakura langsung memutar badannya saat mendengar suara daichi yang lembut memanggilnya, setidaknya sayang yang dimaksudnya saat ini adalah dia, dilihatnya wajah sinis telah lenyap.
"Iya..." jawab sakura.
Satu tangannya meraih tangan sakura dan menggenggamnya begitu erat, ditatapnya wajah daichi sekilas yang terlihat tenang.
"Berjanjilah untuk tidak pergi sendirian seperti ini lagi", ucap daichi yang menatap sakura untuk sesaat.
"Ia, aku minta maaf telah membuatmu khawatir,"ucap sakura yang menahan kesedihan hatinya karena merasa bersalah kepada suaminya.
"Apa kamu tahu? Seorang istri yang baik tidak akan pergi sebelum mendapat izin dari suaminya", ucap daichi.
"Aku tahu itu", jawab sakura yang menundukkan kepalanya tanpa berani menatap mata daichi.
Daichi mengurangi kecepatan mobilnya dan memberhentikannya dipinggir jalan. Dia melepaskan genggamannya, lalu menarik tubuh sakura dalam dekapannya sambil membelai- belai rambut sakura dengan lembut.
"Tidak apa-apa sayang," bisiknya
"Maafkan aku ", ucapnya, tangis itu akhirnya pecah, ditatapnya daichi dengan kesedihan yang mendalam tak ada kata yang mampu keluar dari mulutnya selain kata maaf.
Dihapusnya air mata yang terus mengalir, ditatapnya mata sakura untuk sesaat sebelum akhirnya dia kembali memeluk sakura dengan erat. Pelukan yang diberikan daichi untuknya menghapuskan kepanikan dan ketegangan yang dirasakannya dari tadi.
"Berhentilah menangis sayang,"ucap daichi.
"Hmmm,"jawab sakura.
"Apa kita sudah bisa pulang sekarang?"tanya daichi.
"Sudah", jawab sakura yang kini terlihat mulai tenang dan menghapus air matanya.
Daichi tersenyum dan kembali melajukan mobilnya menuju apartemen yang mereka tinggali. Keadaan kembali membaik bagi sakura saat daichi ada bersama dengannya.
••••••••
Ting...Tong..Ting..Tong..
Pintu itu terbuka, bibi elsa menyambut kepulangan mereka dengan wajah senang.
"Kalian sudah pulang, masuklah", ucapnya.
Sakura berusaha bersikap seperti biasanya, dan menyembunyikan perasaan yang dirasakannya selama diperjalanan.
"Aku kekamar dulu", ucap sakura.
"Baiklah",jawab daichi.
"Kamu tidak makan dulu sayang?"tanya bibi elsa.
"Aku masih kenyang bi", jawab sakura, lalu pergi masuk kedalam kamar.
"Apa sesuatu telah terjadi?"tanya bibi elsa yang melihat mata sakura sayu tak bersemangat.
"Tidak ada bi, aku ke ruang kerja ku dulu ya", ucap daichi.
"Baiklah", jawabnya.
Setiba di ruang kerjanya, rasa kesal yang ditahan dari tadi akhirnya kembali meluap. Mengingat wajah haga membuatnya kemarahannya kembali dan ingin menghancurkannya. Sejenak dia berdiri memandang keluar jendela, mengingat tatapan haga terhadap sakura bahkan dia begitu peduli terhadap sakura dan itu membuatnya semakin kacau.
"Rumah singgah," ucapnya.
"Aku tidak akan membiarkan mu mendekati sakura lagi haga,sakura adalah milikku", ucapnya dengan tangan yang mengepal.
Perasaanya sangat marah dan ingin meluapkannya, tapi kali ini dia mencoba mengendalikan dirinya dari emosi yang mudah meledak. Dia tidak ingin kemarahannya menguasai dirinya hingga akhirnya dapat melukai perasaan sakura, menjaga keutuhan rumah tangganya adalah hal yang terpenting, dia tidak ingin dengan mudah termakan omongan orang lain apalagi orang itu adalah mantan kekasihnya yang jelas- jelas dari awal dia tahu bahwa sera tidak menyukai dia dan sakura bersama.
Sebagai seorang suami, dia akan berusaha mempercayai sakura yang kini telah menjadi istrinya karena didalam membangun sebuah pernikahan kepercayaan yang diberikan satu sama lain menjadi pondasi yang penting agar rumah tangga yang dijalani akan terus baik dan tetap kokoh meski beribu rintangan yang akan datang mencoba meruntuhkannya.
Dia berjalan keluar menuju kekamarnya, didalam kamar dilihatnya sakura yang duduk termenung menatap dirinya disebuah cermin. Diremasnya pundak sakura hingga membuyarkan lamunan sakura.
"Apa yang sedang kamu pikirkan?"tanyanya.
"Hai, sayang," ucap sakura yang menatapnya dari cermin dengan sorot matanya yang terlihat masih.
"Sayang!"balas daichi yang berpindah dan kini berada didepan sakura sambil berlutut.
"Apa yang kamu lakukan?"tanya sakura.
"Aku hanya ingin melihat wajah istriku lebih jelas," jawabnya, membelai pipi sakura dengan lembut semetara satu tangannya memegang tangan sakura.
"Apa kamu mempercayaiku?"tanya sakura.
"Kenapa tiba - tiba bertanya seperti itu?"tanya daichi.
"Tidak ada,hanya terlintas saja dalam pikiranku", ucap sakura.
"Jawaban seperti apa yang ingin kamu dengar?"tanya daichi yang menatap sakura.
"Jawaban yang benar, tanpa ada yang disembunyikan ", balas sakura.
Kedua tangannya kini menggenggam kedua tangan sakura sangat kuat,hingga sakura mulai merasa kesakitan saat daichi semakin erat menggenggam tangannya. Dia menarik napasnya,menatap kedua mata indah yang dimiliki sakura lebih dalam.
"Dengar sayang, aku akan selalu mempercayaimu sampai kapanpun. Jika kamu mengatakan tidak aku akan percaya dan sebaliknya jika kamu mengatakan iya aku juga akan mempercayainya. Aku hanya akan mempercayai setiap ucapan yang keluar dari mulut mu dan akan mengabaikan setiap perkataan orang lain", ucapnya .
"Kenapa?"tanya sakura.
"Karena kamu adalah istriku, aku hanya mempercayai istriku sendiri dari pada orang lain",jawab daichi.
Dia menghela napas panjang,tidak ada lagi yang perlu ditanyakan nya kepada daichi saat dia mendengar dan melihat langsung ucapan kalimat yang keluar dari mulut daichi serius dam tulus. Setidaknya rasa penasarannya sudah terjawab saat mengetahui suaminya sangat mempercayai dirinya dan itulah yang ingin ditanamkannya pada dirimu untuk selalu mempercayai suaminya seperti daichi mempercayainya.
__ADS_1
BERSAMBUNG...