Pernikahan Yang Dijodohkan

Pernikahan Yang Dijodohkan
Episode 129 Sukses


__ADS_3

"Daichi", panggil sera yang terlihat begitu bahagia sambil berjalan menghampiri daichi yang duduk di kursinya.


"Sera", sapa daichi yang terlihat kaku.


"Selamat siang. Aku senang sekali akhirnya bisa bertemu dengan mu", ucap sera.


"Duduklah sera", ucap daichi


"Iya daichi. Terima kasih", ucapnya sambil duduk.


"Apa yang membuatmu datang kemari sera?"tanya daichi.


"Apa kamu sudah makan siang?" "Bagaimana kalau kita makan siang bersama, kebetulan aku tau restoran yang menjual sup daging yang enak, bukankan sup daging makanan kesukaan mu?"tanya sera, dia kelihatan sangat bahagia.


"Sera, sudah berapa lama kamu mengenal ku?"tanya daichi, nada suaranya begitu dingin berbicara kepada sera dengan tatapan matanya yang tajam.


"Ya",jawabnya yang terlihat bingung. "Su-dah cukup lama daichi",ucapnya.


"Kalau begitu kamu pasti tahu kalau aku tidak suka basa-basi sera, aku sangat sibuk. Jadi jika ada yang ingin kamu sampaikan, sampaikanlah sekarang atau kalau tidak ada kamu bisa keluar sekarang", ucap daichi.


Sera hanya bisa terdiam, nyaris tak bergerak, mendengar perkataan daichi yang begitu tajam dan terasa begitu menyayat hatinya, sementara daichi terlihat begitu santai saat dirinya berbicara kepada sera, baginya ucapannya yang keluar dari mulutnya adalah perkataan yang biasa tanpa tahu bahwa orang yang mendengarnya merasa tersinggung, tidak butuh waktu yabg cukup lama hingga sera menenangkan perasaannya dan kembali terlihat baik - baik saja di hadapan daichi.


Dia tersenyum."Kamu tetap seperti dulu daichi,begitu dingin", ucapnya.


Daichi hanya diam tanpa merespon ucapan sera.


"Apa tidak ada sedikit pun perasaan yang kamu miliki untuk ku di hatimu daichi?"tanya sera dengan ekspresi wajah yang terlihat sedih, perubahan ekspresi yang cukup cepat berubah.


Daichi menatap matanya sejenak sebelum dia membuka mulutnya untuk menjawab pertanyaan yang diberikan sera untuknya.


"Perasaan itu sudah hilang sejak kamu meninggalkan ku sera", jawab daichi.


"Daichi, aku melakukannya untuk mu", jawab sera yang mencoba memegang tangan pria yang ada di depannya, tapi dengan cepat daichi langsung menghempas tangan sera.


"Cukup sera!" daichi bangkit dari kursinya.


"Jika kamu datang untuk membicarakan soal itu, lebih baik sekarang kamu keluar", ucapnya dengan nada suara yang kini meninggi, dia tau bahwa apa yang dilakukannya begitu kasar, tapi dia melakukannya agar sera berhenti berharap kepadanya.


"Tidak, tolong jangan mengusirku daichi," pintanya.


"Mulailah hidup mu yang baru sera. Ingatlah, aku sudah menikah sekarang dan aku sangat mencintai istriku. Jangan pernah masuk kedalam kehidupan ku yang baru", ucapnya.


Sera tertawa canggung, tawa yang terlihat sangat dipaksakan, wajahnya memerah, rahangnya menegang menahan emosinya saat ini.


"Hah, yang benar saja."gerutunya.


"Maksudnya?"tanya daichi.


"Ugh!"erangnya. "Kamu menyuruhku untuk menjauh, tapi bukankah itu tidak adil saat kamu hanya mengatakannya kepadaku saja", ucapnya.


"Aku tidak mengerti, berbicaralah yang benar", ucap daichi.


Keduanya saling bertatapan dengan wajah serius, tapi kemudian wajah sera kembali tenang saat dia melihat daichi sepertinya mulai penasaran dengan apa yang baru saja dikatakannya.

__ADS_1


"Sepertinya rencana ku berhasil", batinnya.


"Apa yang ingin kamu katakan sera?"tanya daichi kembali.


"Ini soal haga", ucapnya.


"Haga?" Ada apa dengan haga?"tanyanya, kali ini dia benar- benar tidak dapat menyembunyikan lagi rasa ingin tahunya.


Dia menatap daichi, terlihat guratan wajah yang begitu penasaran. Sera berdiri, menghembuskan napas yang seolah tertahan cukup lama dan berjalan mendekat kearah daichi.


"Daichi, jangan bilang kalau kamu tidak mengetahui soal haga", ucap sera.


"Berhentilah mengulur-ngulur waktu sera!" Teriaknya.


"Baiklah daichi. Aku hanya berpikir tidak adil untuk ku. kamu menyuruhku menjauh dari kehidupanmu yang baru, lalu bagaimana dengan haga? Bukankah dia menyukai sakura?"tanya sera.


"Hentikan omong kosong mu, sera. Aku tidak menyangka kamu akan melakukan hal yang serendah ini memfitnah haga", ucapnya .


Respon pertama yang diperlihatkan sera adalah tertawa dihadapan daichi, entah apa yang ada dipikiran sera saat ini hingga dia mampu tertawa lepas dihadapan seorang daichi tama.


"Memfitnah?"tanya sera yang terus tertawa.


Daichi terus memandangi sera, baginya sikap sera terlihat semakin aneh.


"Bagaimana kamu bisa mengatakan ku memfitnahnya daichi?"tanyanya, tapi kini dengan wajah terlihat serius.


"Aku rasa tidak ada lagi yang perlu kita bahas", ucap daichi.


"Kalau begitu apa kamu memiliki bukti?" tanya daichi. "Tentu saja kamu tidak memilikinya, bukan?" ucapnya dengan nada yang meremehkan .


"Benar. aku memang tidak memiliki bukti, tapi kamu bisa mendapatkan bukti itu sendiri daichi", ucapnya .


Daichi tersenyum dan kembali duduk di kursinya.


"Sera, aku sibuk."


"Baiklah daichi, sampai ketemu lagi!"ucapnya yang pergi meninggalkan ruangan tersebut.


Sera telah pergi, dia kembali melanjutkan pekerjaan yang dari tadi tertunda, tapi ucapan sera membuatnya gelisah hingga membuat konsentrasinya berantakan. Dia kembali memikirkan perkataan sera yang mengatakan bahwa haga menyukai sakura.


"Ini membuatku gila", ucapnya.


TOK....TOK...TOK


"Masuklah".


Muncul sekertaris yun dari balik pintu yang terbuka.


"Apa yang dikatakannya tuan?"tanyanya.


"Sesuatu yang tidak masuk akal", jawab daichi yang terlihat tenang.


"Apa anda yakin tuan?"tanya sekertaris yun yang mencoba memastikan kembali.

__ADS_1


"Hmmm. apa dia sudah pergi?"tanya daichi.


"Sudah tuan", jawab sekertaris yun.


"Baguslah", ucapnya.


Dia mencoba mengabaikan perkataan sera, dia tidak ingin mempercayainya hanya dengan ucapan yang belum tentu kebenarannya. Dia melirik ponselnya, menimbang -bimbang untuk menelepon sakura, setidaknya dia berpikir mendengar suara sakura dapat membuatnya sedikit lebih tenang.


"Lebih baik aku menelepon sakura", batinnya dan meraih ponsel miliknya.


Sekertaris yun yang masih berada diruangan itu, terus memandangi daichi dan mengamati gestur bossnya it sedikit berbeda dari biasanya.


Beberapa kali dia mencoba menghubungi sakura, tapi telponnya sama sekali tidak menyambung dan itu membuat daichi semakin tidak tenang. Dia kembali memikirkan hal -hal negatif yang ada didalam kepalanya saat ini.


"Ada apa tuan?"tanya sekertaris yun.


"Ponsel sakura mati",ucapnya.


"Mungkin ponselnya habis battry tuan", ucap sekertaris yun.


Tidak bisa menghubungi sakura membuat tidak tenang, disambarnya jas yang tergantung di kursi kerjanya sambil berjalan keluar dari ruangannya. Sekertaris yun yang ada diruangan itu mendongak melihat daichi yang terlihat terburu- buru pergi meninggalkannya begitu saja tanpa mengatakan apapun kepadanya, dia berlari keluar mengejar daichi.


"Tuan daichi?"panggilnya yang melihat daichi masih menunggu lift.


"Ada apa sekertaris yun?"tanya daichi, napasnya terengah- engah.


"Anda mau kemana tuan?"tanyanya.


"Aku ingin pergi kekantor sakura sementara", ucapnya.


Begitu mendengar daichi menyebut nama sakura,ekspresi wajah sekertaris yun terlihat lebih tenang.


"Apa perlu saya mengantar anda?"tanya sekertaris yun.


"Tidak perlu, aku akan pergi sendiri saja", jawab daichi.


"Baiklah tuna", ucapnya.


Pintu lift itu terbuka. "Aku pergi dulu", ucapnya sambil masuk kedalam lift.


Dia berlari keluar meninggalkan kantornya, orang - orang yang memperhatikannya terlihat bingung saat dia begitu terburu-buruh tanpa mengabaikan siapapun yang menyapanya. Dibantingnya pintu mobilnya sembari menyalakan mesin mobil, diputarnya mobilnya keluar dari parkiran dan melajunya begitu kencang menuju kantor sakura.


Sera yang masih berada di parkiran kantor daichi, terlihat begitu bahagia melihat daichi yang meninggalkan kantornya dengan begitu tergesa-gesa. Dipandanginya mobil daichi yang melaju begitu kencang keluar dari parkiran.


"Sepertinya kamu mulai terganggu", gumamnya.


Lama mengenal daichi membuatnya mengetahui kekurangan dari seorang daichi tama, pria yang cukup posesif terhadap pasangannya dan sama sekali tidak menyukai jika ada orang lain yang mengganggu miliknya. Menghasut sakura untuk tidak memercayai suaminya begitu sulit bagi sera, tapi tidak dengan daichi yang akan terganggu dengan apa yang dikatakannya apalagi mengingat pria yang dimaksudnya tidak lain sahabat lamanya sendiri.


"Ini untukmu haga, yang menolak bekerja sama dengan ku", ucapnya dengan senyum bahagia.


Dinyalakannya mesin mobilnya dan pergi keluar meninggalkan parkiran tersebut dengan kemenangan yang dirasakannya sebentar lagi,tinggal menghitung waktu saja bom waktu akan meledak menghancurkan rumah tangga Meraka dan itu sesuai dengan apa yang direncanakan dan diinginkannya.


Bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2